Mungkin bagi orang awam, pandangan seperti ini akan menakutkan di mana seorang gadis sedang membaca sambil duduk dengan melayang lalu bicara sendiri seolah-olah ada orang di sekitarnya. Guia sedang asyik melakukannya saat kakak pertamanya melemparkan buku ke kepalanya.
"Berhentilah, Guia. Jika tetangga melihatmu seperti itu mereka akan ketakutan dan menganggapmu gila."
Guia mengayunkan kakinya ke lantai dan mendarat tepat di samping lemari lalu menaruh bukunya di sana. Kebiasaannya adalah membaca segala hal mengenai pengobatan dan alam galaksi.
"Ada apa kau kemari? Tumben. Biasanya kau datang seminggu sekali."
Sejak menjadi pengganti sang ayah sebagai ketua Cazador, Jacian jarang mengunjungi adiknya yang berada di rumah lain. Jacian lebih memilih tinggal di bukit bersama anak istrinya dan beberapa tetua sedangkan Guia bersama paman dari pihak ayah.
"Tetua menyuruhmu datang malam ini untuk---"
"Ya aku tahu untuk memperingati kematian ayah dan ibu, bukan?" potong Guia cepat. Ia tahu kedatangan sang kakak bukan sekedar mengunjunginya atau meminta sesuatu. Pasti ada alasannya.
"Jangan suka memotong perkataanku, Guia," sela Jacian yang tak menyukai sikap adiknya yang satu ini.
"Iya maaf deh," jawabnya santai. Guia tak menatap mata sang kakak. Ia memandang luar sambil duduk di dekatnya. Sesekali ia mendesah kesal, di mana saja matanya selalu saja melihat sesuatu yang menurut orang-orang menakutkan.
"Daripada kau di sini sendirian, bukankah kau lebih baik ikut aku di bukit? Paman dan Bibi sedang menjalankan misi di luar."
Dilihatnya adik perempuan satu-satunya yang begitu disayang. Ia tak tega meninggalkan Guia di rumah pamannya hanya karena perintah tetua untuk menjalankan tugas yang sudah ditakdirkan.
"Apa aku boleh kembali ke sana? Mungkin berkunjung bisa, tetapi untuk menetap. Aku rasa tetua tak akan mengijinkan lagipula aku tak suka berada di sana."
"Aku bisa bicara dengan mereka agar kau bisa kembali," jawab Jacian mendekati Guia di dekat jendela lalu mengelus rambut sang adik penuh cinta.
"Tidak usah, Jaci. Aku lebih menyukai kota kecil ini daripada harus menetap di sana."
Guia menatap Jacian, baginya sang kakak tampak tua padahal usianya masih belum genap 30 tahun. Jarak usia yang terpaut jauh terkadang membuat orang berpikir mereka adalah ayah dan anak.
"Ke mana kau semalam, Guia? Aku dengar dari Gillermo kau terluka."
Jacian melihat pergelangan tangan Guia di jemarinya yang terluka. Sesaat ia menggenggam jemari sang adik lalu setitik cahaya muncul, Jacian memang seorang penyembuh. Warisan dari sang ibu yang terkenal dengan sebutan Healer.
"Ada yang mengusik kediaman keluarga Lobo. Teman bibi di perbatasan pelabuhan itu."
"Apa mereka bisa dimusnahkan?" tanya Jacian menyentuh dan menepuk jemari Guia yang sudah bersih dari lukanya.
"Tentu saja meski agak menyebalkan dan menyusahkan," jawab Guia terkekeh dan berdiri merangkul Jacian. Jacian membalasnya dan menepuk-nepuk punggung sang adik penuh kasih sayang.
"Nanti malam aku akan ke sana. Sekarang pulanglah, Izabelle pasti mencarimu."
Guia memegang pundak Jacian dari belakang dan mendorongnya pelan hingga menuju pintu. Ia memainkan mata ketika sang kakak mengeluh karena diusir.
"Oh, ya di mana kembaranmu?" Sedari tadi tak ada penampakan Gillermo. Pasti anak itu sedang berjalan-jalan menikmati sore dan tentu saja menggoda wanita.
"Memang kau tak tahu apa yang dilakukannya di sore hari?"
"Katakan padanya kalau pulang. Jangan menghindar dariku."
"Iya nanti aku sampaikan. Sudah sana pulang dan tolong katakan juga pada Izabelle masakan aku makanan yang lezat."
"Kau tak mau mengantarka kakakmu ini sampai pintu depan?" tanya Jacian melihat Guia yang santai bersandar.
Guia memagutkan kepalanya seraya bersiul dan menutup pintu kamarnya. Toh ... Jacian sudah tahu tata letak rumah sang paman yang membingungkan. Lagipula pria itu sering ke sini tanpa memberitahu terlebih dulu. Sekarang ia harus mencari keberadaan pria yang satunya lagi.
Sekilas dari luar jendela, ia melihat satu sosok yang selama ini sering berdiri di sana. Gadis berpakaian putih itu terus melihat ke dalam rumahnya, ketika Guia menghampiri, sosok itu menghilang.
Tak mau hilang kesempatan untuk kesekian kalinya, terpaksa Guia menggunakan cara lama. Ia memakai serulingnya agar sosok itu terperangkap di dalam benda kesayangannya.
"Jadi jelaskan padaku sekarang, untuk apa kau berdiri di luar terus?" tanya Guia setelah berhasil menangkap sosok gadis tak kasat mata itu.
"Kau tak akan memusnahkan dan melemparkanku ke palung api, bukan?"
"Tergantung kesalahanmu apa? Aku bukan orang yang kejam. Jadi jelaskan dulu, apa maksud kedatanganmu?"
Gadis berwajah pucat dengan bola mata yang hilang itu menceritakan kisahnya dan Guia memahami jika sosok di depannya butuh ditolong.
"Jadi kau bisa menolongku, Guia?"
Suara gadis di depannya begitu memilukan, Guia sampai tak tega. Ia akan menolongnya, tetapi tidak saat ini. Ada hal yang perlu ia lakukan sekarang.
*****
"Gi ... ller ... mo!"
Suara Guia bergema di sepanjang perjalanan saat masuk ke hutan. Ia tahu jika kembarannya itu pasti lewat sini setelah seharian berada di pelabuhan jarak terdekat menuju rumah atau bukit.
"Hei kalian tahu di mana Guillermo?"
Mereka yang ada di depannya menggeleng tanpa membuka suara lalu pergi begitu saja melewati Guia yang mencebikkan bibir. Ia pun kembali memanggil saudaranya yang lahir terlebih dulu tersebut dengan berteriak.
"Kau ada di mana, sih Gillermo?"
Untung saja matanya bisa menangkap sesosok yang menghampirinya beberapa meter di depan. Ia menyangka itu adalah Gillermo, tetapi nyatanya bukan. Ia memanyunkan bibirnya, susah sekali memanggil Gillermo saat ini.
"Sedang apa kau di sini, Nona? Hari mulai gelap dan kau sendirian."
"Apa kau tersesat?"
Guia menggeleng, ia menatap seksama kakek tua di depannya. Setidaknya ia bersyukur tidak bertemu orang jahat. Dari sorot matanya, Guia menilai kakek ini bukan makhluk yang sering dilihatnya. Manusia, ya di hutan ini ia bertemu manusia.
"Aku mencari jalan terdekat menuju bukit."
"Bukit? Yang ada di sana?" tanya pria tua berpakaian hitam menunjuk arah kanan.
"Iya. Aku ada perlu di sana," jawab Guia dengan senyuman yang mengembang.
"Kau yakin, Nona?" tanyanya lagi seakan tak percaya.
Guia malas sebenarnya menjawab. Ia sudah menduga reaksi orang-orang jika sedang membicarakan mengenai bukit di belakang gunung itu.
"Iya Kek. Saya sudah biasa ke sana."
"Oh begitu. Ya sudah kalau begitu, kakek pergi dulu. Kau hati-hati karena banyak binatang buas."
Guia mengangguk dan memberinya senyuman, pria tua itu melanjutkan langkahnya menuju bawah ( rumah padat penduduk ) sedangkan dirinya tentu saja terus mencari kembarannya yang hilang entah ke mana.
"Terserah kau saja Gillermo. Aku tidak peduli, tetua sudah menungguku."
Gadis bergaun hitam panjang dengan penutup kepala itu tampak kesal tatkala saudara yang dipanggilnya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Di tengah musim dingin yang sedang berlangsung di Reykjavík tak menyurutkan langkahnya menuju bukit di mana penduduk merasa enggan untuk ke sana karena menakutkan dan jalanan yang terjal.
Di tengah perjalanan yang hampir dekat, Guia secara tak sengaja memandang sesosok pria dari kejauhan. Ia yakin jika itu manusia bukan makhluk tak kasat mata. Namun yang anehnya, untuk apa pria itu ke sini?
****
"Selamat pagi nyonya Herice, bagaimana keadaan anda sekarang?"
Wanita paruh baya yang masih tampak manis di usia senjanya sedang disapa oleh seseorang yang dikenalnya, jika bukan karena pria itu tak mungkin dirinya berada di rumah sakit saat ini.
"Selamat pagi dokter. Keadaan saya baik-baik saja, terima kasih sudah menolong saya," ucapnya dengan tulus sembari menepuk punggung tangan dokter tersebut dan tersenyum.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda tidak menolong saya," imbuhnya lagi membayangkan hal kemarin.
Dokter muda dengan senyuman menawan itu hanya tersenyum sembari memeriksa cek suhu tubuh dan nadi wanita tua tersebut yang sudah menjadi pasiennya beberapa bulan ini.
"Anda hendak ke mana saat itu, Nyonya? Cuaca dingin sekali dan anda tidak memakai pakaian tebal," kata dokter itu seraya duduk di sebelah nyonya Herice.
"Saya mencari---" Nyonya Herice menghentikan perkataannya sambil menatap kosong ke arah luar jendela.
"Mencari apa, Nyonya?"
"Tidak ada," balas nyonya Herice tersenyum dan menggeleng.
Dokter yang berprofesi sebagai dokter penyakit dalam itu mengernyitkan dahi. Untuk apa pasiennya itu berada di tengah hutan dan kebingungan seakan mencari sesuatu? Jika bukan karena disuruh kepala dokter, ia mungkin akan menemukan nyonya Herice mati dalam kedinginan.
"Oh, ya. Apa dokter mencari rumah? Saya dengar dari para perawat di sini," sahut nyonya Herice mengalihkan pembicaraan yang tadi.
"Ah, nyonya Herice tahu saja. Memang saya sedang mencari rumah yang dekat dengan rumah sakit."
"Kalau begitu, pindahlah ke sebelah rumah saya. Harga sewanya juga tidak terlalu mahal."
Bagaikan mendapat rejeki tak terduga, dokter tersebut menerima tawaran dari nyonya Herice dengan senang hati. Toh ... ia sudah lelah menempuh perjalanan jauh.
"Jika begitu, saya terima tawaran anda, Nyonya Herice."
Dokter yang disukai banyak perawat wanita itu pamit untuk menangani pasien lainnya.
"Dokter ...." Nyonya Herice memanggilnya sebelum menghilang dari balik pintu.
"Iya ada apa, Nyonya?"
"Suatu saat nanti akan saya cerirakan alasan saya ke hutan itu," ujar nyonya Herice dengan senyuman misterius.
Dokter itu mengangguk dan berlalu dari hadapan nyonya Herice.
=Bersambung=
Note :
Reykjavík adalah ibu kota dan kota terbesar di Islandia. Dengan penduduk sekitar 120.000 jiwa, atau sekitar setengah penduduk negara pulau ini, kota ini menjadi pusat budaya aktivitas, ekonomi dan pemerintahan Islandia.