"Selamat datang Nona Besar."
Lima penjaga membungkuk memberi hormat dengan sopan pada Guia saat ia sudah berada di tempat yang bisa dikatakan sebagai rumah utama baginya.
"Kakakku ada di rumahnya?"
Pertanyaan Guia hanya dibalas anggukan saja dan mempersilakan sang nona besar lewat. Ia pun bebas melenggang tanpa aturan yang biasanya dilalui beberapa orang. Guia membuka penutup kepala dan melihat rumah-rumah yang jaraknya tak berjauhan.
"Mereka membuat tempat ini lebih nyaman."
Atas kerjasama para penduduk, pemukiman yang awalnya hanya terdiri dari tenda saja kini berubah menjadi layak dengan rumah-rumah yang dibangun. Mereka membutuhkan waktu lima tahun dan modal dari hasil perkebunan yang dijual di kota. Penduduk di sini merasa enggan pindah ke bawah ( kota ) dan memilih tinggal di atas bukit.
"Bibi Guia ...."
Keponakan gembulnya datang menghampiri dan langsung menubruk tubuh kecil Guia sambil memeluk pinggangnya. Caprion Elnino anak pertama dari sang kakak yang kritis dan pandai.
"Aduh si gembul. Kau tampak gemuk."
Guia mencubit wajah sang keponakan dengan gemas lalu menciumnya bertubi-tubi. Caprion sangat senang jika Guia berkunjung meski tidak membawa oleh-oleh, kehadiran sang bibi adalah hal membuat matanya berbinar-binar seperti bintang.
"Jangan menciumnya seperti itu, Guia. Kau akan membuat pipi anakku kurus nantinya."
Izabelle bercanda sambil mengajak Guia masuk ke ruang pertemuan, Caprion merasa diabaikan dan pria kecil itu melenggang pergi dengan merajuk. Sama persis seperti sang paman--Gillermo.
"Memang ada apa aku harus datang ke sini?" tanya Guia pada Izabelle ketika memasuki ruang pertemuan.
"Kau akan tahu nanti, Ipar Cantikku."
Izabelle membuka pintu, tampak di sana sudah berkumpul para tetua dan sang kakak yang duduk di singgasana. Mereka serius dengan pembicaraan sehingga tidak menyadari kehadiran Guia.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Suara Guia menghentikan pembicaraan tersebut dan menoleh pada gadis yang sudah duduk santai di permadani lembut sambil menyantap hidangan di meja.
"Kau sudah datang rupanya, Tuan Putri?"
"Jangan memanggilku tuan putri, Paman. Gelar itu belum bisa disematkan kepadaku."
Tuan Putri? Ah, Guia tak suka nama panggilan itu ditujukan padanya. Ia masih gadis biasa yang perlu banyak belajar dari kesalahannya di beberapa tahun lalu.
"Kau terlambat lima menit, Adikku," sela Jacian menggelengkan kepala melihat perilaku Guia.
"Kau pikir jalan ke sini itu mudah? Aku bisa saja berlari cepat, tapi apa kata penduduk nantinya?" Guia sewot karena sang kakak memarahinya.
"Kalian kalau bertemu selalu saja adu mulut," tegur tetua yang memakai tongkat berkepala singa.
"Ya itulah mereka, Paman. Tidak bisa akur," sahut Izabelle sembari meletakkan teko teh hangat.
"Jadi mengapa paman-paman menyuruhku ke sini? Ada hal apa lagi?"
Guia tahu kedatangannya ke sini acapkali berurusan dengan tugasnya. Mereka yang mencari tahu dan dirinya yang harus menuntaskan. Tugas ini sudah ia jalani sejak berusia sepuluh tahun dan kini sembilan tahun telah berlalu.
"Putri Guia, besok pergilah ke rumah sakit," kata tetua yang paling di-tuakan di tempat ini. Beliau yang mengatur ke mana Guia akan pergi.
"Rumah sakit? Untuk apa? Aku harus tes darah?" tanya Guia beruntun. Hal yang paling tidak ia sukai adalah rumah sakit, tempat yang suram dan penuh kesedihan.
Jacian menghela napas, Guia selalu saja menyela pembicaraan orang. "Dengarkan dulu, Guia."
"Ups ... maaf, Paman. Silakan anda lanjutkan."
Tetua bertongkat singa berhenti sejenak ketika angin berembus dan melewatinya begitu saja, beliau tahu jika ada yang datang ke sini di tengah-tengah pembicaraan.
"Jadi begini, di sana ada roh jahat yang sedang mengincar anak kecil. Mereka mengumpulkan energi dari anak yang sakit agar kekuatan mereka bertambah."
"Kami ingin kau dan kembaranmu ke sana besok. Musnahkan roh jahat itu dan kembalikan dia ke tempat yang seharusnya," sambung tetua yang duduk di barisan ke tiga.
Guia mengangguk tanpa mau menjawab, ia sudah tahu tugasnya dan akan dilaksanakan besok. Toh ... ini memang tugas yang harus dilakukan.
"Di mana Gillermo? Kau bersamanya sekarang, Putri Guia?"
"Angin yang barusan lewat itu Gillermo, Paman. Gillermo selalu enaknya sendiri jika datang."
Guia menoleh ke samping, ia menatap kesal pada kembarannya yang selalu pergi dan datang sesuka hati sedangkan pemuda tersebut hanya tersenyum manis padanya.
"Gillermo, kau mendengar pembicaraan kami tadi?" tanya Jacian menoleh ke arah samping Guia.
Mereka serempak membaca tulisan di udara, tampak tulisan seakan-akan ada yang menulis. ["Iya aku sudah tahu."]
"Pergilah bersama adikmu besok ke kota," timpal tetua nomer satu.
["Baiklah, Paman."]
Tampak lagi tulisan di udara, mereka memahami jika Gillermo tidak sama seperti manusia lainnya dan hal tersebut sudah menjadi takdir pemuda itu.
*****
"Kau ke mana saja, Gillermo? Kau membuatku takut?"
Sehabis pertemuan, Guia mengajak Gillermo ke taman. Ia ingin mengajak bicara saudara kembarnya.
"Aku tak pergi ke manapun, Guia. Aku akan selalu ada di sisimu."
Hanya pada Guia, Gillermo bisa disentuh dan dipeluk. Pemuda itu menghapus air mata sang adik penuh kasih. Ia merenggangkan pelukan dan menyentil keningnya.
"Lain kali, jangan pergi terlalu lama," sahut Guia.
Gillermo tampak seperti pemuda lainnya, tetapi dirinya bukan manusia seperti sang kakak--Jacian. Empat tahun lalu, suruhan raja iblis berhasil mengambil nyawanya dan yang tersisa dari dirinya kini hanya roh tanpa tubuh. Namun, ia tak menyesali peristiwa itu.
Takdirnya adalah menjadi roh yang harus menjaga, melindungi dan ikut berpetualang bersama kembarannya menjadi pembasmi iblis maupun makhluk halus lainnya. Di saat menjadi manusia, dirinya hanya pemuda yang lemah dan sakit-sakitan. Sekarang wujudnya berubah dan bertambah kuat.
"Kau menggoda makhluk cantik di pelabuhan lagi, Gil?"
Cassandra, makhluk cantik jelmaan peri. Dia penunggu di pelabuhan yang bertugas memberitahu kapal-kapal dengan kekuatan bisikan kepada nakhoda untuk berlabuh jika ada angin kencang.
"Cass itu seru dan suka bercerita mengenai semua hal yang dia lihat di kapal," ucap Gillermo berbinar-binar.
"Kau tak bosan mendengarnya terus?"
Gillermo menyentil kening Guia sembari tertawa,"Aku tak pernah bosan. Selalu ada hal baru yang Cass ceritakan."
"Besok kita harus ke rumah sakit di kota. Entah makhluk apa yang akan kita hadapi nanti. Aku berharap mereka bisa ditaklukan. Tidak seperti makhluk bebal kemarin yang hampir melukai tanganku."
Gill melihat pergelangan tangan Guia, kemarin gadis itu terluka saat menghadang makhluk berkepala singa. Untung saja makhluk tersebut bisa dimusnahkan meski harus melukai tangan Guia.
"Ketua yang menyembuhkanmu?" tanya Gill sambil memegang jemari Guia dan mengelus dengan lembut.
"Sampai kapan kau akan memanggilnya ketua, Gill. Ia adalah kakak kita."
"Tapi aku lebih nyaman memanggilnya ketua daripada memanggil namanya," ucap Gill beranjak dari tempatnya berdiri lalu melayang menuju pohon yang menjulang tinggi sambil menikmati keindahan kota dari atas pohon.
Guia cemberut, ia juga ingin naik ke sana dan melihat gemerlap kota. Namun, dirinya tak bisa lakukan. Tanpa didampingi Gillermo, ia takut ketinggian.
"Aku mau pulang, Gill. Besok bangunkan aku," sela Guia berjalan meninggalkan Gillermo yang masih di atas pohon.
"Kau tak mau aku antar?"
Guia mengangkat tangannya lalu memberi tanda jika ia baik-baik saja berjalan sendirian. Ia sudah terbiasa sejak kecil bahkan melalui mata tertutup, dirinya tahu jalan pulang menyusuri hutan.
=Bersambung=