Part 27 The Investigation

1403 Kata
Kali ini merupakan tindakan gila dan nekat yang dilakukan Guia. Mudah bagi Gillermo untuk menyelinap masuk tanpa diketahui siapapun. Namun beda hal dengan Guia yang notebene manusia dan tidak mungkin juga ia menembus pintu. "Nona, mau pesan apa?" Jika bukan karena menyelidiki kematian Fidelina dan tubuh wanita itu belum ditemukan, sebenarnya Guia enggan makan di sini meski sudah diberi uang oleh Jacian. "Aku mau pesan jus berry dan kentang goreng saja, mau kerjakan tugas nih," kata Guia sembari mengangkat laptop seakan mengerjakan tugas. Guia akui jaringan internet di restoran ini cepat. "Baik, Nona ditunggu," ujar pelayan dengan membentuk senyuman hangat. Selagi Guia makan, Gillermo yang bertugas masuk ke dapur. Toh ... Gill tak akan bisa terlihat oleh siapapun. Guia membutuhkan waktu lama agar bisa fokus bicara dengan Fidelina, ia sengaja memilih duduk di dekat meja kasir. "Fidelina, aku tahu kau bisa melihat dan mendengarku," sahut Guia seraya memasang earphone seolah-olah ia sedang menelepon atau memutar lagi jadi tak membuat orang curiga jika ia bicara sendiri. Fidelina yang semula menunduk, mengangkat kepalanya dan melihat Guia dengan pandangan nanar. Hantu wanita itu memiliki luka gores di wajah yang menganga dan bola mata yang hampir keluar. Guia tak takut, ia sudah terbiasa melihat penampakan yang menyeramkan. "Di mana anakku?" Sudah Guia duga, yang dicari saat hantu wanita itu bicara tentu anaknya. Itulah seorang ibu sekalipun dia sudah meninggal, hal ingin diketahui adalah keberadaan sang anak. "Dia ada di sini, di dalam serulingku." "Kau akan memusnahkan anakku?" tanya wanita itu tak terima. "Untuk apa? Aku tak akan membantu kalian jika itu tujuanku, Fidelina," sahut Guia sembari memainkan laptopnya, ia mengutak-atik dan tidak tahu mau berbuat apa. Toh ... ia ke sini hanya untuk bertemu Fideline. "Lalu apa kau akan membebaskan kami?" "Iya jika kau mau aku ajak kerjasama, Fidelina." "Lakukanlah. Aku ingin pergi dari sini bersama anakku. Aku tak peduli dengan pria itu." Tatapan Fidelina mengarah pada Piere yang sedang melayani tamu, Fidelina seakan tak terima jika pria itu tega membunuhnya juga sang anak hanya demi uang. Pria yang dia nikahi ternyata memanfaatkan kekayaannya untuk berjudi. "Tapi kau harus memberinya hukuman, Fidelina. Kau dan anakmu butuh keadilan," tegas Guia. "Aku tak bisa menghukumnya. Aku sudah bukan lagi manusia." "Kau bisa melakukannya dengan bantuanku. Tunjukkan saja di mana tubuhmu, Fidelina? Dari sana polisi bisa menghukum Piere." Fidelina menunjukkan suatu tempat dengan jarinya, Guia membulatkan mata tak percaya. Apa benar yang ditunjuk Fidelina? Betapa kejamnya Piere menguburnya tepat di meja kasir. Pantas di dapur, Gillermo tak menemukan apapun. "Jadi selama ini kau menjaga tubuhmu dan berdiri di sini?" "Iya agar tak ada yang mengambil dan memindahkan tubuhku." "Lalu tujuanmu menakuti orang yang makan di sini apa?" Fidelina bercerita jika dia ingin memberitahu orang yang berkunjung ke restoran ini agar tubuhnya ditemukan. Sayangnya, manusia itu keburu ketakutan melihat sosok menyeramkan Fidelina. Guia menghela napas, siapa yang tidak takut jika bertemu makhluk tak kasat mata? Bertatap saja sudah membuat mereka lari ketakutan apalagi jika diajak bicara seperti yang dilakukan Guia saat ini. "Baiklah aku akan membantumu pelan-pelan, karena suamimu itu bukan orang yang mudah ditaklukan." Guia akan membantu Fideline apapun caranya, ia tak mau hantu wanita itu terus menganggu pengunjung restoran dan juga demi kebaikan Fidelina sendiri agar kembali ke tempat yang seharusnya. Guia tak bisa membawa serta Fidelina masuk serulingnya, ada CCTV yang bisa melihatnya saat mengeluarkan benda itu dari lengannya. Siapapun tak boleh ada yang tahu jika Guia memiliki kekuatan seperti itu. **** Guia menikmati cuaca sore saat ia menerima telepon dari Leandro. Sejenak ia merasa senang karena pria itu tak melupakan janjinya untuk menelepon kala senggang. ["Hai Gadis tengil, kau sedang apa di sana?"] "Melihat senja, Dok. Dokter sendiri?" Guia mulai bisa bicara dengan nada pelan dan sopan tentunya. Sebelumnya ia begitu jutek dan gaya bicara yang menyebalkan. ["Aku selesai mengoperasi pasien. Rasanya lelah sekali dari siang sampai sekarang belum makan."] "Makan saja, Dok. Kalau anda sakit nanti bisa repot, bukan?" ["Kalau aku sakit itu semua karena kamu, Guia."] "Kenapa aku? Aku tidak ada hubungannya dengan anda, Dok," ucap Guia bagaikan orang tidak tahu apapun jika Leandro menaruh hati padanya. ["Aku rindu loh sama dirimu, apa kau juga seperti itu?"] Terdengar nada serius di ujung telepon sana, tetap saja Guia menanggapinya biasa saja. "Sayangnya aku tidak tuh." ["Kalau aku pulang, kau harus menepati syarat untuk makan siang bersamaku selama sebulan."] Ya, Guia tentu saja ingat. Ini semua karena ia meminta tolong pada Leandro dengan syarat yang harus dipenuhi dan bodohnya ia selalu saja mau diajak. Bukankah ia bisa menolak jika sedang sibuk? Entah mengapa Guia tak bisa melakukannya. "Iya aku tahu. Sudah ya Dok teleponnya. Aku mau pulang dulu." ["Tunggu aku. Jangan pergi dengan siapapun selain aku."] Guia menutup ponselnya, ia merenung sejenak. Sebenarnya hubungan ia dan Leandro itu apa? Di saat pria itu pergi, ia merasa kesepian. Benarkah yang diucapkan Gillermo jika ia menyukai Leandro? Guia menghembuskan napas panjang sebelum beranjak dari kursi taman. Ia menaruh ponsel di dalam tas dan akan bersiap-siap memulai misinya mencari kebenaran atas kematian Fidelina. "Aduh ...." Guia meringis ketika tanpa sengaja ada yang menyenggolnya. "Maaf Nona. Saya tidak sengaja, apa anda baik-baik saja? Apa perlu ke rumah sakit?" "Stop! Aku tidak apa-apa, Tuan." Guia dibantu pria bertopi hitam itu membereskan isi tasnya yang berserakan akibat bersenggolan. Guia menengadahkan kepalanya untuk melihat pria tersebut. "Sekali lagi maafkan saya," ucap pria bermata cokelat itu tampak tenang. "Iya sudah aku maafkan." Guia tak bisa berhenti melihat pria itu, ada sesuatu di pikirannya untuk menjauhi pria ini. Entah apa sebabnya, tapi yang pasti Guia ingin segera menghindar dan pergi dari tatapannya. "Nona, tunggu!" Guia pura-pura tidak mendengar, kakinya terus belari dan tidak mau menoleh ke belakang. Bau tubuh pria itu bukan dari parfum manusia pada umumnya, bau itu mengingatkan pada sosok yang telah menghancurkan keluarganya. **** Hal tergila yang pernah dilakukan Guia adalah menyelinap ke restoran malam hari. Ia tak bermaksud mencuri atau mengambil makanan tentunya, ia harus masuk dan harus menemukan rekaman cctv tersembunyi ketika Piere membunuh Fidelina. Piere berhasil mengecoh polisi dengan menghapus rekaman dan menghancurkan bukti, tetapi ia tak pernah tahu jika Fidelina menaruh benda itu di suatu tempat. "Apa kau yakin suamimu tidak ke sini? Bisa kacau jika aku bertemu suamimu," ucap Guia ketika bertemu Fidelina sesampainya di restoran. Guia masuk melalui pintu dapur, di mana ada kunci cadangan yang selalu diselipkan Fidelina di bawah pot bunga Eldelwies. Dengan ditemani Gillermo, Guia masuk ke restoran yang sudah tutup satu jam lalu. "Piere akan menghabiskan waktu hingga pagi di tempat perjudian," jawab hantu Fidelina datar. "Syukurlah. Aku tak mau sampai dilaporkan polisi karena menyusup." "Lebih baik dilaporkan polisi daripada kau dibunuh," sahut Gillermo dengan santai sambil mengawasi keadaan luar. "Dasar Gillermo! Perkataanmu itu menyakitkan hatiku!" Guia mencebikkan bibir karena kesal akan ucapan Gillermo, ia tak menanggapi perkataan kembarannya dan memilih mencari kamera cctv dan pisau yang digunakan Piere. "Kau taruh di mana, Fidelina?" Hantu Fidelina menatap Guia, menoleh ke kiri dan menunjukkan ke arah meja yang di atasnya ada patung orang berperang. Guia mencari dan menemukan kamera kecil di sepasang mata patung tersebut. "Aku menemukannya, Gill!" Guia tanpa sadar ingin berteriak, untung saja Gillermo membekap mulutnya sebelum ketahuan oleh Piere yang datang mengambil uang di kasir. Guia terpaksa bersembunyi di bawah meja dengan hati yang berdebar kencang. Piere tak mungkin bisa melihat Gillermo, sedangkan dirinya? Ah, Guia mulai panik. "Siapa di sana?" Piere menghentikan langkahnya, menyalahkan lampu dan melihat sekeliling restoran. Ia merasa ada suara kursi yang bergeser, sehingga ia menghampiri kursi di mana ada Guia bersembunyi. Nyali Guia ciut seketika, kaki Piere semakin mendekat. "Siapa di sana?" Gillermo terpaksa memakai kekuatannya untuk menakuti Piere, Gill memutar televisi dan kursi yang bergerak sendiri. Piere ketakutan setengah mati dan beranggapan jika itu adalah hantu sang istri yang hendak menakutinya. "Bagaimana bisa suamimu lari sekencang itu? Seharusnya ia senang bisa bertemu denganmu, bukan Fidelina?" Guia keluar dari tempat persembunyian dan melihat Piere lari bagai kesetanan sambil berteriak menyebut ada hantu di restorannya. "Otakmu perlu dibersihkan Guia. Tentu saja pria itu ketakutan karena ia tahu jika dirinya salah," timpal Gillermo menjitak kepala Guia. "Enak saja mengatai otakku perlu dibersihkan? Memangnya otakku itu tempat sampah," dengkus Guia kesal pada Gillermo yang sesuka mulutnya bicara. "Kenyataannya seperti itu kok," jawab Gillermo santai sambil membuka pintu dapur untuk Guia keluar. Andai saja Guia memiliki kekuatan layaknya makhluk tak kasat mata yang menembus benda, Gill tak perlu merepotkan dirinya membantu sang adik keluar tanpa diketahui cctv. Namun, Guia tak menyadari jika ada yang memperhatikan sesaat sebelum ia pergi. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN