Part 26 Plan Of The Demon King

1532 Kata
Sebenarnya ada yang kosong ketika Guia tak mendapati Leandro datang menjemputnya. Pria itu bertugas di luar kota selama seminggu. Entah mengapa ia bisa memikirkan Leandro padahal mereka hanya sebatas teman. "Ah ini gila. Buat apa aku memikirkannya?" Guia menggerutu sembari berjalan santai di sekitar pertokoan, hari Sabtu biasanya ia habiskan bersama Leandro sekedar menonton atau makan malam saja. Kini ia sendiri menikmati malam minggu tanpa ditemani Leandro ataupun Gillermo yang sedang menyelidiki kematian Maximus, bocah kecil yang meminta tolong pada Guia. ["Kau tahu restoran di sebelah toko buku itu?"] ["Iya ada apa?"] ["Jangan pernah ke sana. Ada sosok menyeramkan menghantui tempat itu. Saat kau berada di kasir, kau akan melihat dari cermin ada wanita menunduk dengan luka di perut."] ["Benarkah?"] ["Iya. Adik kekasihku sampai menjerit ketakutan dan tidak mau lagi ke sana meski makanannya enak."] Guia sedang asyik menikmati satu scoop es krim cokelatnya saat ia mendengar perbincangan dua gadis remaja di sebelahnya. Ia tahu tempat yang dimaksud mereka yaitu restoran yang pernah dirinya dan Leandro kunjungi. ["Aku dengar pria itu suami kedua dari wanita pemilik restoran."] ["Jadi itu bukan restoran milik pria itu?"] Dari dua gadis itu, Guia dapat informasi gratis. Ia segera berjalan menuju restoran yang hanya beberapa blok saja dari tempatnya membeli es krim. Ia bernyanyi kecil sembari menggigit tanpa sisa toping cokelatnya. "Ternyata pria itu bukan ayah kandung Max. Di mana aku harus menemukan tubuh bocah kecil itu? Dia muncul kadang tidak, ah hantu anak kecil memang merepotkan." "Ada apa, Nona?" Ucapan Guia didengar tanpa sengaja oleh pria pemilik restoran itu yang sedang memasang papan pengumuman. Guia langsung balik badan dan belari menuju seberang, ia benar-benar terkejut tadi dan tidak menyadari jika pria itu ada di belakangnya. Guia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, pria itu menyeramkan bagi Guia apalagi saat tahu jika pria bertubuh besar tersebut yang telah membunuh sang istri dan anak tirinya. "Anda sepertinya ketakutan, Nona. Duduklah sebentar di sini," ujar wanita pemilik kafe truk. Ia lalu menyerahkan segelas air untuk Guia minum. "Terima kasih, Bi---" "Panggil saja bibi Marge. Kau sedang apa di restoran itu, Nak?" tanya Marge sambil menyuruh Guia duduk di kursi rotan. "Aku penasaran saja, Bi. Ada kabar yang berembus jika restoran itu berhantu makanya sepi," sahut Guia yang berbohong. "Dulu jauh sebelum Fidelia menikah dengan pria itu, restorannya begitu ramai bahkan sampai antri. Namun, setahun belakangan ini setelah menikah kedua kalinya. Restoran itu tampak sepi dan kini Fidelia kabur bersama anaknya meninggalkan suaminya," jelas Marge memberitahu Guia mengenai kehidupan wanita berbaju orange itu. "Kabur? Kok bisa, Bi?" Guia tak percaya jika hantu wanita bernama Fidelina itu kabur bersama anaknya-- Max. Untuk apa kabur jika dia memiliki sebuah usaha yang bisa mencukupi kebutuhannya? Kecuali satu hal yaitu ada campur tangan pria itu alasan ibu dan anak itu kabur. "Bibi juga tidak tahu. Sudah tiga bulan ini bibi tidak melihat Fidelina dan Maximus, bocah kecil yang menggemaskan." "Apa bibi pernah mendengar keributan yang terjadi antara Fidelina dan suaminya?" tanya Guia pelan dan mencari tahu. "Selama ini meskipun tempat kami berseberangan, tapi aku tak pernah melihat mereka bertengkar. Mereka selalu tampak romantis sekali. Aneh bukan jika Fidelina kabur?" Untuk beberapa saat Guia mulai menemukan titik terang. Ia tak yakin Fidelina kabur, karena mereka yang sudah meninggal, rohnya akan ada di tempat di mana terakhir mereka meregang nyawa. Misal seperti kasus Fidelina, Guia percaya kalau wanita itu dibunuh di dapur sesuai penglihatannya. Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang, mengapa Max ada di hutan sedangkan di penglihatannya Max dibunuh di sebuah gang? Lalu di mana mayat anak kecil itu? "Kalau begitu aku pamit pulang, Bi. Sudah hampir malam," pamit Guia pada Marge. "Mampir jika kau ada waktu senggang, Nak." Guia mengangguk dan menyeberang jalan, ia harus melewati restoran itu jika harus pulang ke rumah. Saat berada di depan restoran yang sudah tutup, sekilas Guia melihat hantu Fidelina tetap diam dan berdiri di meja kasir. "Sepertinya kali ini aku harus menemui Jacian." **** Tengah malam ditemani Gillermo, Guia berangkat menuju rumah bukit. Ia harus sampai di sana dan memberi informasi yang sudah ia kumpulkan mengenai hantu wanita itu. "Kau lagi?" Baru saja Guia sampai, di pintu gerbang Maximus datang dengan memegang jubah Guia lalu tersenyum seperti kemarin waktu mereka bertemu. "Apa kau mengikutiku, Max?" "Ya." Max menjawab singkat namun penuh makna. "Kau ke mana saja? Hmm ... maksudku kau itu sebenarnya dari mana?" "Terakhir kali kau bertemu siapa, Nak?" Guia maupun Gillermo harus berkata pelan dan bahasa yang mudah dipahami anak sekecil Max. Mereka tak mau kehilangan kesempatan ini, sebab Max masih ada di sekitar mereka. "Aku diajak ayah ke sebuah gang di belakang hotel besar itu lalu aku tidak tahu lagi. Rasanya di sini sakit," tunjuknya di bagian jantung yang berlubang. "Lalu kenapa kau bisa ada di hutan?" Inilah yang aneh. Seharusnya Max menjadi hantu di gang itu bukannya ada di hutan? Kecuali satu yaitu tubuhnya dikubur di hutan. "Ada yang membawaku. Kata pria itu aku harus menunggu manusia di hutan ini agar aku bisa menemui ibu," jawabnya polos. "Siapa nama pria itu, Nak?" tanya Gillermo lembut. "Namanya Asdeus." Guia berusaha mengingat nama itu, tapi otaknya tak mampu berpikir sekarang. Saat ini yang penting adalah memasukkan hantu Max ke dalam serulingnya dulu. "Max, kau mau menemui ibumu, bukan?" tanya Guia disambut anggukan kebahagian Max. "Apakah aku akan segera menemui ibu kalau aku masuk ke sana?" tanya bocah kecil itu dengan lugunya, dia ingin segera menemui sang ibu. Terakhir bertemu ketika makan malam sebelum ayah tiri mengajaknya pergi. "Iya aku akan mempertemukanmu dengan ibumu," sahut Gillermo. "Aku sudah siap." Raut wajahnya tak menunjukkan ketakutan malah sebaliknya. "Kalau begitu, kau bersembunyi dulu di dalam sini ya. Jika aku kehilanganmu lagi, kau tak bisa menemui ibu." Bocah kecil itu terdiam sejenak lalu mengangguk. Dia ingin segera menemui ibunya jadi menurut saja saat Guia mulai meniup seruling lalu seketika Max sudah ada di dalam benda itu. **** "Sepertinya ini kasus pembunuhan, Guia. Fidelina dan Max dibunuh di tempat berbeda. Tiga bulan ini tak ada catatan kepergian mereka ke manapun. Piere suaminya begitu pandai menyembunyikan jasad mereka." Jacian yang awalnya tak mau terlibat akhirnya mengalah dan membantu Guia juga Gillermo untuk memberi ketenangan bagi roh Fidelina beserta anaknya. "Dari penglihatanku dan Gillermo, Fidelina pasti disembunyikan di dalam restoran sedangkan Max ada di gang belakang hotel." Memang di belakang hotel terdapat gang yang menghubungkan rumah penduduk yang sederhana atau biasa disebut kawasan rusun. Di sana rumah asli Piere suami Fidelina tinggal. "Saat aku ke kantor polisi, ternyata Piere itu lima tahun silam pernah melakukan pencurian dan masuk penjara," sahut Izabelle yang ikut menimbrung. Jika bukan karena Izabelle yang kenal dengan anggota kepolisian tak mungkin mereka bisa menemukan rahasia Piere, Belle yang menjadi orang nomer satu dan bisa diandalkan dalam mengurus hal yang mengenai hukum. "Jadi apa penyebab mereka dibunuh?" tanya Guia yang tidak menemukan jawabannya. "Kemungkinan hanya dua, Guia. Piere ketahuan selingkuh atau Piere ingin menguasai harta kekayaan Fidelina, perlu diingat jika pria itu gila judi dan main perempuan. Jadi silakan kalian pikir saja sendiri," ungkit Izabelle. "Wah tugas kali ini sungguh berat," gerutu Guia sambil menyomot cokelat lalu memakannya dengan lahap. "Jangan makan terus, Guia! Pikirkan caranya menemukan jasad Fidelina," kata Jacian melempar kacang di kepala Guia. Guia memajukan bibirnya, kenapa kakaknya selalu menganggu kesenangannya di saat makan cokelat? "Oh, ya makhluk yang membawa Max pergi itu namanya Asdeus. Kau kenal dia, Jac?" Jacian dan sang istri saling pandang, mereka tahu dan kenal sosok itu. Sosok yang membantu raja iblis membunuh kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Gillermo, tetapi Gill belum bisa memberitahu. "Sepertinya kau dan Gill kenal? Siapa dia?" "Kenapa kalian diam? Apa hanya aku yang tidak tahu?" Guia menatap mereka satu persatu, ada yang salah dengan sikap diam mereka. "Asdeus anak buah sekaligus saudara dari raja iblis." Guia terkejut hingga menumpahkan botolnya, ia tak menyangka sama sekali jika Asdeus yang membawa roh Max ke hutan atas perintah raja iblis. Tapi untuk apa dia melakukannya ini? Bukankah membawa roh Max ke hutan sama saja membantu Guia? "Apa rencana raja iblis itu? Mengapa dia membantu kita bertemu roh Max?" Semua menggeleng tak tahu alasan di balik raja iblis yang membantu mereka bertemu roh Max. Guia juga tak bisa memahami itu dan ia perlu jawabannya. Namun, ia tidak tahu di mana keberadaan Asdeus dan raja iblis saat ini? **** "Bagaimana bisa anda melakukan di luar nalar pada gadis itu?" Dua makhluk itu sedang bercakap di balkon, rumah menyerupai kastil besar dan gelap berada di sebuah hutan yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. "Maksudmu As?" Layaknya manusia, mereka juga menjalani kehidupan dunia seperti menyantap makanan ataupun meminum whisky. Segala nikmat dunia ada pada mereka, karena mereka adalah iblis yang akan membawa kehancuran. "Aku tidak mengerti dengan cara pikirmu meskipun kau adalah kakakku." Jika sedang berdua, Asdeus tak mau memanggil sang kakak dengan sebutan Tuan. "Oh maksudmu mempertemukan hantu anak kecil itu dengan Guia?" Akhirnya dia paham maksud sang adik. "Biasanya kau selalu mendatangkan makhluk tersebut untuk menyerang gadis itu tapi kau malah membantunya?" Asdeus tak habis mengerti dengan pola pikir sang kakak. "Aku hanya ingin bermain-main saja. Rasanya menyenangkan, Asdeus." Asdeus hanya menggelengkan kepalanya, tetap saja dia tak paham maksudnya. Sang kakak malah tertawa keras hingga menyebabkan kawanan kelelawar mengitari kastil mereka. "Terserah kau saja. Aku tak mau mengurusi jika kau melakukan kesalahan." =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN