Part 25 The Little Boy Needs Help

1634 Kata
Langkah Guia terhenti ketika memasuki gerbang kampus, mereka saling menatap dan tampak diam untuk sesaat. Pria di depan Guia berusaha memberi penjelasan, tak peduli jika mereka dilihat. "Ada apa Rod?" Guia sebenarnya malas berhubungan dengan Rod, ayah sahabatnya itu sudah melukai perasaannya saat mengatakan jika ia tak pantas bersanding dengan Rod karena dirinya hanya gadis miskin. "Maafkan aku dan ayahku, Guia," ujarnya sambil berusaha memegang tangan Guia dengan erat. "Iya sudah aku maafkan dan sekarang lepaskan tanganmu, Rod." Guia menyingkir beberapa jarak darinya, bukan karena adanya banyak pengawal di sekeliling Rodolfo dan bukan juga tatapan dari ayah Rod. Lagi, makhluk yang hanya berupa kumpulan asap hitam mengeliling sahabatnya. Apa yang terjadi? Bukan suatu kebetulan juga, ini sudah ketiga kalinya Guia melihat hal yang serupa. "Ada apa dengan tatapanmu itu? Apa karena ayahku?" Guia menggeleng, berusaha tersenyum akan ketakutannya menghadapi sosok hitam pekat di belakang Rod. Ia menahan kakinya agar tidak lemas, sosok itu benar-benar menganggu penglihatannya. "Aku akan pergi, Guia." Rodolfo kembali memegang tangan Guia, meyakinkan gadis itu mengenai permintaan maafnya sebab ia akan pindah sekolah dan tidak akan bertemu dengan sahabat sekaligus gadis yang disukainya. "Kau mau ke mana, Rod?" Meskipun Rodolfo sudah melukai Leandro juga dengan perkataan ayahnya tak serta merta membuat Guia membenci sahabatnya. Ia akan merasa kehilangan Rod jika memang pemuda itu pindah. "Ke kota lain, ayahku ada tugas di sana." "Selamanya?" Mata Guia mulai berair, ia akan kehilangan sahabat yang mau menerima dirinya. "Iya tapi jangan khawatir aku akan mengunjungimu jika berlibur." "Jangan cengeng, Guia. Aku tidak pergi berperang," gurau Rod menahan tangisnya juga. Rod hendak memberi sebuah kalung ketika ayah Rod menyeretnya pergi dan masuk mobil. Rod tersenyum pedih sambil melambaikan tangannya. "Cepat naik mobil, Rod! Ayah tak mau kau berhubungan dengan gadis ini lagi, ia tak sepadan dengan kita." Perkataan ayah Rod hanya dianggap angin lalu bagi Guia, ia tak peduli ataupun membantah. Toh memang ia tak pernah ada hati untuk Rodolfo. Namun ia merasakan sedih jika Rod pergi, karena tak ada lagi orang yang mengusilinya. "Aku masih menyukaimu, Guia. Sampai kapanpun!" Guia mendekap kotak kalung pemberian Rod, ia memandang kepergian sang sahabat dengan perasaan campur aduk. Ia tak menyukai Rod, karena baginya pria itu sudah dianggapnya saudara terbaik. Untuk kesekian kalinya, ia merasakan kehilangan lagi. "Baguslah kalau temanmu sudah pergi." Guia menghapus air matanya dan menelengkan kepalanya, ada Leandro tersenyum dengan mengedipkan mata. Satu masalah sudah selesai kini ada orang yang akan menganggu kesehariannya. "Apa anda senang melihat sahabat dekatku pergi?" Guia menyahut sembari berjalan menuju kampus, untung saja tadi waktu bertemu Rod suasana kampus masih sepi. Jika ramai, bisa dipastikan akan banyak foto dan bahan gosip sekampus. "Iya tentu. Aku sudah tidak akan memiliki saingan," ujarnya berjalan di sebelah Guia. "Maksud anda?" tanya Guia curiga akan perkataan Leandro. "Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti." "Aku sibuk, Dok. Tidak seperti anda yang selalu berkeliling di sekitar kampus," dengkus Guia berhenti menatap Leandro kesal. "Wah melanggar janji nih. Kau tidak boleh melanggarnya, Guia. Ingat kau akan mendapatkan hukuman dariku!" Jarinya menunjuk ke kening Guai lalu menyentilnya. "Aduh ... anda ini selalu mengatakan mau menghukumku. Memangnya apa hukumannya jika aku melanggar?" Leandro menyunggingkan senyuman misteriusnya dan mengucapkan kalimat yang membuat Guia mati kutu lalu berlari menghindar. "Aku akan menciummu, Guia!" ***** Oke kali ini, Guia tak dapat menolak permintaan Leandro untuk makan siang bersama. Ia tidak mau terkena hukuman dari pria itu. Restorannya tidak begitu jauh dari kampus jadi Leandro mengajaknya berjalan kaki menikmati udara sejuk pepohonan di trotoar. "Ayo masuk." Guia melihat sesuatu yang aneh di depan restoran ini, ia bisa merasakannya dengan seruling yang bergerak di dalam tubuhnya. Jika benda itu bergerak seakan ingin keluar, itu artinya ada makhluk tak kasat mata di sekitarnya. "Kau lihat apa sih? Ayo cepat masuk, jangan bengong di depan pintu," ucap Leandro menggandeng lengan Guia lalu membuka pintu. Dan benar sekali, tepat di meja kasir, mata Guia menangkap satu sosok wanita bergaun orange menundukkan kepala. Terdengar suara isakan tangis dari bibir wanita itu yang menyedihkan dengan menyebutkan satu nama. "Kau mau pesan apa?" tanya Leandro setelah mereka duduk. Guia melihat di sekeliling, tak banyak pengunjung hanya beberapa saja. Guia baru pertama kali menginjakkan kaki ke sini yang konon masakannya terkenal dan banyak pengunjung, tapi yang dilihat Guia malah sepi. "Guia, apa yang kau pikirkan sejak tadi?" Leando bertanya sambil menjentikkan jarinya ke wajah Guia. "Oh itu aku pesan Fried Herring Sandwich saja dan lemon tea." Pelayan restoran mencatat pesanan Guia sebelum ia bertanya pada Leandro yang masih memilih menu. "Bagaimana dengan anda, Tuan?" "Saya pesan Soupe a l'oignon ( sup bawang daging ) dan lemon tea juga." Pelayan tersebut segera menuju dapur dan memesankan menu makanan tersebut. Leandro menyapu matanya ke seluruh ruangan dan benar kata orang di luar sana jika restoran ini tak seramai dulu. "Tempat ini sudah sepi. Padahal dulu banyak pembeli bahkan sampai antri," kata Leandro menghela napas. Ini adalah tempat favoritnya tahun lalu jika makan siang. "Iya dulu sampai malam tutup, orang-orang menyukainya," sahut Guia mengingat-ingat dengan terus melihat ke arah kasir. Ia yakin jika roh itu ada hubungannya dengan tempat ini. "Mungkin karena istri dan anaknya sudah meninggal jadi pria itu menjalankan usahanya sendiri," timpal Leandro memperhatikan Guia yang gelisah sejak tadi. "Ada apa? Sedari tadi aku perhatikan, kau melihat ke arah itu." Leandro bahkan sampai ikut menatap arah mata Guia menuju tempat meja kasir, ia tidak melihat apapun yang bisa diperhatikan hanya pria pemilik restoran saja. "Tidak ada. Aku kasihan melihat pria itu yang ditinggal istri dan anaknya." Dalam hati Guia menebak, kemungkinan besar wanita itu adalah istri pemilik restoran yang sudah meninggal. Tapi mengapa wanita itu menatap tajam kepada suaminya dan penuh kebencian? "Ya sudah makan saja. Jangan pikirkan hal lain." Guia memilih makan terlebih dulu dan memikirkan langkah selanjutnya. Ia juga dibuat penasaran terhadap wanita itu, mengapa dia tidak mau pergi ke tempat yang seharusnya? Leandro maupun Guia menikmati makanan yang tersaji, mereka terdiam tanpa banyak bicara. "Kau ingin kembali ke kampus atau pulang ke rumah?" tanya Leandro selesai makan dan membayar di kasir. "Aku pula---" Tanpa sengaja lengan Guia bersentuhan dengan wanita itu, seketika Guia melihat kilasan masa lalunya dan tersentak karena dia dibunuh oleh ... suaminya sendirinya. Anaknya juga diperlakukan sama tapi di tempat yang berbeda. "Guia, kau baik-baik saja?" Leandro melihat Guia jatuh tersungkur di lantai dengan napas tersengal dan wajah penuh keringat juga pucat. Padahal baru beberapa menit lalu, gadis itu bersemangat menyantap makan siangnya dan kini ia tampak tak sehat. "Ah iya, aku baik saja. Antarkan saja aku pulang, Dok." Leandro segera menggendong Guia ke mobil, meskipun Guia bisa berjalan. Ia tak mau sampai gadis yang disukainya jatuh pingsan. Ia segera melajukan mobil dan menyuruhnya tidur. **** ["Dasar wanita tidak tahu diri!"] ["Serahkan semuanya padaku dan aku tidak akan membunuh anakmu."] ["Jangan bunuh anakku! Kau bisa memiliki semuanya asal kau ijinkan aku pergi bersama Max."] Guia gelisah dalam tidurnya, ia memimpikan peristiwa yang dialami roh wanita itu. Nyata sekali seperti ia melihat sendiri di depan matanya ketika wanita tersebut dibunuh di dapur restoran dan sang anak yang dibunuh di sebuah gang. Guia langsung membuka matanya, ia terbangun dan mendapati dirinya kini berada di kamarnya sendiri. Di depannya ada Gillermo yang memperhatikan penuh tanda tanya dan Jacian yang sedang mengaduk ramuan teh. "Apa yang terjadi lagi? Kau bersentuhan dengan makhluk tak kasat mata?" tanya Jacian sembari memberikan Guia segelas ramuan yang dibuatnya. "Masalahnya aku tak bisa menghindar, Jac." Satu kelemahan Guia, ketika ia bersentuhan dengan makhluk tak kasat mata. Ia akan masuk ke masa lalu makhluk itu dan mengetahui cara mereka tiada. Ia juga akan mengalami kesakitan yang sama seperti cara mereka meninggal. "Kalian tahu? Saat tanganku bersentuhan dengan makhluk itu, rasanya di sini sakit sekali. Ternyata begitu ya rasanya ditusuk?" "Jangan bercanda dalam keadaan seperti ini, Guia," kata Jacian menggelengkan kepalanya. "Hampir saja rahasiamu ketahuan pria itu," timpal Gillermo. "Oh ya? Mana aku tahu, Gill. Aku tak sadar kalau aku sampai menunjuk wanita itu padahal ia tidak bisa melihat," sahut Guia menyadari kebodohannya. "Lain kali berhati-hatilah. Jangan tunjukkan siapa dirimu sebenarnya pada siapapun," imbuh Jacian sembari menajamkan matanya kepada Guia yang tak meminum ramuan itu. Guia memanyunkan bibirnya, ia benar-benar tak menyukai ramuan buatan Jacian. Namun, ramuan itu ampuh untuk membuatnya tak kesakitan setelah bersentuhan dengan mereka yang sudah meninggal. "Kenapa kau tahu aku sakit, Jac?" Guia baru menyadari kehadiran Jacian di sini, sang kakak itu akan datang jika terjadi sesuatu padanya. "Dokter itu yang meneleponku dan menyuruh datang, karena ia tak bisa menjagamu. Ia harus keluar kota sementara waktu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan." "Oh pantas kau ada di sini, Jac," kata Guia bagaikan orang tak berdosa lalu bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. "Jac, tolong buatkan aku makan ya," sahut Guia tersenyum sambil membuka pintu. Ingin rasanya Jacian menjitak kepala Guia jika tak ingat kalau gadis itu adalah adiknya. Beda halnya dengan Gillermo, Gill melihat ada sesuatu yang berbeda pada diri Guia kembarannya. Gill merasa jika Leandro menyukai sang adik. **** "Guia ...." panggil Gillermo ketika berada di meja makan. "Ada apa?" Guia menjawab sembari mengunyah nasi goreng buatan Jacian. "Apa kau tak menyadari selama beberapa minggu ini, tak ada makhluk yang menganggu kita atau dirimu yang dipanggil untuk membasmi mereka? Baru tadi kau mengalaminya." Perkataan Gillermo menghentikan suapan terakhir Guia, ia mengingat kembali hari-harinya hampir tiga minggu ini dirinya tidak diusik oleh mereka yang tak kasat mata. Biasanya makhluk itu selalu menampakkan diri dan meminta tolong. "Benar kata Gill, apa yang sedang terjadi?" Jacian ikut menyahut. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku saja baru menyadari jika mereka tak memperlihat dirinya padaku selama tiga minggu ini seakan-akan hilang. Aku baru melihat kembali keberadaan mereka saat ada hantu anak kecil memanggilku di hutan," jelas Guia. Entah dirasakan atau tidak oleh Guia, sebenarnya gadis itu sedang dipermaikan oleh raja iblis. Dia sengaja melakukannya dan merasa senang melihat Guia tampak bingung dengan ulahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN