Part 24 Nightmare

1618 Kata
Guia berjalan di antara semak belukar, menyusuri tiap langkah menuju tempat yang tak ia kenal. Ia harus segera menemukan jalan keluar, di sini tak ada kehidupan atau seorang pun yang bisa ia temui. "Sebenarnya ini tempat apa? Mengapa aku berada di padang gurun penuh semak belukar?" Guia yakin sekali jika ia terlelap di kamar tamu milik Leandro, tetapi sekarang ia tidak tahu pasti di mana dirinya sekarang. Bahkan saat Gillermo dipanggil, Gill tak menampakkan batang hidungnya. Guia terus menjejaki kakinya dan tetap berjalan lurus, ia menyakini jika berjalan tanpa berbelok nantinya akan menemukan rumah penduduk. Ia tak peduli telapaknya yang perih. Lucu rasanya, karena di alam mimpi ia bisa merasakan sakit. Jauh dari tempatnya berdiri, Guia mendengar pedang betalu dan suara ledakan. Ia menajamkan pendengarannya dan melangkahkan kakinya hingga sampai ke tepi jurang. Di bawah sana bukan sebuah jurang melainkan tempat terjadinya peperangan. "Apa yang terjadi di bawah sana?" Guia berjalan amat pelan agar dirinya tidak tersandung lalu terjatuh. Ia pun segera mengintip sejenak, ada rasa keraguan dan takut untuk menundukkan kepalanya melihat ke bawah. Dengan rasa cemas sekaligus penasaran, ia memberanikan diri melihat. "Ya ampun! Aku ... aku ... ada di sana." Guia melihat dirinya sendiri sedang berhadapan dengan sosok yang ia kenali. Tidak mungkin itu dirinya bersama Gillermo bertarung melawan raja iblis, yang paling membuatnya syok ketika matanya menangkap satu sosok manusia. Sedang apa Leandro ada di alam mimpinya? Di bawah sana, Guia melihat ia memainkan seruling sambil menangis sedangkan Gillermo melawan raja iblis. Satu sosok itu tak pernah menunjukkan wajahnya, dia selalu memakai tudung hingga mencapai leher dan menutupi kepala. ["Pilih Guia! Saudaramu atau pria itu yang ingin aku lepaskan?"] Guia menggeleng dan menangis, di bawah sana dua pria yang ia sayangi diserang oleh raja iblis. Ia harus menentukan siapa di antara Gillermo dan Leandro yang harus hidup. Raja iblis itu benar-benar kejam. ["Lari Guia! Aku bisa melawannya."] "Jangan ...." Ada ledakan besar hingga asap membumbung tinggi, Guia tak bisa melihat apapun. Ia tidak tahu siapa yang menyuruhnya berlari, napasnya sesak dan ingin menyelamatkan kedua pria tersebut. Namun, ada sebuah tangan mencegah dan memanggil namanya. ***** "Guia, kau tak apa-apa?" Guia merasakan sentuhan tangan berada di wajahnya, ia membuka mata dan mendapati Leandro dengan cemas memanggil namanya. Leandro terpaksa masuk, ketika mendengar gadis itu berteriak dan menangis tanpa sebab. "Dokter ...." "Kau bermimpi buruk?" Guia menatap Leandro, pria di depannya ini ada di sana. Di alam mimpinya melawan raja iblis, mengapa Leandro ada di sana? "Ada apa kau menatapku seperti itu? Apa aku ada di alam mimpimu?" Sebenarnya Leandro sengaja bicara dengan nada bercanda, tetapi Guia malah memeluk dan menangis. Leandro yang tidak tahu apapun hanya bisa mengusap punggung Guia, membiarkan ia menangis sepuasnya. "Maafkan aku melibatkanmu," ujar Guia yang masih menangis. "Heh? Apa maksudmu?" Guia merasa bersalah, karena dirinya berdekatan dengan dokter ini maka nyawa Leandro terancam dan menjadi incaran raja iblis. Ia ingin menjauh segera dari pria ini, tetapi hatinya tak bisa menolak kehadiran Leandro yang mengisi kesehariannya. "Ternyata nyawamu belum terkumpul ya? Makanya kau mengigau," kata Leandro merengangkan pelukannya dan mengacak rambut Guia. "Sudah jangan menangis, aku tidak suka. Pasti mimpimu buruk sekali." Bak seperti seorang kakak, Leandro menghapus air mata Guia. Ia terkekeh sendiri melihat penampilan Guia yang sembab seperti habis kena marah dan ketahuan melakukan kesalahan, ia mengambil tissue lalu menyerahkannya pada Guia yang masih terdiam. "Bersihkan air matamu dan mandilah. Aku akan mengantarkanmu pulang lalu ke kampus." Mimpi itu menghantuinya, Guia ingin sekali melihat wajah raja iblis. Sosok yang tega membunuh kedua orang tua dan kembarannya, jika ia bertemu dengannya suatu hari nanti tak akan ada ampun bagi makhluk itu. Ia berjanji akan melindungi semua keluarganya. **** Di kampus Guia tak bisa berkonsentrasi dengan mata pelajarannya, ia terus teringat peristiwa di alam mimpinya. Apakah nanti dirinya akan kehilangan Gillermo dan Leandro? "Nona Guinan, apa anda melamun?" Teguran dari Mrs Hanna membuyarkan pikirannya, ia tersenyum lalu menggeleng. Beberapa temannya mendecih dan berbisik mengenai dirinya, mereka pikir Guia sedang memikirkan Leandro yang sudah tidak mengajar lagi. "Maaf, Mrs. Saya ijin mau ambil obat di ruang obat." "Jika merasa sakit, istirahat saja dulu di sana." Guia mengangguk dan tak memedulikan tatapan teman-temannya. Apa untungnya peduli pada mereka yang tak mau berteman dengan dirinya? Di kampus ini memang tersedia ruang obat di lantai bawah, biasanya dipakai mereka yang sakit atau mengambil obat. Tentunya dengan ijin seorang dokter jaga. Kampus Guia itu besar, terbagi menjadi beberapa bagian. Guia berada di gedung nomer tiga, tempat para anak kuliah jurusan khusus kedokteran. Semua bidang kedokteran ada di sini tak terkecuali jurusan Psikologi, jurusan yang diambil Guia. "Kau sakit, Guia?" Gillermo memegang kening sang adik, demam dan pucat. Gill menjadi khawatir. "Aku hanya flu, Gill," ucapnya sembari mencatat nama dan obat yang harus ia minum. Di kampus ini memang ada segala macam obat, tapi mereka harus diperiksa dulu oleh dokter lalu diberi obat. "Apa kau mimpikan kemarin malam? Kau tampak ketakutan dan menangis?" Gillermo terus mengikuti Guia sampai sang adik diperiksa oleh dokter lalu berbaring sejenak menghilangkan rasa pusing yang berputar-putar. "Gill, apa aku bisa mengalahkan raja iblis?" Guia merebahkan tubuhnya, nyaman setelah punggungnya menyentuh kasur meski bukan di kamarnya. "Mengapa kau tanya seperti itu? Kau bermimpi bertarung dengannya?" Guia enggan membuka suara, ia hanya mengangguk sambil memejamkan mata dan tangan kanan yang ada di atas keningnya. Baru kali ini ia bermimpi buruk bahkan menakutkan, ini hanya sekedar bunga mimpi atau sesuatu yang akan terjadi di masa datang. "Jadi kau menangis di pelukan pria itu karena mimpi buruk?" Guia yang awalnya ingin memejamkan mata malah mendapatkan pertanyaan mengejek dari sang kakak, ia juga tidak mau menangis seperti tadi. Masalahnya ia sungguh ketakutan. "Itu karena dirimu tidak ada di sampingku," bantah Guia mengerucutkan bibirnya. "Kalau kau memelukku itu sama saja di mata orang lain, kau memeluk udara, Guia." Gillermo terkadang gemas melihat Guia. Mana bisa Gill memberinya pelukan ketika berada di rumah orang lain, mereka yang normal akan melihat Guia memeluk bayangan bagai orang gila. "Terserah kau saja. Aku mau tidur sebentar," kata Guia membalikkan badan menghadap jendela. "Tidak usah takut akan masa datang, Guia. Ada aku, Jacian juga kaum Cazador yang siap membantu juga melindungimu." Guia kembali meneteskan air mata, perkataan Gillermo menjadi penguat dan semangatnya. Tanpa disadari ada satu sosok yang mengawasi mereka berdua. **** Guia menolak setiap panggilan dari Leandro, ia sengaja melakukannya dan sedikit memberi jarak pada pria itu agar tidak terjadi apapun padanya. Jumat ini, ia memutuskan untuk ke rumah bukit dan membolos sehari saja. Meskipun tujuannya berada di atas bukit dan harus melewati hutan, tak menyurutkan langkahnya untuk terus maju dan berjalan. Ia menyukai udara pagi dengan sinar mentari hangat, sejenak ia menghirup napas dalam-dalam dan menutup mata menikmati keindahan ciptaan Sang Ilahi. Jubahnya yang panjang terasa ditarik oleh sesuatu, ia segera menoleh. Tepat di sebelah kanan ada satu sosok kecil yang tersenyum padanya, dia begitu manis dan tampan untuk ukuran makhluk tak kasat mata. "Ada apa?" tanya Guia sembari membungkuk, mensejajarkan tingginya. "Kau bisa melihatku, bukan?" Pria kecil--mungkin usianya sama dengan Caprion itu bertanya dan tetap memegang jubah Guia. "Kalau aku tidak bisa melihatmu, tak mungkin aku bisa bicara denganmu, bukan?" "Kalau begitu, apa kau mau membantuku?" Guia memandang dengan teliti makhluk ini, dia bukan dari jaman lampau jika dilihat dari penampilannya. Dia memakai seragam sekolah yang ada di kota ini, hanya beberapa meter saja dari kampusnya. "Apa yang ingin aku bantu, Anak Kecil?" "Temukan tubuhku kakak. Aku ingin pulang bersama ibu, ibu sedang menungguku di sana." Makhluk kecil itu menunjuk ke bawah kota, Guia mengernyitkan tak tahu. Apa petunjuknya ada di kota? "Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi kau dari mana? Aku tak pernah melihat berkeliaran di hutan ini jika aku melewatinya." Ya, baru saja seminggu lalu ia dan Gillermo melewati hutan ini, tetapi tak ada anak kecil itu di sini. Lalu dari mana datangnya? "Aku diambil paksa oleh sosok berjubah. Kau harus segera menemukan tubuhku." Guia berusaha mencari tahu masa lalu hantu anak ini dengan menyentuhnya. Saat tangan Guia memegangnya, ia langsung merasakan kesakitan yang menghujam ulu hatinya, kilasan bayangan ketika hantu ini dibunuh secara keji bersama ibunya. Lalu ada satu sosok yang memisahkan si hantu anak dengan sang ibu. "Sosok berjubah? Maksudmu---" Tiba-tiba makhluk kecil itu menghilang dari hadapan Guia, ia belum tahu siapa anak tersebut. Apa yang diinginkan raja iblis terhadap anak kecil lalu memisahkan rohnya dengan sang ibu? "Namanya Maximus, dia dan sang ibu dibunuh oleh satu orang yaitu suami sang ibu alias ayah tirinya," ujar Gillermo memberitahu. "Kalau begitu, mengapa kita tidak membantunya, Gill?" "Percuma Guia, anak kecil itu kadang suka menghilang dan saat aku tanya penyebabnya atau tempat tinggalnya, dia langsung terdiam lalu pergi. Sudah berulangkali aku bertemu dengannya bukan hanya di sini tapi di tempat lain," imbuh Gillermo. "Jadi kita tunggu saja sampai anak itu mau menjawabnya sendiri." Guia mengangguk pasrah, benar kata Gillermo. Meskipun ia bisa menolong dan mengembalikan jiwa mereka yang tersesat, ada beberapa dari mereka tak mau ke tempat seharusnya dan masih tinggal di dunia manusia. Guia pun melanjutkan langkahnya ditemani Gillermo sampai rumah bukit. **** Tangannya terulur ketika ada yang mengajaknya pergi, tatapan mata tampak berbinar penuh kebahagian. Bocah kecil itu tersenyum kepada seseorang yang di sebelahnya. "Apa paman akan mempertemukanku dengan ibu?" tanya bocah kecil itu polos. "Iya." Jawaban yang diberikan hanya berupa perkataan pendek, tetapi sudah membuat bocah kecil itu terlihat senang. "Di mana ibuku, Paman?" "Ada di suatu tempat," ujarnya lagi datar dengan terus berjalan sambil menggandeng bocah kecil tersebut. "Terima kasih, Paman. Akhirnya aku tidak tersesat lagi." Mereka berjalan di sebuah gang yang penuh dengan kucing, lampu yang redup dan udara dingin. Tak ada seorangpun manusia yang menampakkan diri kecuali mereka berdua. "Paman siapa namanya?" Ia bertanya antusias pada orang yang telah menolongnya, ia ingin tahu saja tanpa menanyai hal lainnya. "Panggil saja aku Asdeus." =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN