"Kau masih marah denganku, Rod? Ini sudah tiga hari kau mendiamkanku."
Guia tak suka jika ada orang yang mendiamkannya tanpa diberi alasan. Ia mendekati Rodolfo di tempat parkir saat pria itu menghindarinya lagi.
"Rod, kau kenapa sih?" Guia berjalan di belakangnya, karena ada tiga pengawal yang melarangnya berdekatan dengan Rodolfo.
Rodolfo terusik dengan teriakan Guia yang dinilainya cukup memekakkan telinganya. Jadi ia berhenti, berbalik dan menyeret gadis itu di taman belakang kampus.
"Rod, sakit tanganku kalau menggandengnya seperti ini!" Guia menarik tangannya lalu meniupnya, Rodolfo sudah keterlaluan.
"Aku tak suka kau berdekatan dengan pria itu. Kau temanku satu-satunya dan tidak ada yang boleh mendekatimu selain aku!"
"Pak Leandro hanya sebatas teman, Rod. Lagipula kau tak ada hak untuk melarangku berteman dengan siapa saja. Kau dan dokter itu sama, Rod. Aku hanya menganggapmu sahabat juga saudara."
"Tapi aku tidak mau, Guia! Aku mau kau jadi kekasihku."
Guia sampai menggaruk telinganya, apa ia tak salah dengar? Mana mungkin Rodolfo yang selalu menjahilinya menyukai dirinya? Ia bukan orang kaya atau terpandang.
"Kau tidak salah ucap, bukan?" Dengan berlagak polos, Guia bertanya sembari tertawa.
"Apa ucapanku ini bercanda, Guia?"
Rod memberinya tatapan tajam, Guia merasa terpojok dan tidak harus menjawab apapun. Guia memang tak menyukai sahabatnya itu. Namun dalam situasi seperti ini, ia harus mencari cara.
"Rod, aku dan dirimu itu berbeda jauh. Kau tak mungkin bisa bersamaku," kata Guia memberi pengertian.
"Tak masalah status kita berbeda. Kau tak perlu mencintaiku, cukup aku saja yang memberikanmu itu," timpal Rodolfo dengan nada serius.
Guia menatap sahabatnya dengan lesu. Masalahnya bukan status melainkan perbedaan mereka sangat jauh, bagaikan langit dan bumi. Guia tak bisa memiliki cinta, takdirnya memang ia harus sendiri untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
"Rod, aku bersyukur memiliki dirimu sebagai sahabat dan juga menyukaiku. Namun Rod, cinta tak bisa dipaksakan. Aku belum bisa menerimanya. Maaf, Rod."
"Kau menyukai asisten dosen tampan itu?"
Guia mendesah lalu menggeleng. Rodolfo dan Leandro memang bisa dikatakan pria tampan juga idola para wanita, akan tetapi Guia masih belum memiliki perasaan pada kedua pria itu.
"Lalu apa alasanmu?"
Rodolfo mendesak Guia segera menjawab, memberinya tatapan tajam sambil mencengkram lengannya. Ia tak mau kehilangan gadis itu.
"Sudah cukup, Rod. Kau tak bisa mendesaknya untuk menerima cintamu."
Teguran dari arah belakang Guia, mengagetkan Rodolfo. Ia tak suka jika asisten dosen itu ikut campur dalam masalahnya, karena kehadiran Leandro membuat rencananya berantakan.
"Hak apa anda, Pak? Ini urusan saya dan Guia. Anda tidak perlu tahu."
Hampir saja pengawal Rodolfo memukul Leandro, tetapi mereka mengurungkan ketika asisten dosen itu menyahut dengan nada dingin.
"Saya hanya ingin melindungi anak didik saya dari orang seperti anda, Tuan Rodolfo! Jangan sesekali membawa pengawal di sini, itu membuat mahasiswa yang lain merasa risih."
"Maaf, saya harus membawa Guia. Kau juga harus masuk ke kelas saya hari ini," ajak Leandro melihat Guia yang sedari tadi diam tak berkutit.
"Dokter Leandro ..."
Leandro menggandeng tangan Guia pergi dari tempat itu. Beberapa mata melihat pemandangan tersebut dan saling berbisik penuh kecurigaan.
****
Karena adanya kejadian pagi tadi membuat Leandro dipanggil dewan kampus begitu juga dengan Rodolfo yang memukul asisten dosennya di depan kelas, karena emosi. Guia merasa malu sekali dan teman-teman sekelas bergunjing mengenai dirinya, tak ada yang berani bertanya hanya membicarakannya di belakang.
"Apa kalian sudah selesai bergunjing?"
Guia menatap tajam ke semua temannya di kelas, selama ini ia sudah sangat bersabar menghadapi mereka selalu membicarakan dirinya yang aneh.
"Apa yang ingin kalian tahu? Aku dan Pak Leandro tidak tahu memiliki hubungan apapun. Begitu juga dengan Rodolfo, kami hanya sahabat saja."
"Cih! Siapa yang membicarakanmu? Benar tidak, Kawan!"
Salah seorang gadis berambut pirang dengan riasan yang terkesan norak menyunggingkan senyum licik pada Guia.
"Jangan salah, Jes. Meskipun telingaku berada jauh, aku bisa mendengar kalian berbisik apapun."
"Dasar gadis aneh! Pasti ada hantu di sekitarmu makanya kau bisa tahu!" timpal gadis yang bernama Jess dengan sinisnya.
"Terbalik, Jess. Justru hantu seorang nenek yang kini ada di sampingmu," ujar Guia seraya membereskan meja lalu pergi meninggalkan kelasnya. Mungkin hari ini ia akan meminta ijin dulu, sudah muak rasanya terhadap teman-temannya.
Guia menatap dalam diam dan penuh arti pada Jess sebelum menggapai pintu, benar di samping gadis sombong itu ada sesosok yang selalu mendekatinya tanpa Jess sadari. Terdengar makian Jess saat Guia keluar.
****
Ah sial, hujan malah turun saat Guia hendak mengambil sepedanya yang sudah lama terparkir di belakang kantin, ia sengaja menitipkan sepedanya jika sewaktu-waktu ada hal penting. Terpaksa ia harus naik bus kali ini dan berharap hujan segera berhenti. Tanpa payung, ia berlari menuju halte bus di depan kampus.
"Dokter ....?"
Guia tercengang, ada Leandro di sebelahnya membentangkan jaketnya di atas kepala mereka berdua. Pria itu tersenyum dengan luka di sudut di bibirnya. Ia mengajak Guia naik ke mobilnya.
"Ayo cepat naik. Kita akan basah kuyub jika seperti ini terus," sahut Leandro menyentil kening Guia yang tampak terbengong.
"Oh ... maaf, Dok."
Guia masuk, sensasi dingin langsung terasa. Ia lupa membawa jaketnya, Leandro sadar jika mereka sama-sama kedinginan dan tangannya terulur memberikan handuk pada Guia lalu menghidupkan penghangat.
"Terima kasih, Dok."
"Mengapa jawabanmu selalu iya, maaf, tidak atau terima kasih? Apa kau sakit gigi?" tanya Leandro bergurau sambil melajukan mobilnya menuju keluar kampus.
"Karena aku membuat anda dipanggil dewan kampus, Dok."
"Ah itu tak masalah, Guia. Aku sudah biasa kok," ujar Leandro dengan santainya.
"Tapi anda tidak bisa mengajar lagi gara-gara aku."
Ya ini masalahnya sampai semua teman Guia menyindir dan mengatainya dari belakang. Leandro tidak akan diijinkan mengajar lagi sedangkan Rodolfo hanya dikenai sanksi hukuman tidak mengikuti mata kuliah selama seminggu. Enak bukan menjadi orang kaya.
"Oh kau mencemaskanku rupanya? Tenang saja, Guia. Aku kan masih seorang dokter di rumah sakit itu."
Guia tak menyadari jika rumahnya sudah lewat sejak tadi dan kini mereka melewati rumah sakit jadi sudah setengah jam Leandro menyetir dan Guia tidak tahu mau ke mana.
"Mengapa aku tak dipanggil? Bukankah aku yang membuat kalian bertengkar?" tanya Guia sembari melihat ada luka lebam di wajah Leandro akibat pukulan dari Rodolfo.
"Aku dan Rodolfo tak mau melibatkanmu, Guia. Biar ini menjadi pertengkaran kaum pria saja," sahut Leandro mengedipkan matanya.
Guia terdiam, mendengarkan lagu klasik yang diputar lalu merapatkan selimut yang diberikan Leandro tadi.
"Kita mau kemana, Dok?"
"Nanti kau akan tahu."
Perlahan mata Guia tertutup karena mengantuk, ia sudah capek karena masalah tadi yang melibatkan ayah Rodolfo dengan dirinya. Pria politikus itu meradang karena anaknya terlibat perkelahian dengan seorang asisten dosen.
*****
Guia bingung, ia tidak tahu ada di tempat siapa dan di mana. Matanya memandang ke setiap sudut kamar, ini bukan kamar Jacian atau sang paman. Ruangan ini terlihat lebih kalem dan tidak gelap seperti pria pada umumnya.
"Maaf aku membawamu ke rumahku. Paman dan bibimu mengirimiku pesan kalau mereka akan pergi bekerja keluar kota."
Mata Guia mengerjap, tubuh atletis berbalut kaos dan celana kain itu mendekat ke arahnya. Dokter itu tampak berbeda saat mengajar dengan hanya memakai jas hitam saja.
"Apa dokter yang menggendongku sampai kamar ini?"
"Kalau bukan aku, siapa lagi? Apa kau terbang?"
Di saat seperti ini, Leandro mengajaknya bercanda padahal dirinya sedang ada masalah di kampus dan wajah yang lebam. Namun, pria itu malah asyik mencandai Guia lalu mengajaknya makan.
"Ayo, turun ke bawah. Aku sudah masak untuk kita makan malam."
Guia beranjak dari kasur, mengikuti Leandro turun menuju meja makan. Baru kali ini ia melihat rumah seorang dokter yang begitu rapi, setiap pijakan anak tangga ditaruh karpet bulu yang halus dan dindingnya juga terdapat lukisan. Rumah berlantai dua ini tampak mewah di mata Guia.
"Apa ini saudara anda, Dok?"
Ketika Leandro menyiapkan makanan, Guia melihat sekeliling rumah milik dokter tampan tersebut. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak di meja kecil di bawah anak tangga.
"Iya. Ia adikku," jawab Leandro berseri menceritakan perihal adik lelakinya.
"Di mana adik anda sekarang?"
"Kuliah jauh di Amerika, ia tidak mau berada di sini. Membosankan katanya," bisiknya dengan tersenyum.
Guia menikmati masakan buatan Leandro, diakui olehnya makanan ini lebih enak dan ia menghabiskannya dengan perasaan senang.
Setelah menikmati makan malam, hujan terus mengguyur tanah dan menyebabkan Guia terjebak di rumah Leandro. Sebenarnya Guia sudah merasa tak nyaman dan ingin lekas pulang naik taxi. Namun, Leandro melarangnya.
"Aku tidak akan berbuat yang macam-macam denganmu, Guia."
"Iya aku tahu." Ucapannya kembali seperti semula, jutek jika menyangkut dirinya.
"Nah seperti itulah Guia yang aku kenal. Jutek dan gadis yang tengil."
Leandro menyeduh teh lavender dan memberikannya pada Guia yang sedang menonton film romantis. Leandro mengetahui kalau gadis itu ternyata menyukai film berbau romantis.
"Apa kau selalu menonton film yang romantis?" tanya Leandro ikut duduk di sebelahnya.
"Aku suka melihat kemesraan antar pemainnya," ucap Guia tampak santai.
"Kalau anda, Dok?"
"Aku tidak terlalu suka film. Berita yang aku suka," jawab Leandro sambil minum tehnya.
Beberapa saat, Guia tak bertanya lagi dan hanyut dalam cerita yang mengharukan. Tanpa disadari, Leandro tersenyum karena melihat Guia yang meneteskan air mata saat seorang wanita kehilangan pasangannya di laut. Ada-ada saja, gumam Leandro.
"Di mana orang tua anda, Dok? Aku tak melihat foto kedua orang tua anda."
Lama melihat layar televisi hingga tayangan habis lalu Guia membuka obrolan, ia tak suka jika sedang berdua menonton tak ada percakapan di antara mereka. Saat Guia melihat-lihat keadaan rumah Leandro, tak ada satupun foto yang terpajang di dinding.
"Mereka tidak ada," jawab Leandro pendek.
"Maksud anda meninggal?" Mulai rasa penasaran Guia kembali muncul.
"Tidak meninggal atau hidup. Pokoknya mereka tidak ada di kehidupan aku dan adikku."
Guia mengernyitkan dahi, aneh dengan perkataan Leandro yang terkesan mengambang.
"Mana ada anak lahir tanpa orang tua, Dok?"
Pertama Leandro memperlihatkan tatapan yang menusuk, beberapa saat memalingkan tatapannya lalu tersenyum penuh makna. Guia merasakan keanehan pada diri Leandro. Ia hanya berpikir mungkin saja ada pertengkaran hebat antara mereka jadi ia tak mau membahasnya lagi.
"Tidurlah. Aku sudah merapikan kamar yang tadi, kalau sudah menonton filmnya. Matikan lalu tidur agar aku bisa mengantarkanmu ke kampus besok."
Guia tersenyum dan mengangguk, sepertinya ucapan yang tadi menyinggung Leandro dan menyebabkan pria itu diam mendadak.
=Bersambung=