Part 22 Between Two Men

1618 Kata
Melepas kepergian seseorang yang dicintai memang berat, itu yang dirasa Guia ketika melihat Keanu meneteskan air mata saat tanah itu telah mengubur Irene di sana. Meski kesedihan Guia tak sama dengan pria itu, tetapi ia memahami arti sebuah kehilangan. "Terima kasih sudah membantuku melepas kepergian Irene. Selama ini aku egois mempertahankan dirinya demi kepentinganku sendiri. Aku takut kehilangannya dulu, tapi sekarang aku sadar itu tidak baik." Jacian merangkul Keanu memberinya kekuatan,"Iya anda sudah melakukan yang terbaik." Sebelum pamit Keanu mengucapkan rasa terima kasihnya pada Guia yang sudah mempertemukan dirinya dengan Irene meski lewat mimpi. Mimpi yang indah dan terasa sangat nyata. Pria itu akan pergi jauh dan membawa semua kenangan indahnya. "Cinta yang membabi buta dan egois tak akan membawa kebahagian," celetuk Leandro di samping Jacian. Leandro sengaja datang ke pemakaman Irene karena wanita itu adalah pasiennya. "Benar, Dok. Cinta yang tulus dan murni lahir dari mereka yang tak egois dalam mencintai pasangannya. Mereka mengasihi pasangannya tanpa melihat sisi keburukannya," sahut Jacian menoleh sesaat pada Leandro berjalan beriringan menuju mobil. "Wah ... kau dapat dari mana perkataan itu, Jac? Tumben kau pandai," sindir Guia bertepuk tangan dan bersorak. Jarang sekali Jacian bisa berkata dengan puitis. "Kalau kau ingin tahu maka cobalah mencintai seseorang," sahut Jacian seraya membuka pintu mobil dengan menyengir. Guia cemberut mendengarnya, ingin sekali menimpuk kepala sang kakak. Ia malu saat Jacian mengatakan urusan mencintai karena ada Leandro menertawainya. "Oh, ya biarkan dokter Leandro yang mengantarkanmu ke kampus hari ini. Maaf aku tak bisa, Guia. Kakak iparmu yang cantik sedang badmood," timpal Jacian dengan memasuki mobil lalu melambaikan tangan pada Guia. "Aku bisa naik taxi, Jac!" Sayangnya, Jacian tak dengar. Guia semakin kesal karena Leandro menagih syarat yang sudah disepakati bersama. Jadi mau tak mau, ia pun satu mobil dengan pria yang menyebalkan baginya. "Apa kau tak bisa memasang sabuk?" "Ini karena sabuknya melilit, Dok. Bukan aku tidak bisa memasangnya. Memangnya aku tidak punya mobil!" Leandro tertawa geli melihat Guia sibuk dengan sabuk pengaman, ia pun membantu gadis itu memasangkan. Tangannya terulur ke sisi kanan untuk mengambil tali panjang tersebut, sesaat Leandro mendengar detak jantung Guia. Ia hanya tersenyum simpul. Guia diam tak bergerak ketika Leandro memiringkan tubuh lalu tangannya terulur tepat di sebelah kanan, bau harum dari Leandro membuatnya menahan napas. Jantungnya pun seakan tak mau diajak kompromi. Bagaimana jantungnya berdetak cepat saat tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan? "Ayo, kita berangkat." "Hmm ...." Guia tak menjawab, ia langsung memalingkan wajah menghadap luar jendela meninggalkan pemakaman menuju kampus. Selama perjalanan mereka hanya terdiam apalagi Guia yang ingin cepat sampai agar ia bisa bernapas lagi. "Guia, bangun. Kita sudah sampai kampus." Leandro memanggil Guia yang tertidur, maklum jarak dari makam menuju kampus lumayan jauh. Untung saja jam mata kuliah hari ini memang siang hingga sore hari. Guia membuka mata, melihat sekelilingnya ternyata sudah ada di tempat parkir. Tanpa sadar ia merenggangkan tangan dan menguap lebar, ia arahkan pandangannya ke kiri dan terkejut mendapati Leandro sedang melihatnya dengan senyuman. "Oh kita sudah sampai ya," ujar Guia menahan malu sambil menelan saliva-nya. "Kau tidur nyenyak sekali sampai mendengkur," goda Leandro tertawa. Sengaja ia menggoda gadis itu yang wajahnya bersemu merah. "Aish ... mana ada aku mendengkur. Bukan kebiasaan aku seperti itu." Guia tak terima, ia membuka pintu mobil lalu turun. Ia tak terima jika ada yang mengatakan jika dirinya mendengkur kala tidur. Ia segera bergegas ke kelas dan tidak jalan bersama Leandro. "Dokter jalan saja dulu. Jangan mengikutiku, nanti mereka akan memusuhiku jika aku ketahuan satu mobil dengan anda," usir Guia agar pria itu pergi terlebih dulu. "Aku tidak mau!" tegas Leandro mengapit jemari Guia lalu mengajaknya jalan bersama menuju kelas. Guia berusaha melepaskan, tetapi genggaman itu tak bisa dilepas. Leandro seakan tak peduli ketika mahasiswi melihat mereka dengan tatapan iri. Guia sebaliknya, ia menutupi wajahnya menggunakan koran. "Dasar dokter menyebalkan." ***** "Kau menyukai pria itu, Guia?" Tangan Guia berhenti menulis, ia memutar tubuhnya menghadap ke kiri dan memandang saudara kembarnya yang sedang duduk di dekat jendela. "Pria siapa? Maksudmu dokter Leandro?" "Iya siapa lagi yang aku bicarakan di sini?" Dari nada bicaranya, Guia tahu Gillermo tak sebegitu menyukai kehadiran Leandro di tengah-tengah mereka. Namun, ia tak bisa menyimpulkan cepat alasan tersebut. "Apa kau tak menyukai pria itu, Gill?" "Jangan mengalihkan pertanyaanku, Guia. Aku ini sedang bertanya padamu." "Tenanglah, aku tak mungkin bisa menyukai atau mencintai seseorang, bukan? Lalu untuk apa aku berdekatan dengan seorang pria?" Gillermo berjalan mendekati Guia, memegang kedua bahu sang adik. Bukan seperti ini yang Gill harapkan, Gill juga menginginkan jika Guia bisa bergaul dan berteman akrab dengan seorang pria. "Maaf, Guia. Bukan maksudku melarangmu berdekatan dengan dokter itu tapi selesaikan dulu kuliahmu baru kau bebas menentukan pria yang ingin kau sukai." "Ah, Gill. Aku tak mau pacaran dulu, tugasku masih banyak dan lagipula mana ada pria yang mau pacarnya bertugas sebagai pembasmi iblis? Yang ada mereka kabur duluan." Guia menyadari ia tak bisa menyukai seseorang, bukan karena takdirnya melainkan adakah seorang pria yang mau menerima dirinya? Sedangkan pemikiran Gillermo berbeda dengan sang adik, Gill belum bisa menerima kehadiran pria itu di samping Guia. Entah apa alasannya, Gillermo tak tahu. Gillermo selalu menunggu Guia hingga gadis itu tertidur dengan nyenyak, Gill menandai setiap ruangan dengan serbuk agar tak ada makhluk tak kasat mengganggu kenyamanan sang adik. "Maafkan aku, Guia. Aku belum siap jika kau bersama seorang pria yang aku tak sukai." Gillermo tidak cemburu, hanya saja ada sesuatu yang membuatnya tak suka dengan sifat misterius Leandro. Di depan Guia, pria itu tampak menjadi pria yang ceria. Namun, di sisi lain pria tersebut seperti orang lain. Itu yang selama ini diamati Gillermo. ***** Guia merasa tak nyaman berada di dalam gedung bioskop, selain rumah sakit tempat ini menjadi tempat yang paling dihindarinya. Ia benci ketika lampu dimatikan, selalu ada satu sosok berada di sudut pintu masuk atau tepat di depan layar lebar tersebut. Jadi hal itu menganggu penglihatannya. "Ada apa? Kau tampak tak menikmati filmnya. Kau takut menonton film horor?" tanya Leandro yang melihat Guia tampak tak tenang. Guia meringis. Selama ini hidupnya sudah dipenuhi horor, baik dalam berupa makhluk tak kasat mata atau iblis bertopeng manusia. "Aku ke kamar mandi dulu, ya." Tanpa menunggu jawaban dari Leandro, Guia langsung melesat pergi begitu saja. Ia ingin mengambil napas di luar sana, di dalam membuatnya sesak dipenuhi oleh mereka yang tak tampak dan seenaknya mereka berada di sekelilingnya. "Aduh ... lama-lama aku bisa mati di dalam. Apa tidak ada orang lain lagi selain aku yang bisa melihat mereka?" Guia mendengkus sebal sembari berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu, ia mampir sebentar di stand minuman. Rasa haus menggerogoti kerongkongannya dan butuh yang segar. Ia segera memesan dan meminumnya hingga sampai setengah. "Ternyata kau ada di sini, Guia?" Guia menengadahkan kepalanya, Rodolfo memasang wajah penuh tanya. Guia merasa tak nyaman setelah menolak ajakannya tadi pagi dan kini ia berada di sini bersama orang lain yaitu Leandro. "Hai Ro ... " sapa Guia tanpa bersalah. "Jadi kau tak mau aku ajak ke sini karena kau pergi dengan asisten dosen kita?" Rodolfo menunjuk Leandro yang datang menghampiri mereka, Leandro khawatir karena gadis itu tak kunjung datang menonton film dan ternyata Guia ada di luar. "Ada apa, Rodolfo?" tanya Leandro berada di tengah mereka. "Mengapa anda mengencani mahasiswi anda, Pak?" Rodolfo tak terima, ia marah karena ajakannya ditolak mentah-mentah oleh Guia padahal ia ingin pergi berkencan dengan Guia. Namun ternyata, Guia lebih memilih asisten dosen yang tampan. "Ro, ini bukan seperti yang kau bayangkan. Aku dan dokter Leandro tidak memiliki hubungan apapun. Ia hanya mengajakku saja. Benar begitu, kan Dok?" Guia menyenggol lengan Leandro agar membantunya. "Kau salah paham, Anak Muda. Aku berutang budi padanya dan sebagai balasannya, aku mengajaknya menonton. Maaf sudah merebutnya darimu dulu." Setidaknya Guia bisa sedikit lega, Leandro bisa diajak kerjasama. Ia merasa tak enak saat Rodolfo menatapnya tajam lalu pergi dalam keadaan marah. "Ro, jangan marah. Aku bisa jelaskan!" Percuma, teriakan Guia tak didengar Rodolfo yang berlalu bersama para pengawalnya. Guia tahu ini salah karena berulang kali menolak ajakan Rodolfo, tapi Leandro dulu yang mengajaknya. Jadi ia bisa apa? "Sudah jangan marah. Sahabatmu itu hanya cemburu saja melihatku," sahut Leandro dengan percaya diri. Guia tak menyahut, meninggalkan Leandro di depan stand lalu keluar. Ia sudah malas menonton meski filmnya seru dan merupakan pilihannya sendiri, tapi masalah barusan membuat mood-nya hilang. **** Aura kegelapan dan dingin memenuhi ruangan ketika langkah lebar melangkah masuk, jubahnya yang panjang itu berkibar dan geraman terdengar menakutkan. "Ada apa, Tuan?" Asdeus melihat sang tuan duduk di sofa, beberapa barang sudah ia lempar ke lantai karena amarahnya. Jangan salah, meskipun dia raja iblis, dia harus menyamar layaknya manusia. Dia juga memiliki rumah mewah dan pengawal, jika ingin menghancurkan dunia maka dia pun harus hidup di sini. "Berani-beraninya pria itu berdekatan dengan gadisku! Tak seorangpun yang bisa mendekati Guia selain aku!" Raja iblis tak terima jika ada yang menyentuh atau mencoba berteman dengan Guia, gadis itu hanya boleh hancur dan binasa di tangannya. "Apa perlu aku yang turun tangan menghadapi pria itu, Tuan?" "Tidak usah. Aku tahu cara menangani pria itu hingga ia bosan hidup." "Anda merasa kalah saingan begitu, Tuan?" Asdeus penasaran soal cinta urusan manusia. Namun, dia sadar diri. Toh ... dia hanya makhluk yang ditakuti para manusia. "Saingan? Pria itu bukan sainganku, Asdeus!" Dia hampir saja melempar batu di kepala Asdeus jika ia tak ingat siapa Asdeus itu sebenarnya. "Kalau begitu, mengapa anda tidak menjadikan gadis itu kekasih? Beri ia kepercayaan anda juga cinta, setelah ia memperolehnya maka hancurkan," saran Asdeus sambil menikmati segelas wine di tangannya. "Saran yang bagus, Asdeus. Kau memang selalu bisa diandalkan." Tak ada yang tahu rencana raja iblis ke depannya. Mungkin dia akan membuat gadis itu menjadi kekasihnya lalu membuatnya hancur di tangannya sendiri. Entahlah, raja iblis memiliki rencana yang sudah disusun sejak dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN