"Baiklah aku akan menolongmu."
Mata Guia membulat tak percaya, ia memberikan senyuman terbaiknya. Namun, perlahan senyum itu memudar kala Leandro mengatakan sesuatu.
"Tapi ada syaratnya."
Guia kembali duduk dengan menyilangkan tangannya dan melihat Leandro. Tatapan itu sungguh membuatnya terpesona dan segera batuk kecil saat tak sengaja mereka saling memandang.
"Apa syaratnya?"
"Dengarkan dulu baru menjawab. Sekali kau menyela maka aku tak mau membantu. Oke ...?"
Leandro tahu Guia akan menyela perkataannya nanti maka ia memberi ultimatum pada gadis itu agar tidak membantah tiap ucapannya. Guia mengangguk setuju.
"Pertama aku ingin mengajakmu menonton dan makan. Aku tak ingin dengar penolakan," interupsi Leandro yang berusaha mencegah Guia menyela.
"Kedua, jangan panggil aku Dokter. Kau bisa memanggil dengan namaku."
"Ketiga, kau harus mau jika aku antar dan jemput waktu kuliah."
"Keempat, jangan menolak kalau aku mengajakmu ke suatu tempat."
Guia menatap tak percaya dengan ucapan Leandro, benar-benar tak masuk akal. Hanya meminta tolong ia harus memenuni empat syarat? Apa menurutmu ia sudah keterlaluan?
"Bagaimana? Kau setuju? Kau tahu mencari seseorang tanpa bantuan polisi itu susah, Guia."
"Aku tidak setuju syarat kedua, tapi kalau syarat lainnya--- baiklah aku menyetujuinya."
Dengan wajah terpaksa, Guia menyetujuinya. Benar kata Leandro, tanpa bantuan dari polisi tak mungkin ia bisa mencari dan menemukan keluarga Irene.
"Mengapa dengan syarat ke dua?"
"Itu karena anda lebih tua sepuluh tahun dari aku. Tak pantas rasanya jika aku memanggil anda dengan nama."
"Baiklah kalau itu yang kau pinta. Asal jangan mengingkari persyaratan ketiganya. Kalau kau melanggarnya, kau harus menanggung akibatnya," kata Leandro bernada pelan tapi tegas.
"Apa akibatnya?" tanya Guia mengerjapkan matanya.
"Kau harus menikah denganku."
"Apa aku tak salah dengar?"
Guia tersentak mendengarnya, berani sekali dokter mengatakan hal tersebut. Ia masih muda dan tidak akan menikah dalam waktu dekat.
"Aku bercanda, Guia jangan marah."
Guia bernapas lega, ternyata itu hanya lelucon yang tak sama sekali lucu baginya. Ia hanya tersenyum masam. Leandro bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Guia, ia mengulurkan tangan untuk berjabatan menandakan awal kerjasama mereka.
"Besok aku akan mengabarimu, Guia."
*****
"Aish ... tempat apa ini? Apa aku di alam mimpi?"
Guia memandang sekelilingnya, ia melihat tak percaya bisa berada di sini. Kini ia berada di hutan yang suram, dingin dan berkabut. Ia berdiri sebentar di tengah pepohonan yang menjulang tinggi dan mengedarkan pandangannya.
"Gill, apa ini alam mimpi?"
Guia bisa merasakan tangannya dipegang oleh Gillermo, Gill tak bisa membiarkan Guia sendirian berada di sini kecuali dengan dirinya. Ini bukan tempat yang seharusnya dituju Guia.
"Bukan Guia. Ini alam baka."
"Alam baka? Maksudmu kita ada di alam baka? Untuk apa aku berada di sini?" Guia bertanya dengan beruntun, selama ini ia hanya bisa ke alam mimpi atau masa lalu seseorang bukan ke tempat ini.
"Iya benar, Guia. Ini tempat mereka meninggal sebelum ke penghakiman terakhir," ujar Gillermo memberi pengertian pada Guia yang masih syok. Ia diajak ke sini oleh Gill.
"Lalu apa tujuan kita ke sini?"
"Sudah waktunya bagi dirimu untuk mengenali tempat ini, Guia. Kau dan aku yang akan mengantarkan mereka nantinya."
"Aku?" Guia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
Gillermo hanya mengangguk, menggenggam erat tangan Guia lalu berjalan di tengah-tengah mereka yang sudah meninggal, beberapa kali Guia memiringkan tubuhnya ketika bersentuhan dengan roh-roh tersebut.
"Di sini tempat mereka menunggu, Guia. Mereka kadang bingung dengan keadaan ini dan kadang mereka tidak tahu jika sudah tiada. Lihatlah mereka! Semua yang ada di sini sama, tak ada warna hanya kesuraman."
Benar kata Gillermo, di alam baka ini beda dengan dunia mereka. Di sini begitu dingin sampai menusuk tulang, berkabut dan suasana yang gelap suram. Tak ada keceriaan, hanya ada tatapan kesedihan dan kebingungan.
"Kau lihatlah di ujung sana, kau tahu siapa gadis itu?"
Gillermo menunjuk ke ujung jalan hutan, di depan mereka ada seorang gadis berpakaian sederhana dengan gaun lavender selutut. Guia memicingkan mata dan menyadari jika gadis itu sosok yang ia kenali.
"Bukankah itu nyonya Irene? Mengapa dia ada di sini?"
"Irene lebih baik kita panggil saja dia seperti itu tanpa ada nyonya. Dia di sini sama seperti waktu dirinya masih muda, tak ada yang berubah meski di dunia nyata dirinya sudah tua. Irene tidak menyadari jika dia koma di dunia nyata, dia kebingungan mengenai keadaannya," jelas Gillermo memberitahu secara gamblang.
"Kalau dia ada di sini, mengapa dia menakuti nyonya Ludwig? Apa hubungan mereka, Gill?"
"Irene tidak pernah menakuti atau menghantui nyonya Ludwig. Wanita itu yang menciptakan sendiri rasa takutnya terhadap Irene, aku tidak tahu kesalahan apa yang diperbuat nyonya Ludwig pada Irene semasa mereka masih gadis."
Menciptakan rasa takutnya sendiri? Berarti selama ini Irene tidak pernah melakukan hal buruk pada wanita itu. Inilah yang menjadi pertanyaan dan butuh pencarian sebenarnya.
"Jika memang nyonya Ludwig merasa salah atau melakukan sesuatu mengerikan pada Irene, mengapa ia baru ketakutan sekarang?" tanya Guia pada Gillermo yang kini mereka tepat berada di depan Irene.
"Karena bulan tujuh adalah awal terjadinya masalah di antara nyonya Ludwig dan Irene."
Guia mulai sedikit paham dengan penjelasan Gillermo, ia mendekati Irene yang tampak pucat dan keningnya terluka parah, tangannya patah. Ia ingat seketika waktu mengunjungi Irene di rumah sakit kemarin, ia melihat tangan Irene diberi penyanggah.
"Irene ...." Guia memanggilnya, gadis itu menengadahkan kepalanya lalu menatap Guia dengan kesedihan.
"Kalian siapa?"
"Kami akan membantu menuju tempat yang seharusnya. Kau harus pulang ke tempatmu, Irene."
"Aku harus mencari seseorang yang harus aku temui di sini."
Irene dengan penampilan khas gadis pada jamannya itu memegang tangan Guia, Guia terkesiap ketika kulit mereka bersentuhan dan tersentak menyadari penglihatannya mengenai Irene.
"Kau tak apa-apa, Guia?" tanya Gillermo melihat Guia langsung terdiam.
"Aku baik-baik saja, Gill. Hanya saja aku baru mendapat penglihatan masa lalu Irene, Keanu dan Martha."
"Martha? Kau kenal dengan kembaranku?"
Mata Guia membola, rasanya tak percaya sama sekali dengan yang baru saja didengar. Irene dan Martha merupakan saudara kembar?
"Iya aku kenal."
"Tolong sampaikan padanya, jangan pernah merasa bersalah. Aku sudah mengiklaskan semuanya."
"Apa maksudmu, Irene? Aku tidak paham."
Irene tak mau menjawab, dia pergi meninggalkan sejuta tanya di pikiran Guia dan Gillermo. Mereka bergegas menemui Jacian dan mencari jalan keluarnya tentu saja menanti informasi dari Leandro.
*****
Jacian menerima berkas dari Leandro pagi tadi. Sayangnya, dokter itu tak bisa datang karena ada operasi dadakan. Jadi ketiga bersaudara itu berada di rumah sang paman mencari tahu masalah Martha alias nyonya Ludwig.
"Martha dan Irene saudara kembar tak identik. Mereka sama-sama mencintai orang yang sama yaitu Keanu. Pada awalnya Keanu yang saling bertukar surat pena di salah satu majalah dengan Irene. Keanu merasakan kecocokan dengan Irene," terang Jacian memberitahu sembari mengecap seduhan teh.
"Jadi persahabatan mereka dimulai dari berkenalan di majalah dan saling tukar pesan?"
"Iya benar Guia. Keanu di usia 10 dan keluarga pindah ke sini. Ini awal bencana itu terjadi. Martha mengancam dan menggunakan nama Irene jika bertemu di luar. Irene yang sedari kecil menderita sakit dan tidak boleh keluar rumah. Irene yang malang, ia harus rela saat namanya digunakan Martha untuk mendekati Keanu."
"Hubungan Keanu dan Irene palsu terus berlanjut hingga remaja. Ketika Keanu sekolah di luar, ia mengirim pesan lagi dan ternyata yang membalas adalah Irene asli. Enam tahun Keanu tak pulang, mereka terus saling bertukar pesan melalui pesan pos," tambah Jacian lagi.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Gill dan Guia sama-sama bertanya karena penasaran.
"Di usia yang kedua puluh, Keanu datang melamar Irene. Tapi Martha tak terima, ia harus menjadi milik Keanu bukannya Irene. Irene yang bosan mengalah tak mau lagi diperalat oleh Martha dan membuat kedua saudara itu bertengkar hebat. Martha mendorong Irene dari lantai atas rumah sakit dan menyebabkan Irene koma hingga detik ini."
"Jadi Martha menyamar menjadi Irene sebagai pengantin Keanu. Lalu kapan Keanu tahu mengenai ini?"
Inilah yang menjadi pertanyaan besar Guia, ia penasaran kapan Keanu mengetahui jika istrinya bukan Irene melainkan Martha.
"Di tahun kedua pernikahan mereka. Tanpa sengaja Keanu menemukan semua surat yang ditulis Irene dan barang-barang yang disukai Irene dari Keanu, sejak itu hubungan mereka menjadi renggang. Keanu tak bisa menceraikan Martha karena wanita itu mengancam akan mencabut selang kehidupan Irene. Akhirnya Keanu mengalah dan hidup bersama wanita yang tak pernah ia cintai," imbuh Jacian lagi.
"Apa tuan Keanu yang memberitahumu, Jacian?"
Tebakan Guia kali ini benar, ternyata Jacian menemui langsung Keanu di tempat kerjanya dan kejujuran pria itu telah membuka rahasia besar yang disimpan pasangan tersebut.
"Sekarang tugasmu dan Gillermo harus bisa membuat Irene pergi, ia sebenarnya sudah pergi sejak lama tapi ditahan oleh Keanu selama ini."
****
Guia lega sekali, Irene mau diajak kerjasama asal dia dipertemukan dengan kembaran dan suaminya di alam mimpi. Wanita itu begitu merindukan pria yang dicintainya begitu juga dengan Martha, dia tak memiliki dendam apapun terhadap Martha dan merelakan semuanya.
Guia mengistirahatkan sejenak pikirannya di sebuah restoran, ia mendapatkan kupon makan karena hadiah dari Keanu yang telah membuat pria itu bertemu dengan Irene. Guia menikmati setiap makanan yang tersaji dan ia tak peduli jika ada satu sosok di dekat kasir sedang menunduk juga melayang. Toh ... dia tak menganggunya jadi Guia tak mempermasalahkan.
Sementara itu di tempat lain, Martha yang diliputi rasa bersalahnya pada Irene memutuskan untuk menyerahkan diri. Ia tahu kesalahannya tak dapat dimaafkan, Keanu bahkan tak bisa memberinya maaf hingga sekarang.
"Maafkan aku, Irene. Aku serakah dan egois. Sebenarnya aku yang terbaring di sini bukannya dirimu. Aku salah, Irene."
Martha tak bisa lagi mendengar suara Irene, wanita itu pergi untuk selamanya di pelukan Keanu. Irene menutup matanya dengan membawa rindu dan senyuman yang ia sematkan selama ini pada Keanu.
Keanu telah memantapkan hati bercerai dari Martha, tak ada lagi Irene yang selama ini menjadi ancaman istrinya. Ia mau bertahan hidup karena adanya Irene, setiap hari sepulang kerja Keani menyempatkan diri mengunjungi Irene di rumah sakit.
"Maaf jika aku belum bisa memberimu maaf, Martha. Hatiku terluka banyak oleh kebohongan maupun ancamanmu."
Keanu tak menoleh saat Martha hendak memegang tangannya untuk terakhirnya sebelum wanita itu diringkus petugas polisi. Pria malang itu menyelimuti Irene tanpa menangis hanya sebuah senyuman manis yang ia berikan melepas kepergian sang kekasih.
=Bersambung=