Guia tak bisa memasuki dunia mimpi nyonya Ludwig seperti ada yang menghalanginya. Ia hanya mampu melihat masa lalu wanita itu bukan pada permasalahannya, bingung tak menemukan jawabannya. Guia memilih bertanya langsung.
"Jadi siapa gadis yang sering menganggu tidurku?" Nyonya Ludwig mendesak Guia lekas bicara.
Hari ini Guia tidak hanya ditemani Gillermo juga Jacian yang ingin mengantarkan kedua adiknya hingga selamat sampai tujuan. Lagipula ia ada pengantaran barang ke kota.
"Kau melihat sesuatu, Guia?" tanya Jacian memandang Guia yang terdiam. Baru kali ini ia tak bisa melihat atau memasuki alam mimpi seseorang.
"Aku tak bisa melihat siapa yang menganggu nyonya Ludwig, tapi aku melihat masa lalunya," ujar Guia pelan agar tidak menyinggung wanita tersebut.
Mereka mengernyitkan dahi terutama nyonya Ludwig yang tertegun, tak menyangka ada seseorang tahu mengenai masa lalunya.
"Anda kenal dengan gadis bernama Irene Pieters?"
"Aku tidak kenal. Siapa gadis tersebut?" Wanita yang memasuki usia kepala empat itu tampak gugup, tampak jelas dari wajahnya yang tak bisa disembunyikan.
"Apa anda yakin, Nyonya?" Guia tak percaya. Ia jelas sekali melihat masa lalu nyonya Ludwig dengan seorang gadis--yang mungkin usianya sama jika masih hidup, sedang bertengkar hebat.
"Benar itu. Aku tak pernah punya teman atau kerabat dengan nama Irene Pieters," bantahnya sambil memalingkan wajah dan memegang tehnya dengan tangan yang gemetar.
"Tapi nyonya---" Guia menoleh ketika tangannya dipegang Jacian, kedua kakaknya melarang untuk bertanya lebih.
"Baiklah nyonya, kami akan membantu anda sebisa kami," ujar Jacian melihat nyonya Ludwig.
"Ya terserah kalian saja yang penting dia pergi dari kehidupanku," katanya dengan tatapan kesal pada mereka.
Nyonya Ludwig segera mengusir mereka dan menutup pintu dengan kasar, ia tampak marah karena ada yang mengetahui rahasia besar hidupnya.
"Wanita itu berbohong, aku tahu ia mengenal gadis itu," sahut Gillermo ketika mereka berada di mobil.
"Sebenarnya siapa gadis itu? Mengapa ia mengikuti nyonya Ludwig?"
Guia penasaran sekali dan ia menceritakan mengenai masa lalu wanita itu pada kedua kakaknya, ia harus meminta bantuan pada seseorang tentang ini.
"Gill, aku minta tolong lihat keadaan rumah nyonya Ludwig. Apa ada yang aneh sejak kedatangan kita? Dan kau Jacian, tolong selidiki dan cari tahu nama Keanu Ludwig, suami dari wanita itu."
Gillermo dan Jacian hanya mengangguk setelah Jacian menurunkan Guia di rumah sakit. Mereka berbagi tugas agar cepat selesai dan membiarkan roh gadis itu tenang, pergi menjauh dari mimpi nyonya Ludwig.
****
Dari penglihatan sekilas tadi, Guia mengetahui gadis yang datang ke mimpi nyonya Ludwig sedang dirawat di rumah sakit ini. Ia tak perlu mencari alasan, cukup mengatakan pada perawat penjaga jika dirinya adalah keponakan yang baru mengetahui keadaan sang bibi palsu.
Tentu saja dengan alasan yang jelas, Guia diperbolehkan masuk mengunjunginya di salah satu bangsal di lantai atas. Guia segera naik lift, perasaan hatinya kacau. Apa benar yang ada di dalam penglihatannya?
Guia membuka pintu kamar rawat pasien, ia mematung sejenak. Di sana terbaring seorang wanita bukan lagi seorang gadis di dalam penglihatannya. Wanita itu tertidur, ah bukan lebih tepatnya koma. Guia mendekat, melihatnya sebentar lalu mengaitkan jemari ke tangan wanita itu.
"Maaf, aku harus mencari tahu mengapa kau menghantui nyonya Ludwig."
Namun tak ada hasil, masa lalu Irene benar-benar tak bisa Guia lihat. Irene sepertinya menutup diri dan tak membiarkan orang lain tahu mengenai kehidupannya.
"Kalau begini, aku mana bisa tahu masa lalu anda, Nyonya Irene. Aku tak tahu apa permasalahan anda dengan nyonya Ludwig," ucap Guia pelan.
Guia melihat Gillermo yang sudah datang, Gill berdiri di sampingnya dengan membawa kabar yang tak mengejutkan Guia. Ia sudah tahu bakal seperti itu.
"Aku sudah menduga jika mereka saling kenal, Gill."
Gillermo tadi sempat mengawasi kediaman nyonya Ludwig dan mendapati fakta jika wanita itu telah berbohong. Ternyata nyonya Ludwig menyimpan selembar foto bersama seorang gadis di masa lampau di mana gadis dalam foto itu adalah Irene.
"Hei, mengapa kau ada di sini, Guia?"
Guia tersentak ketika bahunya dipegang oleh seseorang yang ternyata Leandro, pria itu melihatnya penuh keheranan karena mendapati Guia berada di ruangan pasien khusus.
"Kau kenal dengan nyonya Irene?" tanya Leandro lagi.
"Dikatakan kenal dekat tidak, tapi aku mengenalnya dari seseorang," ujar Guia menutupi keterkejutannya.
"Seseorang? Selama dua puluh lima tahun, tak ada yang pernah ke sini kecuali dirimu sekarang, Guia. Makanya aku terkejut saat perawat mengatakan ada kerabat dari nyonya Irene."
"Heh? Dua puluh lima tahun? Berarti nyonya Irene tertidur selama itu?"
Guia tak menyangka sama sekali jika wanita yang terbaring dengan berbagai alat di tubuhnya itu sudah lama tak membuka matanya, ia dan Gillermo harus segera mencari jawabannya.
"Iya dan aku dokter yang lima tahun ini merawatnya. Jadi Guia kau kenal dengannya?"
Jadi siapa dokter sebelum anda yang menangani nyonya Irene?" Guia tak menjawab malah balik bertanya.
"Hei, Nona Guia. Mengapa kau balik bertanya?"
Leandro menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Guia. Ia hanya ingin tahu apakah gadis itu mengenal wanita ini atau tidak? Sudah lama tak ada keluarga yang mengunjunginya.
"Aku sudah mengatakan pada anda di awal kalau mengenalnya dari seseorang," ucapnya dengan geram.
"Siapa?" Leandro menanyainya sambil mengecek suhu tubuh nyonya Irene.
"Mau tahu saja anda, Dok," ujar Guia memajukan bibirnya.
Guia tak mungkin membicarakan hal ini pada siapapun, ia tahu tak ada yang bakal percaya dengan perkataannya. Meskipun mencari jawabannya itu sulit, tetap harus dilakukan agar ke dua wanita itu dapat menyelesaikannya masalah mereka dengan baik.
"Aku akan berkunjung lagi besok, Dok. Dan jangan tanya lagi mengenai hubunganku dengan nyonya Irene kecuali jika aku---"
"Jika apa, Guia?" tanyanya menoleh ke belakang menatap Guia yang berada di pintu.
"Kecuali aku yang mengatakannya sendiri."
Guia tersenyum simpul lalu menutup pintu dorong pelan, ia melanjutkan langkahnya bersama Gillermo ke tempat sang kakak. Jacian ingin membahas mengenai seseorang yang dicari Guia.
*****
"Keanu dan Martha, nama sebenarnya wanita itu menikah di tahun 1996. Mereka pasangan yang menjalin pernikahannya dengan tidak memiliki anak hingga sekarang. Keanu bekerja sebagai guru dan Martha hanya ibu rumah tangga biasa."
"Keanu dan Martha adalah teman sejak kecil, mereka saling jatuh cinta akhirnya menikah. Keanu anak tunggal begitu juga dengan Martha.
Gillermo dan Guia mendengarkan setiap perkataan Jacian mengenai klien mereka. Namun bagi Guia, ada hal yang janggal dari hubungan mereka. Guia meyakini jika sesuatu terjadi di pernikahan mereka.
"Jac, berapa tahun kau dan Izabelle kenal lalu menikah?"
"Tuan Putri, bukan saatnya mengatakan ini. Sekarang yang kita bahas mengenai nyonya Irene bukan kakakmu," tegur tetua pertama merasakan keheranan.
"Ini juga ada hubungannya, Paman." Guia menyela dan menatap Jacian agar segera memberi jawaban.
Mau tak mau Jacian memberi jawabannya,"Kita sudah bersahabat sejak kecil lalu menikah. Ya kurang lebih hampir dua puluh tahun kita kenal." Jacian memberi jawaban lalu memalingkan wajah ke arah Izabelle penuh cinta.
"Dan kau masih mencintai Izabelle hingga detik ini?"
"Guia, apa hubungannya denganku dan nyonya Irene?" Jacian dan yang lain tak paham dengan ucapan Guia. Hanya Gillermo yang paham dan menunggu kembarannya untuk memberitahu.
"Tapi aku tak melihat ada rasa cinta di mata Tuan Keanu saat mereka saling menatap satu sama lain. Kau ingat Jacian saat Tuan Keanu pulang, ia tak menyapa sang istri atau menghampiri ketika ada kita. Ia bahkan seolah-olah menganggap kita tak ada."
"Lalu tak ada foto kebersamaan mereka. Entah itu foto pernikahan atau foto lain yang menceritakan mengenai kisah cinta mereka. Rumah itu terasa kosong dan hampa."
Jacian memagutkan kepalanya sedangkan yang lain terdiam mendengar penjelasan Guia. Memang terasa aneh bagi mereka melihat kedatangan nyonya Ludwig seorang diri tanpa didampingi suaminya kemarin ke tempat ini. Saat ditanya mengenai suaminya, ia seakan-akan menutupi sesuatu.
"Aku belum menikah memang, tapi saat aku berada di rumahnya tak ada kehangatan pasangan yang saling mencintai," timpal Guia.
"Oh, ya satu hal lagi. Saat aku menyuruh Gillermo mengawasi rumahnya ternyata nyonya Ludwig menyimpan sebuah foto di mana ada Irene di sana. Lalu tuan Keanu dan nyonya Ludwig tidak sekamar. Bukankah itu aneh?" Guia menambahi penyelidikannya.
"Lalu maksud dari semua ini apa, Tuan Putri?"
"Jadi aku menyimpulkan jika nyonya Ludwig atau mungkin tuan Keanu ada sangkutpautnya dengan tidur panjang nyonya Irene. Ini yang belum aku ketahui hubungan mereka seperti apa?"
"Apa kau tak bisa masuk ke alam mimpi nyonya Irene, Guia?" Jacian bertanya, ia juga ingin tahu.
Guia menggeleng dan menjelaskan jika ia tak bisa melakukannya, ia beranggapan jika nyonya Irene-lah yang tak mau kalau ada orang mengetahui masa lalunya.
"Bagaimana kalau kau bertanya pada dokter yang menangani nyonya Irene dulu?" Kini giliran Izabelle yang bertanya.
"Dokternya sudah diganti, Belle. Sekarang yang menangani adalah dokter Leandro."
"Kalau begitu tanyalah dan cari tahu dari dokter Leandro," usul Izabelle memberikan jawabannya.
"Siapa? Aku?"
Semua mengangguk dan tersenyum pada Guia, tentu saja usulan dari sang kakak ipar membuatnya malas bertemu dokter tersebut. Namun, hal ini harus ia lakukan agar permasalahan mereka cepat selesai.
*****
Kali ini terpaksa Guia harus mendaftarkan dirinya berobat ke rumah sakit hanya untuk menemui Leandro dan meminta tolong padanya. Wajahnya lesu dan tak bersemangat sama sekali. Dasar Jacian, geramnya dalam hati.
"Nona Guia Lucena Guinan, silakan masuk."
Namanya dipanggil oleh perawat dan berjalan gontai persis seperti orang yang sedang sakit. Perawat tersebut membuka pintu dan mempersilakan Guia masuk.
"Tidak seperti biasanya kau datang duluan ke tempat praktekku. Apa kau sakit?" tanya Leandro sembari membaca catatan kesehatan Guia dan mendapati jika gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak sakit hanya mau minta tolong padamu, Dok," ujar Guia dengan malas.
"Kalau kau tidak sakit, lebih baik jangan menemuiku. Orang yang menemuiku hanya bagi yang sakit saja."
Guia mencebikkan bibir, kesal dan ingin sekali pergi dari ruangan ini segera karena malu. Namun, ia harus menguatkan hatinya.
"Aku .... aku---"
Guia tergagap dan melihat perawat yang masih ada di sana menunggu jawabannya. Sadar jika Guia ada sesuatu hal yang dikatakan, Leandro meminta perawatnya untuk keluar dulu.
"Ada apa? Kau kau minta tolong apa?" tanya Leandro langsung pada intinya.
"Bisakah anda mencari tahu di mana keluarga nyonya Irene?"
"Untuk apa aku melakukannya?" tanya Leandro sambil tersenyum misterius.
"Ada seorang wanita bernama Martha, ia sahabat kakakku. Ia meminta tolong dicarikan keluarga dari nyonya Irene karena mereka putus hubungan sudah lama," ujar Guia dengan kebohongannya.
"Lalu?" Leandro bertanya seraya menggodanya, ia menyukai itu.
"Ya aku minta tolong. Anda kan dokternya pasti tahu," desak Guia tak sabar.
"Hmm ... kalau aku tidak mau?" Leandro menggodanya lagi dan semakin membuat Guia kesal.
"Aku akan mencari tahu sendiri," ucap Guia lesu meskipun ada rasa dongkol. Ia beranjak dari tempat duduknya, percuma minta tolong.
"Baiklah aku akan menolongmu."
Mata Guia membulat tak percaya, ia memberikan senyuman terbaiknya. Namun, perlahan senyum itu memudar kala Leandro mengatakan sesuatu.
"Tapi ada syaratnya."
=Bersambung=