Caprion anak dari Jacian dan Izabelle meratapi kepergian kucing kesayangannya yang mati karena keracunan makanan, pemuda kecil itu tak mau beranjak dari bawah pohon meski Guia dan juga Leandro sudah membujuknya.
"Dia sudah tenang di sana, Bocah Kecil. Jangan menangis lagi, pasti ada penggantinya nanti," bujuk Leandro yang duduk di sampingnya.
"Tapi dia sahabatku, Paman. Dia selalu ada buat aku di saat ayah dan ibu pergi," isak Caprion di pelukan Guia.
"Masih ada bibi, bukan? Kenapa kau harus menangis seperti ini hanya karena kucingmu mati, Caprion?"
"Bagaimana dengan bibi saat kehilangan Paman Gillermo?"
Pertanyaan menohok menyerang Guia, tak menyangka jika keponakannya bisa sekritis itu dalam membalas perkataannya. Caprion bisa melihat dan merasakan kehadiran Gillermo, Gill meninggal sewaktu bocah itu masih kecil. Jadi wajar jika Caprion masih mengingat sang paman.
"Siapa paman Gillermo?" Leandro penasaran dengan satu nama yang pernah ia dengar saat Guia mengigau di rumah sakit.
"Kembarannya Bibi, tapi sudah meninggal beberapa tahun lalu." Caprion yang menyahut bukan Guia, gadis itu hanya memandang arah hutan tampak kesedihan di matanya.
"Oh ya? Karena apa?" tanya Leandro lagi.
"Karena sakit."
Pada mulanya Caprion ingin mengatakan yang sebenarnya, akan tetapi tatapan Guia membuatnya berkata tak jujur, pemuda kecil itu tak mau sang bibi bersedih lagi.
"Bi, kenapa sih Sang Ilahi memanggil orang sebaik Paman? Apa orang jahat seperti pencuri tidak bisa meninggal lebih cepat biar tidak ada orang jahat?" Caprion menggerutu sembari menepuk-nepuk tanah basah di depannya.
"Karena sudah takdirnya, Bocah Kecil. Kita tidak pernah tahu kapan Sang Ilahi memanggil kita," ucap Leandro.
"Kalau itu takdir, berarti manusia yang menjadi jahat seperti pencuri atau perampok itu merupakan takdir, Paman?" tanya Caprion menatap polos pada Leandro.
"Itu---" Leandro tak bisa memberi jawaban, ternyata keponakan Guia ini memang banyak tanya.
"Caprion, kau selalu datang ke kebun buah kita, bukan?" sahut Guia membelai rambut sang keponakan.
"Iya. Lalu?" Caprion menjawab tak mengerti begitu juga Leandro, apa hubungannya dengan kebun buah dengan takdir kematian?
"Saat kau mau mengambil buah dari pohonnya, apa kau ambil yang jelek dulu?" tanya Guia, Caprion menggeleng.
"Tentu aku mengambilnya yang bagus dan bisa aku makan langsung dari pohonnya, Bi."
"Nah itulah cara Sang Ilahi mengambil manusia dalam kematian, Caprion. Sang Ilahi ingin menempatkan manusia yang baik dulu di tempat-Nya agar mereka tidak menjadi busuk. Manusia yang baik itu bisa kita ibaratkan sebagai buah atau bunga yang indah sedangkan manusia yang tidak baik itu seperti buah yang busuk atau bunga yang jelek."
"Jadi Sang Ilahi tidak ingin manusia baik dipengaruhi oleh yang jahat? Jadi Sang Ilahi memanggil mereka lebih cepat? Apa begitu, Bi?"
Guia mengangguk dan tersenyum, Leandro memandang gadis itu kagum. Tak menyangka di balik sikap ketus dan juteknya, Guia merupakan gadis yang luar biasa.
"Oke Bibi, aku sudah paham." Caprion bangkit dan kembali ceria, ia tak lagi menangisi kematian sang kucing ataupun bertanya mengenai Gillermo.
"Ayo kita pulang. Bibi lapar, Cap."
Guia kembali menjadi gadis yang energik apalagi jika menyangkut urusan makanan. Masakan yang dibuat Izabelle selalu membuatnya puas dan enak, beruntung ia memiliki kakak ipar seperti Belle.
"Paman, ayo kita pergi."
"Ya, ayo." Leandro yang berjalan terlebih dulu di depan, membalikkan badan saat ia merasa dipanggil oleh Caprion.
"Maksudku bukan paman tapi---" Ia menoleh ke belakang dan langsung bungkam.
"Tapi apa, Bocah Kecil?"
Leandro mengernyitkan dahi, ia merasa Caprion sedang bicara dengan seseorang di belakang mereka tapi dirinya tidak tahu.
"Tidak apa-apa, Paman. Aku hanya salah ucap."
"Kalau begitu ayo kita susul bibimu yang sedang kelaparan," kata Leandro menggandeng tangan Caprion.
Caprion menoleh sebentar ke belakang, tersenyum dan mengacungkan jarinya ke arah Gillermo. Sejak tadi Gill memang ada di sana menyaksikan percakapan kembarannya dan keponakannya bersama dokter itu.
****
"Kau masih marah dengan kakakmu, Nak?" tanya Tetua pertama melihat Guia yang belum bicara dengan Jacian.
"Tidak," jawab Guia pelan dan singkat.
"Lalu apa yang membuat tuan putri cantik ini masih berdiam diri di sini bukannya berkumpul bersama Jacian?"
Guia memilih berada di taman daripada berkumpul di halaman depan rumah bersama yang lain. Leandro sudah pulang sejak tadi diantar oleh salah satu penduduk yang kebetulan akan ke kota bawah.
"Aku hanya kesal saja sama Jacian, Paman. Ia kadang suka seenaknya bicara dan memerintah. Memangnya aku ini budaknya atau adiknya, sih?" Guia mengungkapkan isi hatinya.
Tetua pertama tertawa dan menggelengkan kepala, memandang Guia saat ini seperti dirinya melihat sosok Hellen pada gadis di depannya. Guia mewarisi kecantikan dari sang ibu yang begitu menawan.
"Kok Paman tertawa?" Guia tak terima jika Tetua pertama menertawai perkataannya.
"Kau tahu, Nak. Jacian itu serupa dengan ayah kalian. Kadang ia tidak bisa membedakan antara memerintah atau meminta tolong dan itu membuat ibu kalian kesal. Benar katamu, Jacian dan ayah kalian memang seenaknya bicara tanpa dipikir. Namun di balik itu semua, mereka sangat menyayangi keluarganya. Jacian begitu menyayangimu dan Gillermo melebihi apapun."
Guia dan Tetua pertama menoleh ketika terdengar batuk kecil di antara mereka. Tetua pertama tersenyum dan menyambut hormat pada seseorang yang datang lalu ia pun berlalu dari hadapan Guia, membiarkan gadis itu menyelesaikan pertengkarannya.
"Ada apa?" Guia bertanya, menyilangkan tangan tanpa melihat ke lawan bicaranya.
"Kau masih marah ya denganku?" Jacian duduk di atas batu besar tepat di sebelah Gua.
"Kemarin ya tapi sekarang cuma kesal saja," balas Guia dan Jacian malah tersenyum menanggapinya.
Jacian akui jika selama ini ia telah salah bahkan ia kena marah lagi oleh sang istri, Belle menasihatinya sepanjang malam dan mengakui kesalahannya.
"Benar katamu, Guia. Aku salah selama ini padamu, aku kadang seenaknya memintamu datang ke sini tanpa tahu kau mungkin di luar sana memiliki kesibukan. Aku sesuka hati memberi perintah padamu dan Gill meski aku tahu itu membahayakan kalian. Aku juga memisahhkan kalian sejak kecil."
"Kau sadar kalau itu salah?" tanya Guia memandang kakaknya dengan wajah yang di tekuk.
"Hmm ...." Jacian mengangguk dan menyunggingkan senyuman manis.
"Syukurlah akhirnya kau sadar," timpal Guia.
"Lalu kau mau memaafkan dan tidak membenciku, bukan?" tanya Jacian menangkup wajah Guia.
"Belikan aku es krim dulu," jawab Guia yang membuat Jacian gemas lalu mencubit hidung sang adik.
Jacian telah menyadari kesalahan sepenuhnya, ia tak mau lagi ada luka di hati Guia dan menyebabkan adik kesayangannya itu terbebani dengan tugasnya. Ia akan memberi Guia kebebasan karena gadis itu bukan lagi anak-anak yang harus diatur kehidupannya.
"Tuan, ada yang mencari kalian." Ada pengawal yang tiba-tiba datang dan menghampiri mereka.
"Siapa?" Jacian dan Guia bertanya bebarengan, mereka tertawa karena kekonyolan mereka sendiri.
"Kami tidak tahu pasti, tetapi wanita itu mengatakan kalian bisa menolongnya," sahut pengawal tersebut.
"Mungkin seseorang yang butuh bantuan kita, Jacian."
"Kalau begitu ...."
Guia langsung menarik tangan Jacian masuk ke rumah dan menemui wanita yang mungkin saja meminta bantuan mereka.
*****
Guia dan Gillermo duduk berdampingan dengan Jacian juga tetua lainnya. Mereka saling terdiam mendengar penuturan wanita berpenampilan mewah namun simpel itu, wanita yang biasa dipanggil Nyonya Ludwig menceritakan setiap permasalahannya.
"Sebelumnya kami ingin bertanya pada nyonya, dari mana anda tahu tentang kami."
Tak banyak yang tahu mengenai kaum Cazador kecuali orang-orang yang pernah menjalin kerjasama dengan mereka sehingga Jacian bertanya dengan antusias.
"Tuan Lobo yang mengenalkanku pada kalian, katanya aku harus datang ke tempat ini karena kalian yang bisa menolongku," ucapnya bernada ketakutan, tampak dari bibirnya yang bergetar.
"Tuan Lobo yang rumahnya dekat pelabuhan?" tanya Guia disambut anggukan kepala wanita tersebut.
"Jadi apa kalian bisa menolongku mengusir roh di dalam mimpiku?" Nyonya Ludwig menggengam erat tangan Guia meminta kepastian.
"Serahkan pada kami, Nyonya. Besok biar kami datang ke rumah anda, sekarang pulanglah dulu," ujar Jacian.
"Apa kalian tidak punya sesuatu yang bisa membuatku tidur? Dia selalu datang ke alam mimpiku," pintanya dengan memelas.
Guia mengambil sesuatu dari dalam kantong baju dan menyerahkan botol kecil berupa cairan putih, ia memberikannya pada nyonya Ludwig.
"Tuangkan cairan ini sedikit ke bantal dan selimut anda, Nyonya. Benda ini bisa memberikan anda ketenangan walau sementara hingga kami datang besok," kata Guia.
Wanita yang memiliki tahi lalat di bibir itu langsung pamit dan sungguh berharap jika permasalahannya cepat selesai. Guia dan yang lainnya saling berembug membahas mengenai hari esok, ia sudah kembali seperti Guia yang penuh semangat.
*****
"Selamat malam dokter," sapa perawat pada dokter yang baru saja lewat.
"Malam juga untuk kalian," balasnya dengan ramah.
"Masih bertugas, Dok?"
Dokter itu menggangguk dan tersenyum sembari memasukkan tangannya ke dalam saku seragam putihnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang praktek demi tugas yang belum selesai. Sebuah tugas yang berat dan harus segera selesai.
"Mengapa selalu aku yang menggantikan tugasmu, As?" tanya dengan menggerutu sembari mengunci pintu ruang kerjanya dan ia tak suka diganggu jika sudah bekerja.
Ia menuju rak buku, mencari sebuah tombol lalu menekannya. Rak buku itupun terdorong ke belakang dan menunjukkan anak tangga yang menurun. Segera, ia berjalan menyusuri tiap anak tangga yang tersusun rapi kemudian menyalakan lampu di sana.
"Bisa tidak anda menyapa dulu, jangan mengejutkanku dengan kemunculan anda yang serba mendadak," dengkusnya kesal saat menyalakan lampu, ia melihat sosok pria yang duduk dengan tegap dan sorot mata tajam.
"Kau yang selalu datang terlambat. Aku sudah sejak tadi di sini."
Sosok berjubah itu memandangnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala wanita tersebut sehingga membuatnya tak nyaman, tatapan penuh intimidasi dan senyuman yang menyeringa
"Ada apa anda melihatku seperti itu?" tanyanya gugup.
"Sudah berapa lama kau hidup di tubuh itu? Apa kau tak mau kembali seperti dulu?"
"Ma--ksud anda apa sih?" Wanita itu tergagap dan terkejut mendapati pertanyaan.
"Apa perlu aku ingatkan kembali?" tanya sosok itu penuh penekanan dan bernada dingin.
Wanita itu terpojok, ia tahu jika semua yang terjadi padanya hari ini semua karena sosok di depannya. Jika bukan karena dia maka tak ada dirinya sekarang. Ia tercipta untuk membantu sang tuan di dunia manusia, tetapi ia lupa akan tugasnya
"Maafkan aku Tuan. Iya aku salah," ucapnya penuh penyesalan.
"Sejak kau berubah, kau lupa tugasmu. Apa kau paham?!"
Sosok itu mengepalkan tangan dan membanting meja hingga membuat wanita tersebut mundur beberapa langkah, ia sudah lalai dalam tugas demi kenikmatan dunia semata yang indah.
"Aku tahu salah, jangan beri aku hukuman!" Ia memohon sambil berlutut.
"Jangan hanya karena kita saling kenal maka kau lupakan tugasmu, Betzy!"
"Sekarang lakukan tugasmu. Kembalikan buku itu ke tempatnya dan musnahkan Hvísla."
Sosok itu menghilang di depan mata dokter cantik itu dalam sekejab. Betzy menghela napas panjang dan duduk diam di kegelapan ruang bawah tanah.