Untuk kesekian kalinya, Guia harus terbangun dalam keadaan berada di rumah sakit. Bukan karena ia tak menyukai, tetapi malas melihat orang yang sama tiap kali ia datang ke sini. Siapa lagi kalau bukan Leandro? Ia tak habis dengan pria itu yang selalu datang di setiap dirinya tertimpa masalah.
"Selamat pagi, Nona Guia." Leandro datang bersama para perawat memeriksa keadaan Guia yang terluka di tangan kanannya dan harus diperban.
"Bibi, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Seingatku aku kemarin di perpustakaan."
Satu hal yang Guia ingat hanya pertarungannya dengan makhluk cantik bergaun hitam dan Gillermo yang datang menyelamatkan, sesudah itu dirinya tak ingat apapun.
"Kau tertimpa rak buku saat menyelamatkan penjaga perpustakaan," ujar sang bibi sembari menatap Guia.
Tak mungkin paman maupun bibinya menceritakan hal yang sesungguhnya, apa mereka akan percaya jika ada makhluk yang keluar dari buku lalu menyerang manusia? Kebohongan adalah jalan satu-satunya untuk dijadikan alasan.
"Apa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, Nona? Mengapa kau selalu saja tertimpa masalah?" sindir Leandro tapi dengan gaya bercanda.
"Memang aku mau seperti ini?" sahut Guia ketus.
"Guia, bisa tidak kalau bicara pada orang yang lebih tua gunakan bahasa yang sopan?"
Leandro merasa mendapat dukungan dari Oligver, selama ini jika bertemu mereka seperti kucing mengejar buruannya. Guia tak pernah bisa bicara dengan pelan, selalu menggunakan kata yang kasar atau ketus.
"Oke, Paman. Maafkan aku, Dok," ucap Guia pelan, memalingkan wajahnya ketika Leandro memeriksa tangannya. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan Guia ketika mata hanzel dokter itu menatapnya.
"Maafkan keponakan kami, Dok. Selama ini tak ada satupun teman pria yang mau berteman dengannya jadi ia bersifat tertutup," ucap Oligver jujur.
Guia memandang wajah sang paman, tak menyangka Oligver terlalu jujur membuka rahasianya. Ia akui selama ini hanya Rodolfo dan keluarganya saja yang bisa dekat dengannya, ia menjaga jarak dari semua pria. Bukan karena malu, ia takut pria di luar sana mengetahui jati dirinya sebagai pembasmi iblis.
"Kau salah Oligver, bukan seperti itu. Guia sengaja menjauh dari mereka," bisik Beatrice mengingatkan Oligver mengenai Guia.
Rupanya bisikan itu terdengar oleh Leandro, berada tepat di samping mereka ketika ia mengganti perban Guia. Ia semakin tahu mengenai gadis yang sudah membuat hatinya berdegub.
"Nah sudah selesai, Guia. Ingat lain kali berhati-hati jika melakukan apapun," ucap Leandro memberinya senyuman manis.
Sepeninggal Leandro, pasangan suami istri itu segera beranjak dari ruangan tersebut. Mereka membiarkan Guia beristirahat selagi menyembuhkan tangannya yang terluka. Kemarin Guia membuat panik sekeluarga ketika pihak sekolah memberi kabar jika ia dibawa ke rumah sakit karena tertimpa rak, setelah diberitahu oleh Gillermo barulah mereka paham.
****
Guia memberengutkan wajahnya saat Jacian mulai menceramahi. Bukannya diberi perhatian, dirinya malah dikatakan tidak sadar diri karena mengancam nyawanya sendiri.
"Lain kali, jangan bertindak sendiri. Kau mendengarkanku, Guia?" Jacian menatap adiknya yang memainkan ponsel daripada mendengarnya.
"Guia Lucena Guinan! Di mana telingamu?" Jacian merampas ponsel Guia lalu menyerahkan pada Izabelle.
"Iya aku dengar, Jac. Telingaku masih di sini," jawabnya kesal tanpa melihat Jacian dengan wajah marahnya.
"Mengapa kau selalu membantah dan tidak pernah mendengarkanku, Guia? Kau selalu bertindak sesuka hatimu tanpa memedulikan dirimu. Apa jadinya jika Gillermo tidak datang?"
"Pelan-pelan, Jacian. Tak perlu memakai nada tinggi bicara dengan adikmu," timpal Beatrice menepuk bahu Jacian suaminya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan saat makhluk itu sudah ada di depanku? Melarikan diri begitu maksudmu?" Guia menangis sembari berkata, ia melihat Gillermo di depannya tanpa berniat bicara sedikitpun.
"Kau selalu menyalahkanku ketika aku tak bisa menghadapi makhluk-makhluk sialan itu seorang diri. Apa kau pikir mudah mengalahkan mereka? Apa kau pikir selama ini aku bisa mengatasinya?" Guia berhenti sejenak menghapus air matanya dengan kasar.
"Kau tak pernah ada di sisiku ketika berjuang, kau akan memanggilku ketika aku dibutuhkan untuk membasmi mereka. Kau juga memisahkanku dengan Gill di masa kecil, aku selalu kesepian di rumah paman. Tapi kalian tak pernah berkunjung, aku membencimu Jacian!"
Jacian terkejut mendengarnya, benarkah yang dikatakan Guia tentang dirinya? Apa ia sekejam itu pada adiknya? Ia benar-benar tidak tahu tindakannya selama ini melukai perasaan adik kesayangannya. Ia pikir semua itu untuk kebaikan Guia, tetapi ia salah.
"Meskipun aku dipisahkan dari Gill. Tetap saja Gill meninggal, bukan? Lalu untuk apa aku dijauhkan dari saudaraku sendiri? Kalian kejam!"
"Sudah cukup, Guia. Jangan emosi, ya." Beatrice memeluk tubuh Guia dan gadis itu menangis dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Guia. Aku tidak tahu jika tindakanku melukai perasaanmu selama ini, aku pikir itu yang terbaik untuk kalian berdua. Ayah dan ibu juga menyetujuinya," ungkap Jacian berusaha memegang tangan Guia, tetapi Guia menyingkirkan tangan Jacian.
"Kalian pikir aku tidak takut saat menghadapi makhluk itu sendirian tanpa bantuan Gill," isak Guia masih dalam pelukan Izabelle.
Gillermo tak banyak bicara, biar Guia mengungkapkan isi hatinya. Gill paham perasaan yang dimiliki kembarannya, karena itulah ia tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian. Guia masih polos dan labil. Jika sudah selesai dengan tangisannya, Guia akan bersikap seperti anak manja.
"Aku mau tidur, pulanglah kalian semuanya," usir Guia mengurai pelukannya lalu menyelimuti dirinya hingga batas kepala.
Jacian ingin bicara lagi dengan Guia, akan tetapi Izabelle menyuruhnya diam dan menunggu amarah sang adik reda. Jacian mengalah dan memilih pulang.
"Jaga adikmu, Gill," ujar Jacian pada Gill. Meski tak bisa melihat, Jacian bisa merasakan ada adik lelakinya di sana.
Guia masih di dalam selimut, ia tahu ini salah. Namun, ia ingin mengungkapkan isi hatinya yang terpendam selama ini. Gillermo menghampirinya di tepi tempat tidur, Gill tahu jika Guia tak benar-benar tertidur.
"Kau marah denganku?" tanya Gillermo pelan. Gill menunggu beberapa saat, tak ada jawaban dari Guia dan ia memutuskan untuk pergi saja sementara waktu.
"Peluk aku."
Benar bukan? Gillermo tersenyum, Gill tahu bagaimana sifat asli kembarannya. Ia segera merentangkan tangan memeluk adik tercintanya, menepuk-nepuk punggungnya dan mencium kening Guia.
"Jangan pergi terlalu lama lagi, Gill. Aku kesepian."
****
"Anda senang, Tuan?"
Asdeus melihat sang tuan begitu senang dan merayakan kemenangannya dengan berpesta. Jangan salah, makhluk seperti mereka juga bisa melakukan hal yang sama dengan manusia di dunia.
"Akhirnya aku bisa melihat pertengkaran dua saudara itu. Puas rasanya, Asdeus," tawanya sembari meminum sesuatu di dalam gelasnya.
"Oh begitu rupanya. Pantas saja tuan senang."
Raja iblis itu merasakan kesenangan luar biasa karena membuat pertengkaran dan dia berharap mereka bermusuhan sehingga mudah menghancurkan kaum Cazador.
"Lalu apa rencana anda selanjutnya pada gadis itu?" tanya Asdeus ingin tahu.
"Hmm ... entahlah. Belum aku pikirkan lagi, tapi yang pasti mereka harus mati di tanganku. Tak akan kubiarkan mereka menang."
"Agar anda bisa menjadi penguasa dunia? Apa begitu, Tuan?"
"Tepat sekali Asdeus. Namun sebelum itu, aku harus bisa mengambil jiwa gadis itu dan menyatu denganku."
Terdengar tawa bahagia raja iblis, dia ingin menunggu hari itu tiba dan menjadi penguasa dunia. Dia harus mencari rencana lain untuk membuat gadis itu bertarung dengan makhluk ciptaannya.
****
Pihak kampus mengijinkan Guia untuk beristirahat sampai Senin guna menyembuhkan sakitnya. Paman dan bibinya telah kembali bertugas di suatu desa terpencil Amsterdam, tak ada pilihan lain selain berada di rumah atas bukit.
Sialnya lagi, Jacian menyuruh dokter murah senyum itu untuk berkunjung ke rumah bukit. Selama ini jarang ada orang ke sana kecuali membeli bunga, buah, sayur atau s**u yang memang menjadi ladang mata pencaharian penduduk di samping sebagai pembasmi iblis.
"Wah tidak menyangka ada penduduk di atas bukit ini, aku hanya dengar dari beberapa orang jika daerah sini menakutkan," ujar Leandro kagum dengan tempat yang bisa disebut desa kecil di atas bukit.
"Menakutkan apanya? Memangnya kami monster?" sahut Guia lagi dengan ketusnya.
"Bukan seperti itu maksudku, Guia. Orang jarang ke sini karena harus melewati hutan yang seram," ralat Leandro membenarkan ucapannya.
"Bilang saja anda penakut," kata Guia lagi sembari menyantap masakan buatan penduduk di sana lalu pergi begitu saja.
"Maafkan adik iparku itu, Dok. Ia memang sedikit kasar tapi baik dan penuh perhatian," kata Izabelle memberi pengertian pada Leandro.
"Tidak apa-apa, Nyonya Izabelle. Saya tak terlalu ambil hati," jawab Leandro merendah.
Izabelle mempersilahkan Leandro untuk makan sepuasnya, Leandro mengiyakan dan merasa senang karena bisa mengenal keluarga gadis itu.
"Aku akan terus mendekatimu, Gadis Tengil."
Leandro berjanji pada dirinya ia bisa mendapatkan Guia dan menjadikan gadis itu sahabatnya.
=Bersambung=