Selama dua bulan paska menghilangnya Gillermo, Guia tak pernah menginjakkan kakinya lagi ke perpustakaan. Biasanya tempat itu menjadi persinggahan ketika jam istirahat, ia lebih memilih berada di sana daripada di kelas dengan tatapan aneh dari teman-temannya.
"Hei Guia sayang!"
Guia merengut, Rodolfo selalu memanggilnya seperti itu. Ia tak mau ada salah paham antara dirinya dengan Rodolfo, ia hanya menganggap pemuda itu sahabatnya. Namun, entah mengapa Rodolfo selalu mengatakan pada ayahnya jika Guia adalah pacarnya.
"Sudah hentikan memanggilku seperti itu, Ro! Bukankah perjanjian kita sudah berakhir di depan ayahmu."
Ya, Rodolfo meminta tolong pada Guia mengaku sebagai pacarnya agar tidak dijodohkan dengan anak dari sesama rekan kerja sang ayah. Guia yang pada dasarnya tidak bisa menolak, akhirnya menyetujuinya saja.
"Aku suka saja memanggil Guia say---"
Guia membekap mulut Rodolfo ketika teman-teman yang ada di perpustakaan memperhatikan mereka berdua, suara keras Rodolfo membuat penjaga di sana menatap tajam.
"Hentikan memanggilku seperti itu, kau membuatku geli."
"Kalau kau tak mau mendapat panggilan itu, maka jadilah pacarku. Bukan palsu tapi pacaran dalam arti sebenarnya. Mau tidak?"
Guia tak percaya jika Rodolfo begitu percaya diri mengatakan hal yang tak ingin ia dengar. Sejauh ini baginya hubungan antara pria itu hanya sebatas sahabat. Kini ia menyesal telah membuat perjanjian dengan Rodolfo kemarin.
"Pergilah! Aku ingin di sini, jangan ganggu aku," usir Guia mengimbaskan tangan ke arah Rodolfo agar pergi.
"Oke ... oke ... aku pergi tapi sebelum itu aku mau mengucapkan. Sampai nanti Guia Sayangku," bisiknya pelan dan pemuda itu menggodanya, ia senang melakukannya agar Guia marah.
Guia menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan perilaku sahabatnya itu. Sebelum menutup pintu perpustakaan, Guia melihat bayangan hitam yang mengikuti Rodolfo sama seperti waktu sahabatnya itu berkunjung ke rumah.
Untuk sementara waktu, Guia tak mencari tahu mengenai bayangan tersebut. Sekarang yang penting adalah mencari keberadaan buku itu. Sewaktu ia dan Gillermo terlempar dari buku, tiba-tiba saja benda itu menghilang.
"Seingatku di rak nomer 4 buku itu tersimpan."
Guia melangkah perlahan menuju tempat itu. Untung saja tidak terlalu banyak anak-anak berada di sini, mereka lebih menyukai kantin atau kelas. Jari-jarinya menyusuri tiap sudut rak mencari buku berjudul "Sweet Land" dan ia tak menemukan keberadaannya.
"Aduh ...!" pekik Guia tertimpa suatu benda dari rak paling atas.
"Ada apa, Nona Guinan?" tanya penjaga menghampiri Guia.
"Tidak apa-apa, Bu. Buku ini jatuh dari sana," tunjuknya mengarah ke atas.
"Sepertinya buku ini bukan dari perpustakaan kita."
Mrs. Inggrid mengambil buku tersebut, terlihat bingung dan tampak mengernyitkan dahi. Guia tahu jika penjaga perpustakaan ini pasti hapal dengan segala nomer seri buku yang ada di sini.
"Bu, jangan di buka!"
Terlambat, buku itu sudah terbuka dan mengeluarkan satu sosok dengan asap yang mengelilingi mereka berdua. Guia mundur beberapa langkah, tepat di depannya ada makhluk yang mendiami buku itu.
"Bu, bangun!"
Guia melihat penjaga perpustakaan pingsan begitu juga teman-temannya yang lainnya. Hanya dirinya yang masih tetap berdiri dan berhadapan dengan makhluk itu.
"Kau ... Hvísla?"
"Iya benar. Ada apa, Nona Manis? Kau takut?" tanya makhluk tersebut sembari tersenyum sinis.
"Untuk apa aku takut? Kau hanya makhluk tak berguna," desis Guia menatap tajam.
Guia berusaha mengambil serulingnya, tetapi ia kalah cepat. Sepertinya Hvísla sudah hapal dengan tindakan Guia yang menaklukan semua makhluk seperti dirinya. Hvísla menghempaskan tubuh Guia hingga terpelanting.
Namun bukan Guia namanya jika ia harus menyerah sekarang, jika seruling tidak bisa digunakan saat ini maka jalan satu-satunya adalah serbuk yang selalu disimpan di kantung pakaiannya.
"Kau mengaku kalah?"
Hvísla mendekati Guia seraya berlutut tepat di depan gadis itu, dia mengejek dan memiringkan senyumannya. Dia menyukai bau harum tubuh dari Guia dan ingin sekali menghisap energinya.
"Kalah? Enak saja mulutmu bicara seperti itu!"
"Arghh .....!"
Hvísla lengah, dia mengerang kesakitan saat serbuk putih yang dilemparkan Guia mengenai wajahnya. Seketika wajahnya panas dan melepuh, dia marah besar pada Guia yang ternyata memiliki senjata andalan selain serulingnya.
Guia mengambil kesempatan, ia segera mengeluarkan seruling dan meniupnya hingga membuat makhluk itu menjerit. Hvísla memekik seraya menutup telinganya ketika mendengar seruling Guia. Dia jatuh terduduk, tenaganya sedikit lagi akan menghilang terserap benda itu.
"Menyerahlah Hvísla! Aku tak akan menyakitimu jika kau bersedia masuk ke serulingku," perintah Guia.
"Heh! Aku tak mau menyerah pada gadis sepertimu yang tidak memiliki pengalaman apapun!"
Dengan tenaga yang masih ada, makhluk tersebut menghampiri Guia lalu membuat gadis itu terkena pukulan hebat di dadanya dan terpelanting jauh hingga beberapa meter.
Serulingnya berada jauh dari tangkapannya, Guia tak bisa mengambilnya. Napasnya sesak dan d**a terasa sakit, sebelum benar-benar jatuh pingsan. Ia melihat dan mendengar seseorang berteriak ke arah Hvísla.
"Jangan pernah menyakiti adikku, Makhluk Sialan!"
****
Suara gemuruh datang bersamaan dengan satu sosok menembus kegelapan malam, dia berjalan cepat menuju salah satu ruang dan menutup pintu itu kasar sembari memanggil nama seseorang.
"Keluarlah Hvísla!"
Suaranya bahkan bisa mengguncang lantai dan buku-buku di rak jatuh berserakan, hanya ada satu buku yang tetap diam di tempatnya. Perlahan, terbukalah buku tersebut dan mengeluarkan cahaya merah menandakan pemiliknya sedang keluar.
"Ada apa, Tuan?"
Tanpa menjawab, dia segera mencekik leher makhluk itu hingga terdorong ke dinding. Hvísla tak memiliki tenaga ketika tangan sang tuan begitu kuat menjeratnya, ada darah hitam keluar dari matanya.
"Ada apa? Begitu mudahnya kau mengucapkan kata itu? Apa perkataanku sudah tak ada gunanya lagi? Apa kau mau melawanku?"
"Aku tidak paham maksudnya, Tuan," ujar Hvísla terbata-bata.
"Kau tahu demi menyelamatkanmu dari dua saudara kembar itu dua bulan lalu, aku terpaksa menggunakan kekuatanku untuk membuat Gillermo terluka dan menghilang. Tapi tadi kau seenaknya keluar dan mengganggu gadis itu. Apa kau tahu gadis itu hanya aku yang boleh menaklukannya?"
Raja iblis tak terima target buruannya diincar oleh Hvísla, hanya dia yang boleh melukai dan menyakiti Guia dengan caranya sendiri. Karena gadis itu yang bisa memberinya jantung dan kekuatan yang lebih dari apapun.
"Maaf tuan, aku salah tadi."
Raja iblis mengendurkan dan melepaskan tangannya dari leher Hvísla, dia menatap tajam ke arah makhluk ciptaannya dan membiarkan makhluk tersebut mengambil napas sejenak sebelum dia menyiksa lagi nanti.
"Aku akan mengembalikanmu ke tempat semula besok!"
Hvísla menggeleng sembari berlutut di depan raja iblis tersebut, dia benar-benar tak mau berada di sana lagi. Ruang perpustakaan ini sudah menjadi tempat ternyaman.
"Pilihanmu hanya dua, kembali ke tempat semula atau tetap bersamaku di suatu tempat pertama kali aku ciptakan dirimu!"
"Baiklah ... aku akan kembali ke tempatku semula."
Tak ada pilihan lain bagi Hvísla, dia tak mau berada di gua berisi api dan segala macam binatang buas. Dia menyesali tindakannya tadi, andai dia tidak terpancing bau harum dari tubuh gadis itu tak mungkin dirinya menyerang Guia dan mendapat hukuman dari tuannya.
****
Guia membuka matanya, sejenak ia memalingkan wajah dan mendapati pemandangan yang berbeda. Tak ada siapapun di sana, hanya sebuah bukit dengan bunga dan rerumputan yang sejuk.
"Ini tempat apa? Aku tak mungkin meninggal, bukan?" Guia bertanya pada dirinya sendiri.
Tempat ini benar-benar membuat pikirannya tenang dan udara yang tak seperti biasanya. Berbau harum dan sejuk sekali, ia langsung berdiri dan berjalan menginjak rumput yang basah.
"Kau menyukai tempat ini, Anakku?"
Guia menoleh, ia terkejut ada ayah dan ibunya tersenyum dan merangkulnya dengan erat. Dipandanginya wajah mereka dengan bingung sekaligus senang, apa ini mimpi?
"Ayah ... ibu ... aku merindukan kalian."
"Mengapa kau ada di sini, Nak? Ini bukan tempatmu."
Guia begitu merindukan suara lembut sang ibu, setiap perkataan yang keluar dari bibir ibunya mampu membangkitkan kenangannya di masa lalu ketika ia masih kecil. Ia selalu bermanja ria dan bersenda gurau bersama.
"Ini tempat apa, Yah?"
"Tempat di mana tidak ada rasa sakit dan hanya kebahagian di sini, Nak." Theodorus menyunggingkan senyum, mengusap lembut kepala Guia lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Guia pelan, ingin rasanya ia tinggal bersama ayah dan ibu di tempat ini.
"Nak, ini bukan tempat yang harusnya kau datangi. Tugasmu belum selesai di dunia," ujar Theodorus dengan lembut.
"Tapi ayah--- aku sudah lelah dengan tugas yang harus aku emban," keluh Guia di pelukan sang ibu--Helen.
"Jangan menggangap tugas yang kau emban itu sebagai beban, Nak. Jika kau tugas itu kau anggap sebagai beban maka kau akan lelah dan merasa tak sanggup. Kerjakan semampu yang kau bisa dan sisanya serahkan pada kekuatan Yang Maha Kuasa," imbuh Theodorus dengan perkataan bijaknya.
"Apa aku mampu, Bu?"
"Tentu saja, Nak. Kau dan Gillermo adalah anak ayah ibu yang paling kuat. Kami yakin kalian mampu melakukan tugas tersebut," timpal Hellen membelai rambut panjang Guia.
"Gillermo? Apa Gill ada di sini, Bu?" Guia baru menyadari jika sejak tadi ia tak melihat Gill bersama mereka.
"Kakakmu tak akan bisa berada di sini jika tugasnya belum selesai, Gill harus menjaga dan melindungimu sampai kau bisa menangani dirimu sendiri."
"Jangan merasa bersalah pada Gill, Nak," ujar Hellen yang mengetahui jika selama ini Guia selalu diliputi rasa bersalah atas kematian kembarannya.
"Sekarang pulanglah, Sayang. Waktumu di sini sudah selesai dan kau harus bangun segera, ada banyak orang yang memerlukan pertolonganmu."
Setelah memberi nasehat pada Guia, Theodorus dan Hellen perlahan menghilang dari pandangan Guia. Guia berlari mengejar mereka, tetapi seketika lenyap bagaikan asap membumbung tinggi.
"Ibu ... ayah ..."
Masih dalam tidurnya, Guia mengigau menyebut nama mereka. Ia tak menyadari ada satu sosok yang menungguinya sejak dirinya berada di rumah sakit. Sosok itu mendekat dan menyibak poni Guia sambil menampilkan senyum menyeringai.
"Hanya aku yang boleh membunuhmu, Gadis Nakal!"
Sementara itu Gillermo sudah selesai dengan penyembuhannya, selama ini Gill bersembunyi di rumah atas bukit. Tempat yang hanya Jacian dan tetua yang tahu, Guia tak pernah diperbolehkan mengunjungi tempat tersebut yang penuh dengan bara api.
Ketika Gill hendak mengunjungi Guia, tanpa sengaja matanya menangkap satu sosok yang telah membunuhnya dan juga kedua orang tua mereka. Gill memang tak pernah tahu rupa wajah raja iblis itu, hanya satu yang dirinya tahu yaitu tanda bekas luka di jantung sosok itu.
=Bersambung=