Part 16 Leandro And Guia

1482 Kata
Part 16 Guia terbangun setelah tertidur sejenak di sore hari, ia menguap dan merentangkan tangan. Ia melihat sekeliling dan menghirup napas panjang, tak ada Gillermo yang menyambutnya ketika bangun. Betapa ia merindukan kembarannya itu. Guia beranjak dari kasur, meminum vitamin dan menutup jendela yang terbuka, malam telah hadir mengisi kesepian bagi dirinya. Malam ini paman dan bibinya akan kembal bertugas ke Swedia, mereka hanya pulang sebulan sekali sekedar menjenguk rumah juga dirinya. Ada suara tawa di ruang keluarga ketika Guia melangkah turun menuju dapur, ia ingin makan setelah kemarin tak bisa menyantap bubur sama sekali. Langkahnya terhenti, di sofa sana seorang pria tersenyum menyambutnya. "Halo Guia, sudah bangun?" "Kenapa anda ada di sini, Dokter?" Guia menghampirinya dan melihat sang bibi sibuk di dapur. "Bibi dan paman sebentar lagi akan pergi, Guia. Jadi kami akan menitipkan dirimu pada dokter Leandro sementara waktu." Sang bibi menyerahkan kunci rumah pada Guia, mereka sepertinya sudah harus bersiap pergi agar tidak ketinggalan pesawat. Oligver memeriksa semua keadaan tiap jengkal rumah agar tidak terjadi sesuatu saat mereka meninggalkan Guia sendiri. "Bukankah kalian akan pergi tengah malam? Lalu aku bisa jaga diri tidak perlu ada dokter di sini." Guia merasa tak nyaman jika ada yang menjaga layaknya anak kecil, ia sudah terbiasa berada di rumah ini sendirian meski ada Gillermo yang kadang kala menemaninya. "Maaf sayang. Bibi dan paman ada tugas penting. Karena sekarang tidak ada nyonya Herice maka kami menitipkan dirimu pada dokter Leandro lagipula kalian bisa ke kampus bersama," ujar sang bibi yang sudah siap akan berangkat. Guia memanyunkan bibirnya, bersedikap dan duduk sambil menatap Leandro yang tersenyum juga tidak terganggu dengan tindakan gadis yang menggemaskan tersebut. "Dokter maafkan kami, ya. Hanya anda tetangga dekat yang bisa kami titipkan gadis nakal ini," imbuh Oligver dengan tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Pak. Saya senang bisa berteman dengan Guia, ia anak yang lucu dan menyenangkan." Guia tetap saja tak menyukai Leandro meski ia akui pria itu memiliki segalanya. Tampan, idola para gadis, dokter terkenal dan juga kaya--kata Rodolfo, pria tersebut memiliki usaha di kota. "Kalau begitu, paman berangkat dulu ya, Sayang. Hati-hati di sini dan jaga kesehatan selalu." Oligver merangkul Guia bergantian dengan sang istri. Leandro dan Guia mengantarkan mereka sampai depan pagar, melambaikan tangan dan Guia tetap melihat mobil sang paman hingga hilang dari pandangan. "Ayo masuk, Guia. Kau masih demam," sela Leandro pelan. "Aku bisa sendiri, Dok. Jadi pulanglah sekarang," tolak Guia yang tak ingin jadi gunjingan para tetangga. "Jangan dengarkan perkataan mereka," ucap Leandro menggandeng tangan Guia. Guia ingin menepisnya, tetapi pegangan Leandro terlalu kuat. Guia menurut saja bahkan ketika Leandro menyuruhnya duduk diam di depan televisi sedangkan dirinya berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Guia melihat betapa lincahnya tangan dokter itu memasak dan memainkan alat dapur, sesekali ia tersenyum ketika Leandro bertingkah konyol. "Anda masak apa?" Karena bosan menonton, Guia menghampiri Leandro di meja dapur. Bau harum menyeruak dan membuat perutnya harus segera diisi. "Paella, kau suka?" sahut Leandro memberikan sepiring nasi goreng seafood. "Iya makanan khas Spanyol, bukan? Ibu dan pamanku berasal dari sana," kata Guia meneguk ludahnya kala melihat nasi goreng yang sedap. "Makanlah yang banyak, Guia. Besok kau harus masuk ke kampus, aku tak mau tahu," tegur Leandro mengambilkan segelas air untuk Guia. Guia menikmati masakan buatan Leandro, jujur makanan ini lebih enak daripada buatan pamannya sendiri. Tanpa sadar ia menghabiskan tanpa sisa, mungkin karena pengaruh demam kemarin yang membuatnya tak makan. "Terima kasih untuk makanannya, Dok. Biar sekarang aku saja yang mencucinya." Leandro menggeleng, menyuruhnya duduk saja dan beristirahat. Urusan mencuci piring, biar ia lakukan sendiri. Leandro sudah cukup senang bisa berdekatan dengan Guia, gadis pendiam di kampus dan jutek. "Maaf aku merepotkan anda, Dok," ucap Guia sungkan. Pria itu sudah menemani, memasak dan mencuci peralatan masak. "Bagaimana kalau kau tidak memanggilku dengan sebutan dokter?" tanya Leandro menyunggingkan senyumannya sembari menatap Guia. "Anda kan lebih tua daripada aku, Dok. Usia kita terpaut sepuluh tahun, aku tidak bisa memanggil anda dengan kata yang tidak sopan." Mulai lagi, Leandro menggelengkan kepala ketika Guia sudah kembali seperti kemarin. Jutek dan ketus saat bicara, tetapi Leandro menyukainya. "Minumlah obat ini, biar kau cepat sembuh," sahut Leandro mengambil beberapa butir pil lalu menaruhnya di tangan Guia. "Aku sudah tidak demam, Dok. Aku tidak mau minum." "Ini perintah Guia! Aku yang menyuntikkan vitamin padamu kemarin, pamanmu yang meminta," tegas Leandro menatap tajam ke arah Guia. Pasrah, Guia terpaksa meminum pil tersebut. Tatapan mata Leandro membuatnya takut. Perkataan pria itu bagaikan sebuah perintah yang harus dilakukan. "Aku sudah meminumnya!" "Begini lebih baik, bukan? Jadilah gadis penurut sesekali." Guia memajukan bibir dan mendengkus kesal. Jika begini ia lebih baik berada di rumah bukit. Tak apa-apa Jacian yang akan terus berkata sepanjang malam asal tidak bersama pria yang menyebalkan ini. Guia tak bersuara lagi, ia melihat acara televisi tanpa tahu jalannya cerita. Tak ada percakapan apapun di antara mereka setelah Leandro menegurnya sedikit keras dan beberapa jam kemudian, Leandro melihat Guia tertidur dengan posisi duduk. "Andai kau itu tidak jutek, Guia. Tapi entah kenapa aku menyukaimu dengan segala perilaku yang menyebalkan itu." Leandro menyentuh kepala Guia dengan pelan lalu menaruhnya di lengan kanannya, ia tak bisa mengangkat gadis itu ke kamar karena takut terbangun dan membiarkan Guia tertidur saja di sini. **** "Turunkan saja aku di sini, Dok. Biar aku jalan." Hari ini Guia dan Leandro pergi ke kampus bersama memakai mobil, tetapi ia tak mau diturunkan di lobby dan memilih jalan kaki. Ia tahu akan menjadi bahan pergunjingan jika jalan bersama dengan asisten dosen itu. "Tidak usah, Guia. Aku sudah berjanji pada pamanmu untuk mengantar dan menjemputmu kuliah." Leandro tak peduli dengan gerutuan Guia yang duduk di sebelahnya. Toh ... ia disuruh oleh Oligver untuk sementara menjaga gadis itu hingga sang kakak kembali. "Tapi dok---" sanggah Guia, sekarang ia benar-benar kesal dengan dokter tampan ini. Sejak kemarin hingga sekarang, Leandro selalu ada di sampingnya. "Dengarkan perkataanku, Guia. Kau itu adalah tanggung jawabku saat ini dan aku tak mau melanggar janji pada pamanmu," ucap Leandro dengan tegas. Guia ingin menangis kalau bisa sekarang, kekesalannya sudah mencapai di pucuk kepalanya. Selama ini tak pernah ada yang membantah perkataannya kecuali keluarganya sendiri. Leandro menurunkannya di lobby, seketika pandangan mata mengarah padanya. "Kau bersama dokter itu ke sini, Guia?" "Apa kalian ada hubungan?" Guia menghela napas, inilah yang Guia tak inginkan. Teman-teman sekelas maupun yang lain menanyai dan menatap tak suka padanya hanya karena ia satu mobil dengan Leandro. Ia paham jika asisten dosen itu disukai oleh mahasiswinya bahkan pernah memberi bunga. "Aku dan Mr. Leandro tidak memiliki hubungan apapun. Ia melihatku di jalan lalu mengajakku. Apa sudah cukup penjelasanku?" "Tapi kalian bertetangga, bukan?" tanya salah satu kakak kelas Guia yang menyukai Leandro. "Meskipun kami bertetangga, bukan berarti kami dekat, Nona Lisa!" Guia segera berlalu dari mereka yang sudah bergosip. "Apa tidak gosip lain? Apa sih yang disukai mereka dari dokter menyebalkan itu?" omel Guia bersuara pelan seraya menuju kelasnya. Guia tak peduli menjadi bahan pergunjingan sesama temannya, ia sudah terbiasa sejak dulu. Baru sekali saja mata mereka melihat dirinya satu mobil dengan asisten dosen itu, gosip sudah menyebar ke mana-mana. Mulut memang telepon paling panjang. "Auwh ..." Guia merasakan ada yang menyenggol kakinya ketika melewati tempat duduknya, tetapi kelas masih sepi hanya ada beberapa temannya itupun mereka dalam posisi duduk. Lalu siapa yang melakukannya?" Mata Guia melihat sekeliling dan menemukan makhluk tak kasat mata dengan rambut yang menjuntai ke bawah sedang duduk di atas lemari kelas. Dia tersenyum mengejek ke arahnya dan melambaikan tangannya lalu menghilang. "Biarkan saja, aku malas menanggapinya." Guia tidak mau terlalu ambil pusing saat ini, ia yakin makhluk itu tak menganggu dirinya, ia tahu itu karena makhluk tersebut hanya penunggu di kelas ini. **** Dua minggu sudah Guia tanpa Gillermo, ia sudah tak sabar menunggu kedatangan kembarannya itu dan menaklukan makhluk penganggu manusia bersama-sama lagi. Sesuai janjinya pada paman Guia, Leandro selama itu selalu menjemput dan mengantar ke kampus. Para mahasiswi di sana sudah tidak membicarakan kedekatan Guia dengan asisten dosen itu, mereka hanya melirik sebentar lalu pergi begitu saja. "Sebenarnya apa yang anda katakan pada mereka sehingga diam dan tidak bergosip lagi?" tanya Guia sewaktu di rumah, Leandro beberapa minggu ini memasak untuknya. Guia sudah bisa menerima kehadiran pria itu yang datang tiap hari ke rumahnya. Hari ini paman dan bibinya datang, otomatis pria tampan itu akan jarang bertemu dengan Guia lagi. "Aku hanya mengatakan kalau kau adalah gadis yang dijodohkan denganku," sahut Leandro dengan mudahnya. "Apa?" Guia tersedak air sehingga membasahi pakaian atasnya ketika Leandro mengatakan itu. "Buktinya mereka diam, bukan?" "Tapi anda bukan--- Ah, anda ini mengapa berkata seperti itu, sih?" Guia kesal, seenaknya Leandro mengatakan hal tersebut. Bagaimana jika keluarganya tahu? "Memangnya aku harus mengatakan apa? Aku ini kekasihmu atau saudaramu?" sahut Leandro tertawa. Guia yang semula ingin menonton acara kesukaannya, memilih ke kamar mengganti pakaiannya yang basah. Ia mendengkus dan melihat Leandro dengan perasaan dongkol seraya menghentakkan kaki. "Dasar Gadis Tengil!" Meskipun sifat Guia terkadang seperti anak-anak, tetapi Leandro menyukainya. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN