Guia dan Gillermo terus berjalan menyusuri dalam kastil yang lebih menyerupai hutan belantara. Tak ada satupun kehidupan di sana, yang ada hanya hembusan angin dingin yang menyergap mereka.
"Gill, tunggu sebentar," bisiknya pelan.
"Apa kau merasakan sosoknya?" Gill bertanya, pemuda itu tetap waspada agar tidak terjadi kesalahan.
Guia mengangguk, serulingnya yang ada di dalam kulitnya ikut bergoyang dan ia tahu jika satu sosok sedang mengawasi mereka dari atas tiang. Tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, sama seperti pada ciri manusia di dunia nyata.
"Awas ....!"
Gillermo siap sedia ketika sosok yang lebih menyerupai seorang pemuda dengan pakaian hitam sedang mendekati mereka berdua. Pemuda itu tak memiliki mata kanan, berlubang hingga menembus ke belakang. Sosok itu terdiam sesaat sambil menatap Guia dan Gillermo.
"Kalian mencari Hvísla?"
Pemuda itu mengeluarkan suara berat dan dingin, dia tak tersenyum atau tertawa hanya sedikit bicara serta terpaku melihat kedua bersaudara tersebut.
"Iya kami mencarinya? Di mana dia?" tanya Guia dengan keras.
"Kami tak akan menyakitimu jika kau mau menunjukkan keberadaan Hvísla," sambung Gillermo.
"Kalian akan melenyapkan dunia buku ini, bukan?"
Gillermo dan Guia saling menatap, ternyata kedatangan mereka sudah diketahui padahal mereka ingin melenyapkan Hvísla secara diam-diam dan membebaskan para roh yang terperangkap di sini untuk kembali ke tempat seharusnya.
"Kami ke sini bukan hanya melenyapkan dunia buku ini, tetapi juga membebaskan jiwa kalian," ujar Guia.
"Benar kata adikku. Kalian akan kami bebaskan dari dunia ini dan kembali ke tempat seharusnya," imbu Gillermo berusaha menyakinkan.
"Ini dunia kami. Kalian tak perlu membebas jiwa kami ataupun melenyapkan dunia ini. Hiduplah di dunia kalian, jangan mengurusi apa yang bukan menjadi hak kalian!"
"Apa sih yang kau---?"
Gillermo menarik tangan Guia dan menggeleng agar kembarannya itu tidak emosi, jangan sampai Guia mengeluarkan serulingnya karena akan menimbulkan kekacauan.
"Ada apa?" tanya Guia berbisik.
"Apa kau tak merasakan keanehan sejak kita datang?"
Seelah mencerna perkataan Gillermo, Guia juga merasakan hal yang sama. Dimulai dari terbukanya pintu menuju dunia buku dengan mudah, makhluk-makhluk yang tak bisa melihat atau menganggu mereka dan jembatan yang mudah dilalui. Seakan-akan penghuni di sini sudah tahu kedatangan mereka.
"Pulanglah sebelum jam pasir itu semakin mendekati titik akhir."
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tahu cara kami datang ke sini?" Tentu saja Guia bingung. Makhluk di depannya tahu mengenai jam pasir.
"Kau kira aku bodoh? Aku bisa melihat dunia manusia dengan begitu mudah, Nona Guinan."
Guia memicingkan matanya, tak seperti biasanya makhluk yang berhadapan dengannya berlaku sombong seakan dia paling benar dan tahu.
"Tunjukkan siapa dirimu? Dan satu hal lagi makhluk jelek, jangan memanggil nama belakangku," dengkus Guia seraya mengambil serulingnya.
"Katakan siapa dirimu? Sebelum seruling ini dimainkan adikku!"
Pemuda itu tetap diam, tak ada pergerakan apapun dan tak ada rasa takut ketika Guia mengeluarkan serulingnya. Kedua bersaudara tersebut dibuat bingung oleh makhluk itu.
"Belum saatnya aku melawan kalian," sela pemuda itu dengan sombongnya.
"Tidak usah berkelit-kelit seperti rubah, Makhluk Jelek! Katakan saja di mana Hvísla dan siapa dirimu?"
Tatapan makhluk itu memberi kesan yang berbeda bagi Guia, ia meyakini jika sosok itu bukan dari roh bunuh diri. Seketika pikirannya menerawang dan memandang Gillermo yang memahami tatapan sang adik.
"Kau itu bukan roh yang bunuh diri, bukan? Aku pastikan jika kau adalah anak buah dari raja iblis," terka Guia sambil menuding jarinya ke arah makhluk itu.
"Memang benar, Nona Guinan. Sayangnya raja kami masih belum mau bertarung dengan kalian!"
"Heh? Siapa yang mau bertarung dengan raja kalian? Aku mau mencari Hvísla dan melenyapkan dunia ini."
Guia geram, baru kali ini ada makhluk yang tidak sopan dan sombongnya minta ampun padahal dia hanya seorang anak buah dari raja iblis. Jika saja ia bukan berada di dunia buku, sudah dipastikan makhluk di depannya itu akan ditendangnya.
"Sayangnya wanita yang kau cari menjalani hukumannya karena dia gagal dalam tugasnya jadi percuma kalian datang ke sini," pemuda itu sekarang tertawa.
"Sepertinya kita dipermainkan, Guia," ucap Gillermo yang merasa jika mereka sedang dibuat main oleh raja iblis.
"Ih, berhentilah tertawa. Tawamu itu tidak lucu!"
Guia segera mengeluarkan serulingnya, tetapi sebelum ia memainkannya. Pemuda itu melakukan tindakan tak terduga yang mengejutkan Guia maupun Gillermo. Mereka dibuat bingung oleh makhluk tersebut.
"Maaf, Nona Guia. Belum saatnya aku maupun raja melawan kalian berdua."
Entah dari mana datangnya gelombang pusaran angin begitu kencang menerjang Guia dan Gillermo yang membuat mereka terpelanting jauh ke belakang. Gillermo tak bisa menghentikan angin tersebut seakan-akan mereka terseret masuk dalam gelombang tersebut.
Terakhir yang Guia dengar maupun lihat adalah suara tawa dan sesosok di belakang pemuda itu yang tersenyum serta melambaikan tangan seakan mengejek.
*****
"Guia ... bangunlah!"
Guia tersentak, terbatuk dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di kamar atau rumah Jacian. Ia melihat sekeliling dengan bingung, semua anggota keluarganya sedang berkumpul.
"Apa yang terjadi? Bukankah tadi aku dan Gill ada di dalam buku?"
"Tiba-tiba saja kau terhempas keluar dari buku, kau tidak sadar diri juga Gill---" Izabelle tak bisa menjelaskan, ia merasa bersalah karena teledor telah membuat adiknya celaka.
"Ada apa dengan Gill? Gill baik-baik saja, bukan?"
"Jacian, Gill ada di mana?"
Jangan sampai terjadi hal yang membuat Gill celaka, Guia akan semakin bersalah dan ia belum siap kehilangan kembarannya.
Semua mata memandangnya dengan perasaan bersalah, Guia tahu pasti ada sesuatu terjadi pada Gill.
"Gill tidak menghilang, bukan? Ayo katakan padaku? Paman ... Bibi, di mana Gill? Aku tak melihatnya."
Guia panik, cemas dan memukul kepalanya ketika perasaan bersalah itu datang kembali. Sebuah perasaan yang amat ia sesali hingga detik ini ketika keluarganya terbunuh karena dirinya.
"Tenang Guia. Gill masih ada bersama kita, tapi Gill butuh istirahat sejenak memulihkan kekuatannya," kata Jacian sembari merangkul Guia dengan erat.
"Sampai kapan?"
"Tergantung dari kekuatan Gill untuk pulih," timpal sang paman menepuk bahu Guia dan memberinya obat penenang. Jika menyangkut Gillermo, Guia adalah orang pertama yang terluka dan akan bersedih selama Gill dalam keadaan tak baik-baik.
****
"Anda tampak senang hari ini, Tuan."
Makhluk tanpa lengan dan d**a yang berlubang melihat sang tuan dalam keadaan senang juga tertawa sejak di pintu gerbang tadi. Dia merasa jika pekerjaan sang tuan kali ini membuahkan hasil.
"Tentu saja. Aku senang kali ini telah mempermainkan gadis itu." Raja iblis langsung duduk di singgasana sembari menaikkan kakinya dengan pongah.
"Apa rencana anda berhasil, Tuan?" Makhluk bernama Asdeus seraya mendekat untuk mendengar penjelasan dari raja iblis.
"Meskipun aku tidak bisa mengalahkan gadis itu tapi setidaknya salah satu dari mereka berhasil aku enyahkan sementara."
Dia sengaja menjebak kedua bersaudara itu untuk masuk ke dunia buku dan menyuruh anak buahnya mempermainkan mereka, dia sudah tahu jika Gillermo tidak bisa terlalu lama berada di dunia lain dan dengan mudahnya dia menjebak mereka.
"Lalu bagaimana nasib pemuda itu?"
Raja iblis tersebut tertawa lantang, seketika terdiam lalu memandang tajam ke arah Asdeus yang masih berdiri di depannya. Sebenarnya dia tidak puas, tetapi membuat gadis itu sengsara membuatnya senang.
"Aku ingin sekali menghancurkan roh pemuda itu, sayangnya selalu tak pernah bisa. Ada saja yang menghalangiku untuk menghabisinya," kata Raja iblis menggeram dan mengepal tangannya.
"Sekarang apa yang anda ingin lakukan atau perintahkan pada kami, Tuan?" Asdeus bertanya, membungkukkan badan untuk memberi hormat.
"Tugas kalian hanya satu, menggoda para manusia dan menjerumuskan mereka ke tempat berapi milikku. Sedangkan aku akan tetap terus menyamar menjadi manusia dan mencari orang yang bersedia mengorbankan nyawanya demi dosa."
"Baik, perintah tuan segera kami laksanakan."
Asdeus dan beberapa anak buahnya segera berlalu, tugas mereka memang membuat manusia jatuh dalam jurang dosa dan mengambil nyawa manusia untuk dikorbankan. Hanya satu halangan bagi mereka yaitu kaum Cazador yang selalu menghalau rencana Raja Iblis.
****
"Guia ...."
Guia berkutat dengan tanamannya ketika namanya dipanggil oleh seseorang, ia menoleh ke pintu pagar dan mendapati Rodolfo berada di sana sambil membawa bunga.
"Ada apa?" tanya Guia tak bersemangat sambil membuka pintu pagar.
"Kau sakit? Mengapa tak masuk kuliah tadi?"
Rodolfo menyerahkan bunga dan buah ke tangan Guia, gadis itu menerima lalu menyuruh sahabatnya masuk ke ruang tamu. Ia tak mau dianggap tidak sopan pada seorang anak calon presiden, penjaganya ada di mana-mana.
"Aku demam, Ro. Lagipula aku tak masuk sekalipun, tak ada yang mencariku," kata Guia mengambil apel lalu membersihkan dengan tissue dan memakannya.
"Terima kasih. Apelnya segar," imbuh Guia menunjukkan apel yang telah digigitnya.
Rodolfo tertawa melihat sahabatnya, Guia masih sama seperti kanak-kanak dulu. Penyuka apel dan bunga lavender, tetapi senyuman pemuda itu memudar kala mengingat perbuatannya.
"Ada kok yang mencarimu?"
"Siapa? Mungkin itu dirimu," sahut Guia tak berhenti mengunyah.
"Aku dan Mr. Leandro," jawab Rodolfo dan membuat Guia tersedak.
"Begitu saja kau terkejut," timpal Rodolfo membantu Guia menepuk punggungnya.
"Mr Leandro? Asisten dosen kita?"
Rasanya tak percaya seorang dosen mencarinya ketika tidak masuk kuliah. Dulu saja selama seminggu waktu ia sakit, Mr Hans tidak mencarinya hanya Rodolfo saja yang setia menemaninya di rumah sakit.
"Iya, Mr Leandro sampai menanyaiku nomer ponselmu. Takut terjadi sesuatu," ucap Rodolfo berusaha menyakinkan.
Guia menghela napasnya, untuk apa juga dokter itu mencemaskannya? Toh mereka hanya mahasiswi dan seorang asisten dosen saja.
"Aku pulang dulu, ya. Ini hampir sore dan kelihatannya pamanmu sudah datang dari pekerjaannya," sahut Rodolfo menunjuk pintu pagar dan menyapa Oligver dengan menganggukkan kepala.
"Kemarin kau ke mana, Ro? Aku meneleponmu, kata ibumu kau ke rumahku. Tapi aku tunggu sampai malam kau tak muncul."
Guia baru ingat, kemarin ia meminta tolong pada pemuda itu untuk mencatat mata kuliah yang tidak bisa ia hadiri hari ini. Namun, Rodolfo tidak datang hingga malam.
"Rahasia, Guia," ledeknya dengan memberi jawaban.
Guia tak bertanya lagi dan mengantarkan Rodolfo sampai pintu pagar. Sesaat setelah mobil beserta pengawal keluarga sahabatnya itu, ia melihat satu sosok yang mengikuti rombongan mobil tersebut. Untuk saat ini, ia tak mau mencari tahu dulu siapa sosok menyerupai bayangan hitam itu.
=Bersambung=