Part 14 Hvísla, Girl In The Book

1756 Kata
"Nama makhluk itu Hvísla, dia bersemayam secara sembunyi di dalam buku kuno. Dia menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi anak muda untuk bunuh diri." Saat ini Guia ditemani Gill melakukan panggilan video dari Jacian dan tetua, mereka tak bisa ke sana karena hujan deras sore ini. Mereka harus meminta ijin terlebih dulu kepada tetua Cazador sebelum memulai tugas. "Besok kau akan mendengar kematian dari mahasiswa di kampusmu, Guia." Izabelle ikut menimbrung, ipar cantiknya itu memiliki keistimewaan. Ia bisa mencium bau kematian dari jarak jauh. "Apa kita tidak bisa mencegahnya?" tanya Guia tak mau ada korban dari makhluk tersebut. "Dia tak bisa dihentikan memakai cara apapun. Satu-satunya cara adalah membakar buku tersebut, tetapi bukan buku yang ada di perpustakaan tersebut," imbuh Jacian dengan seksama. "Maksudnya?" tanya Guia bingung sembari menatap Gillermo di sampingnya. "Itu artinya buku itu ada di dalam isi cerita. Jadi kita harus masuk ke dunia buku tersebut," beritahu Gillermo. Guia terperangah mendengar penuturan Gillermo, rasanya tak mungkin ia dan sang kakak harus masuk ke dunia buku. Ada-ada saja, apa tidak ada cara lain? Otak Guia berkeliaran mencarinya, tetapi tak ada hasil. "Jangan mencari jalan lain, Guia. Kau tak akan menemukannya." Guia langsung terdiam, Jacian selalu tahu dengan isi pemikirannya. Menurut informasi dari Jacian, makhluk itu sengaja bersembunyi di dalam buku agar tidak diketahui siapapun. Dia membisikkan hal yang mengerikan agar sang korban bunuh diri lalu dia akan mengambil roh korban untuk dibawa ke buku cerita tersebut. "Tapi mengapa dia baru hadir sekarang? Di mana dia dulu?" "Ada seseorang yang membawa buku itu dari luar, Guia," ucap Jacian. "Siapa? Tidak mungkin penjaga perpustakaan, ia wanita yang tidak suka membaca." Itu yang diingat Guia tentang nona Merline--penjaga perpustakaan. "Kau yang harus mencari tahu karena itu terjadi di kampusmu," ucap Jacian sebelum mengakhiri percakapan mereka. Guia dan Gillermo harus mencari tahu esok, siapa yang telah membawa buku itu hingga sampai ke perpustakaan kampusnya. Ia berharap bisa menemukannya agar tidak ada korban selanjutnya. ***** Malam semakin larut, suasana mencekam kian terasa di setiap lorong-lorong. Gelap, sunyi dan hanya terdengar suara burung hantu beradu dengan lolongan serigala di luar sana. Di salah satu sudut rak perpustakaan ada sebuah buku yang bergerak, memancarkan sinar kemerahan ketika dibuka. "Seharusnya kau tetap di sana, Hvísla! Lihatlah sekarang, gadis Cazador akan segera memusnahkanmu." Seseorang menutup buku itu dengan kasar, makhluk bertudung itu tak menyadari jika sudah membawa buku itu ke sini. Seharusnya dia tetap berada di sebuah tempat yang tersembunyi. "Andalah yang membawaku ke sini, Tuan. Apa anda tak menyadarinya?" Dari dalam buku itu terdengar suara wanita dengan tawa mengerikan seakan ingin mengejek pria yang telah membawanya ke tempat ini. "Apa anda menyesal sekarang?" tanyanya lagi. Pria itu membuka kembali buku tersebut, cahaya kemerahan muncul dari setiap sisi buku dan sesosok wanita mengerikan hadir di depannya. Wanita yang berpakaian hitam, pucat dan mata merah sedang menyeringai. "Untuk apa aku menyesal? Satu-satunya yang aku sesali adalah, mengapa kau terburu-buru melakukan aksimu!" Wanita itu terpelanting ke belakang ketika pria bertudung mendorongnya dengan keras, secepat kilat pria yang disebut raja iblis menghampiri makhluk tersebut lalu mencekiknya erat-erat. "Ampun, Tuan. Aku tak sabar membawa manusia ke dalam ceritaku," ujar Hvìsla nama makhluk itu dengan suara yang tercekat. "Karena sikapmu yang terburu-buru, gadis itu dan kembarannya mengetahui keberadaanmu. Dan seenaknya kau keluar dari dalam buku ini!" "Aku bosan dan ingin mencari korban, Tuan." Hvísla lemas seketika saat raja iblis melemahkan kekuatannya. Raja iblis tak main-main jika menghukum anak buahnya, dia akan membuat mereka tak memiliki kekuatan lagi dan membuangnya di sebuah tempat yang sangat gelap. "Aku akan mengampunimu kali ini. Tunggu perintahku selanjutnya, jangan seenaknya sendiri! Apa kau paham, Hvìsla!" Makhluk itu menghela napas, sang tuan tak jadi menghukumnya hari ini. Dia kembali masuk ke dalam buku dan menunggu perintah dari tuannya. "Semua tidak becus, apa aku harus turun tangan sendiri menghadapi gadis itu?!" Raja iblis yang tak pernah menampakkan wajahnya di depan anak buah itu merasa emosi ketika beberapa suruhannya selalu gagal membuat keturunan Cazador terluka. Tangannya mengepal dan matanya menatap luar bangunan kampus. "Tak semudah itu mengalahkanku, Anak Manis!" **** "Guia ....!" Rodolfo memanggil nama Guia di tengah keramaian kampus, tetapi gadis itu pura-pura tak mendengar. Ia sudah malas berhadapan dengan Rodolfo meski hanya sekedar menyapa. Guia memang tipe orang yang susah diajak berteman lagi jika ada masalah. "Tunggu dulu, Guia. Jalanmu terlalu cepat!" Rodolfo menepuk bahu Guia, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas. Pria itu menyadari tindakannya sudah melukai sahabat satu-satunya yang mau berteman dengannya secara tulus tanpa memandang kekayaannya. "Ada apa lagi, Rod? Kita sudah tidak memiliki hubungan lagi sebagai sahabat," ujar Guia ketus seraya terus berjalan. "Itu menurutmu. Bagi aku, kau tetap sahabatku. Aku akan memperbaiki semuanya, Guia." Guia tetap diam ketika tangan Rodolfo merangkulnya, kebiasaan pemuda itu jika bersama Guia. Ia tak mau kehilangan sahabatnya, tak ada rasa cinta atau suka pada diri pemuda itu terhadap Guia. Ia sudah menganggap Guia sebagai saudara dan sahabat. "Terserah kau saja, tapi rasa kepercayaanku sudah berkurang terhadapmu," kata Guia menaiki anak tangga sedangkan Rodolfo masih tetap di sampingnya seraya mengangguk dan tersenyum simpul. Para mahasiswa/i berlarian menuju luar ketika Guia masuk kelas, sontak saja Guia merasa keheranan. Kemarin saja kedatangan asisten dosen sudah membuat heboh seluruh kampus, sekarang apa lagi? "Ada apa?" tanya Guia pada temannya yang hendak keluar. "Anak kelas 5I terjatuh dari atap gedung. Mr. Leandro yang menemukannya tadi." Setelah mengatakan hal tersebut, gadis berkepang dua itu langsung belari untuk melihat kejadian perkara. Ketika Rodolfo begitu antusias mendengar kabar tersebut, beda halnya dengan Guia. Ia teringat ucapan Izabelle kemarin malam kalau ada korban yang disebabkan oleh roh penghuni buku itu. "Kau mau ikut melihatnya, Guia?" tawar Rodolfo. "Tidak. Kau saja yang ke sana, aku tak mau." Guia melihat Gillermo yang barusan datang, mereka harus bertindak cepat agar tidak ada korban kedua lagi. Jika sampai korban berjatuhan lebih banyak maka kekuatan makhluk itu kian bertambah. "Malam ini kita akan melakukannya, Guia. Apa kau siap?" Ia mengangguk menatap Gillermo, tak ada keraguan bagi Guia. Ini memang sudah tugasnya untuk memberi ketentraman bagi manusia di bumi agar tidak ada gangguan dari mereka yang mengambil nyawa. ***** Hal yang pertama kali Guia pikirkan sekarang adalah bagaimana mereka akan keluar nantinya dari buku ini? Ia merasa cemas sekali lucu, apa jadinya jika mereka di sana? Entahlah ... yang ingin Guia lakukan segera menuntaskan tugas ini. "Waktu kalian hanya sampai jam pasir ini penuh hingga ke bawah. Jika kalian belum kembali maka kalian akan terjebak di sana sampai ada yang membebaskan." Izabelle yang membuka gerbang menuju dunia manusia ke dalam buku, mereka semua tahu melakukan ini ada konsekuensi yang harus ditanggung. Mereka harus segera keluar dari dunia buku meski belum selesai urusannya. "Berhati-hatilah. Hanya ini jalan satu-satunya memusnahkan Hvìsla," kata Jacian yang turut cemas. Izabelle melakukan tugasnya, ia mengambil lilin dan meletakkan dengan cara mengelilingi buku tersebut juga sebuah jam pasir sebagai penanda waktu agar mereka tidak berada terlalu lama di sana. "Kau sudah siap?" Gillermo memegang jemari Guia erat, menoleh pada kembarannya yang mengangguk sembari menarik napas panjang sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam buku melalui mantra dari Izabelle. "Stóri meistari, hjálpbdu peim ad koma inn í heim bóka. Gefdu beim styrk." ( Tuan Besar, bantu mereka masuk ke dunia buku. Beri kekuatan bagi mereka ) Mendadak, lilin tersebut bergoyang tak tentu arah dan tidak padam meskipun hembusan angin begitu dasyat. Buku yang semula tertutup tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya lalu memunculkan pusaran awan hitam yang membuat Guia dan Gill seakan tertarik untuk masuk. "Ingat waktu kalian di sana!" Izabelle berteriak sebelum buku menelan mereka. Guia membuka matanya dan tak begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya kini. Ia memandang sekitarnya hampir menyerupai sebuah kota kecil dan penduduk .... yang semuanya adalah korban dari Hvìsla---makhluk bisikan. Di sana Guia melihat salah satu temannya yang ada di sana sedang duduk memandang satu arah, kota kecil di dalam buku ini memang sengaja dibentuk sama dengan kota di dunia nyata. Tak ingin membuang waktu, mereka harus segera menemukan makhluk tersebut. "Bagaimana bisa dia membuat dunianya sendiri?" tanya Guia sembari berjalan mencari dia yang bernama makhluk bisikan. Guia tak habis pikir dengan makhluk itu, dia menciptakan dunianya dengan cara menghabisi manusia lalu menempatkan roh manusia tersebut ke dalam buku cerita. "Aneh ..." ujar Gillermo tiba-tiba, Gill masih memegang tangan Guia agar tidak terjadi sesuatu. "Apanya yang aneh, Gill?" "Lihatlah mereka, Guia. Seharusnya mereka merasakan kehadiran kita di sini, bukan?" tunjuk Gillermo mengarah ke setiap penduduk penghuni buku. Benar kata Gillermo, mereka yang tak kasat mata seharusnya bisa merasakan kehadiran manusia atau makhluk lainnya. Namun, mereka tak peduli kedatangan Gillermo dan Guia. Mata mereka kosong juga putih, pandangan mereka hanya pada satu arah yaitu menuju ke salah satu bangunan di seberang danau. "Hvìsla pasti ada di sana, Gill." Guia mengajak Gill ke suatu bangunan di seberang danau, mereka tak perlu repot menyeberang ke sana karena ada jalan menuju tempat tersebut melalui jembatan kecil. Meski ragu awalnya menginjakkan kaki di jembatan itu, mereka tetap melakukannya. "Jangan lihat ke bawah!" tegas Gillermo memberitahu sembari menutup mata kiri Guia dengan tangannya. "Ada apa?" tanya Guia penasaran. "Kalau aku berkata jangan artinya kau harus menurut." Guia ingin melihat gerangan hal apa yang ada di bawah jembatan, tetapi untuk kali ini ia harus menurut daripada celaka di dunia lain. "Memangnya ada apa di bawah jembatan itu?" tanya Guia setelah melalui jembatan tersebut. Mulut Guia menganga ketika kepalanya dipegang oleh Gillermo lalu ditolehkan ke kiri. Ia melihat begitu banyak yang makhluk yang terbakar. "Sudah ah. Aku tak mau melihatnya." Guia tak tega, ia tak bisa membantu apapun dan hanya bisa segera membebaskan mereka dari tempat ini. "Sebenarnya tempat apa ini? Mengapa semua penjaga di sini seakan-akan tak melihat kita?" Guia sendiri merasa aneh sekali dengan tempat ini, seolah-olah dirinya dan Gillermo merupakan makhluk tak kasat mata. Benar-benar memusingkan. Mereka hanya mengira-ngira saja di mana keberadaan Hvìsla sekarang. Suasana di tempat ini mengingatkan Guia pada sebuah film horor kesukaannya Silent Hill, bedanya di sini adalah banyaknya orang-orang yang berdiri atau duduk dengan pandangan kosong melihat satu arah. "Apa kita harus masuk?" Ragu ketika Guia harus masuk ke sebuah bangunan menyerupai kastil tua tak berpenghuni. "Apa kita harus berdiam diri di sini sampai satu jam?" Gillermo menjitak kepala adiknya yang membuatnya kesal. "Kenapa? Kau takut?" tanya Gillermo lagi, tapi dengan perkataan lembut. Hati kecil Guia merasakan ketakutan, ini pertama kalinya ia berada dunia buku dengan waktu yang terbatas. Waktu sudah berjalan 15 menit dan mereka harus segera menemukan makhluk itu. Pintu gerbang dibuka Gillermo, memasuki kawasan asing dengan suasana suram dan berkabut membuat siapa saja yang berada di sana merasakan kengerian. Guia meremas kuat jemari Gillermo, ia ingin segera pulang dari tempat ini. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN