Sebagian orang menganggap Senin adalah hari yang tidak menyenangkan, tetapi tidak bagi Guia. Semua hari bagi dirinya itu sangat membosankan, menjalankan setiap kegiatan dengan malas.
"Semoga hari ini dosen killer itu tidak masuk," gerutunya di depan gerbang kampus.
Alasan lain, Guia tidak menyukai Senin adalah hadirnya Mr. Hans yang terkenal killer dan tidak kenal ampun jika berurusan dengan tugas menumpuk, tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya.
"Ya, aku juga berharap begitu."
Guia menelengkan kepalanya, ia jengah melihat seseorang yang membuatnya kesal sebelum libur kuliah. Pemuda di sampingnya itu hanya menunjukkan senyuman, wajah tanpa dosanya seakan ingin di timpuk olehnya.
"Kau masih hidup ternyata?" sindir Guia kepada pemuda di sampingnya seraya mengikuti langkah Guia menuju kelas.
"Memangnya aku meninggal? Kau ada-ada saja, Guia."
"Berharapnya seperti itu. Aku harap kau mati saja setelah seenaknya berkhianat," cela Guia menajamkan matanya dan andai bisa ia meninjunya saat ini, akan ia lakukan sekarang. Sayangnya, kampus sedang ramai.
"Kau masih marah denganku?" Pemuda itu menghentikan langkahnya dan Guia lalu melihat ke arah Guia yang tak meresponnya.
Tentu saja Guia marah, bagaimana bisa seorang teman mencuri hasil ujiannya? Seharusnya Guia yang memperoleh nilai bagus di akhir semester dan berhak bekerja sementara di rumah sakit.
"Bagaimana kehidupanmu setelah mencuri nilaiku? Apa orang tuamu bangga?" Guia terlihat geram, ia berusaha menahan amarahnya kali ini. Ia tak mau Jacian sampai tahu dan memarahinya.
"Maafkan aku, Guia. Aku tak mau melakukannya, tetapi ayah ingin melihat nilaiku yang terus meningkat," ujar pemuda tersebut dengan lemah.
"Dengan cara mencuri hasil ujianku lalu mengubah kertas itu menjadi namamu. Heh ... cerdas sekali dirimu, Rodolfo!" Guia menepis kasar tangan pemuda itu.
"Kalau kau tahu, kenapa kau diam saja saat Mr. Hans mencerca dirimu?"
Dengan tangan yang terkepal, Guia berusaha tidak meninju pemuda yang sudah menjadi sahabatnya sejak masuk kampus dua tahun lalu. Hanya Rodolfo yang mau bicara dan berteman dengannya, tetapi kini sahabatnya itu telah melukai hatinya.
"Mana bisa aku melawan anak dari seorang calon Presiden? Bisa-bisa aku yang ditendang keluar dari kampus ini," adu Guia menatap sinis, berlalu dari hadapannya dan sengaja menyenggol bahu pemuda itu.
Sudah cukup bersahabat dengan orang yang tidak tahu diri dan berkhianat, Guia tidak bisa memberi ampun bagi orang semacam itu. Andai Rodolfo arwah maka ia akan menghancurkannya tanpa sisa.
****
"Kau tak apa-apa, Guia?"
Gillermo datang menghibur Guia yang terduduk di taman kampus, Gill merasakan kesedihan yang dirasakan kembarannya seperti ada tusukan di dadanya kala melihat Guia menangis dalam diam.
"Apa manusia sepertiku tidak boleh memiliki sahabat? Dua kali aku dikhianati oleh seseorang yang bernama sahabat," keluh Guia menundukkan kepalanya agar Gill tidak melihatnya menangis.
"Belum waktunya kau memiliki sahabat, Guia. Mungkin ada alasan di balik semuanya," ujar Gill pelan dan mengusap punggung tangan Guia dengan lembut.
Sebelum hadirnya Rodolfo, Guia juga memiliki sahabat. Namun, gadis itu membuat dirinya menanggung masalah. Orang yang mengaku sahabat itu malah menyuruh semua teman sekelas mengikuti Guia sepulang sekolah dan menemukan rumah sebenarnya Guia yaitu di atas bukit.
Sialnya waktu itu, mereka sedang mengadakan pengusiran roh dan membuat salah satu roh lepas. Roh yang lepas merasuki salah satu teman Guia. Terpaksa Jacian menghilangkan ingatan mereka, hal tersebut akhirnya Jacian harus terbaring di ranjang selama seminggu.
"Ah, sudahlah. Mungkin memang takdirku tidak bisa berteman dengan siapapun."
Guia mendongakkan kepala, mengusap kasar air matanya lalu menghela napas panjang. Ia tahu tak ada satupun yang tulus berteman dengannya.
"Aku tak akan menjadi gadis cengeng hanya karena masalah ini, Gill. Dan aku akan lebih mawas diri terhadap orang-orang seperti Rodolfo," tegasnya bersemangat.
Bel masuk sudah berbunyi, Guia harus segera masuk agar jam mata kuliah pertama tidak terlambat hadir. Sebelum beranjak dari taman tersebut, Gill mencengkal lengannya seraya berbisik.
"Ada makhluk yang sedang mengawasi kita di atas pohon sedari tadi."
Guia mengangguk, memang ia sadar ketika duduk di taman ini tadi. Namun, ia seolah tak peduli dan menganggap hal biasa.
*****
Di saat teman lain asyik bercengkrama, menceritakan liburan mereka dengan tertawa bahagia. Hal berbeda ditunjukkan Guia, gadis itu lebih suka berada duduk di pojokan daripada ikut bergosip bersama mereka.
Beberapa temannya hanya melirik dan kembali fokus dengan gosip-gosipnya. Mereka tak peduli akan ada atau tidak adanya Guia, bagi mereka kehadiran gadis itu tak ada artinya dan tidak membawa keberuntungan.
Guia mengerti jika saat ini teman-temannya sedang memandangnya tidak suka. Ia lebih memilih bacaan mengenai penyakit kejiwaan di tabletnya. Ya, Guia memang mengambil jurusan Psikologi agar ia tak hanya memahami sifat manusia juga mereka yang tertinggal di bumi.
"Hei teman-teman, Mr. Hans tidak datang. Tugasnya digantikan asisten dosen, masih muda lagi," ujar salah satu teman Guia seraya berteriak ketika memasuki kelas.
Mereka bersorak karena dosen killer itu tidak datang dan senang akan kehadiran sesosok pria yang akan menggantikan Mr. Hans sementara waktu entah sampai kapan. Guia? Ia tetap asyik membaca saat asisten dosen itu datang dan menyapa.
"Selamat pagi, Anak-anak. Perkenalkan saya Leandro Enrique Alroi , asisten dosen sementara pengganti Mr. Hans."
Guia mengenal suara dan nama tersebut, ia benar-benar tak menyangka jika dokter itu ada di sini dan mengajar kelasnya dosen killer. Guia mendesah, di mana saja dirinya selalu bertemu dengan pria itu.
"Bukannya ia dokter penyakit dalam, mengapa bisa ke sini? Tidak menyambung sama sekali," keluh Guia sambil bersidekap.
"Oh, ya sebelumnya saya memang mengambil jurusan Psikologi beberapa tahun lalu, kemudian saya ambil jurusan mata kuliah spesialis penyakit dalam."
Seakan menyambung dengan perkataan Guia, Leandro memperkenalkan dirinya hingga bisa menjadi asisten dosen dari wali kelas dari Guia.
"Oke sudah cukup perkenalan saya, sekarang saya akan mengabsen nama kalian satu persatu."
Teman-teman Guia khususnya yang mahasiswi bersorak, mereka mengagumi ketampanan pria di depan dengan banyak pesona. Bahkan ada yang berani secara jujur, mengatakan jika Leandro adalah pria idamannya. Hal itu sampai membuat Guia mengernyitkan dahi. Tampan dari mana?
"Nona Guia Lucena Guinan."
Namanya dipanggil lalu mata mereka saling menatap, Leandro tersenyum dan mengedipkan mata. Guia merasa risih dan malu.
"Anda kenal dengan Guia, Pak Leandro?" tanya salah satu mahasiswi incaran para pemuda di kampus padahal menurut Guia, gadis itu tidak cantik-cantik amat.
"Tentu saja, kami bertetangga. Benar begitu, Nona Guia?"
Guia hanya mengangguk saja, ia tak ingin ada tanggapan lebih dari teman sekelasnya. Mereka akan membicarakan dirinya dengan seorang asisten dosen nanti dan ia tidak mau ada keributan. Beberapa mahasiswa mencibir bahkan menyumpahinya, karena sudah kenal dengan Leandro.
Sepanjang mengajar, Leandro digoda oleh mahasiswi yang memang terpesona dengan wajah pria itu. Sesekali Leandro memandang Guia yang tak memerhatikan ajarannya di depan kelas.
****
Ada perasaan lega ketika jam mata kuliah hari ini selesai dengan cepat, Guia langsung merapikan buku-bukunya, ia harus bergegas menemui Gillermo di ruang perpustakaan. Meski dirinya ke sana mau tak mau meminjam buku agar tidak ketahuan.
Desiran udara dingin langsung menyergapnya saat Guia menginjakkan kaki di ruang perpustakaan, penciumannya seketika mengerti ada beberapa makhluk berada di tempat ini. Ia belum bisa melihat keberadaan mereka, tetapi bau dari tubuh mereka sudah menguar.
"Perpustakaan akan tutup setengah jam lagi, Nona. Cepat jika kau ingin meminjam buku!" seru penjaga perpustakaan memberitahu.
Guia tersenyum sekilas, mengangguk lalu berjalan menghampiri Gill yang berada di salah rak nomer tiga di mana Gill sedang melakukan tugasnya. Kembarannya itu mengambil sesuatu di dalam rak dan menemukan hal yang tak terduga.
"Apa makhluk itu bersemayam di sana?" Hampir saja Guia mendekat dan meraih buku itu dari tangan Gillermo, ia dikejutkan dengan tepukan di bahunya.
"Dokter Leandro?"
"Mengapa pria ini selalu mengikutimu, Guia?" Gill mengeluh karena penyelidikannya terganggu oleh kedatangan Leandro.
Guia menoleh ke jendela, bukan melihat matahari yang hampir tenggelam melainkan menghilangnya Gill bagaikan asap. Ia menyadari kehadiran Leandro membuat tugas mereka terganggu.
"Sedang apa kau bergumam sendiri? Apa itu kesenanganmu di kala tak ada orang?" tanya Leandro yang menyadari Guia melihat ke arah jendela tanpa berkedip.
Guia menanggapi pertanyaan Leandro dengan malas, ada saja gangguan ketika mereka sedang bertugas. Entah itu dari makhluk penganggu atau manusia seperti Leandro saat ini.
"Memang itu hobiku bicara sendiri? Ada masalah dengan anda, Dok?
Bukannya marah, Leandro malah tertawa mendengarnya. Gadis ini benar-benar idamannya, jutek dan kasar. Ia menyukai Guia karena gaya bicaranya maupun tindakannnya.
"Bisa tidak jangan memanggilku dengan Dok? Panggil saja namaku, Guia. Aku seperti tua di depanmu," katanya setelah tawanya reda. Mimik wajah Guia yang cemberut menambah kesan gemas pada Leandro.
"Anda sudah tua, bukan? Jadi wajar jika aku memanggil anda dokter," dengkus Guia sembari mengambil salah satu buku Psikologi lalu membawanya ke meja petugas.
"Aku ingin kita berteman," ucap Leandro mengikuti Guia dari belakang.
"Untuk apa berteman dengan seorang mahasiswi sepertiku? Tak ada untungnya bagi anda, Dok."
Sudah lelah bagi Guia menjalin pertemanan, ia tak mempercayai lagi seseorang yang mau berteman dengannya. Ia lebih memilih sendiri, menjalani kehidupannya tanpa seseorang di sisinya.
"Karena aku menyukaimu, Guia."
Guia berhenti sejenak sebelum meninggalkan ruang perpustakaan lalu berlalu dari hadapan Leandro yang masih di sana. Mereka tak menyadari ada sesosok yang mengawasi dengan senyuman menyeringai di balik rak buku.
"Akhirnya ...."
=Bersambung=