Guia sedang asyik memakan es krim cokelatnya selagi para tetua dan Jacian membahas mengenai pemusnahan Esterlita, karena kerangka tulang milik roh itu berada di ruang dokter untuk di otopsi. Mereka mencari cara yang lebih mudah dan tidak membakar kerangka tersebut.
"Anda tidak merasa ngilu memakan sebaskom es krim itu, Putri?" Tetua satu sampai menelan ludah bukan karena ingin melainkan melihat cara makan Guia yang aneh.
"Tidak juga, Paman. Aku menyukainya," jawab Guia yang sudah menghabiskan es krim itu dalam sekejab. Guia memang menyukai makanan berbahan s**u tersebut sejak kecil.
"Sudah selesai kau menghabiskan es krimnya, Guia? Sekarang kita mau kau mengajukan saran mengenai teman rohmu itu," sahut Jacian yang sedari tadi hanya menghela napas melihat kelakuan Guia.
Guia masih jengkel dengan Jacian, pria itu malah membawanya secara paksa tadi. Padahal dirinya sudah mengatakan akan datang malam hari, tetapi Jacian menggendongnya dan membuat Guia tak bisa berkutit. Untuk meredam kemarahannya, Jacian membelikan dua kotak es krim besar agar diam.
"Bagaimana kalau kita menggunakan metode lama, Paman?" tanya Guia pada tetua pertama, ia tidak mau menoleh pada sang kakak.
"Maksud, Tuan Putri?"
"Ya kita hanya perlu mengambil barang sang roh lalu membakar dan mengikat roh itu dengan barangnya. Sama seperti waktu aku masih kecil, ketika ayah mencoba metode ini kepada si penjahat itu."
Ketiga tetua dan Jacian merenung sejenak, metode ini sudah lama tidak terpakai dan pernah digunakan sekali sewaktu Theodorus tidak berhasil memusnakan roh dari penjahat terkenal sebagai pembunuh berantai.
"Apa kita bisa berhasil? Hanya ayah kalian yang bisa melakukannya?" Tetua tiga meragu, ia tidak yakin Guia yang masih muda melakukannya.
"Kalau kita tidak mencobanya, mana kita tahu?"
Guia memang jarang berpendapat, tetapi bukan berarti ia tidak bisa mengeluarkan hak bersuara. Ia akan melakukannya ketika tidak ada jalan lain seperti dalam keadaan ini. Mereka tak mungkin mencuri kerangka Esterlita di rumah sakit lalu membakarnya, beberapa pihak akan mencurigainya nanti. Maka ini cara yang terbaik untuk dilakukan.
"Tapi semua terserah kalian sih. Kan kita tidak mungkin mencuri kerangka tersebut?" Guia mengangkat bahunya lalu menyandarkan tubuhnya layaknya orang yang sedang rebahan.
"Kalau memang tidak ada cara lain, kita gunakan saja metode itu, Ketua," ujar tetua pertama dengan yakin. Toh ... tak ada salahnya mencoba.
"Lalu di mana benda peninggalan roh Esterlita? Bukannya halaman belakang sudah dibongkar oleh Paman?" Jacian memandang Guia seraya bertanya.
Guia tersenyum nakal, ia mengeluarkan sesuatu di kantong jaket lalu menunjukkannya pada mereka yang melihat sedang bingung dengan tingkah gadis itu.
"Kunci? Kunci itu ada pada dokter itu, bukan? Bagaimana ada pada dirimu, Guia?"
"Kau tak mencurinya, Guia?" lanjut Jacian menatap tajam, hal ini tak dibenarkan jika memang Guia melakukan tindakan tersebut. Jari Jacian sampai terarah ke wajah Guia.
"Aku tak mencurinya, hanya meminjam lalu mengembalikan dengan yang palsu," sahut Guia dengan entengnya tanpa beban.
"Itu sama Guia!" Jacian membentaknya, matanya tetap memandang Guia yang merasa tak bersalah sedikitpun.
"Aku yang salah di sini, Jacian. Jangan salahkan Guia."
Hembusan angin dengan suara lantang secara tiba-tiba datang menghampiri perkemahan mereka, Jacian maupun yang lainnya tak menyangka akan kehadiran Gillermo di tengah pertemuan mereka.
"Aku yang menyuruh Guia mengambil kunci nyonya Herice, karena itu benda yang bisa membawa Esterlita ke tempat seharusnya," imbuh Gillermo lagi.
Membawa roh ataupun makhluk lainnya ke alam baka bukan perkara mudah, karena mereka harus menyertakan benda peninggalan makhluk tersebut untuk segera dimusnahkan agar tidak dimanfaatkan oleh raja iblis.
"Tapi mengapa kau tak meminta secara langsung pada dokter itu alih-alih mencurinya?" Jacian menghampiri Guia lalu mengambil kalung berliontin kunci.
Ketika memegangnya, ada getaran hebat dari benda tersebut. Benda itu bergerak dengan sendirinya seakan ingin berada dekat pemiliknya yang kini bersemayam di dalam seruling Guia.
"Nah sekarang kau mengerti, bukan? Mengapa benda itu harus segera diambil?" sahut Guia balik bertanya. Ia memandang kedua kakaknya dengan tatapan senang.
"Lagipula dokter itu tak akan mau memberi benda itu dan akan bertanya macam-macam," lanjut Guia yang masih mengingat dokter tersebut menyimpan benda itu di rumahnya. Pria itu mengklaim jika pemberian dari nyonya Herice harus dijaga.
"Jika kita tidak segera mengambilnya, raja iblis akan menyuruh anak buahnya menyerang dokter tersebut," timpal Gillermo sembari duduk di sebelah Guia.
"Kalau begitu, kami tak akan menyalahkan kalian kali ini, Tuan Putri. Namun, jangan bertindak seperti ini lagi." Tetua pertama menyetujui tindakan Guia meski sebenarnya menyalahi aturan.
"Jika Paman sudah berkata seperti itu maka malam nanti kita segera membawa Esterlita pergi. Ingat malam ini, ada sinar bulan di mana raja iblis akan keluar dari tempatnya," ujar Jacian memperingati dengan tegas.
Semua mengangguk dan Guia hanya terdiam saja. Sebenarnya ia tak ingin mengambil benda itu secara sembunyi dan menukarkannya dengan yang palsu. Namun, ia tidak mau melukai dokter tersebut jika terus menyimpannya.
*****
Leandro sudah menyelesaikan tugasnya sebagai dokter dan pasien sudah tidak ada lagi. Ada perasaan lega ketika jam pulang menunggunya, tak sabar menunggu hari esok untuk berpetualang dan memanjat tebing. Hal itu yang ia sukai setiap libur dari tugasnya.
"Anda sudah mau pulang, Dokter Leandro?"
Dokter Betzy--dokter anak sedang berjalan di lorong ketika Leandro menutup pintu ruang prakteknya. Wanita berjas putih itu berhenti lalu menyapa Leandro sejenak. Meski dalam satu ruang lingkup rumah sakit yang sama, mereka jarang bertemu karena tugasnya masing-masing.
"Tentu saja, Betzy. Kau tidak pulang?" Leandro menanyai Betzy yang masih memakai seragam dokternya dengan steteskop menggantung di leher.
"Pulang?" Sedikit mendesah sebelum melanjutkan kalimatnya," Bagaimana aku bisa pulang, Leandro? Anak-anak di seluruh kota ini seakan-akan memiliki penyakit yang sama yaitu demam berdarah."
Leandro terkekeh-kekeh mendengarnya, ia tahu betapa melonjaknya pasien anak-anak beberapa minggu ini. Demam berdarah menyerang mereka yang masih kecil dan jadwalnya semakin padat.
"Tidurlah sejenak di ruang istirahat, Bet. Kau tampak letih sekali," ujar Leandro sembari menepuk punggung sang sahabatnya.
"Ya akan aku lakukan sebentar lagi," sahutnya sambil menguap lebar menahan kantuk.
"Apa besok kau mau menggantikan tugasku, Leandro?" tanya Betzy seraya memohon.
"Kalau begitu aku tinggal dulu, Bet. Aku mau segera tidur dan bangun pagi untuk memanjat tebing," ucap Leandro menaikan alis dan mengedipkan matanya. Ia tak membalas pertanyaan Betzy.
Sepeninggal Leandro, senyumannya perlahan memudar berubah menjadi senyum yang menyeringai dan matanya seketika memerah. Bolpoin yang sedari tadi dipegangnya, kini sudah tak berbentuk lagi.
"Selalu saja seenaknya sendiri!"
Wanita itu memutar tubuhnya lalu berjalan, lampu-lampu menjadi redup seiring ia melangkahkan kaki menuju tempat istirahatnya.
*****
Tugas semalam membuatnya lelah dan menguras tenaga lebih banyak walau tak ada gangguan dari raja iblis. Mungkin dia sedang tertidur di peti sehingga tak mengganggu jalannya ritual kemarin, itu pikiran yang ada di otak Guia sekarang.
"Kau akan pulang hari ini, Guia? Tidak menunggu Gillermo dulu?" Izabelle masuk ke kamar Guia, tempat yang selalu disediakan Jacian jika sang adik sedang menginap.
Percuma menunggu Gillermo, Gill tak pernah mau mengantarkan dirinya pulang sampai rumah. Bagi pemuda itu, Guia adalah gadis pemberani yang tak perlu ditemani jika melewati hutan.
"Besok aku harus ke kampus, Belle. Sudah memasuki awal semester dan aku tak mau sampai ketinggalan mata kuliah," sungut Guia. Ia akui jika masuk ke kuliah lagi itu membuatnya malas kembali ke sana.
"Apa kau tak ingin kembali ke sini lagi, Guia? Kau dan Gill harus terpisah karena di antara kalian tidak boleh bersama, sekarang Gill sudah---" ucapan Izabelle mengambang di udara, ia tak ingin Guia tersinggung.
Ada senyuman mengejek ketika Izabelle menyinggung hal tersebut, ia selalu mengingat di mana dirinya sudah terpisah sejak mereka kecil. Guia tinggal bersama Oligver dan istrinya sedangkan Gillermo berada di bukit, tiap akhir pekan mereka bisa bersama.
Guia tak menyalahkan siapapun, ini semua takdirnya. Jika ia berdekatan terus dengan Gill, maka raja iblis akan mengincar nyawa saudara kembarnya. Dan akhirnya terbukti, bukan?
"Meskipun aku dan Gill sudah terpisah sekalipun, nyawa Gill dalam bahaya. Aku tak bisa menghindari takdir, Belle."
Guia segera mengemasi pakaiannya dan memilih pulang lebih cepat. Ia malas berdebat dalam urusan masa lalunya, bagi Guia hal tersebut tidak perlu dibahas lagi. Semua sudah ditakdirkan.
****
Guia bersenandung kecil seraya berjalan menyusuri sepanjang jalan bebatuan di hutan, udara pagi membuatnya senang dan bisa menghirup udara yang bersih tanpa polusi.
"Hei gadis ketus, apa yang sedang kau lakukan di hutan ini? Seorang diri pula," tegur seseorang dari belakang Guia sembari memukul pundak gadis itu.
Guia yang terkejut, refleks memegang tangan pria itu lalu memutarnya ke arah belakang. Ia benar-benar waspada jika ada seseorang yang menyerangnya secara tiba-tiba.
"Aduh, Guia. Ini aku Leandro!"
Leandro meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya yang terkunci akibat ulah Guia. Setelah mengetahui seseorang itu adalah dokter Leandro, Guia segera melepaskannya.
"Anda juga sih yang mengejutkanku. Jadi jangan salahkan aku, untung saja aku tak mematahkan tangan anda," desis Guia kesal sambil mengarahkan kepalan tinjunya.
Leandro yang masih kesakitan, mengelus tangannya sambil menghela napas panjang. Ia tak habis pikir dengan perilaku gadis di depannya ini yang tampak beringas kala marah.
"Seharusnya kau berteriak bukannya membuat tanganku sakit," keluh Leandro.
Guia tak mau ambil pusing, ia segera berlalu dari hadapan Leandro dan memasang earphone. Toh ... itu bukan salahnya, salahkan pria itu yang membuatnya terkejut setengah mati barusan.
"Hei ... kau mau ke mana? Minta maaf padaku segera."
Guia memiliki pendengaran yang tajam meski terpasang earphone di telinganya, ia tetap bisa mendengar ocehan pria itu dari kejauhan.
****
Nun jauh di sebuah tempat gelap dan sunyi, satu sosok sedang menatap tajam di sebuah dinding yang memperlihatkan kegiatan manusia di luar sana. Tak ada yang berani menganggunya atau mengajak bicara.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa ia berhasil mengembalikan jiwa makhluk bernama Esterlita?" tanyanya bernada dingin.
"Be--nar, Tuan. Gadis itu lagi-lagi membuat kita kalah," ujar salah satu anak buahnya.
"Lain kali, aku akan menanganinya sendiri. Ia harus tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini!"
Dia tak mau dikalahkan oleh siapa saja. Dia bahkan akan memakai cara untuk membuat gadis itu kalah dan lebih kejamnya lagi adalah kematian.
=Bersambung=