Guia paling tidak suka ditatap dengan pandangan yang serius seakan-akan dirinya membuat kesalahan besar dan tak dapat diampuni. Jika bukan karena permintaan nyonya Herice, ia juga tak mau melakukannya.
"Katakan yang sebenarnya, Guia?"
"Apa lagi yang harus aku katakan? Kalian sudah membaca pesan tertulis dari nyonya Herice, bukan?"
Guia mendesah pelan dan menghembuskan napas ke atas hingga poni-nya tertiup, ia tahu akibatnya akan seperti ini jika bertindak dengan sendirian tanpa persetujuan dari Jacian. Ini waktu yang mendesak dan tak mungkin meminta ijin dari sang kakak.
"Jacian akan datang ke sini. Paman dan bibi tidak akan membelamu."
"Dan kau, Gill. Mengapa kau tak menghentikan saudarimu? Kalian tahu ini bukan ranah kalian untuk bertindak!" tegas Oligver, paman si kembar yang tak lain adalah adik dari ayah mereka.
Meskipun Oligver dan Beatrice tak bisa melihat Gillermo, tetapi mereka bisa merasakan kehadiran pemuda itu dengan aroma bau dari Gill yang khas.
"Maafkan aku, Paman. Kali ini kami memang salah."
Oligver dan Beatrice hanya dapat mendengar suara Gillermo tanpa bisa melihat. Kedua pasangan itu amat menyayangi ketiga keponakannya dan menjaga mereka dari apapun.
"Sudahlah Oligver. Mereka berdua juga tidak mau menginginkan ini terjadi. Nyonya Herice pasti tahu jika mereka bisa mengatasi masalah ini," imbuh Beatrice yang tak tega melihat wajah kusut Guia.
"Jika saja paman tidak mendapat penglihatan, mungkin kalian akan terkena tindakan pidana."
Sekali lagi Guia menghela napas, ia benar-benar tak menyangka jika sang paman sampai datang dan melaporkan hal tersebut kepada polisi. Kini rumah mereka dikelilingi oleh pihak polisi dan ambulance guna mengangkat tulang yang ada di bawah tanah.
Seseorang berpakaian seragam dinas masuk ke ruang dapur mereka dan menyerahkan kembali surat tersebut ke Oligver. Pria bertopi cokelat itu menatap lekat Guia, ia merasa aneh sekali karena nyonya Herice meminta bantuan pada seorang gadis bukan melapor ke pihak polisi.
"Jadi ... bagaimana dengan keponakan saya, Tuan Jasper? Apa perlu gadis ini diinterogasi juga?" tanya Oligver bernada tegas.
Jasper sekali lagi menatap Guia dan memastikan tak ada kebohongan di mata gadis muda itu,"Tidak usah, Tuan Guinan."
"Syukurlah, aku tak ingin keponakanku harus berurusan dengan pihak kepolisian," ujar Beatrice bernapas lega.
Terakhir kali Guia berurusan dengan polisi ketika kematian orang tuanya dan sang kakak yang membuat gadis itu harus ke kantor polisi setiap hari, karena ia adalah saksi kunci kematian keluarganya bahkan sempat dirinya dicurigai sebagai pembunuh. Itulah sebabnya Guia tak pernah menyukai polisi.
"Kalau begitu, aku akan ke kamar," sela Guia tanpa menoleh ke arah sang paman dan Jasper.
"Apa kau masih mencurigai keponakanku yang melakukannya?" tanya Oligver penuh selidik ketika mendapati Jasper melihat kepergian Guia.
"Kau tidak melakukannya, bukan Jasper?" Beatrice tak suka dengan tatapan yang diberikan Jasper pada Guia sedari tadi.
Jasper menggeleng, penyelidikan mengenai kematian keluarga Guia sudah dibuktikan jika ada perampok yang membunuh mereka. Meskipun perampok itu kerasukan ketika menghabisi nyawa pasangan Guinan dan Gillermo.
Ya, semua gara-gara raja iblis yang menggunakan kekuatannya untuk memusnahkan Guinan dan dia tidak mau tangannya kotor karena darah. Jadi dia memperalat perampok lalu merasukinya demi bisa masuk ke perkemahan di atas bukit tersebut.
"Keponakan kalian sudah berubah. Dulu ia gadis pendiam sekarang menatapku saja sangat menyeramkan matanya."
Perbincangan mereka terhenti ketika salah satu anak buah Jasper mengabari jika urusan di rumah ini sudah selesai dan tinggal membawa tulang dari Esterlita untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Tolong kabari kami mengenai kasus ini selanjutnya, Tuan Jasper," ujar Oligver sebelum menutup pintu dapur.
Jasper tak menyahut, tetapi melalui tatapannya dari pria itu, Oligver tahu jika ia akan segera memperoleh jawabannya. Tak menutup kemungkinan hari ini bakal terjadi dan mereka sudah menyiapkannya.
"Oh, ya siapa pria tadi yang bersama kalian, Gill?"
Gillermo masih di sana, Gill tak beranjak dari samping mereka sedari tadi. Pemuda itu tak ingin menganggu Guia yang sedang dalam keadaan badmood.
"Tetangga di sebelah rumah nyonya Herice sekaligus dokter yang menangani wanita itu, Paman."
"Ada apa, Olig?" Beatrice memandang suaminya, tak seperti biasanya Oligver bertanya hal sekecil itu.
"Tidak apa-apa. Tumben sekali Guia bisa akrab dengan orang lain."
"Ya, siapa tahu jika keponakan kita itu sudah bisa berteman dengan lainnya," timpal Beatrice.
Guia dikenal sebagai gadis dengan kepribadian yang tertutup, di kampus saja Guia hanya menyapa lalu berkutit dengan buku di perpustakaan. Semua teman-temannya menganggap gadis itu aneh, tetapi Guia tak peduli seolah memiliki dunianya sendiri.
"Temani adikmu, Gill. Paman rasa ia masih kesal dengan perkataan kami tadi."
Gillermo menurut lalu menghampiri Guia di lantai atas, Gill yakin saat ini adiknya itu sedang merenung di balkon sambil menyantap cokelat guna menghilangkan kekesalannya.
*****
Beruntung bagi Leandro, ia tak ditanyai dan diinterogasi di pihak kepolisian karena dirinya menemukan jenazah yang sudah menjadi tulang. Andai bukan Mia yang memberitahu mengenai wasiat sang ibu, kemungkinan sekarang dirinya akan ditanyai berbagai macam hal.
"Terima kasih, Nona Mia. Berkat anda, saya tidak ditahan karena membobol rumah orang," kekehnya sembari menjabat tangan Mia.
"Bukan salah anda, Dok. Ibu saya yang tidak mengatakan kebenarannya jika di halaman rumah belakang Guia ada tulang jenazah dari nenek moyang kami."
"Mungkin karena itulah, mengapa ibu mertua saya selalu memanggil nama Esterlita tiap malam," timpal suami Mia.
Setelah selesai sembari menguburkan kembali jenazah Esterlita, Leandro beranjak dari ruang interogasi. Ia tersenyum masam karena baru pertama kali dirinya berada di sini dan itu membuatnya malu.
****
Guia tersentak, ia bermimpi mengenai kematian kedua orang tuanya dan Gillermo. Ia menjadi saksi mata bagaimana mereka dibunuh dengan cara yang keji oleh ulah raja iblis yang mengincar nyawanya.
"Guia, bangunlah! Buka matamu segera!"
Gillermo mengguncang tubuh Guia ketika mendapati tubuh gadis itu bergetar hebat, berkeringat dan mengigau. Sudah lama Guia tak mengalami mimpi buruk, kedatangan para polisi di rumahnya membuat sang adik kembali mengalami hal serupa beberapa tahun lalu.
"Guia ....!" Sekali lagi, Gill memanggil dan mengguncang tubuh kecil Guia agar kembarannya cepat sadar.
"Gill ..."
Guia terbangun, ia langsung memeluk saudaranya sambil terisak. Gill mengusap punggungnya dengan pelan dan lembut, Gill tak bisa berbuat apapun untuk menghilangkan trauma mendalam yang dialami sang adik.
"Aku rindu ibu dan ayah," sahut Guia di tengah isakannya.
Gillermo melonggarkan pelukannya, menenangkan Guia dengan caranya sendiri. Gill merengkuh tubuh Guia yang mulai demam, ia juga tak mau seperti ini terjadi lagi. Kematiannya yang disaksikan Guia di depan mata membuat kembarannya terluka.
"Mengapa mereka tidak sepertimu, Gill? Aku bisa menerima jika ayah dan ibu hanya makhluk tak kasat mata asal mereka ada bersamaku," ujar Guia lirih.
"Tidurlah, Guia. Jangan memikirkan hal itu lagi, aku akan di sini sampai kau benar-benar tertidur."
Layaknya seorang ayah, Gillermo tetap membiarkan Guia dalam rengkuhannya hingga gadis itu tidur dengan menahan tangis. Ah, andai saja mereka tak menolong Esterlita maka mereka tak perlu bertemu dengan orang-orang berseragam tersebut.
****
Guia terbangun agak siang, untungnya ini masih libur akhir semester dan dua hari lagi ia akan kembali ke kampus. Tempat yang tak disukainya.
"Sudah bangun?"
Di ambang pintu kamarnya yang sudah terbuka, tampak sang kakak berdiri dengan sorot mata tajam sambil bersidekap. Pria itu datang sejak semalam dan menunggu Guia untuk membuka suaranya mengenai peristiwa kemarin.
"Di mana roh gadis itu?"
Alih-alih menanyai keadaannya yang berantakan, Jacian malah langsung menanyai tentang Esterlita dan Guia yang masih belum sepenuhnya sadar mengerucutkan bibirnya.
Masih berdiri di sana tanpa berniat menghampiri Guia, Jacian menyuruh sang adik untuk menyerahkan roh Esterlita agar segera dimusnakan oleh tetua.
"Ada di dalam serulingku," jawab Guia ketus tanpa menoleh ke arah Jacian.
"Serahkan padaku sekarang agar tetua memusnahkan roh itu," kata Jacian dengan nada tak bersahabat.
"Biar Gill yang membawanya. Tak perlu tetua yang melakukannya."
"Tak ada Gill bertugas hari ini," ucap Jacian melangkah masuk ke kamar sang adik lalu menyeret kursi dan duduk memandang Guia yang hilir mudik di depannya.
Guia memandang sang kakak dengan perasaan aneh, mengapa harus tetua adat yang melakukannya? Bukankah ini selalu menjadi tugas Gillermo?
"Kau apakan Gill? Kau tak menghukumnya, bukan?"
Tubuh Guia menegang dan mengepalkan tangannya sembari menatap sang kakak dengan perasaan kesal. Ia tak menyukai cara Jacian memberi hukuman pada Gillermo jika kembarannya itu lalai menjalankan tugasnya.
"Kau pikir aku akan mengurungnya seperti dulu? Jangan berpikiran sempit dulu, Lucena."
"Ya bukankah itu yang selalu kau lakukan jika Gill lalai menjagaku?"
Guia mendengkus, kembali ia menatap Jacian dan menyuruh pria itu kembali saja ke bukit. Tidak usah ke sini jika hanya ingin memarahinya. Percuma melawan Guia, adik perempuan satu-satunya itu selalu membantah setiap perkataannya.
"Gill ada di bukit. Aku tak menghukumnya," ucap Jacian melunak. Ia berbicara dengan nada pelan.
"Aku akan ke sana nanti malam dan mengeluarkan Esterlita. Jadi sekarang kau pulanglah, aku malas melihatmu hari ini."
Guia berjalan melewati Jacian lalu duduk di dekat jendela, memandang rumah nyonya Herice yang didatangi oleh para wartawan karena penemuan kerangka tulang manusia berusia ratusan tahun.
"Baiklah aku akan pulang. Jangan memanyunkan bibirmu jika bersamaku, Lucena. Aku tak akan memberimu sebaskom es krim nanti malam," sahut Jacian mengacak rambut Guia dan tersenyum melihat tingkah sang adik yang terkadang membuatnya mengelus d**a.
Meskipun Jacian memiliki kepribadian tegas dan mungkin tampak kejam di mata Guia, tetapi itu semua demi kebaikan sang adik semata. Ia sebagai ketua pengganti ayahnya memikul tanggung jawab besar untuk melindungi klan Cazador dari raja iblis. Apalagi Guia menjadi incaran bagi raja iblis untuk dibunuh.
Terkadang Jacian tak menyukai cara Guia yang semaunya sendiri tanpa berdiskusi terlebih dulu dengan para tetua seperti peristiwa Esterlita ini.
=Bersambung=