Part 10
"Gill ... kau di mana?"
Guia terbangun dan tak mendapati kembarannya berada di samping, ia terkejut mendengar suara berisik dari arah luar. Meskipun sudah tertidur dengan nyenyak, pendengaran Guia dapat menangkap suara. Itulah yang membuatnya tak bisa tidur selama ini.
"Untuk apa kau mengintip halaman belakang, Gill?"
Guia menemukan kembarannya sedang berada di luar kamarnya dan melihat arah belakang rumah sambil menyuruh gadis itu untuk diam.
"Apa? Apa ada pencuri?" tanya Guia pelan nyaris seperti bisikan tanpa melihat ke bawah, halaman belakang rumah sang bibi.
"Ada yang mengendap-endap ke halaman rumah belakang, Guia," kata Gillermo menunjuk dan Guia mengikuti arah jari kembarannya.
Di bawah sana, mereka melihat ada satu sosok manusia dengan lampu senternya sedang mencari sesuatu sambil membuat gerakan kaki seolah-olah menyapu.
"Siapa pria itu?"
Dari penglihatannya, Guia tahu jika manusia berjaket hitam itu adalah seorang pria. Tak dapat dipungkiri jika bentuk tubuh manusia itu yang tegap menyerupai seorang pria pada umumnya.
"Aku tidak tahu. Wajahnya tertutup jaket," sahut Gill yang hendak pergi menemui pria tersebut.
"Kau mau menemuinya, Gill? Bagaimana kalau ia seorang perampok?"
Guia mencengkal lengan Gill agar tidak pergi dan menghampiri pencuri yang sedang menyelinap di rumah mereka. Ia tak ingin ada sesuatu terjadi pada kembarannya meski pencuri itu tak bisa melihat Gill. Namun, di luar sana banyak makhluk nakal yang akan menyerang Gill.
"Tidak usah takut, Guia. Aku akan berhati-hati," ucap Gill sembari memegang tangan Guia lalu mencium keningnya.
"Aku ikut. Aku tak mau terjadi apapun denganmu," timpal Guia tanpa mau dibantah dan mengambil seruling juga tongkat bisbol milik sang paman.
Gillermo tak mampu berkata lagi, Gill tahu keras kepala yang dimiliki Guia turunan dari sang kakak--Jacian. Perkataan gadis itu tak bisa dibantah dan pendiriannya begitu kuat jika menginginkan sesuatu.
"Baiklah. Tapi ingat pesanku, Guia. Jangan---"
"Jangan menggunakan kekuatanku sembarangan," sela Guia memotong perkataan sang kakak.
Gillermo menyuruh Guia mengikuti dari belakang, mereka harus berjalan secara pelan-pelan. Perlu diingat meskipun Gill bukan manusia lagi, ia masih bisa menggunakan kekuatannya untuk berjalan layaknya manusia biasa.
"Sebenarnya untuk apa sih ia mau merampok rumah ini? Bibi tidak pernah menyimpan barang berharga," gerutu Guia sambil berjalan menuju pintu dapur.
Jika ditinjau lagi, selama menempati rumah ini bersama bibi dan pamannya. Guia tak pernah sekalipun melihat pencuri atau perampok masuk lalu mengambil barang di rumah ini. Padahal di kota ini banyak kumpulan pencuri.
"Kau tahu sendiri rumah ini sudah diberi mantra oleh bibi agar orang yang masuk ke sini akan kebingungan karena tatanan letak ruangannya," beritahu Gill yang membuka pintu dapur.
Udara subuh membuat Guia menggigil kedinginan, ia merapatkan jaket dan matanya tetap waspada agar pencuri itu tidak mendengar langkahnya. Jarak mereka semakin dekat, Guia melihat pria itu berjongkok di bawah pohon seakan-akan mengamati sesuatu.
"Kau siap, Gill?"
Gill mengangguk, Guia akan menggunakan tongkat bisbol untuk memukul kepala pencuri tersebut. Dengan mengambil langkah pelan, ia menghampiri dan bersiap mengayunkan tongkat itu.
"Dasar pencuri ....!"
"Eits ... tunggu. Jangan memukul punggungku! Sakit tahu!"
Guia tercengang, mengapa pencuri itu mengadu kesakitan bukannya membalas? Ia membuang tongkat tersebut lalu mengambil senter di kantung jaket dan menyinari wajah pencuri itu. Pria yang memakai jaket serba hitam itu pun menyipitkan matanya karena sinar terang dari senter.
"Dokter Leandro ..."
*****
Dengan wajah yang ditekuk, Guia terpaksa membawa dokter itu kembali ke dalam. Ia mengambil kotak obat lalu untuk mengobati luka kecil di kening Leandro yang terkena pukulan.
"Anda juga sih, mengapa seperti pencuri datang ke rumahku?"
"Katakan padanya, untuk apa ia mengendap-endap di halaman belakang," bisik Gill yang tak bisa dilihat Leandro.
Guia memasang plester di kening lalu menyeduh teh hangat beserta biskuit untuk Leandro yang kesakitan akibat pukulan Guia. Pria itu sampai meringis ketika menundukkan kepala.
"Memangnya tidak bisa memanggil namaku? Bukannya memukul?" dengkus Leandro agak jengkel. Baru kali ini dirinya terkena pukul.
"Mana aku tahu kalau itu anda, Dok? Memangnya mataku bisa menangkap nama seseorang?" Guia balik bertanya sembari memasukkan kembali kotak obat itu ke tempat semula.
"Lagipula jika aku berteriak ada pencuri, pasti anda dipukul atau dihakimi tetangga," sindir Guia berlipat tangan sambil menatap tajam ke arah Leandro.
"Jadi untuk apa anda ke rumahku?" cerocos Guia tiada henti hingga membuat Leandro semakin pusing.
Leandro mengambil obat dari Guia lalu meminumnya, ia tak tahu jika pergi ke halaman belakang rumah gadis ini membuatnya kena masalah. Andai bukan atas permintaan nyonya Herice, tak mungkin dirinya berada di sini sekarang.
"Ini bacalah surat dari nyonya Herice," ujar Leandro menyerahkan surat itu.
"Apa hubungannya surat ini dengan kedatangan anda di halaman belakang?"
Gill menyentuh pundak Guia agar berhenti bicara dulu, Gill dapat membaca pikiran jika pria itu ada hubungannya dengan nyonya Herice seperti sebuah permintaan.
"Terima dulu lalu baca, Nona Guia. Kau akan mengerti nanti."
Guia mengambil surat bersampul biru dari tangan Leandro lalu membacanya. Benar semua isi surat itu adalah tulisan nyonya Herice, ia mengenal sekali setiap goresan tinta hitam di kertas tersebut. Gillermo juga turut membacanya.
["Guia, jika ada dokter yang datang ke halaman belakang rumahmu. Bantulah ia, karena ada sesuatu di sana yang membutuhkan kalian. Maaf, aku tak bisa turut membantu. Di dalam sana, terkubur keluargaku"]
Guia berhenti sejenak, ia memandang Leandro yang sedang menikmati tiap tegukan teh hasil racikan Guia. Kembali Guia membacanya surat dari nyonya Herice.
["Mungkin kau penasaran, mengapa aku selalu berkunjung ke hutan? Karena di tempat itulah pertama kalinya, aku bertemu dengan roh dari Esterlita. Dia meminta tolong menemukan tubuhnya, tetapi aku tak bisa membantunya. Tiap aku ingin membuka halaman belakang rumahmu, Guia. Aku tak bisa, entah apa sebabnya."]
["Jadi aku mohon pada kalian berdua, mungkin saja kalian bisa membukanya."]
Guia melipat kertas tersebut lalu memasukkan kembali ke amplop dan menyerahkan ke tangan Leandro yang tengah menatapnya dengan serius.
"Ayo, kita lakukan sekarang," sahut Guia tiba-tiba sambil beranjak dari kursinya.
"Lakukan apa?"
"Katanya kau ingin mencari tulang belulang dari keluarga nyonya Herice." Guia berbalik badan dan matanya melotot ke arah Leandro yang masih duduk santai di sana.
"Jadi kau mau melakukannya? Aku kira kau akan ketakutan nantinya," ucap Leandro dan menghampiri Guia yang sudah berada di halaman belakang.
"Aku tak bisa membiarkannya menjadi anak buah raja iblis."
"Apa katamu, Nona Guia?"
Gadis itu tak memberinya jawaban malah melirik kesal padanya. Ia yakin jika Guia menggumamkan sesuatu, tetapi dirinya tak bisa mendengar dengan jelas.
"Anda tahu, Dok. Semenjak aku tinggal di sini, jarang sekali aku menginjakkan kaki ke sini. Bibi selalu menyuruh tukang kebun panggilan untuk membersihkannya," beritahu Guia sembari ia berjongkok di antara reremputan hijau.
Jika dipikir lagi, memang sang bibi atau pamannya jarang sekali menyuruh atau membiarkan dirinya berada di halaman belakang. Mereka tak memberinya alasan yang jelas, kata pamannya itu karena tempat yang kotor dan banyak binatang.
"Aku kira paman dan bibi sebenarnya tahu jika ada Esterlita di bawah sana," ungkit Gillermo yang sedari tadi di belakang Guia.
Guia mengangguk pelan, tak mungkin ia menjawab pertanyaan Gillermo ketika ada dokter tampan nan menyebalkan di sebelahnya kini. Nanti pria itu menyangka jika dirinya gila bicara sendiri.
"Apa ini tempatnya, Nona Guia?"
"Ya aku rasa. Karena aku pernah berusaha membuka pintu ini dulunya, tetapi tidak bisa," timpal Guia berbohong. Padahal ia sudah tahu sebelumnya.
"Itu karena kuncinya ada pada nyonya Herice, bukan?"
"Iya benar. Aku tidak menyadarinya jika rumahku dan rumah nyonya Herice saling terhubung dulunya sebelum dibongkar."
"Ternyata luas juga rumah ini," sela Gill. Memang benar kata Guia, rumah ini dan rumah nyonya Herice memiliki halaman belakang yang luas juga saling terhubung, hanya dibatasi oleh pagar kawat.
Setelah membersihkan dan menyingkirkan rumput di sekitarnya, mereka menemukan sebuah pintu kayu yang sudah ditumbuhi lumut dan usang. Leandro segera membuka pintu tersebut dengan kunci dan akhirnya terbuka dengan sekali saja.
"Ya ampun ..."
Guia terbatuk-batuk menghirup debu yang berada di bawah sana, ia melihat seksama dan ternyata gelap gulita. Untung saja Leandro membawa senter besar. Mereka menuruni anak tangga dengan hati-hati, karena beberapa bagian dari kayunya sudah mengelupas.
"Pelan-pelan, banyak benda berserakan di sini," ucap Leandro sembari menggandeng tangan Guia.
Guia yang dipegang tangannya agak merasa risih, selama ini tak pernah ada seorang pria dewasa selain Jacian yang memegangnya dan itu menimbulkan rasa berdebar di hati Guia.
"Lepaskan tanganmu, aku bisa berjalan sendiri," kata Guia seraya melepaskan genggamannya.
Bau apek dan udara pengap seketika menguar di indera penciuman mereka, Leandro memberikan masker pada Guia agar gadis itu tidak mencium bau yang tidak enak. Perlahan mereka berjalan mendekati ranjang yang sudah tertimbun benda-benda, tetapi masih terlihat jelas bentuknya.
Ranjang kayu dengan tiang di atas sebagai penutup kelambu menarik perhatian Guia, ia tahu di sana ada tulang dari Esterlita yang sudah terkubur dua ratus tahun lamanya. Ia harus segera mengeluarkan dan membakar tulang tersebut sebelum raja iblis datang.
"Anda lihat itu? Aku yakin itu tulang dari Esterlita. Apa anda sudah tahu yang harus kita lakukan?"
"Tentu saja, Nona Guia. Aku akan menyerahkannya ke yayasan agar diteliti oleh profesor di sana," jawab Leandro dengan santainya.
"Tunggu dulu ... apa aku tidak salah dengar? Anda akan menyerahkannya untuk yayasan penelitian?"
Guia maupun Gillermo tak menyangka jika Leandro akan membawa tulang ini ke yayasan kedokteran untuk dijadikan penelitian. Tidak ini salah besar, bukan seperti itu yang diinginkan nyonya Herice.
"Iya benar. Jika kita melaporkan kepolisian maka---
Belum sempat Leandro melanjutkan perkataannya, terdengar sirine polisi yang datang. Mereka sama-sama terkejut, bukan Guia ataupun Leandro yang menelepon petugas polisi.
"Kau yang menelepon polisi, Nona Guia?"
"Enak saja anda berkata seperti itu!"
Guia jengkel dan terpaksa keluar ketika mendengar ada yang memanggil namanya dari atas. Ia yakin ada seseorang yang menelepon polisi tersebut.
****
"Ah, sial. Berani-beraninya gadis itu mengambil milikku!"
Makhluk dengan bertudung dan menutupi wajahnya itu menampakkan kegeramannya ketika tak mendapati hal yang dia inginkan.
"Maaf tuan, kami tidak tahu jika---"
"Kalian makhluk bodoh! Apa kalian tidak bisa mengambil kunci itu dari tangannya?!"
Semua barang menjadi hancur ketika tangan raja iblis menyapu bersih kediamannya, dia dikuasai kemarahan karena tak satupun yang berhasil menangani gadis bernama Guia tersebut.
"Mengapa tidak anda saja yang turun tangan, Tuan?"
Salah satu anak buahnya berwujud setengah hewan itu menanyainya tanpa segan.
Raja iblis tampak marah mendengarnya, dia langsung mengayunkan tangannya dan mencekik leher anak buahnya.
"Maaf tuan, saya sudah keterlaluan."
"Akan ada waktunya nanti aku akan menemui dengan bertatap langsung."
Andai waktu itu dia tidak menggunakan kekuatan sepenuhnya, mungkin detik ini juga dia bisa menghabisi keturunan Cazador dengan tangannya.
Namun, Helen ibunda dari si kembar berhasil membuat jantungnya hilang separuh dan demi mendapatkan kekuatannya kembali, dia harus menyerap energi dari gadis itu.
=Bersambung=