Guia masih diliputi kebingungan ketika kunci milik nyonya Herice ada pada dokter yang ia tak sukai perilakunya itu. Mungkin ia perlu bertanya pada Mia mengenai hal tersebut daripada dirinya penasaran.
"Mia, aku boleh bertanya?" Guai menyempatkan diri untuk menanyai mengenai kalung itu ketika mereka berdua di ruang tamu, tempat peti nyonya Herice diletakkan.
"Tanya saja Guia." Mia tersenyum simpul sembari menoleh sebentar pada Guia, setelah itu tatapannya kembali ke peti berhias malaikat.
"Hmm .... maaf kalau aku kesannya kurang sopan. Mengapa kalung yang liontinnya berbentuk kunci itu ada pada dokter Leandro?" tanya Guia dengan hati-hati. Ia tidak mau menyinggung sebenarnya, tetapi ia maupun Gillermo juga harus tahu.
"Bukankah itu milik ibumu, Mia? Kalung itu warisan keturunanmu, bukan?" imbuh Guia lagi. Ah, masa bodoh jika hari ini dirinya dianggap kurang sopan.
"Dari mana kau jika kalung itu warisan keturunan ibuku?" Wajah Mia tampak bingung menatap Guia yang seketika terdiam.
"Kau pernah mengatakannya dulu," ujar Guia berbohong.
"Benarkah? Mengapa aku tak ingat?"
Guia memukul bibirnya dengan pelan sedangkan Gillermo menertawainya akibat kebodohannya saat ini. Guia menunggu jawaban dari Mia, sesekali ia melihat Esterlita berada di sisi peti nyonya Herice. Pasti gadis tak tampak itu merindukan keturunan dari anaknya.
"Tentu saja kau tak ingat, waktu itu kau mengatakannya dalam keadaan mabuk? Kau ingat waktu aku antar pulang ketika kalian bertengkar hebat lalu dirimu ke bar?"
Hanya itu yang bisa Guia jadikan alasan, kebiasaan buruk Mia saat bertengkar dengan sang ibu akan pergi ke bar lalu memesan minuman keras kemudian mabuk. Sialnya ... nomer ponsel panggilan tercepat adalah nama Guia.
"Aduh ... mulutku ini memang tidak bisa dijaga." Mia tertawa lalu menangis lagi mengingat kelakuannya tiga bulan lalu. Terkadang masalah kecil saja membuat Mia dan sang ibu bertengkar dan berakhir dengan mabuk, meskipun begitu Mia sangat menyayangi ibunya.
"Kami tidak tahu juga kegunaan kunci itu, Guia. Ibu bahkan tidak tahu, selama ini ibu hanya menyimpannya saja karena itu warisan turun temurun," sahut kakak Mia yang pertama dan duduk di depan Guia.
"Benar kata kakakku, Guia. Kami bahkan pernah membuka setiap pintu rahasia di rumah ini dan rumah sebelah, nyatanya kami tak menemukan apapun. Jadi kami anggap itu benda kesayangan dari kakek buyut yang harus dijaga," ungkap Mia memberi penjelasan.
"Kalian tak akan menemukannya, karena kunci itu membuka pintu di halaman belakang yang tertutup rerumputan dan tanaman." Guia berucap pada dirinya sendiri yang hanya didengar oleh Gillermo.
"Oh, ya mengapa kau bertanya mengenai benda itu?" tanya kakak Mia menaruh curiga.
"Nyonya Herice selalu memakainya dan mengatakan benda itu kesayangannya padaku," sahut Guia sembari tersenyum semanis mungkin agar mereka mempercayai kebohongannya.
"Iya ibu memberikannya pada dokter Leandro. Lagipula untuk apa kami menyimpan benda kuno itu," timpal kakak Mia berlalu dari hadapan Guia.
Mia meninggalkan Guia di ruang tamu tersebut, orang awam akan melihat Guia duduk sendirian padahal dirinya kini dikelilingi oleh tiga makhluk tak kasat mata. Gillermo yang ada di sebelahnya, Esterlita yang terus melihat peti mati nyonya Herice dan juga ... dua sosok yang berada di luar jendela.
"Jangan menoleh ke belakang," bisik Gillermo.
"Iya aku tahu ada dua sosok sedari tadi melihat kita. Siapa mereka?" Guia pun berkata dengan pelan. Ia bisa saja langsung mengusir dua sosok bertudung hitam itu, tetapi dirinya tak bisa menunjukkan kekuatannya kepada sembarang orang.
"Entahlah, Guia. Aku juga tidak tahu, tapi besar kemungkinan mereka itu adalah suruhan raja iblis untuk mengambil roh Esterlita."
"Hah? Tapi untuk apa, Gillermo?"
Tentu saja Guia heran, untuk apa juga raja iblis menginginkan Esterlita? Apa dijadikan pengikut atau dia akan membuat Esterlita santapannya? Guia bergidik membayangkannya.
"Kau menyebut nama itu? Siapa nama pria yang kau maksud, Nona Guia?"
"Bukan urusanmu," jawab Guia ketus. Leandro datang menghampirinya lagi padahal ia sudah jelas menolak kehadiran pria itu.
"Aku cemburu."
Perkataan Leandro membuat Guia yang hampir berdiri, terduduk kembali dengan pandangan yang mengejutkan. Guia tak percaya dengan ucapan Leandro, mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun. Kenal saja baru seminggu lalu? Guia berpikir jika otak pria ini bermasalah.
"Aku anggap otak anda tak sehat hari ini," ucap Guia menangkis tangan Leandro ketika pria itu hendak menyentuh tangannya.
"Kau lucu sekali, Guia. Aku suka denganmu."
Guia tak mendengar perkataan Leandro, ada hal yang lebih penting daripada mengurusi pria tersebut. Esterlita tiba-tiba saja tampak ketakutan dan Guia sempat melihat tatapan Esterlita mengarah ke arah luar.
****
"Esterlita ... kau di mana?"
Guia mencari keberadaan Esterlita di rumahnya dan menemukan makhluk cantik itu sedang bersembunyi di bawah meja belajarnya.
"Ada apa? Kau sepertinya ketakutan?" Guia terpaksa menunduk, menyesuaikan tingginya dengan Esterlita agar dapat bicara dengan makhluk cantik tersebut.
["Aku takut, Guia"]
Guia memicingkan matanya, pada siapa Esterlita takut? Apa mungkin dua makhluk yang ada di depan jendela rumah nyonya Herice? Ia bisa melihat jelas raut wajah ketakutan Esterlita.
"Dua makhluk itu akan membawa Esterlita secepatnya jika kita belum menemukan tubuhnya, Guia."
Guia menengadahkan kepalanya sembari mendengar penuturan Gillermo. Ia tahu arah pembicaraan yang dikatakan Gill. Mereka harus segera menemukan tubuh--yang mungkin sudah tak terbentuk milik Esterlita dan membakarnya.
Jika sampai tuan iblis menemukannya terlebih dulu, maka tubuh atau tulang milik Esterlita akan digunakan untuk membangkitkan mayat lalu dijadikan pengikutnya. Masalahnya, kunci itu ada di tangan dokter itu. Bagaimana ia bisa mengambilnya?
"Bagaimana kalau kita mencurinya nanti malam, Gill?"
Gillermo menjitak kepala Guia yang membuatnya kesal, bukannya mencari jalan keluar menyembunyikan keberadaan Esterlita malah si adik membuat masalah lagi ke depannya.
"Aish ... aku kan cuma asal bicara," ucap Guia mengerucutkan bibir dan mengusap kepala dengan perasaan jengkel.
"Makanya mulutmu kalau bicara harus dijaga."
Guia memanyunkan bibir, entahlah melakukan hal tersebut membuat Gillermo gemas dengan adiknya. Gill tahu Guia masih belum dewasa, ada kalanya sang adik bertindak layaknya anak kecil.
"Ya sudah sana ... kau sembunyikan Esterlita di dalam serulingmu agar dua makhluk itu tak mencarinya," ucap Gillermo mengacak rambut Guia dengan kasar. Gill senang jika membuat sang adik kesal.
Meski masih cemberut, Guia selalu menuruti perkataan Gillermo. Ia lalu mengambil serulingnya yang selalu disembunyikan di tangannya atau lebih tepatnya seruling itu sudah menyatu di dalam bagian tubuhnya dan hanya dirinya yang bisa mengambil.
"Mungkin ini akan sedikit sakit, Esterlita. Tapi kau tahanlah dulu agar tidak tertangkap tuan iblis," ujar Guia memainkan serulingnya.
Esterlita mengerang kesakitan untuk beberapa saat lalu makhluk itu seketika masuk ke seruling. Guia kemudian memasukkan kembali benda pipih itu ke tangannya lalu duduk bersidekap tapi dengan bibir yang masih ditekuk.
"Masih marah denganku? Kau juga sih bicara melantur seperti itu," kata Gillermo mendekati Guia di samping tempat tidur.
"Hari ini kau sensitif sekali, ada apa?" tanya Gillermo lagi sambil menyentuh bahu kanan Guia yang berpaling.
Memang saat ini Guia sedang kesal sampai seubun-ubunnya, ia ingin sekali menyelesaikan masalah Esterlita dengan cepat. Kunci sudah ditemukan, tetapi bukan di tangannya melainkan ada pada pria yang menyebalkan.
"Aku mau tidur, biar besok saja aku pikirkan jalan keluarnya," sahut Guia seraya membuka selimutnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang empuk.
"Aku pergi dulu, kau tidurlah," kata Gillermo mengusap kening Guia dengan penuh kasih sayang.
Terkadang Gillermo merasa sedih, Gill tak bisa seperti saudara lainnya di mana mereka bisa berjalan ,bersantai atau sekedar bercengkrama layaknya manusia. Gill sangat menyayangi Guia sebagai kembarannya, rela melakukan apa saja demi kebahagian sang adik.
"Kau mau ke mana?"
"Bukannya kau mau tidur? Aku akan berjaga di luar," ucap Gillermo yang sudah berada di ambang pintu.
"Temani aku di sini, sama seperti dulu saat kita masih kanak-kanak," ujar Guia berpindah posisi lalu menyuruh Gill tidur di sebelahnya.
Gillermo tersenyum, Gill masih ingat kenangan itu. Meski sedari dulu kamar mereka terpisah, tetapi ada kalanya Guia meminta kembarannya untuk tidur di sebelahnya. Bukan untuk bermanja melainkan Guia merasa lebih nyaman jika ada yang menemaninya.
"Gill ..." Terdengar suara lirih Guia di sebelahnya yang tidur menghadap dinding.
"Iya ada apa?"
"Kau tak akan pernah meninggalkanku di dunia ini jika Jacian sudah tidak ada, bukan?"
Guia maupun Gillermo sudah tahu takdirnya masing-masing, mereka tak bisa menyangkal atau menghindar. Ketika mendengar perkataan Guia, Gill akhirnya paham mengapa Guia begitu sensitif hari ini.
"Kau takut aku seperti nyonya Herice dan makhluk lainnya?"
Gillermo menepuk tubuh Guia layaknya saudara, Gill merasa jika ketakutan terbesar Guia adalah tak seorang pun yang ada di samping gadis itu suatu hari nanti mengingat takdir mereka.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Guia. Tidurlah sekarang."
Gillermo membiarkan tangannya menjadi bantal bagi kepala Guia yang kini mulai bisa tertidur dengan lelap. Hanya di sisi Gill, gadis itu dapat memejamkan matanya.
*****
Dia mendengar semua yang diucapkan kedua saudara itu meski dalam jarak yang jauh. Tersungging senyuman menyeringai karena salah satu tugasnya sudah bisa dia atasi.
"Kau harus mati di tanganku, Gadis Nakal! Tak akan kubiarkan kau dan kaum Cazador hidup tenang selama aku ada."
Beberapa tahun lalu, dia berhasil membuat kedua orang tua dan saudara gadis itu tewas di tangannya meski dia harus terluka parah.
Namun sialnya, gadis itu tak bisa dia bunuh sekalian karena ulah Helen yang melukainya salah satu tubuhnya.
Gadis itu langsung dibawa pergi oleh sang paman dan dia yang disebut raja iblis itu tak bisa mengambil nyawa Guia.
"Tunggu pembalasanku, Gadis Nakal!"
=Bersambung=