Part 8 The Other Side Of Esterlita

1631 Kata
Suara derap langkah beberapa orang membawa brankar pasien terdengar di lorong rumah sakit, mereka sedang berlomba dengan waktu agar sang pasien segera ditangani oleh ahlinya. Mereka menemukan wanita tua tergeletak di pinggir jalan menuju hutan. "Tekanan darahnya menurun!" "Kami menemukannya di pinggir jalan menuju hutan." Petugas ambulan yang membawa wanita tua itu mengangkat tubuhnya ke tempat tidur yang ada di ruang UGD, salah satu dokter berusaha memanggil namanya dan mengeluarkan penlight di kantong jubah lalu memeriksa kedua pupil matanya. "Nyonya Herice, anda mendengarkan saya?" Tak ada reaksi apapun dari nyonya Herice, wanita tua itu tak mendengar atau membuka matanya. Dokter penjaga yang sedang memeriksanya segera tahu jika pasien ini berada dalam keadaan kritis, tekanan darahnya terus menurun. "Segera hubungi dokter Leandro!" Salah satu perawat itu belari menghubungi Leandro yang berada di ruang istirahat agar cepat datang ke unit gawat darurat karena kondisi pasien yang mengkhawatirkan. **** "Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" Anak dari nyonya Herice begitu panik ketika mendapati sang ibu pingsan di pinggir jalan, mereka tak tahu sama sekali ada hal apa yang membuat sang ibu berada di sana? Jauh sebelum menikah, menurut anak-anaknya, nyonya Herice terkadang pergi ke hutan itu dan ketika ditanya, jawabannya selalu menikmati udara segar di sana. "Maaf nona Mia, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika ibu anda bisa melewati malam ini maka ia akan sadar. Tetaplah berdoa demi keselamatan ibu anda." Penyakit yang diderita nyonya Herice sudah kronis, tak ada harapan bagi wanita itu untuk hidup lebih lama. Setengah tahun lalu, nyonya Herice mendapati dirinya terkena kanker jantung atau tumor jantung primer. Leandro yang selama ini menjadi dokternya hanya bisa memberi obat untuk menahan sakit, nyonya Herice tak mau dioperasi. "Jadi jika malam ini ibu tidak bisa melewati masa kritisnya maka---" Leandro menepuk bahu wanita muda itu dengan pelan, sekedar memberinya kekuatan kepada anak perempuan yang disayang oleh nyonya Herice. Leandro mempersilakan ketiga anak nyonya Herice untuk menemani ibu mereka yang mungkin tak bisa melewati kesempatan hidup malam ini. Sementara itu di tempat lain, Guia mendapat penglihatan yang terhubung dengan masa lalu Esterlita. Gadis muda yang meminta tolong padanya beberapa hari lalu. Guia sedikit mulai memahami akibat kematian Esterlita, ia terjebak di ruang bawah tanah saat ada bencana datang di tahun itu. "Saat bencana itu datang, tak ada satupun yang menolongmu?" Guia pun bertanya dengan nada serius. Gillermo yang ada di sebelah sang adik ikut mendengar. ["Tak seorangpun tahu jika August mengurungku di sana. Bahkan pengasuh anakku sendiri juga tidak tahu. Wanita itu yang membuat aku bertahan demi Jeremy."] Gillermo dan Guia saling menatap dan tak percaya jika gadis semuda Esterlita sudah memiliki anak sedangkan Guia sendiri tak pernah berpikir menikah muda, membayangkan saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. ["Aku menikah di usia enam belas tahun dan memiliki anak di usia delapan belas tahun. Aku merindukan anakku, Guia."] "Tapi tentu saja anakmu sudah tidak ada di tahun ini, Esterlita," kata Guia mencoba menyakinkan. "Anakmu pasti sudah terlahir kembali menjadi seseorang di luar sana dan tak mungkin kami menemukan keturunan anakmu," imbuh Guia lagi. "Mengapa kau ingin menemukan keturunan anakmu, Esterlita?" Gillermo juga menaruh penasaran, tak mungkin juga Esterlita merindukan anaknya yang sudah meninggal ratusan tahun lalu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. ["Karena untuk membuka pintu ruang bawah tanah yang ada di halaman belakang adalah menemukan keturunanku, Guia."] "Bukankah kita bisa menggunakan alat berat seperti yang aku tunjukkan padamu?" ["Tidak bisa, Guia. Ada satu benda yang akan selalu diwariskan pada keturunan keluarga suamiku, sebuah benda berbentuk kunci. Kunci itu dapat membuka sebuah brankas yang ada di ruang bawah tanah itu, keluarga suamiku menyimpan semua hartanya di sana."] "Wah kaya sekali suamimu," celetuk Guia terkejut sambil memainkan mata pada Gillermo. Andai di dalam sana ada emas, Guia akan mengambilnya. ["Ternyata kau sama saja seperti manusia pada umumnya."] Guia memanyunkan bibirnya ketika Esterlita menyindirnya, ia tak bermaksud untuk mengambil harta milik Esterlita. Ia tak tertarik dengan hal yang bersifat duniawi, Guia hanya bercanda tetapi gadis itu menanggapi serius. "Dasar hantu tak tahu terima kasih," bisik Guia yang sebal. Gillermo menyentuh lengan Guia lalu mencubitnya dan membuat sang kembaran mengeluh kesakitan, cubitan manusia biasa tak sesakit ini. "Jadi kau tahu di mana keturunan anakmu, Esterlita?" Esterlita yang mendapati pertanyaan Gillermo mengangguk lalu makhkuk tak kasat mata itu menunjuk sebuah rumah yang ada di sebelah rumah bibi Guia. Gillermo dan Guia langsung melihat telunjuk Esterlita, spontan Guia menutup bibirnya yang ingin teriak. ***** Leandro menemani kepergian nyonya Herice pagi ini, sebelum mentari menampakkan sinar indahnya. Wanita yang dikenal dengan cinta kebersihan dan senang menyapu halaman itu menutup matanya dikelilingi oleh anak maupun menantu. "Terima kasih sudah menemani ibu kami selama ini, Dok." Ucapan tulus dari Mia anak bungsu nyonya Herice diterima dengan anggukan saja. "Sudah sepatutnya saya maupun dokter lainnya membantu dan menemani ibu anda berjuang melawan penyakitnya." Entah kenapa ada sesuatu yang hilang mengisi rongga hati Leandro, ia memang merasa kehilangan satu sosok yang selama ini menemaninya mengobrol ataupun memberi nasehat. Namun, ia tidak bisa menunjukkan hal itu pada siapapun. "Sebelum ibu meninggal, ibu menyuruh kami untuk memberikan benda ini pada anda, Dok. Kami tidak tahu apa maksudnya, tetapi kami yakin jika dokter tahu mengenai benda ini." Kembali ke tiga bulan lalu, nyonya Herice meminta bantuannya jika suatu hari nanti dirinya tiada. Wanita murah senyum itu tak bisa meminta tolong pada anak-anaknya, karena ia tahu jika anak-anaknya tak bakalan percaya. "Iya saya tahu nona Mia." Leandro menerima benda tersebut, sesuai janjinya pada nyonya Herice. Ia akan mencari tahu isi halaman belakang rumah di samping rumah nyonya Herice, wanita itu berpesan agar segera melapor ke polisi jika terjadi sesuatu di sana nantinya. **** "Apa selama ini kau selalu datang ke mimpi .... ya katakanlah cicitmu itu? Ah, repot juga menyebut satu persatu nama keturunanmu, Esterlita." ["Lalu pada siapa aku datang? Hanya ia keturunan satu-satunya yang masih memegang kunci itu setelah keturunanku sebelumnya mengalami kebangkrutan."] Guia melihat lebih jau kehidupan keturunan anak dari Esterlita melalui mata bathinnya. Ia seakan memasuki sebuah lorong gelap lalu menjadi terang, di sana Guia dapat melihat bagaimana kehidupan mereka. Akibat bencana kelaparan membuat keluarga Esterlita tak dapat kembali seperti semula. "Lalu setelah bencana itu, anakmu pergi meninggalkan Islandia?" tanya Guia yang harus menggali informasi kehidupan Esterlita di masa lalu agar bisa membantu gadis itu kembali ke tempatnya. ["Benar dan semua orang yang pernah menempati rumah ini takut denganku. Aku hanya ingin meminta tolong."] "Jelas mereka takut, kau itu kan hantu," celetuk Guia lagi dengan santainya. "Tak semua orang bisa merasakan atau melihat dirimu, Esterlita. Jikapun mereka bisa, kau akan membuat mereka ketakutan," timpal Gillermo. ["Pada akhirnya, keturunan dari anakku membeli tempat ini. Namun, tetap saja ia maupun anak-anaknya tak dapat merasakan kehadiranku."] Tersirat kesedihan dari sorot mata Esterlita, itu yang dirasakan Guia. Komunikasi yang Guia dan Esterlita lakukan bukan seperti manusia pada umumnya, mereka saling bicara melalui dalam hati. ["Meskipun mereka dekat denganku, sayang aku tak memanggil mereka dan menolongku."] ["Karena itulah aku menunggu hingga ada yang menolongku dan ... kalian datang."] "Untung nyonya Herice masih menyimpan kunci itu," ujar Gillermo melihat rumah sebelah yang ramai dikunjungi para tetangga. "Aku rasa nyonya Herice sudah tiada, Guia," sahut Gillermo memberitahu, Gill bisa mencium bau kematian. Guia menghampiri Gillermo yang ada di jendela lalu melihat ke bawah, benar yang dikatakan kembarannya ternyata rumah nyonya Herice dipenuhi oleh tetangga lainnya. Mereka saling memandang Esterlita yang sudah tak ada di hadapan mereka lagi, Guia yakin jika Esterlita berada di rumah sebelah untuk melihat terakhir kalinya keturunannya. **** Sebagai tetangga yang baik, keesokan harinya Guia diantar Gillermo tentunya datang untuk mengucapkan duka cita bagi keluarga nyonya Herice. "Aku turut berduka cita, Mia." Meskipun usia mereka hanya terpaut dua tahun dan sudah menikah, Mia tak mengijinkan Guia memanggilnya kakak. Wanita muda itu kerap datang di akhir pekan untuk mengunjungi sang ibu lalu mengajak Guia makan bersama. "Akhirnya aku tahu rasanya kehilangan orang tua seperti dirimu, Guia." Guia tak tega, ia memeluk erat layaknya seorang saudara dan menepuk pelan punggung Mia. Ia tahu rasanya begitu menyakitkan ketika kehilangan orang yang kita sayangi. "Ia lebih menyayangi nyonya Herice dan menginginkan ibumu tinggal di rumah-Nya," ucap Guia merenggangkan pelukan dan tersenyum hangat. "Ya kau benar, Guia. Seperti yang pernah kau katakan padaku jika kelak kita akan bertemu lagi di tempat yang indah," sahut Mia menghapus air matanya dan berusaha untuk tabah kala kehilangan ibunya. "Aku tinggal dulu sebentar, Guia." Guia membiarkan Mia menemui kolega nyonya Herice yang ingin melihat jenazah untuk terakhirnya sebelum esok dikubur di samping makam suaminya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Guia lebih memilih duduk di belakang dekat ruang makan, ia tak mengenal semua keluarga nyonya Herice. Ternyata tetangganya itu adalah orang yang ramah dan bersahabat, terbukti banyak yang datang. "Halo nona Guia ...." Hampir saja tangannya hendak mengambil biskuit di meja, Guia dikejutkan ketika ada suara di belakangnya yang ia kenal sekali dan pria itu mengambil biskuit miliknya. Guia mendengkus kesal, mengapa ia harus bertemu lagi dengan pria ini? "Sedang apa anda di sini, Dok?" Guia malas mengambil biskuit yang diberikan oleh Leandro dan bertanya dengan ketus. "Nyonya Herice adalah pasienku, Nona Guia." "Oh begitu," jawab Guia singkat dan menanggapinya secara malas. Tanpa merasa bersalah, Leandro kembali meminum teh yang seharusnya milik Guia. Tentu saja gadis itu kembali menghembuskan napas kesal dan memilih pergi dari hadapan pria yang menjengkelkan tersebut. "Mau ke mana, Nona Guia?" tanya Leandro dengan tampang tengilnya. "Bukan urusan anda, Dokter Leandro." Baru saja Guia berjalan beberapa langkah, ia dikejutkan dengan kalimat yang dilontarkan Mia pada dokter tampan tersebut. Ia menoleh dan membuat bingung. "Ibu menitipkan pesan sebelum meninggal, Dok. Kunci itu biarkan dokter yang ambil alih." =Bersambung= Note : Terjadi letusan vulkanik di tahun 1783 - 1784 selama delapan bulan di Islandia yang mengakibatkan kematian lebih dari 50% populasi hewan ternak di Islandia dan sebagian besar tanaman. Peristiwa ini juga memicu bencana kelaparan yang menewaskan sekitar 25% populasi manusia di Islandia dan menghancurkan 20 desa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN