Guia telah kembali ke rumah bibi di kota, tetapi ia tetap saja sendirian karena tugas yang diemban paman dan bibinya sedang dalam masa krisis di kota lain.
["Halo Guia, bibi dengar dari kakakmu. Kau masuk rumah sakit. Apa benar?"]
Sang bibi menyempatkan diri untuk menelepon dirinya dan mencemaskan keadaan keponakan yang selalu bersikap semaunya sendiri.
"Apa Jacian yang menelepon?"
Guia kesal, kakaknya itu melebihi wanita dan selalu cerewet jika dalam berurusan dengan dirinya yang tak pernah mau tinggal di bukit meski permasalahan sudah selesai. Tetua sudah mengijinkan Guia kembali setelah kematian Gillermo, tetapi ditolak oleh gadis itu.
["Siapa lagi yang kau maksud, Nak? Tidak mungkin kembaranmu, bukan?"]
Sekali lagi Guia mendesah, percuma bicara dengan sang bibi maupun pamannya. Toh ... mereka tak bisa melihat kehadiran Gillermo. Ini yang tak disukai Guia, mereka seakan tak pernah menganggap Gillermo ada.
Padahal jelas-jelas mereka memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasat mata. Namun anehnya, mengapa tak bisa melihat Gillermo? Aneh, bukan?
"Sudah ya, Bi. Besok aku harus mengumpulkan tugas kuliah."
Guia menutup percakapan mereka tanpa mengucap salam, ia pun langsung mengunci pintu depan lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di atas. Guia melangkah dengan pelan, menginjak pijakan anak tangga yang terbuat dari kayu sehingga menimbulkan bunyi deritan.
"Siapa di sana?"
Tepat saat kaki Guia berada di pijakan terakhir, rambutnya ditarik dan udara dingin mengelilingi dirinya. Ia tahu jika ada sesuatu di belakang atau mungkin di sekitar lantai atas. Ia belum bisa memastikan wujud makhluk tersebut.
"Kau kah itu Gill?"
Tak ada jawaban, Guia pun kembali turun di anak tangga tengah dan membungkuk sedikit demi memastikan ada sesuatu di lantai bawah. Namun, matanya tak menampakkan sosok yang membuat rambutnya ditarik.
Udara dingin menyentuh pori-pori kulitnya, ia tahu pasti dia ada di lantai atas. Guia pun agak mempercepat langkahnya dan menoleh ke arah kanan. Sejenak ia terdiam, mengingat sesuatu yang penah dirinya alami beberapa hari di alam mimpi.
"Bukankah ini?" Mata Guia memandang ke sekeliling dan menyadari ada yang aneh dengan rumah bibinya.
["Iya Guia. Ini rumahku di masa lalu."]
"Esterlita ...?"
Guia tertegun, ia melihat sosok makhluk tak kasat mata yang sama persis di alam mimpinya begitu juga dengan bentuk rumah bibinya yang memakai penerangan lilin. Apakah ia kembali ke masa lalu?
["Kau akan menolongku, bukan?"]
Esterlita memakai gaun hitam panjang dan menghampirinya dengan berjalan. Ya di depan mata Guia, gadis cantik itu berjalan bukannya melayang.
"Iya tentu saja asal permintaanmu bisa aku lakukan," ucap Guia sambil menatap Esterlita.
["Masuklah ke kamar itu, Guia dan kau akan menemukan jawabannya."]
"Kamarku? Oh ... bukan maksudku itu kamarmu dulu?"
Guia merasa tak masuk akal saat ia diperintah oleh makhluk tak kasat mata. Namun, janji harus ditepati karena ia tak mau gadis ini terus berada di dunia manusia. Guia berjalan menuju kamar yang ada di ujung. Kamar yang menjadi tempat istirahatnya selama ini.
"Memangnya berapa tahun kau tinggal di sini, Esterlita?" tanya Guia sembari membuka pintu.
["Delapan belas tahun ketika aku masih hidup."]
Ketika memasuki kamarnya, Guia pun tak mendapati kasur empuk dan rak penyimpanan bukunya melainkan kasur dengan tirai dengan model jaman dulu. Ia tahu kini dirinya berada di masa lalunya Esterlita.
"Apa yang ingin kau lakukan, Esterlita?"
["Tunggu sebentar. Kau akan melihatnya sendiri."]
Sembari menunggu kedatangan seseorang yang dimaksud Esterlita, Guia mengelilingi kamar milik gadis itu dan merasakan hal yang berbeda. Entah kenapa kamar ini terasa gelap dan terkesan menyimpan aura kesedihan.
["Mereka sudah datang."]
Dari luar, Guia mendengar langkah beberapa kaki dengan terburu-buru. Tepat di depannya kini, ia melihat seorang pria berpakaian era victoria menjambak rambut seorang gadis dengan kasar, kepalanya yang menunduk ke bawah tak bisa dikenali oleh Guia.
["Kata siapa dirimu boleh kabur? Kau akan tetap terkurung di kamar ini selamanya!"]
["Kau istriku yang harus melayaniku."]
Guia tersadar saat kepala gadis itu mengarah padanya, itu Esterlita di masa muda. Dia tampak kesakitan, luka di lutut akibat terjatuh dan gaun yang sobek. Guia menoleh dan melihat 'temannya' itu menatapnya penuh kesedihan.
["Maafkan aku, August. Aku tidak akan kabur lagi."]
["Kau itu sudah menjadi milikku setelah ayahmu membayar hutang padaku. Jadi kau harus menurut apapun yang aku katakan. Apa kau paham?"]
Pria itu menarik dagu Esterlita lalu menampar dengan kerasnya, rambut gadis itupun juga tak luput dari tangan suaminya. Meski sudah meminta ampun, pria itu tak menaruh belas kasihan.
["Aku tak akan kabur lagi. Aku akan tetap di sini."] Esterlita memohon sambil memegang kaki sang suami sambil menangis.
Guia tak tega melihat dan mendengar rintihan Esterlita kala tubuh gadis itu dicambuk. Saking geramnya, Guia hendak melerai. Namun, ia sadar jika ini bukan dunia manusia. Dua orang itu tak bisa melihat dirinya.
["Sini ikut aku!"]
["Maafkan aku August. Aku mohon jangan masukkan aku ke sana!"]
Sekali lagi Guia ingin sekali memukul atau menampar pria itu karena ia menyeret Esterlita dengan kasar, Guia mengikuti langkah mereka hingga menuju taman belakang. Guia terkejut ketika suami Esterlita membawa istrinya memasuki sebuah pintu yang ada di bawah pohon oak.
"Tempat apa itu?" tanya Guia pada Esterlita di samping.
["Kau akan tahu nantinya."]
Tiba-tiba saja Guia sudah berada di ruang bawah tanah, pandangannya tertuju pada Esterlita yang dicambuk dan dikurung di sana. Guia tidak bisa menolong, ia merasa sedih melihat penderitaan gadis muda itu.
["Aku tidak akan membebaskanmu sebelum kau mengerti kesalahanmu."] Pria itu mendorong tubuh Esterlita di kasur dan berbalik badan hendak pergi.
"Hei ... kau tak bisa meninggalkan istrimu di sini!"
Percuma, teriakan Guia kepada pria itu tak bisa didengar atau saat ia berusaha menepuk bahu pria tersebut. Guia dan suami Esterlita berbeda dimensi waktu, ia tak bisa berbuat apapun ketika Esterlita dikurung dalam tempat yang pencahayaan kurang.
"Esterlita, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau dikurung di sana?"
"Berapa lama kau dikurung, Esterlita?"
["Aku tak ingat, Guia. Aku tidak tahu waktu sampai peristiwa itu datang."]
Guia tak menyukai ruangan pengap dengan minim cahaya, ia merasa sesak dan pandangan yang tak nyaman. Apalagi saat lantai yang dipijaknya bergetar hebat seakan-akan tempat ini segera hancur.
"Ada apa dengan tempat ini?"
["Bencana datang dan aku tetap berada di sini menunggu seseorang mengambil rumah ini."]
Guia berusaha mencari jalan keluar bersamaan dengan teriakan Esterlita yang tertimbun, Guia panik dan bingung. Ada apa ini sebenarnya?
"Temukan tubuhku, Guia!"
****
Rasa pusing dan limbung masih dirasakan Guia ketika ia terbangun dari tidurnya. Ia mencoba berdiam dulu dan memijit pelipisnya sesudah itu dirinya akan turun dari tempat tidur.
"Tunggu dulu ... siapa yang menaruh aku di sini? Apa aku bisa tidur sambil berjalan?" Guia bergumam sendiri.
Guia merasa aneh, ia masih ingat jika dirinya berada di tengah anak tangga dan mengikuti arahan Esterlita. Rasanya tak mungkin jika ia berada di tempat tidur.
"Rasanya tak mungkin aku berjalan ke sini sendiri. Apa Gill yang membawaku?"
"Aku yang membawamu ke tempat tidur," ucap seseorang dari arah pintu.
"Mengapa anda bisa masuk ke rumahku?" Guia tentu saja terkejut mendapati orang lain masuk ke rumahnya padahal ia sudah mengunci pintu depan.
"Kau ini belum terbangun dari pingsan ya? Pintu rumahmu itu terbuka makanya aku bisa masuk dan menemukan dirimu ada di bawah anak tangga."
Guia melihat Gillermo yang berada di belakang pria itu, Gill mengangkat bahunya. Namun, ada hal aneh pada diri sang kakak. Apa jangan-jangan Gill yang membuat pintu itu terbuka?
"Anda mengikuti saya, Dokter Leandro?" Guia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamar. Ternyata sudah sore hari.
"Mengikutimu? Aku saja tidak tahu kalau rumah ini tempat tinggalmu, Nona Guia," kata Leandro santai sambil duduk di dekat meja belajar.
"Lalu?" tanya Guia kesal.
"Aku tetangga baru di sebelah nyonya Herice. Jadi otomatis kau tetangga yang ingin aku antarkan kue pie buatanku," ucap Leandro seraya menunjuk sepotong pie di piring kecil di atas meja.
"Oke terima kasih sudah membantuku. Jadi sekarang anda pulanglah, aku sudah baik," usir Guia berdiri di ambang pintu.
"Apa kau memang seketus ini jika bicara dengan seseorang?" Leandro berjalan menghampiri Guia dan tersenyum menanggapi perkataan Guia yang tak pernah ramah padanya.
"Maaf, aku memang seperti ini. Sekarang pergilah, Dok. Apa anda tak malu jika ada orang yang mengatai tentang anda yang masuk ke rumah ini?"
"Kau itu gadis yang lucu, Guia. Baiklah ... aku akan pulang dan jangan lupa makan pie buatanku."
"Oh, ya siapa Gill? Pacarmu?" tanya Leandro yang sudah turun, ia menengadahkan kepalanya melihat Guia yang bersidekap di tangga.
"Anda tak perlu tahu."
Guia tak perlu mengantar Leandro sampai depan rumah, cukup di atas anak tangga. Ia tak menyangka pria itu merupakan tetangga sebelah yang hanya berjarak dua rumah saja. Selepas Leandro pergi, Guia kembali ke kamarnya dan melewati Gillermo begitu saja.
"Maaf, Guia. Aku terpaksa membuka pintu itu karena tak mungkin aku membawamu ke kamar saat nyonya Herice menyapu di halaman," sahut Gillermo mengikuti langkah sang adik.
Guia menghela napas, ia tak menyalahkan sang kakak. Salahkan rumah ini yang memiliki banyak jendela dan ia bisa melihat rumah tetangga melalui jendela yang berada di setiap anak tangga.
"Iya, aku tahu Gill. Nyonya Herice akan terkejut jika melihatku melayang."
Guia terkekeh sambil merapikan tempat tidurnya dan tak lupa memakan sedikit pie itu sebelum masak untuk makan malam. Perutnya sudah kelaparan setelah masuk ke dunia lain dengan dimensi waktu yang berbeda.
"Oh, ya Gill. Kau tahu gadis yang menempati rumah ini? Namanya Esterlita."
Guia melihat Gillermo yang berada di kasurnya sembari merebahkan dirinya menikmati kasur empuk milik sang adik, "Apa kau masuk ke dunianya?"
"Iya, dia meminta tolong padaku menemukan tubuhnya. Ternyata dia terkubur hidup-hidup di halaman belakang, Gill."
"Kau akan menolongnya?"
Gillermo melihat anggukan kepala Guia, adik kembarnya itu selalu saja membantu 'mereka' yang datang tanpa berpikir panjang atau berdiskusi dengannya. Guia tak boleh berada di dunia lain dalam waktu lama, gadis itu akan jatuh sakit atau pingsan berhari-hari. Untung saja tadi Leandro yang cepat menanganinya.
"Tentu saja. Dia harus kembali ke tempat asalnya, bukan?"
"Lain kali, pergilah bersamaku. Jika bukan dokter itu yang lekas menemukanmu dan menyuntikkan vitamin, kau akan pingsan berhari-hari," ungkit Gillermo menggelengkan kepalanya, terkadang Gill sebal dengan sifat sang adik.
"Kau menghabiskan pie itu karena suka atau kau kelaparan?" tanya Gillermo tertawa puas menyindir Guia yang tanpa sadar sudah menghabiskan pie itu ke mulutnya dengan nikmat.
"Aku lapar," kata Guia berdiri dari kursi lalu pergi meninggalkan Gillermo yang tertawa melihat perilakunya.
Guia memajukan bibirnya, ia tak sadar pie di piring sudah berpindah ke perutnya. Ia benar-benar lapar dan ternyata kue buatan dokter itu tak kalah lezatnya dengan yang ada di toko langganannya.
=Bersambung=