"Mengapa melamun, Guia?"
Izabelle menatap adik iparnya yang sedang melihat jalanan dari jendela kamar inap rumah sakit. Belle--begitu wanita itu dipanggil sedang menjemput Guia bersama salah satu tetangganya. Sementara Jacian menunggu di luar, enggan masuk kembali ke sana mengingat suasana gedung yang tidak nyaman.
"Sejak kapan makhluk itu ada di atas kap mobil Jacian?"
"Heh? Apa maksudmu?"
Terkadang Guia bicara yang tidak dapat dipahami keluarganya sendiri. Gadis itu memang unik sejak kecil jadi tak heran jika kedua kakaknya dibuat kebingungan, pernah suatu ketika di masa kecil tanpa sengaja Guia tertidur di atas pohon tanpa sepengetahuan siapapun. Saat ditanyai, ia hanya menjawab tidak tahu.
"Itu makhluk berjubah hitam sedang duduk di kap mobil Jacian," tunjuk Guia dengan santainya.
Izabelle terpaksa melihat sesosok yang ditunjuk Guia, tetapi wanita cantik itu tak dapat melihat secara jelas seperti adik iparnya. Ia hanya mampu melihat sekumpulan asap mengitari mobil suaminya.
"Apa dia jenis makhluk yang ganas? Terus penampilannya seperti apa?"
"Hanya makhluk usil yang ingin membuat Jacian marah," ucap Guia sembari menutup tirai dan melenggang keluar melewati Izabelle yang mengernyitkan dahi.
Baru saja membuka pintu, Guia dikejutkan dengan kedatangan dokter Leandro yang tersenyum ke arahnya. Namun bukan Leandro yang mengejutkannya, akan tetapi ada sesosok makhluk tak kasat mata berada tepat di belakang pria tersebut. Sedangkan gadis berwajah hancur itu malah menyeringai ke arah Guia.
"Sudah mau bersiap untuk pulang?" Leandro dengan senyum khasnya itu berbicara dengan lembut dan pelan seraya memberi setangkai bunga mawar kuning.
"Kenapa anda memberikan aku bunga kuning?" Guia tentu saja heran, selama ini tak ada yang memberinya bunga.
"Itu melambangkan persahabatan, Guia," sahut Izabelle menghampiri mereka berdua yang masih berdiri di depan pintu.
"Benar yang dikatakan anda nyonya---"
"Saya kakak iparnya, panggil saja Belle." Izabelle mengulum senyumannya sembari menjabat tangan Leandro.
"Saya dokter Leandro," balas Leandro.
"Aku tunggu di bawah, ya."
Izabelle membiarkan Guia berbicara sebentar, menurutnya Guia harus bergaul dengan yang lainnya bukan dengan buku ataupun tanaman herbal.
"Kau sama cantiknya dengan kakakmu, Guia," kata Leandro menoleh pada Guia di sampingnya sambil menunggu lift terbuka.
"Boleh aku memanggilmu Guia?" sambung Leandro yang memang ingin mengajak gadis itu berbicara.
"Terserah anda, Dok," ucap Guia malas. Ini baru pertama kalinya ia berjalan berduaan dengan seorang pria bukan dengan kedua kakaknya.
"Kalau begitu sebagai balas budi karena aku sudah menemukanmu di basemen maka kau harus memanggilku dengan nama saja dan kuharap kita berteman," timpal Leandro melebarkan senyumannya.
"Berarti anda tidak ikhlas menolongku?" tanya Guia dengan mimik wajah sebalnya.
Leandro tertawa dan tak menyangka gadis di sebelahnya itu juteknya luar biasa, tetapi ia menyukai dan ingin berteman dengan Guia.
"Kalau saja aku tidak ke sana untuk mengambil barang di dekat tempat parkir, kau mungkin baru besok ditemukan oleh penjaga. Kau tahu Guia, tempat bekas parkir itu sudah jarang dikunjungi karena rumornya ada makhluk yang mendiami salah satu ruangan," bisik Leandro berwajah serius.
Ingin rasanya Guia tertawa, tetapi ia harus menjaga sopan santunnya. Bagaimana jika pria di sampingnya itu melihat kenyataanya? Yang pasti manusia normal akan ketakutan.
"Nah dokter Leandro, terima kasih sudah mengantarkan aku sampai lobby. Aku harap pasien anda tidak menunggu," sindir Guia yang mulai merasa sedikit nyaman berbicara dengan Leandro.
"Kalau begitu, aku anggap kita sudah berteman," sahut Leandro sembari melambaikan tangannya.
Guia menghela napas sembari berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk rumah sakit. Tak pernah ia berpikir harus bertemu dengan pria berprofesi dokter itu. Sesaat sebelum membuka pintu mobil, ia melihat ke atas mobi ternyata makhluk itu masih ada.
"Pergilah ... kalau tidak, aku tak segan akan membawamu ke palung api," kata Guia geram sembari menatap tajam ke arah makhluk tersebut. Seketika kumpulan asap mengitari Guia lalu menghilang.
****
Kembali menginjakkan kaki ke rumah kelahirannya yaitu rumah di atas bukit membuat Guia tak bisa lepas dari ingatan masa lalunya beberapa tahun ketika Gillermo pergi selamanya hanya untuk melindunginya dari serangan anak buah raja iblis.
"Ini tak seperti dirimu, Guia. Biasanya kau itu kuat setelah bertarung dengan mereka," celetuk Gillermo yang kini sudah duduk di sampingnya.
Setelah berbincang sedikit dengan warga Cazador lainnya, Guia memutuskan menyendiri sebentar di sebuah gua. Tempat kesukaannya ketika datang ke bukit dan ingin menghindar dari hiruk pikuk warga.
"Entahlah, aku juga tidak tahu Gill," sahut Guia sembari memainkan ranting di perapian.
Guia sependapat dengan Gillermo, baru kemarin ia jatuh tak sadarkan diri karena tugasnya kemarin. Selama ini dirinya selalu kuat dan tak pernah pingsan.
"Lalu apa kata dokter? Kau sakit apa?" tanya Gillermo cemas, Gill bahkan memegang kening kembarannya memastikan jika sang adik dalam keadaan sehat.
"Hanya kelelahan saja dan kekurangan cair." Kekeh Guia yang tak ingin Gillermo khawatir.
Gillermo memerhatikan kembarannya dari samping, ada sesuatu yang Gill lihat dari sorot mata Guia. Guia pasti memakai kekuatannya lagi beberapa hari lalu.
"Kau tak melakukannya lagi, bukan?"
"Melakukan apa?" Guia balik bertanya sembari memainkan jemari Gillermo, ia senang memegang jari-jari Gill lalu memijitnya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Guia. Aku tahu kau pasti melakukannya lagi," kata Gillermo mendesak.
"Apa sih maksudmu, Gill? Aku tak melakukan apapun kok," sanggah Guia yang tak ingin Gillermo mengetahuinya seraya bercanda.
"Lucena! Aku tak mau kau bercanda dalam hal ini!"
Jika Gillermo sudah memanggil dengan nama Lucena, maka itu artinya sang kakak sedang marah dan harus segera dijawab. Gillermo menakutkan jika marah, Gill akan mengeluarkan cahaya merah di seluruh tubuhnya.
"Iya ... aku melakukannya lagi. Aku hanya ingin melihat rupa iblis yang sudah membunuh ayah ibu dan juga---"
"Para tetua sudah mengatakan jangan mencari tahu tentang iblis itu, Guia. Tenagamu akan terkuras habis. Apa kau tak paham?"
Gillermo meraih tangan Guia yang hendak pergi, Gill tak ingin Guia mencari tahu tentang ketua iblis tersebut dan akan tiba waktunya dia datang suatu hari nanti.
"Aku paham, Gill. Tapi aku ingin tahu siapa dia," sela Guia dengan wajah cemberut.
"Aku tak mau tahu, Guia. Jika kau melakukannya lagi, aku tak akan bisa menolong jika Jacian menghukummu." Gillermo pergi meninggalkan Guia, Gill benar-benar marah hari ini pada kembarannya.
Guia bergidik mendengar Gillermo tentang hukuman, kakak pertamanya itu jika sedang marah lebih menakutkan dibandingkan Gillermo. Pria yang menjabat sebagai pemimpin itu tak segan memberinya hukuman jika ia melakukan sesuatu hal sesuka hati.
Hukumannya adalah mengurung Guia di tempat yang gelap dan gadis itu tak pernah menyukainya. Karena itulah Guia selalu melakukan dengan pemikiran yang matang.
"Gill, jangan marah. Iya aku tahu salah."
Guia berlari mengejar bayangan Gillermo yang mulai menghilang. Terpaksa Guia berjalan sendiri, toh ia sudah biasa melakukannya beberapa tahun ini.
****
"Sial ... gadis itu lolos lagi!"
Dua makhluk bertubuh besar dengan tongkat di sebelah kanan menggeram kesal, incarannya tak bisa lagi mereka taklukan. Ini sudah kesekian kalinya mereka kalah dan amukan ketua iblis akan siap diterima.
"Gadis itu tak akan bisa dikalahkan dengan mudah, kalian saja yang bodoh!"
Mereka terkejut dari arah belakang ketua iblis datang sembari membawa rantai apinya, dua makhluk tersebut saling memandang satu sama lain. Ah, ketuanya pasti akan menggunakan benda itu ke arah mereka karena kegagalan untuk menangkap gadis Cazador tersebut.
"Lalu bagaimana selanjutnya, Ketua?" tanya salah satu dari mereka dengan ketakutan ketika bunyi rantai kian mendekat.
"Buat gadis itu jatuh cinta dengan cara kirim anak buah kalian ke rumah sakit terus."
"Maksudnya ketua?"
Ketua iblis yang tak pernah memperlihatkan wajahnya itu melemparkan rantai hingga mengenai kedua tubuh makhluk lalu mereka menahan kesakitan, mereka benar-benar tidak tahu rencana sang ketua.
"Lakukan saja apa yang kuperintahkan pada kalian!"
Ketua iblis berlalu dari hadapan dua makhluk yang merintih kesakitan. Dengan menggunakan kekuatannya, dia melayang membentuk asal lalu menghilang di tengah kegelapan hutan.
=Bersambung=