"Kau sudah sadar rupanya?"
Mata Guia terbuka dan ia mendapati dirinya berada di suatu ruangan yang membuatnya tak suka. Di mana lagi jika bukan berada di ruang inap. Pergelangan tangannya terasa nyeri dan ia melihat ada selang infus.
"Maaf, aku harus pergi," kata Guia setelah sadar sepenuhnya.
"Aku tak sengaja menemukanmu pingsan di basemen tempat parkir," sahut seorang pria berjubah dokter sambil memegang tangan Guia yang ingin melepaskan infusnya.
Pingsan? Guia tak lupa akan kejadian tadi di basemen, seingatnya setelah Gill membawa makhluk itu ke langit. Ia segera keluar dengan berjalan tertatih-tatih lalu pandangannya gelap seketika.
"Lepaskan aku, Dokter. Aku baik-baik saja," sela Guia dan ia tak ingin berlama-lama berada di ruangan ini.
"Kau kira kau sehat? Lalu untuk apa kau pingsan di sana?" Dokter tersebut menanyai Guia dengan ketus.
"Kau kekurangan cair, Nona. Jadi istirahat dulu saja di sini sampai tenagamu benar-benar pulih," saran dokter itu seraya memegang kedua bahu Guia lalu membaringkannya ke kasur.
"Tapi aku harus pulang dokter. Keluargaku pasti cemas," kilah Guia padahal sang bibi dan pamannya sedang pergi. Kalau menelepon Jacian itu tak mungkin, kakaknya itu jarang turun ke kota.
"Kakakmu sedang dalam perjalanan ke sini. Jadi jangan khawatir," ucap sang dokter dengan santai.
Guai tentu saja kaget, tak mungkin dokter ini mengenal Jacian. Jika sampai kakaknya datang, ia pasti akan diinterogasi oleh sang kakak dan para tetua nantinya.
"Di tasmu, kami menemukan ponsel dan menghubungi panggilan cepat. Ternyata kakakmu yang mengangkatnya," jawabnya lagi seraya duduk di samping Guia.
Tak berapa lama, Jacian dan salah satu tetua datang. Wajah mereka tampak cemas, karena Guia tak pernah dirawat di rumah sakit. Jacian-lah yang menyembuhkan segala luka di tubuh Guia.
"Terima kasih sudah menghubungi kami, Dokter---" Jacian menyapa dan mengucap rasa syukurnya karena sang adik selamat.
"Dokter Leandro, Tuan Jacian," sahut Leandro dengan menjabat tangannya.
"Maaf adik saya Guia ini memang selalu merepotkan orang di sekitarnya," timpal Jacian merasa gemas melihat Guia yang tak pandai menjaga kesehatannya.
"Tak masalah, Tuan. Untung saja saya kebetulan lewat basemen dan menemukan adik anda pingsan."
"Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan adik saya, Dok," ucap Jacian dengan tulus dan mendapat sambutan hangat Leandro.
"Kalau begitu saya mohon undur diri dulu," pamit Leandro sambil menundukkan kepalanya.
"Karena paman dan bibi belum pulang, besok pagi kau harus pulang bersama kami di bukit. Lihatlah penampilanmu itu seperti orang yang tidak terurus," perintah Jacian dengan tegas.
"Tapi aku tidak mau. Aku lebih nyaman di rumah bibi," tolak Guia yang keras kepala.
"Yang dikatakan kakakmu benar, Putri. Turuti saja perkataannya," sambung salah satu tetua yang ikut menemani Jacian ke kota.
"Paman, jangan panggil Putri. Mereka akan memandang kita aneh," bisik Guia dan tetua itu segera menutup mulutnya. Kadang memanggil Guai harus dengan sebutan Putri, tetapi itu berlaku saat Guia di bukit.
"Kalau kau menolak, aku akan mengurung Gillermo karena kau keras kepala," gertak Jacian yang membuat Guia terdiam dan memanyunkan bibirnya.
Tak ada lagi ancaman sang kakak jika ia tak menurut adalah menggunakan Gillermo dan mengurung kembarannya di sebuah tempat hingga ia sadari kesalahannya. Mau tak mau ia pun mengiyakan perkataan Jacian dan tak ingin peristiwa tiga bulan lalu terulang lagi.
****
Guia tak menyukai malam, bukan karena ada penampakan dari makhluk tak kasat mata melainkan mengingatkan dirinya tentang kematian yang dialami Gillermo. Baginya teringat peristiwa itu lebih menakutkan daripada melihat sosok hantu.
Jacian dan tetua sudah pulang satu jam yang lalu, mereka akan kembali lagi esok untuk menjemputnya. Sementara itu Gillermo masih menyelesaikan tugas mengembalikan makhluk jahat tadi ke tempatnya.
Bosan berada di kamar, Guia memilih keluar sambil membawa selang infusnya berkeliling lorong rumah sakit. Sepi dan sunyi, hanya beberapa penjaga yang terlihat di meja resepsionis. Kebanyakan yang hadir malam ini tentu saja mereka yang tak terlihat.
Guia enggan menatap mereka, karena makhluk tersebut dapat mengenali jika ia bisa melihat wujudnya. Jadi Guia terus melihat ke arah depan dan tak memedulikan panggilan mereka yang ingin berkenalan.
["Kau gadis pembawa seruling, bukan?"]
["Iya gadis ini hanya pura-pura tak melihat kita."]
Guia mendengar mereka, tetapi malas menanggapinya. Ia tak ingin dijadikan tempat curhat oleh mereka karena ia harus mengabulkan permintaan mereka yang terbilang aneh atau kadang cukup ekstrim. Salah satunya membuat orang meninggal, mendengar permintaan itu membuat Guia terperanjat kaget. Sejak saat itu, ia memilih diam dan pura-pura tak melihat.
Guia berjalan agak cepat, ia memutar badan menuju ruang tunggu tamu yang terdapat televisi dan sofa panjang. Untung di keadaan di dalam terlihat sepi dan Guia sedikit bernapas lega, ia bisa duduk di sana sampai mentari terbit.
"Nama yang unik."
Baru saja Guia ingin memejamkan mata, terdengar suara berat dari samping. Ia menolehkan kepala dan melihat dokter Leandro sedang menyalakan siaran sepak bola sambil melihatnya sebentar.
"Siapa yang anda maksud?" Guia tak mengerti arah pembicaraan Leandro yang dinilai aneh olehnya.
"Guia Lucena Guinan. Itu namamu, bukan?"
"Lalu?" Guia kembali bertanya. Ia masih belum paham maksudnya.
"Tidak ada yang pakai nama itu di sini," sahut Leandro dengan senyuman mengarah pada Guia. Guia menjadi kikuk ketika mata pria dewasa di samping menatapnya.
"Itu gabungan dari nama ibuku yang berasal dari Spanyol," ucap Guia bangga akan nama pemberian sang ibu.
"Pantas. Kau terlihat cantik dan kupastikan kau secantik ibumu," puji Leandro.
Dipuji oleh orang yang baru saja ia kenal terasa aneh, ia dan dokter tersebut baru saja bertemu beberapa jam lalu. Kini pria tampan bermata biru itu memujinya.
"Apakah dokter selalu mengatakan itu kepada pasien perempuan?" Guia bertanya seraya menyindir.
Leandro yang sedari tadi melihat Guia, mengalihkan pandangannya ke layar besar televisi tanpa suara lalu mematikannya. Dari layar hitam itu, Guia tahu jika pria tersebut sedang memandangnya ... lagi. Apa ada yang aneh dengan dirinya?
"Ini pertama kalinya aku mengatakan itu pada seorang perempuan dan itu dirimu," jawab Leandro tanpa malu.
Ini gila dan tak menyangka jika Guia dihadapkan pada seseorang yang baru saja dikenalnya lalu pria itu memuji kecantikannya. Tak masalah bagi yang lain, tetapi bagi Guia itu terdengar aneh sekali.
"Oh terima kasih untuk pujiannya, Dok. Namun, saya tidak secantik yang anda katakan."
Setelah mengucapkan rasa terima kasih atas pujian Leandro, Guia memilih pamit menuju kamarnya. Sudah cukup baginya berbincang dengan pria yang masih duduk itu.
"Boleh aku berteman denganmu, Nona Guia?"
Sebelum membuka pintu kaca, Guia menoleh dan hanya memberi anggukan kepala saja. Ia enggan berlama-lama dalam satu ruangan dengan pria bernama Leandro itu.
Sementara bagi Leandro, gadis itu unik dan memiliki sesuatu yang tak biasa. Ia menyukai cara bicara Guia yang ketus dan tak mudah didekati oleh orang lain, sama seperti dirinya dulu.
****
Mimpi yang aneh malam ini, Guia tak menyukainya. Ia berada di sebuah rumah besar dengan anak tangga di depannya dan terkesan suram. Ia melangkah pelan, berjalan menuju tangga lalu berhenti sejenak.
"Siapa gadis itu?"
Di tengah-tengah anak tangga, Guia melihat sesosok gadis yang membelakanginya. Gadis tersebut melayang menuju atas dan ia mengikutinya. Rasa penasaran memenuhi rongga pikirannya.
"Hei ... siapa dirimu?" tanya Guia sembari mengejar gadis tersebut.
Guia terus mengikuti arah gadis itu hingga berbelok ke kanan, ia berhenti ketika mendapati sesuatu yang janggal.
"Bukankah ini ....? Guia berputar, ia melihat seksama seluruh isi rumah yang kosong dan hanya ada sarang laba-laba.
"Ya ini rumahku, Guia. Rumah yang kau tempati bersama bibimu adalah rumahku 237 tahun lalu."
Gadis bergaun putih itu berbalik badan dan berhadapan dengan Guia.
"Esterlita ....!"
Gadis yang pernah ia temui di jendela rumahnya berbeda sekali dengan sekarang. Gadis di depannya tampak cantik dan rambut yang terurai sambil tersenyum manis.
"Mengapa kau mengajakku ke alam mimpi, Esterlita?"
Sebenarnya bisa saja gadis itu datang langsung di hadapannya bukan melalui mimpi.
"Karena aku tak menyukai berbicara denganmu di dunia manusia," ujarnya dingin.
"Memangnya ada apa?"
Baru kali ini ada makhluk tak kasat mata meminta bantuannya melalui alam mimpi, biasanya mereka langsung datang bahkan di saat Guia sibuk kuliah.
"Ada makhluk lain yang tak ingin kita bertemu."
"Siapa?" tanya Guia diliputi rasa penasaran.
Ada sesosok yang memang ditakuti oleh makhluk tak kasat lainnya seperti korban kecelakaan yang menjadi arwah penasaran atau mereka yang sudah meninggal di ratusan abad lalu bahkan iblis pun takut dengan satu sosok ini. Dia yang disebut dengan raja iblis.
Sayangnya hingga kini, Guia tak dapat menemui langsung sang raja iblis tersebut, dia memanfaatkan anak buahnya yang tersebar di seluruh kota untuk menakuti dan memberi hal jahat pada manusia.
"Apa dia itu raja iblis?"
Guia menyadari jika ucapannya benar kala melihat Esterlita tiba-tiba menghilang.
=Bersambung=