Aku menghiraukan teriakan Farel, berjalan buru- buru. “Teh, siapa lelaki tampan itu?” tanya Netta dengan mata membesar. “Cepatlah, kita akan ketinggalan pesawat,” ucapku berlari kecil. “Tidak usah berlari Teh, masih ada waktu,” teriak Netta. 'Aku berlari bukan karena takut ketinggalan pesawat. Aku berlari karena takut Farel mengejarku’ “Cepatlah, nanti kita ditinggal,” ucapku semakin mempercepat langkaku. “Teh! Teh! Buk! Sebuah tangan menarik tanganku dengan kasar, membuat koper yang aku seret terjatuh menimbulkan suara. “Berhenti melarikan diri dariku Ririn Wulandari Taslan ...!" Teriaknya dengan suara keras. Deg-deg! Jantungku nyaris meledak dan melompat dari d**a. ‘Iya ampun apa yang aku lakukan sekarang?’ tanyaku dalam hati. Aku mencoba bersikap tenang seperti yang diajark

