Lima bulan kemudian Aku memberanikan diri, untuk menelepon anak-anakku, karena sebelumnya Aku sengaja menahan diri tidak menelepon, takut Jeny menangis. Namun, pikiranku belakangantidak tenang, apa lagi saat mendengar Ibu tiri mereka. Sebelumnya aku sudah menelepon Dimas ayah Jeny dan Darma. Tetapi ia mengatakan kalau istrinya baik pada anak-anak. Aku tidak percaya, ia pasti membela wanita itu, karena ia istrinya. Aku lebih percaya pada anak-anakku. Aku menarik napas panjang sebelum menelepon ke ponsel Darma, aku sengaja menelepon anak tampan itu, karena ia jarang menangis. Kalau adiknya ditelepon pasti airmata dulu yang tumpah baru suara belakangan. Aku tidak tahan bila melihatnya menangis, aku jauh lebih sakit. Jika melihatnya menangis, maka itu, aku menelepon Damar. Ia menceritaka

