Pukul 1 dinihari, So Eun baru selesai operasi dan ingin pulang. Namun langkahnya terhenti di lorong yang mengarah pada beberapa ruang rawat, salah satunya ruang rawat nomor 1603 yaitu ruang rawat Kim Bum. Kim Bum yang dulu tidak akan bisa tidur di malam hari jika sedang sakit kecuali ada yang menemaninya. Jika tidak ada yang menemaninya maka Kim Bum tidak akan tidur dan akan tidur di siang harinya.
Cklek
Sepelan mungkin So Eun membuka ruang rawat itu agar tidak mengganggu Kim Bum. So Eun berfikir mungkin Kim Bum sedang tidur di temani Min Ho atau.....Geun Young....atau salah satu teman wanitanya yang sering diberitakan di televisi.
"Kim Bum Oppa....." Bisik So Eun memanggil saat tidak menemukan Kim Bum di ranjangnya. Dan saat Ia berbalik ke arah balkon Ia terkejut saat mata tajam itu menatapnya.
"Apa yang Kau lakukan di sini?...." Suara itu berujar pelan tapi terdengar tegas.
"Ak.....Aku ingin melihatmu...." Jawab So Eun gugup dan takut Kim Bum mengusirnya.
"Kenapa....Kau tidak tidur?...." Tanya So Eun lagi masih dengan kegugupannya.
"Tidak ada yang menemani...." Jawab Kim Bum datar sembari melangkah tertatih mendekati So Eun yang berada di sebelah ranjangnya.
"Minho Oppa ?...." So Eun mencoba terus bersuara untuk menghilangkan kegugupannya.
"Anaknya sedang sakit...." Jawaban itu masih datar diikuti mata tajam yang semakin mendekat. Melihat langkah Kim Bum yang tertatih membuat So Eun ingin membantunya namun tubuhnya seolah terpaku karena tatapan tajam itu. Tatapan yang Ia rindukan.
"Geun Young?...."
"Dia bukan siapa-siapa?.....Aku tidak mempercayainya.... Aku tidak mempercayai siapapun...." Kini jarak Kim Bum dan So Eun tersisa satu meter saja. Tangan kiri Kim Bum kini sudah melingkari pinggang So Eun kemudian menarik So Eun mendekat. Secara perlahan Ia mendekatkan wajahnya pada wajah So Eun. Cukup lama Kim Bum menatap setiap inci wajah So Eun yang sering Ia kecup jika gemas dengan setiap tingkah konyolnya jika menghibur Kim Bum. Hingga saat ini hanya So Eun yang bisa membuat moodnya berubah hanya dalam beberapa detik.
Secara perlahan wajah Kim Bum semakin mendekat pada wajah So Eun yang entah sejak kapan sudah memejamkan mata gugup. Satu inchi lagi bibir mereka bertemu saat tiba-tiba ponsel So Eun berbunyi.
"Kyuhyun Oppa Calling"
So Eun membuka mata dan menatap Kim Bum sejenak sebelum menjawab panggilan dari suaminya itu. Kim Bum bergerak menjauhi So Eun menuju ranjangnya saat So Eun menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Nde Oppa....."
"........."
"Oppa sudah di depan?....."
"......."
"Eum.....mianhe Oppa.....sepertinya Aku akan lembur....." So Eun menatap Kim Bum sejenak seolah mempertimbangkan jawaban untuk Kyuhyun.
So Eun sedikit merasa bersalah namun Entah apa yang Kyuhyun ucapkan sehingga berhasil membuat So Eun terkekeh dan membuat Kim Bum kesal dan.....cemburu?....
"Nado bogoshipo.....Saranghae"
"........."
"Sampai jumpa Oppa....."
Klik
Panggilan pun terputus namun So Eun masih sedikit terkekeh.
"Aku akan menemani Oppa...." Lirih So Eun merapikan selimut yang menutupi tubuh Kim Bum.
"Tidak perlu.... "
"Tapi Aku ingin....." So Eun berucap lirih namun tegas.
"Pergilah....suamimu sudah menunggu..." Ketus Kim Bum dengan mata terpejam.
"Oppa yakin?....." Kim Bum terdiam tidak menjawab. Melihat Kim Bum terdiam So Eun pun duduk di kursi sebelah ranjang sembari menggenggam tangan kiri Kim Bum yang tidak di perban. Sesekali Ia mengusap rambut Kim Bum, hal yang Kim Bum sukai jika sakit. So Eun masih sangat hafal dengan semua kebiasaan Kim Bum. Termasuk jika Kim Bum tidak menjawab maka artinya Kim Bum tidak bersungguh-sungguh.
"Terima kasih Oppa karena tidak membenciku...... Maaf karena cintaku tidak cukup kuat untuk menentang keinginan orang tuaku saat itu....." Batin So Eun bersuara.
"Aku ingin membencimu karena Kau tidak memperjuangkan cinta kita....tapi cintaku terlalu besar sehingga dengan mudah menghancurkan kebencian itu..... Walau Kau sudah memilihnya namun Aku tetap menunggumu.....Karena Aku yakin Kau lah takdirku......" Batin Kim Bum seolah menjawab.
~oO0Oo~
Pagi harinya saat Kim Bum terbangun, So Eun sudah tidak ada di sebelahnya membuat perasaannya kembali hampa. Ia tahu itu suatu kesalahan karena Ia mengharapkan isteri pria lain berada di sisinya. Tapi mau bagaimana lagi, cinta itu masih bercokol kuat di hatinya seakan tidak akan pernah pergi.
"Nado bogoshipo....Saranghae....".
Kalimat manis yang So Eun tujukan untuk suaminya itu sungguh lebih menyakitkan baginya daripada luka akibat kecelakaan itu.
" Apa Kau sangat mencintai suami So Eun?...." Batin Kim Bum merintih. Disaat hatinya tidak pernah goyah oleh wanita lain dan keyakinannya jika So Eun adalah takdirnya namun So Eun justru nampak sudah bahagia dengan keluarga kecilnya.
"Namun di balik kebahagiaan itu masih ada celah untuk membuatnya kembali padaku kan?..." Lirih Kim Bum penuh tekad.
Cklek
Pintu terbuka dan masuklah So Eun dan perawat untuk memeriksa Kim Bum.
"Bagaimana keadaan anda Kim Bum-shi?....." Tanya So Eun sembari memeriksa tangan dan kaki Kim Bum.
"Biasa saja....." Datar Kim Bum.
"Oke.....kaki anda sudah membaik....besok sebelum pulang gipsnya sudah bisa dilepas..." Jelas So Eun.
"Anda hanya sendiri Kim Bum-shi?...."
"Hmmm...."
"Baiklah....jika ada yang Anda butuhkan silahkan tekan tombol merah itu....setelah ini perawat pria akan membersihkan tubuh Anda.....Saya per-...." Ucapan So Eun terhenti saat seorang perawat mencolek punggungnya kemudian berbisik.
"Eum....Kim Bum-shi....Perawat-perawat ini mengidolakan Anda...dan mereka ingin berfoto dengan Anda jika tidak mengganggu...." Ujar So Eun dengan suara lembut dilengkapi senyum simpulnya membuat Kim Bum harus kuat menahan gejolak untuk memeluk wanita yang Ia cintai itu.
"Boleh...." ujar Kim Bum berusaha menunjukkan senyumnya ditengah usaha kerasnya bersikap dingin di depan So Eun.
Setelah berfoto dan selesai dengan pemeriksaan Kim Bum, So Eun dan perawat pun bersiap pergi meninggalkan ruang rawat Kim Bum.
Kim Bum menatap punggung So Eun dengan segala pikirannya.
"Kurasa inilah takdirku.... Mengalami kecelakaan dan dipertemukan lagi denganmu.... Ini seperti pertanda bahwa Aku harus memperjuangkanmu kali ini...." Bathin Kim Bum berujar yakin.
~o0O0o~
Ketika malam tiba, So Eun kembali mendatangi kamar Kim Bum untuk menemani Kim Bum. Ia sadar apa yang Ia lakukan mungkin suatu kesalahan karena Ia telah bersuami dan tidak seharusnya Ia menemani Kim Bum ketika malam dimana Kim Bum merupakan mantan kekasihnya. Namun hatinya tidak bisa tenang memikirkan jika Kim Bum sakit namun tanpa orang yang menemani. Lagipula tidak ada salahnya kan menemani teman yang sedang sakit, pikiran So Eun lagi untuk pembelaan atas apa yang Ia lakukan.
Ruangan sudah gelap dan hanya cahaya lampu taman yang masuk lewat jendala lah yang menerangi kamar inap Kim Bum ini. Kim Bum nampak berdiri di depan jendela yang terbuka lebar sehingga angin malam masuk ke ruangan ini.
"Sebaiknya Kau istirahat Kim Bum-shi...ini sudah larut...." Ujar So Eun sudah memegang lengan kiri Kim Bum untuk membantu memapah Kim Bum ke ranjang.
"Panggilanmu padaku seolah menunjukkan jika Aku orang asing....namun sikapmu masih sama seperti saat Kau menjadi kekasihku....." Gumam Kim Bum menatap So Eun membuat So Eun terkesiap melepaskan tangannya yang memegang lengan Kim Bum. Ia merasa tidak siap akan kalimat Kim Bum.
"Wae?.....Kau masih mencintaiku?...." Kim Bum bertanya lirih dengan tangan kiri yang bergerak mengusap kepala So Eun, turun ke wajah So Eun dan berhenti di tengkuk leher So Eun. So Eun masih terdiam terkejut dan gugup atas ucapan dan juga sentuhan Kim Bum.
Perlahan wajah Kim Bum mendekati wajah So Eun. So Eun otomatis memejamkan matanya ketika bibir Kim Bum menyentuh keningnya kemudian kedua matanya, hidungnya dan kedua pipinya.
"Aku merindukan mu....." Bisik Kim Bum sebelum mencium bibir So Eun lembut dan perlahan. Sedangkan So Eun hanya bisa terdiam dengan kedua tangan mengepal bingung akan apa yang harus Ia lakukan. Kim Bum yang sedang sakit dengan tangan kanan di gips tentu akan mudah bagi So Eun mendorongnya namun So Eun masih terdiam meresapi lembutnya bibir Kim Bum yang perlahan melumat bibirnya. Bayangan tentang pernikahannya dengan Kyuhyun tiba-tiba muncul dan membuat So Eun tersadar lalu mendorong Kim Bum hingga ciuman mereka terlepas.
"Ini salah....." Lirih So Eun sebelum berjalan cepat keluar dari ruangan itu dengan mata berkaca-kaca dan penuh kebimbangan.
"Ya....ini salah....namun Aku menikmatinya.... Dan Aku akan berusaha untuk mendapatkannya lagi.... Mungkin Kau sudah mencintai suamimu namun Aku yakin masih ada cinta untukku walau sedikit.... Dan Aku akan membuat cinta itu kembali utuh untukku....." Batin Kim Bum tersenyum sinis.
~o0O0o~
Keesokan harinya saat pukul 9 pagi, So Eun kembali ke ruang rawat Kim Bum untuk pengecekan akhir sebelum Kim Bum pulang dan melepas gips di tangan dan kakinya. Namun yang akan diperiksa justru masih terlelap.
"Dia sulit sekali dibangunkan...." Ucap Minho yang sudah tiba 30 menit yang lalu.
"Pasti Dia baru tertidur setelah matahari terbit...." Ujar So Eun berusaha santai. Ada sedikit perasaan bersalah di hati So Eun mengingat Kim Bum mungkin tidak bisa tidur karena tidak ada yang menemani. Ciuman semalam juga sejujurnya masih terasa di bibirnya dan Ia merasa tidak seharusnya Ia masih menemui Kim Bum setelah kesalahan mereka semalam. Namun bagaimana pun juga Kim Bum adalah pasiennya karena itu Ia berusaha profesional. Walaupun alasan lainnya Ia ingin bertemu Kim Bum karena mungkin setelah ini Ia hanya bisa melihat Kim Bum di layar televisi.
"Dia sudah biasa kurang tidur karena kesibukannnya...jadi Kau tidak perlu khawatir...." Ujar Minho seolah tahu So Eun sedang khawatir dan merasa bersalah atas kondisi Kim Bum. Minho sudah bersahabat lama dengan Kim Bum jadi Ia pun sudah sangat mengenal So Eun sejak So Eun menjadi kekasih Kim Bum.
"Hmm.... Aku pergi dulu Oppa....Aku harus memeriksa pasien yang lain....Oppa bisa segera mengurus administrasi untuk kepulangan Kim Bum Oppa....jadi nanti hanya perlu membuka gips-nya saja.... "
"Baiklah...." So Eun pun tersenyum dan langsung beranjak setelah mendengar jawaban Minho.
~o0O0o~
"Kita harus segera pergi....." Minho berucap kesal.
"Sebentar lagi....." Jawab Kim Bum sembari melihat jam kemudian melihat pintu kamar inapnya menunjukkan Dia menunggu seseorang.
"Kau sudah mengatakan itu sejak satu jam yang lalu...."
"Kau bisa menunggu satu jam yang lalu....jadi kau juga pasti bisa menunggu satu jam lagi...." Santai
Kim Bum. Minho yang mulai geram pun mengambil tas Kim Bum dengan tangan kanannya kemudian menarik kerah bagian belakang Kim Bum dan memaksa Kim Bum pergi.
"Aku memang bisa menunggumu....tapi jadwalmu tidak.....dasar bodoh...."
"Hyung, jangan mempermalukanku....atau Aku akan memecatmu...." Protes Kim Bum namun diabaikan oleh Minho.
"Sebelum Kau memecatku jadi managermu....Aku yang akan memecatmu jadi Artisku...."
"Aku merindukannya....." Lirih Kim Bum ketika tiba di parkiran.
"Wanita yang Kau rindukan itu Isteri Pria lain Bum-ah..... Jangan mencari masalah Bum-ah..... Atau Kau akan kehilangan karier yang sudah susah payah Kau dapat...." Minho berujar serius.
"Dan Dialah alasanku berjuang untuk mencapai semua ini...."
"Hhh..... Tidak bisakah Kau move on?... Kau bisa mendapatkan wanita lain...."
"Aku tidak bisa....karena sejak bertemu dengannya, Aku sudah memantapkan dan meyakinkan hatiku bahwa Dia adalah takdirku...."
"Dan itu tidak mungkin karena Ia sudah menjadi takdir Cho Kyuhyun, suaminya...."
"Itu bukan takdirnya....itu baru pemberhentian sebelum So Eun mencapai takdirnya...yaitu bersamaku...."
"Hhh....Baiklah.... Aku hanya akan mengingatkan....jika sampai skandal ini tersebar maka bukan hanya Kau yang hancur...tapi juga So Eun...."
"Aku tidak akan menyakitinya...."
"Oke....tapi untuk sekarang Kau tetap harus menyelesaikan jadwalmu...." Ucap Minho memaksa Kim Bum masuk mobil. Tanpa mereka sadari seseorang menyeringai mendengar perbincangan artis dan mangernya itu.
~o0O0o~
"Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu.... Setelah kembali, Aku akan menemuimu...." So Eun tersenyum membaca pesan singkat dari Kim Bum. Sejak sebulan yang lalu, tepatnya sejak Kim Bum keluar dari rumah sakit, hampir tiap hari Kim Bum mengirim pesan singkat pada So Eun.
Kim Bum dan So Eun kembali bertukar kabar dan cerita melalui pesan singkat seperti tidak pernah terjadi apapun pada hubungan mereka. Pesan singkat mereka berisi pesan singkat biasa tanpa rayuan, atau kata-kata romantis. Namun hal itu tetap membuat So Eun mengingat masalalunya. Kim Bum memang tidak pernah memberikan pesan singkat yang manis atau romantis walau mereka sudah menjadi sepasang kekasih.
Kim Bum tetap pada gayanya berkirim pesan yaitu kaku dan singkat tanpa tambahan pemanis (ungkapan sayang atau rayuan), layaknya teman. Namun tentu rasanya berbeda bagi So Eun karena rasa yang Ia miliki pun lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya Ia mengetahui jika Kim Bum hanya berkirim pesan padanya. Kim Bum seringkali tidak membalas atau bahkan membaca pesan singkat dari teman lain jika itu tidak penting menurutnya. Tanpa bisa dicegah, kenangan Ia bersama Kim Bum pun kembali terbayang olehnya.