Bab 2. Hidup Ke dua

1068 Kata
Daniel melepas ciumannya, ia meraih tangan Emma dengan lembut, “Dengan kondisi Agnes seperti ini, aku punya alasan untuk tetap bersamamu. Dia akan lumpuh selamanya dan kau akan menjadi pendampingku yang sebenarnya.” Emma tersenyum puas, menatap Daniel penuh kemenangan. “Aku selalu tahu kau milikku, Daniel.” Air mata Agnes mengalir deras. Dadanya sesak, hatinya terkoyak mendengar kata-kata yang begitu kejam keluar dari mulut pria yang dulu bersumpah akan melindungi dan mencintainya selamanya. Namun kini, ia hanya bisa menangis dalam diam, terperangkap dalam tubuh yang tak lagi mampu bersuara ataupun bergerak. *** Tiga bulan berlalu, Agnes masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Sesekali Daniel datang berkunjung, tapi hanya untuk memamerkan kemesraannya bersama dengan Emma. Mereka bermesraan di depan Agnes, berciuman, bergandengan tangan, bahkan saling berbisik mesra, seolah kehadiran Agnes hanya sekadar bayangan tak berarti. Suatu sore, Daniel duduk di sisi ranjang Agnes. Ia menggenggam tangan istrinya yang kaku, seakan mencoba berbicara dengan tulus. “Agnes… aku menyesal sekali kau harus jadi seperti ini. Tapi aku rasa sudah waktunya aku memilih penggantimu, bukan? Bulan depan, aku akan menikahi Emma. Aku yakin orang-orang akan mendukungku karena tiga bulan, bukan waktu yang sebentar untuk bertahan dengan istri yang terbaring lemah sepertimu,” ucapnya dingin meninggalkan luka mendalam di hati Agnes. Mata Agnes melotot menahan amarah. Tapi Daniel tidak memahami arti dari gerakan mata Agnes. “Terimakasih karena sudah memberikan hadiah terbaik. Aku tidak akan pernah melupakan ini sepanjang hidupmu, aku harap ... kau tidak bosan terus berbaring di sini,” ucap Daniel dan bangkit melangkah pergi. Agnes merasakan dadanya sangat sesak. Ia ingin berteriak, ingin memohon, tapi tubuhnya hanya terdiam kaku. Yang bisa keluar hanya air mata yang membasahi pelipisnya. Keesokan harinya, Daniel kembali datang bersama Emma. Namun kali ini suasana berbeda, Emma tampak murka. Ia menatap Daniel dengan wajah memerah karena marah. “Daniel! Bagaimana kau bisa melupakan janjimu pada Agnes? Sampai-sampai kita tidak bisa menikah sekarang!” bentak Emma mengungkapkan amarahnya. “Maaf Emma … aku benar-benar lupa soal kontrak janji itu. Selama Agnes masih hidup, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain. Itu akan membuat semua harta Agnes jatuh pada yayasan dan menghancurkan reputasiku. Sial!” Daniel menghela napas, ia menendang udara, mengacak rambutnya dengan kesal. Kemarahan Emma memuncak. Ia melirik Agnes yang terbaring tak berdaya. Pandangannya dipenuhi kebencian. Dengan langkah cepat, ia meraih bantal di atas sofa, lalu dengan kasar mencabut masker oksigen dari wajah Agnes. “Emma, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Daniel panik. “Kalau kita tidak bisa menikah karena wanita ini masih hidup, aku yang akan mengakhiri hidupnya sekarang!” teriak Emma, lalu menekan bantal itu ke wajah Agnes. Agnes panik. Matanya terbelalak, air matanya jatuh deras. Tubuhnya bergetar lemah dalam siksaan ketakutan. Ia ingin menjerit, namun hanya kesunyian yang keluar. Dadanya terasa sesak, napasnya terhenti, dunia seolah mulai meredup. “Emma, hentikan! Tidak bisa seperti ini!” Daniel berusaha menarik bantal itu. Tangannya berusaha melepaskan genggaman Emma. “Kalau dia mati secara mendadak, polisi pasti menyelidiki! Kita bisa ditangkap, Emma! Kau mau hancurkan semuanya?!” Dengan terpaksa, Emma melepaskan bantal itu. Daniel buru-buru memasang kembali masker oksigen ke wajah Agnes. Oksigen kembali mengalir, dan Agnes menarik napas dengan susah payah, matanya penuh ketakutan namun sekaligus lega karena masih diberi kesempatan hidup. Emma lalu menangis tersedu, ia tidak menyangka akan sesulit ini hanya untuk meraih impiannya. “Kenapa sulit sekali hanya untuk menikah denganmu?” ucapnya lirih. Daniel yang iba langsung memeluk Emma mencoba menenangkannya. “Sampai kapan kita harus menunggu dia mati sendiri? Aku tidak mau terus seperti ini!” “Tenanglah… kita pasti akan menemukan cara lain. Cara yang lebih halus, tanpa meninggalkan jejak,” ucap Daniel dengan wajah datarnya. Pikirannya penuh untuk menemukan cara yang tidak akan menimbulkan masalah. *** Malam hari di ruang VIP tempat Agnes terbaring, suara mesin medis berdengung pelan, seolah menjaga sisa-sisa hidup yang masih melekat pada dirinya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Sosok pria berjaket gelap dengan topi dan masker hitam masuk dengan langkah hati-hati. Ia melangkah mendekati ranjang Agnes dan menatapnya dengan dingin. Pria itu mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan sebuah jarum suntik. Agnes yang melihat itu terkejut, matanya melebar penuh rasa was-was. Nafasnya terengah di balik masker oksigen. Sosok itu menurunkan masker hitam yang menutupi wajahnya. Wajah Daniel muncul dari balik masker tersebut, mengejutkan Agnes. “Agnes… Cairan ini sangat mematikan. Aku susah payah mendapatkannya. Cairan ini sangat sulit dideteksi, kecuali dilakukan otopsi. Tapi sayangnya kematianmu nanti akan tampak begitu alami, seolah memang sudah waktumu.” Agnes ingin berteriak, ingin memohon pertolongan. Matanya berlinang, bergerak liar mencari harapan. Namun tubuhnya tetap kaku, bibirnya terkunci tanpa suara. “Aku tau, aku memang sangat kejam dan jahat. Tapi, ini adalah cara satu-satunya untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Agnes ... aku sangat mencintai Emma tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa hartamu. Jadi, jangan maafkan aku,” ucap Daniel lagi dan mulai menyuntikkan cairan itu dari botol tersebut. Sekali lagi Daniel menatap Agnes yang bergetar dalam ketidakberdayaan. “Selamat tinggal, Agnes. Terima kasih… karena mati untukku.” Dengan tenang, Daniel menyuntikkan cairan itu ke dalam selang infus. Cairan beracun langsung mengalir perlahan menuju tubuh Agnes. Seketika rasa panas dan perih menjalar di seluruh nadinya. Matanya terbelalak, tubuhnya gemetar hebat, namun tak ada suara yang bisa keluar. Rasa sakit itu menyiksa, seolah membakar dari dalam. Air mata Agnes mengalir deras. Dalam hatinya ia menjerit, “Daniel, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku akan mengutukmu, kau tidak akan pernah bahagia selamanya!” Perlahan, mesin medis yang semula berdetak stabil mulai berbunyi tidak teratur. Napas Agnes tersendat-sendat, matanya perlahan redup. Hingga akhirnya garis lurus panjang muncul di layar monitor menandakan akhir dari hidupnya. Namun tiba-tiba suara ramai mengejutkan Agnes. Perlahan matanya Agnes terbuka, dan ia menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di tengah pesta. Tepat sebelum dirinya terjatuh dari atas balkon. “Agnes, kau baik-baik saja?” suara seorang tamu menyapanya. Agnes menoleh, wajahnya pucat. Ia mencoba menenangkan diri, namun jantungnya berdegup kencang. “Ya, tunggu!” Agnes menahan tangan tamu itu dengan tubuh yang mulai bergetar. “Tanggal berapa sekarang?” tanya Agnes linglung. “Hei ada apa denganmu? Bukankah kau menanyakan keberadaan Daniel barusan?” tanya tamu itu lagi. “Apa?” “Daniel ada di balkon, pergilah,” ucap tamu itu dan pergi meninggalkan Agnes dalam kebingungan. Mata Agnes menatap balkon yang tak jauh dari posisinya berdiri. Jantung Agnes berdegup kencang. Apakah ia kembali? Apakah ia mendapatkan kesempatan untuk hidup sekali lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN