Langkah Agnes terasa berat, tubuhnya bergetar pelan. Dari jauh, ia melihat balkon tempat segalanya dulu berakhir tragis. Jantungnya berdegup kencang, seolah hendak meledak dari dadanya.
Setiap detik terasa seperti dejà vu, ia tahu apa yang akan ditemuinya di sana jika menemui Daniel. Ingatan itu seakan berputar di dalam kepalanya. Dadanya terasa sesak dan air matanya hampir pecah membayangkan Daniel dan Emma tenggelam dalam kemesraan terlarang.
Namun begitu kakinya hampir menapaki ambang balkon, bayangan rasa sakit ketika tubuhnya dulu terhempas ke bawah, jeritan tamu-tamu, hingga pengkhianatan Daniel yang menikam hatinya, semuanya kembali menghantam benaknya.
Agnes berhenti. Nafasnya tersengal, air matanya menggenang.
“Tidak. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan terjebak lagi pada permainan mereka. Aku ... tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidupku sekali lagi,” batinnya dalam hati.
Agnes pun berbalik, mencoba untuk mengabaikan apa yang ia tahu di atas balkon itu. Dengan langkah tertahan, Agnes memilih untuk menjauh. Ia tidak akan lagi membiarkan dirinya hancur karena itu.
Namun saat ia melangkah dengan terburu, tanpa sengaja bahunya menyenggol seseorang. Tubuhnya oleng, Agnes hampir terjatuh sampai tangan kokoh dengan refleks cepat menangkapnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu dengan suara lembut.
Agnes tertegun. Ketika ia membuka mata, sosok seorang pria tampan berdiri di hadapannya. Sorot matanya lembut, senyumnya menenangkan, dan jantungnya berdebar karena pelukkan pria itu.
“Maaf,” ucap Agnes gugup. Perlahan ia melepaskan diri dari pelukkan pria itu.
Pria itu menggeleng sambil tersenyum hangat. “Tidak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf karena tidak melihatmu, hingga hampir membuatmu jatuh.”
Pria itu lalu memperkenalkan dirinya, sambil sedikit membungkuk dengan elegan. “Perkenalkan Harry Alexander. Aku baru saja membuka cabang perusahaan di sini. Kudengar Diamond Real Estate adalah milikmu?”
Agnes tersenyum kecil sambil menggeleng perlahan, “Kau salah mendengar, Diamond Real Estate adalah milik suamiku. Aku hanya salah satu pemilik saham di sana,” ucap Agnes.
“Agnes Charlotte bukan? Sepertinya aku salah mendengar tentangmu,” ucap Harry tersenyum malu.
“Memangnya apa yang kau dengar tentangku?” tanya Agnes penasaran. Harry melirik pada pelayan yang membawa minuman, ia mengambil satu dan menawarkan pada Agnes.
“Terimakasih,” ucap Agnes dengan menerimanya. Harry pun mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.
“Seorang wanita yang cantik, elegan dan memiliki senyum yang manis,” jelas Harry membuat Agnes justru berhenti tersenyum.
Harry lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Agnes dan berbisik, “Hapuslah air matamu, kau tak pantas terlihat sedih malam ini,” ucapnya lalu menjauh. Senyum kecil melebar di wajahnya.
“Daniel!” panggil Harry tiba-tiba saat melihat Daniel dan Emma berjalan beriringan dari balkon.
Jantung Agnes berdegup kencang. Ia belum siap melihat Daniel dan Emma setelah penderitaan yang ia rasakan sebelum dirinya mati dengan tragis.
“Oh Harry, kapan kau datang? Seingatku kau masih sibuk di Korea,” sapa Daniel kembali dan melirik ke istrinya yang masih membelakanginya.
“Agnes, kupikir kau ke mana,” panggil Daniel. Agnes merasakan napasnya mulai sesak. Matanya mulai memanas menahan tangis yang hampir pecah.
“Apa kau sudah berkenalan dengan Harry? Dia salah satu pebisnis muda yang sukses. Perumahannya di Korea dan Jepang sukses besar, aku berpikir untuk bekerja sama dengannya,” tanya Daniel lagi tak menyadari tubuh Agnes yang menegang.
Harry yang melihat kejanggalan itu segera menyentuh bahu Agnes. Sentuhan itu membuat Agnes merasa lebih tenang. Terlebih ucapan Harry sebelumnya yang mengingatkannya untuk tidak menangis.
Agnes pun menghela napas panjang lalu berbalik. Ia memasang senyum lebar di wajahnya menatap suaminya dengan kepalsuan.
“Sayang, aku mencari kamu ke mana-mana. Kau dari mana?” tanya Agnes berjalan menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Daniel terdiam sebentar, seolah memikirkan jawaban yang masuk akal.
“Hai, kamu di sini,” tiba-tiba Emma Haisley datang ikut nimbrung. Tapi bukan kehadirannya yang membuat Agnes terkejut. Justru Emma yang merangkul lengan Harry dengan mesra membuat Emma terpaku menatapnya.
Daniel menatap Emma dengan tatapan lembut lalu mencium bibir Emma tanpa ragu, “Aku baru saja datang, apa kau menungguku lama?” tanyanya.
“Sangat, aku sampai bosan karena kamu pergi terlalu lama,” jawab Emma sambil membalas ciuman Harry.
“Mereka ... suami istri?” tanya Agnes mencoba merendahkan suaranya tapi terdengar oleh Harry dan Emma.
Emma berjalan mendekat ke arah Agnes dan mengulurkan tangannya, “Aku Emma Haisley, ini pertemuan pertama kita bukan?” sapa Emma.
Agnes menatap uluran tangan itu dengan perasaan sakit yang luar biasa. Tapi ia mencoba untuk menutupinya dan menyambut uluran tersebut.
“Agnes Charlotte, senang berkenalan denganmu,” balas Agnes dengan suara yang bergetar.
“Aku tunangan Harry, kita akan menikah tahun ini,” ucap Emma lagi dengan menarik tangannya.
Tunangan? Agnes bingung, ia merasa itu hal yang mustahil. Karena tiga bulan setelah dirinya hanya terbaring lumpuh, Daniel dan Emma berencana untuk menikah. Lalu apa yang terjadi dengan pertunangan Emma dan Harry?
Agnes mencoba mengatur napasnya, berusaha menenangkan degup jantung yang tak kunjung reda. Tatapan hangat Harry Alexander masih terbayang jelas di benaknya. Namun semakin ia memandang pria itu, semakin muncul rasa aneh, seperti ada sesuatu yang sudah pernah ia ketahui tentang dirinya.
Kepalanya berdenyut pelan, ingatan samar-samar dari kehidupannya yang tragis perlahan bermunculan. Ia menutup mata, mencoba menelusuri kembali potongan kenangan yang mungkin terlewat. Hingga akhirnya, bayangan sebuah sore di kamar rumah sakitnya muncul begitu jelas.
Saat itu, dua minggu setelah operasi besar yang ia jalani, tubuhnya lumpuh total, hanya ditemani televisi yang menyala di depannya. Hari-harinya sepi, tanpa Daniel yang lebih sering memilih menghabiskan waktu dengan Emma.
Di layar televisi, sebuah berita muncul tentang kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa seorang pria muda. Reporter menyebutkan inisialnya H.A.
Agnes semula tidak terlalu memedulikan. Namun sekarang, potongan itu kembali menghantam kesadarannya. H.A… Harry Alexander.
Matanya melebar. Tangannya yang gemetar menutupi mulutnya. Ia menatap Harry yang berdiri tak jauh darinya, dengan senyum lembut dan tatapan penuh ketulusan.
“Itu berarti… dalam dua minggu ke depan, pria ini akan meninggal dalam kecelakaan,” batin Agnes terkejut.
Dadanya bergetar hebat. Jika benar ia diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, maka bukan hanya hidupnya sendiri yang bisa ia ubah, melainkan juga takdir orang lain.
Namun pertanyaan besar menyelimutinya, apakah ia mampu mencegah kematian Harry… atau haruskah dia hanya fokus pada balas dendam yang ia rasakan?
Agnes kembali menatap Emma yang sedang berbincang dengan Daniel. Sementara Harry terlihat cukup canggung berada di antara keduanya.
“Harry, apa kau menyukai mobil balap?” tanya Agnes tiba-tiba mengejutkan semua orang.
Daniel tertawa mendengar pertanyaan asal Agnes itu. “Sayang, sepertinya kurang pantas kau menanyakan hal yang sangat pribadi seperti ini,” tegur Daniel.
Tapi Agnes tidak memperdulikan ucapannya, Agnes menatap Harry dengan tajam.
“Bagaimana jika kau bergabung dengan turnamen mobil balap minggu ini dengan kami?” tanya Agnes lagi dengan senyum panuh arti. Tak ada satu pun dari mereka yang mengerti maksud dari pertanyaannya itu.