Jika terjadi sesuatu yang fatal, Marisa tidak akan memaafkan dirinya. Ia harus segera memberikan pertolongan pertama. Hanya ada ia di sini sendirian. Berteriak pun mungkin tidak akan didengar orang lain. Perasaan takut kehilangan sungguh memuncak. Marisa terkena serangan panik. Dia mengeluarkan keringat dingin dan tangannya pun gemetaran. "Yank bangun, Sayang.” Marisa melebarkan mata Indra yang terpejam guna melihat pupilnya. Tidak ada gerakan dari pupil Indra. "Yank jangan bercanda, Sayang.” Marisa mendekatkan telinganya ke lubang hidung Indra untuk mendengar suara napas suaminya. Tidak terdengar suara sesak napas. Marisa menempelkan telinganya pada da-da Indra untuk mendengarkan irama jantung suaminya. Ia melonggarkan kerah baju yang Indra pakai, lalu menepuk-nepuk pelan wajah tampan

