Bukan Indra namanya jika cukup hanya satu kali. Tidak cukup setiap hari dan tidak cukup hanya beberapa menit saja. Tubuh kekar itu tetap berada di atas tubuh sang istri untuk mengguncang muara ancala beberapa kali hingga pistol miliknya menembakkan bakal benih buah cinta mereka. "Agghhh … pelan-pelan A’a. Kita mau pulang. Kalau aku susah berjalan gimana?” tanya Marisa. Beruntung selama ini ia sangat kuat melayani suaminya. Energi itu ia dapatkan dari berbagai makanan dan vitamin yang membuat tubuh bugar. Indra terlalu bersemangat hingga tidak memikirkan nasib istri yang berada di bawah kendalinya. Ia hantam Marisa berkali-kali sampai kesakitan. "Aghhh … maaf Sayang. Kamu terlalu nikmat!" erang Indra sambil mengurangi sedikit energinya. "Sampai kapan aku mengangkang? Pegel A’a," rengek

