BAB 5

1601 Kata
Marisa menebar senyum lebar yang manis sembari menatap manja ke arah suaminya. "Lepasin iketannya, Sayang! Tolong beliin baju dong, sama pembalut." Marisa membujuk Indra untuk membantunya. "Maafin A’a dulu?" Sementara itu, Indra masih enggan untuk bergeming. Ia menyilangkan tangan di depan da-da. "Iya iya dimaafin." Wajah Marisa masih terlihat cemberut, tetapi ia tetap menganggukkan kepalanya. "Janji nggak akan ngambek lagi dan pergi tanpa kabar?" Setelah melihat sang istri mengangguk, Indra pun mendekatkan wajahnya sembari memeluk sang istrinya dengan raut sumringah, bahagia. "Iya janji, Sayang." Marisa kembali memberikan senyuman manis, mengecup pipi Indra. Berharap suaminya segera melepaskan ikatan di tangannya. "Awas kalo bohong, ya!" Indra pun mencubit pipi istrinya dengan gemas. "A’a Sayangku, yang baik, ganteng, manis, lucu. Ayo lepasin tangannya, terus tolong beliin baju dan pembalut ya. A’a baik, deh." Marisa kembali memohon pada suaminya. "Iya iya. Yah, puasa dulu dong seminggu.” Indra mengusap kasar rambutnya sambil melepaskan ikatan di tangan Marisa. "A’a, ayo cepet beliin pembalut sama baju ganti buat aku. Please!” Marisa memeluk tubuh suaminya sambil menggelayut manja pada leher Indra dengan satu tangan memainkan baju dan mengusap da-da sang suami. Ia merajuk manja. Sementara sang suami hanya menahan hasratnya dalam hati karena tingkah Marisa yang menggemaskan. Rasanya ia sudah tak tahan lagi ingin menerkam istrinya. "Jam segini beli baju sama pembalut ke mana, ya?” Indra menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Di samping hotel ada swalayan 24 jam. Soal baju kan bisa minta tolong sopir A’a, minta dianterin ke sini.” Marisa memberikan saran. “Aku nggak tega bangunin Pak Umar jam segini, Sayang. Nanti kalau dia nyetir kenapa-kenapa di jalannya gimana?” Indra tidak mau merepotkan sopirnya. “Mau dimaafin enggak, Sayang? Ya udah kalo mau dimaafin beliin pembalut, ya. Minta tolong Pak Umar juga buat ambilin baju. Atau A’a sendiri yang ke rumah buat ambilin baju aku." Marisa mengusap rambut suaminya dengan pelan. Tak lama Indra sudah membawakan baju ganti dan plastik berisi pembalut. Tadi ia menelepon dan menyuruh sopir untuk membawakan baju Marisa dari rumah ke hotel, sembari menunggu sopir datang, Indra membeli pembalut ke supermarket terdekat. Marisa bergegas mandi dan berganti baju agar dirinya bersih dan segar. Ia tersenyum manis, suaminya telah bersedia membantunya di jam tiga dini hari. "Makasih, Sayang.” Marisa mencium pipi dan melingkarkan lengan ke leher suaminya. "Udah manis lagi ya, bikin A’a meleleh.” Indra menyandarkan kepalanya pada pundak sang istri. Marisa mempererat pelukannya dan mengajak suaminya untuk merebahkan tubuh di atas kasur, mengusap rambut Indra perlahan dan beralih mengusap pipi yang mulai ditumbuhi janggut. "Mau aku cukurin besok kumis sama jenggotnya yang mulai tumbuh?” Marisa memperhatikan wilayah mana saja yang ditumbuhi rambut-rambut tipis. Indra menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui keinginan istrinya. "Maaf yah, Sayang, gagal total. Emmm ... ituu ... mmm ... karena aku haid." Marisa merasa malu karena ia tidak melayani Indra di atas ranjang dan suaminya melihat bagian intinya yang mengeluarkan darah haid. Indra tertawa. “Nggak apa-apa, Sayangku. Si adiknya A’a udah tidur lagi, kok. Jangan ngambek lagi ya, Sayang, please! Bisa galau A’a kalo istri A’a yang cantik dan baik ini ngambek." Cup ... cupp ... cuppp! Marisa mencium pipi suaminya berkali-kali. "Mau minta izin suami, nih." "Apa sayang?" Indra menghadap Marisa dan mengusap pipi wanita cantik itu. "Besok aku libur, pengin belanja semua keperluan isi kulkas, nyalon, ke klinik kecantikan, sama ke tempat olahraga buat gym. Boleh nggak, Sayang?” Marisa memasang raut wajah memelas agar Indra mengizinkannya. "Boleh." Indra meraih dompetnya dan mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang. "Ini ATM khusus keperluan istri A’a. ya. Terserah mau dipake apa aja. Ini hasil kerja keras suami kamu, Sayang. Pergunakan dengan bijak. Sandinya tanggal lahir kamu, ya." Marisa meraih kartu ATM yang diberikan suaminya. "Makasih, Sayang." Cup ... Marisa kembali mencium pipi suaminya sebagai tanda terima kasih. "Ada kemauan apa lagi? Tumben cium-cium A’a terus?” Indra memeluk tubuh istrinya dengan erat. "A’a nggak bakal ngelarang semua kegemaran kamu, kok. Asal kamu izin dulu, ngabarin ke A’a dulu, biar A’a nggak khawatir." "Emmh itu, tapi A’a bakalan marah nggak, ya?” Marisa menundukkan kepalanya. Ia takut suaminya akan marah karena permintaannya. "Itu apa, Sayang?" Indra penasaran. "Mmmhh ... maaf, Sayang. Bolehkah jika aku pengin kita merasakan pacaran setelah nikah dulu dan menunda kehamilan?" Mata Marisa semakin tidak berani menatap suaminya. "Ada lagi alasan lain? Kamu tahu kan A’a pengin cepet-cepet punya anak? Keluarga A’a juga sangat mendambakan kehadiran seorang cucu." Indra menahan emosinya dan tidak setuju dengan usulan istrinya yang ia anggap konyol dan egois itu. "Aku belum siap, Sayang. Kita juga langsung menikah, sebelumnya nggak ada proses pacaran. Jadi aku pengin kita nikmati momen berdua dulu, saling mengenal dan memahami satu sama lain." Marisa mengusap da-da bidang suaminya. "Mengenal dan memahami apa lagi? Kan kita udah saling kenal dari kecil.” Indra memegang dagu Marisa agar mereka saling bertatapan mata. "Itu belum cukup, Sayang." Indra yang emosi dengan usulan istrinya, membelakangi Marisa dan tidak menjawab perkataan sang istri. Marisa mencium pundak dan leher suaminya. "Please A’a, Sayang. Tahan cuma setahun aja.” Marisa memberikan usulan agar suaminya sabar menunggu untuk ia siap memberikan keturunan. Indra membalikkan badan kembali menghadap istrinya. "Setengah tahun aja, jangan lebih. Yang paling penting, jangan gunakan kontrasepsi hormonal seperti KB suntik, pil, implan." Indra takut suatu saat nanti mereka menjadi lama untuk memiliki keturunan, karena KB hormonal seperti itu ada efek samping ke tubuh istrinya. Ia tak mau Marisa mengalami berbagai efek samping yang ditimbulkan karena penggunaan kontrasepsi hormonal. "Ya udah, kita gunakan kondom aja, Sayang.” Marisa mencium bibir suaminya singkat, memberikan usulan kontrasepsi non hormonal. "Jangan sampai mama aku tau, nanti mama kecewa kalo kita menunda untuk mempunyai keturunan." Indra yang tahu ibunya sangat mendambakan kehadiran seorang cucu merasa khawatir jika ibunya suatu saat nanti tahu dan kecewa mengetahui fakta jika mereka menunda untuk memiliki keturunan. Marisa menganggukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya di da-da bidang Indra, berharap suaminya tidak membencinya dan kembali tertidur. "Tidur yang nyenyak, Sayang." Indra berusaha tidak kecewa dengan keputusan istrinya. Ia mencium puncak kepala Marisa dan ikut tertidur. ☆☆☆ Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Marisa duduk di perut suaminya, mencium kedua pipi dan kening Indra agar suaminya itu terbangun. "Selamat pagi, Sayang.” Marisa mengusap pipi suaminya. "Ayo bangun, Sayang. A’a kerja, aku libur, kapan kita bisa barengnya, ya?" Marisa bergelayut manja. Indra mengedipkan dan mengusap kedua matanya. "Selamat pagi juga, Sayang. Nanti A’a ambil cuti setelah pengangkatan jabatan untuk kita bulan madu, ya." Ia ingin liburan setelah sibuk mengurus kenaikan jabatan. "Mau bulan madu ke mana, Sayang?" Marisa juga sangat mendambakan momen honeymoon ke luar negeri atau ke luar kota. "Ke manapun kamu mau.” Indra mengusap pipi istrinya yang terlihat senang dengan usulan itu. "Ayo pulang, Sayang,” ajak Marisa. “Siap-siap dulu, kan mau kerja. Kalo aku mau nge-gym, shopping sama ke salon, ya." Marisa tersenyum manis dengan antusias karena mendengar kata 'liburan'. "Inget, ya! Selalu kasih kabar. A’a nggak akan ngelarang kok, asal kamu izin dulu dan ada kabar. Jangan ngilang gitu aja. Suami kamu ini khawatiran, tahu!” Indra mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas. Ia tak mau terlalu mengatur dan mengekang sang istri yang usianya masih terbilang sangat muda dan masih tahap belajar dewasa. "Iya, Sayang, janji!” Marisa mengecup singkat bibir suaminya. "Ayo bangun Cinta, mandi dulu sana!” Marisa menarik kedua lengan Indra agar suaminya cepat bangun dari posisi tidurnya. "Mandiin, Sayang." Indra merengek manja, "Sekali-kali A’a manja, nih.” Indra menarik Marisa kepelukannya. "Apaan biasanya juga manja terus." Cup, cup, cup! Marisa mencium pipi Indra agar suaminya mau untuk bangun. "Tumben sih pagi-pagi ciumin A’a terus, Sayang?" Indra merasa penasaran dengan sikap istrinya. “Nggak boleh, Sayang?” Marisa menaikkan kedua alisnya. "Bersyukur punya suami sebaik dan sepengertian, A’a." Ia senang karena semua keinginannya Indra turuti. "A’a juga bersyukur punya istri cantik, baik, lucu, polos. Kamu selalu bikin A’a gemes. Boro-boro A’a ngerasa bosan. Ini yang ada A’a bawaannya kangeeeen terus!” Indra merasa sangat menyukai sang istri dan berharap hubungan mereka langgeng sampai akhir hayat. "Gombal ...! Ayo mandi, Sayang." Marisa kembali menarik lengan Indra agar suaminya bangun. "Siap cantik!” Indra meregangkan badan dan berusaha bangun dari posisi tidurnya. Pagi ini setelah Marisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ia bergegas pergi ke tempat tujuan yang ingin ia kunjungi. Salon dan klinik kecantikan untuk meningkatkan pesonanya, shopping keperluan dan bahan dapur untuk memanjakan lidah suaminya, serta kegiatan favoritnya ialah tempat gym agar tubuhnya selalu sehat. Marisa berkonsultasi dengan dokter kecantikan untuk meminta rekomendasi perawatan serta krim yang cocok untuknya. Wanita itu akhirnya mendapatkan paket cream lightening untuk mempercantik, menyehatkan, dan membuat glowing wajahnya yang mulus tanpa jerawat. Ia juga melakukan treatment facial sebelum ke salon untuk memangkas rambutnya yang sudah memanjang sampai sejajar dengan pinggangnya. Saat ini ia sudah berada di salon favoritnya. Seperti biasa, ia bercanda gurau dengan karyawan di sana. Karena sudah sering berkunjung, semua karyawan sudah mengenal sosok Marisa. Saat ini, ia ingin rambutnya di-creambath, dipotong dan di-blow. Seorang wanita yang duduk di pojok memperhatikan Marisa dari jauh. Di tangannya sudah ada serbuk obat yang bisa membuat kulit iritasi dan gatal-gatal. Wanita itu memperhatikan petugas yang sedang menyiapkan serangkaian obat creambath untuk dipakaikan ke rambut Marisa. Begitu sang petugas lengah, ia bergegas mendekat dan berusaha melancarkan aksinya untuk mencampurkan obat yang sudah ia bawa. Ketika petugas itu mengambil obat lain yang tertinggal, saat itu pula ia membuka dan menuangkan serbuk obat yang akan membuat kulit kepala gatal dan iritasi. Ia mengaduknya agar serbuk itu menyatu secara merata dengan obat creambath. Ia bersiap melangkahkan kaki untuk pergi karena petugas itu sebentar lagi akan kembali. Langkahnya terhenti ketika seseorang mencengkeram lengannya begitu erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN