Wanita itu bersiap melangkahkan kaki untuk pergi karena petugas salon sebentar lagi akan kembali. Langkahnya terhenti ketika seseorang mencengkeram lengannya begitu erat.
"Sedang apa kamu di sini, Kak? Apa yang sedang kamu pegang itu?" Marisa menatap mata Karin. Ia curiga Karin punya niatan jahat.
"Kenapa kepo? Tidak ada urusannya denganmu!" bantah Karin sembari menggerakkan tangan menyembunyikan plastik obat di balik badannya. Jantungnya berdegup kencang ia takut Marisa merasa curiga.
Marisa berpikir sejenak. Gerak-gerik Karin begitu mencurigakan. Ia melihat mangkuk kecil berisi bahan yang akan digunakan untuk rambutnya. Karin pun tadi seperti menyembunyikan sesuatu di balik badannya. Marisa pun makin curiga.
Marisa menunjuk sebuah mangkuk berisi obat creambath. "Bukannya itu bahan creambath untukku? Kakak mencampurkan apa ke dalam obatnya?" Marisa menggenggam lengan Karin dan berusaha membalikkan tubuh Karin. Ia ingin melihat apa yang Karin sembunyikan di balik tubuhnya.
"Eh jangan nuduh sembarangan, ya!" Karin membentak Marisa, berusaha membela diri. Obat creambath itu sudah dicampurkan dengan obat yang ia bawa yang bisa menyebabkan alergi pada kulit.
Semua orang melirik ke arah mereka berdua. Karin pun berteriak dan membentak Marisa, "Jaga omongan kamu w************n!" Karin menjambak rambut Marisa hingga menjerit kesakitan.
"Aahhhh ...!” Marisa menjerit. "Wanita kurang ajar! Kamu yang murahan!" Marisa balik menjambak rambut Karin. Mereka kembali terlibat perkelahian hingga membuat suasana salon menjadi heboh dan mereka menjadi pusat perhatian.
Mereka yang tengah berkelahi di lantai dua salon tersebut berkelahi sampai ke dekat tangga. Marisa membela diri hingga ia tidak sengaja mendorong Karin sampai terjatuh menggelinding menuruni anak tangga. Tangan Karin terbentur dengan kencang dan banyak terdapat luka-luka.
Semua orang menyangka bahwa Marisa yang salah. Para staf menghubungi ambulans dan akhirnya Karin dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kebetulan rumah sakitnya adalah Rumah Sakit Wijaya. Tak lupa Marisa yang juga terluka ikut dilarikan ke rumah sakit.
Tangan Karin patah dan harus dioperasi. Ia juga harus mendapatkan perawatan selama beberapa hari. Sedangkan Marisa mendapatkan luka-luka kecil yang hanya ditutup dengan plester.
Karena mereka dilarikan ke Rumah Sakit Wijaya, Indra yang mendapatkan kabar dari staf unit gawat darurat berlari tergesa-gesa untuk menemui istrinya. Indra menemukan keberadaan Karin terlebih dahulu. Sebagai sahabat, ia memberikan izin kepada dokter untuk melakukan operasi karena tulang lengan kanan Karin patah. Seorang pegawai salon yang menemani Karin menjelaskan bahwa Karin mengalami kecelakaan karena ulah Marisa yang telah mendorongnya hingga terjatuh dari tangga.
Indra mempercayai keterangan yang dijelaskan oleh seorang pegawai salon itu dan segera mencari keberadaan Marisa.
Marisa yang sedang duduk menenangkan diri melihat suaminya datang. Wajah suaminya terlihat khawatir dan sekaligus juga kecewa.
Indra berkata dan menatap istrinya. "Apa benar kamu yang mendorong tubuh Karin hingga terjatuh dari tangga, Sayang?" Indra berusaha memastikan dan menjelaskan semua yang telah dikatakan oleh pegawai salon. Semua bukti menyatakan bahwa Marisa-lah yang bersalah.
"Benar aku tak sengaja mendorongnya A’a, tapi dia yang memulai perkelahian itu. Semua staf dan pengunjung salon mungkin tidak melihatnya, dan malah menyalahkan aku," ucap Marisa seraya membela diri dari tuduhan itu.
"Kalau kamu yang salah A’a akan kecewa karena Karin adalah sahabat A’a dari kecil. Kamu harus bertanggung jawab dan meminta maaf. Tapi jika kamu bisa membuktikan kebenaran bahwa kamu tidak bersalah, berarti Karin yang salah dan harus meminta maaf ke kamu." Indra terbawa emosi dan tidak memperhatikan keadaan istrinya yang juga sedang terluka.
Indra menjelaskan keadaan Karin yang saat ini harus segera mendapatkan tindakan operasi. Indra meminta izin untuk menemani dan menunggu sampai proses operasi selesai dan menyuruh Marisa segera pulang.
Marisa merasa kesal Indra tidak memperhatikannya. Ia juga terluka. Marisa kembali ke salon kecantikan untuk mengembalikan mood-nya, melanjutkan kegiatan creambath dan memangkas rambutnya, tak lupa barang-barang yang ia bawa juga masih ada di salon itu.
Semua orang memperhatikan Marisa. Mereka beranggapan buruk karena saat ini ia tidak menunggu Karin di rumah sakit dan malah kembali ke salon. Mereka mengecap Marisa tidak punya hati nurani.
Gadis itu tidak memperdulikan orang-orang yang tengah memperhatikan dan berbisik mengobrolkannya. Tidak ada untungnya mengambil pusing perkataan orang-orang. Ia hanya fokus pada tujuannya.
Terlihat seorang staf yang tadi menyiapkan obat creambath untuknya, kembali melayani Marisa, kemudian ia menyuruhnya untuk mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Staf itu menurut dan melakukan semua yang Marisa perintahkan.
***
Marisa menunggu suaminya pulang hingga ia tertidur di ruang tamu sampai larut malam.
Indra yang datang tidak memperdulikan istrinya yang tengah menunggu kedatangannya sampai-sampai tertidur di kursi sofa.
Di rumah sakit, Karin memojokkan Marisa seakan-akan Marisa-lah yang harus disalahkan atas kejadian ini.
"Apa yang sakit, Karin?’ Indra berkata seraya duduk di kursi sebelah kasur rawat Karin, mencemaskan Karin yang baru saja menjalani operasi.
"Tangan gue kenapa, Dra?" lirih Karin yang masih lemah. Wanita itu merasakan sakit pada area tangan kanannya yang sudah dipasangkan pen dan terbalut perban.
"Sudah dipasang pen. Tadi lo terlibat perkelahian dengan istri gue, kan. Sampai-sampai tulang lengan lo patah karena terjatuh dari tangga." Indra mengambil segelas air dan membantu Karin untuk minum.
Indra menenangkan Karin dan berusaha untuk mencari keterangan tentang kejadian tadi siang. "Bisa lo jelaskan semuanya ke gue, kenapa kalian bisa berantem?" Ia khawatir kalau benar istrinya yang melakukan kesalahan.
"Istri lo rese, dia yang cari ribut duluan. Mungkin karena kita ribut waktu itu di kantor lo," ucap Karin seraya meringis kesakitan dan kesal.
"Terus kenapa lo bisa jatuh dari tangga?" Indra penasaran seraya memperhatikan tetesan infus Karin dan membenarkan posisi tangan Karin agar infus tetap berjalan dan tidak macet.
Karin mengusap air mata yang jatuh ke pipinya, sembari memasang wajah sendu. "Istri lo dorong gue sampe gue jatoh dari tangga, Dra." Karin berharap aktingnya berhasil mempengaruhi Indra agar percaya padanya dan membenci istrinya.
"Apa ada bukti kalo istri gue yang salah?" Indra mengusap lengan Karin, memberikan perhatian pada sahabatnya. Tindakan itu membuat Karin makin mendambakan Indra.
"Ada banyak orang kok yang liat istri lo yang menyerang gue duluan." Karin meyakinkan Indra agar percaya pada omongan dan membenci Marisa.
"Maafin istri gue kalo dia salah." Indra menghela napas dan beranjak dari tempat duduknya.
"Gue nggak akan pernah maafin dia! Lo mau ke mana? Please temenin gue di sini. Jangan pergi, Dra." Karin memohon pada Indra. Ia takut sendirian di rumah sakit karena orang tuanya tengah pergi ke luar negeri.
"Ini sudah larut malam, Rin.” Indra membenarkan posisi selimut yang dipakai Karin. "Gue harus segera pulang, kasihan nanti istri gue nunggu gue pulang. Besok kita selesaikan lagi masalah ini, ya." Indra pamit dan bergegas pulang.
Malam telah larut saat Indra sampai di rumah. Ia masuk ke kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan Marisa. Ia berjalan melewati kasur, hendak menuju kamar mandi.
Langkah Indra terhenti ketika ia merasakan tangannya tengah digenggam erat, terasa dingin dan kaku karena dari tadi Marisa tertidur tanpa mengenakan selimut. "Kenapa baru pulang, Sayang?"
"Bukankah kamu sudah tahu, A’a menunggu proses operasi Karin hingga ia sadarkan diri.” Indra melepaskan lengan Marisa yang menggenggam tangannya. "Harusnya kamu yang di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu tadi siang, Sa." Indra kecewa dengan sikap Marisa yang terkesan tidak peduli dengan keadaan Karin.
“Kok A’a jadi dingin gini sih sama aku?” Marisa menatap manik mata suaminya. "Aku tadi kembali ke salon kecantikan untuk mengambil barang bawaan yang ketinggalan, A." Ia berusaha menjelaskan pada suaminya, tapi Indra seakan tidak percaya.
"Besok kita selesaikan lagi masalah ini, aku capek," sanggah Indra sambil melepaskan dasi dengan kasar ke sembarang arah dan melemparkan tasnya ke sofa, lalu ia meninggalkan Marisa kemudian bergegas untuk mandi dan membersihkan diri.
Marisa menyusul langkah Indra, menyiapkan air panas untuk suaminya mandi, serta menyiapkan baju ganti. Tidak ada sepatah kata pun dari bibir mereka berdua untuk membuka pembicaraan.
Indra merasa lelah telah menunggu Karin menggantikan Marisa yang harusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setelah mandi, ia segera memakai baju yang telah disiapkan istrinya dan membaringkan tubuhnya perlahan di atas kasur king size milik mereka berdua.
Hati Marisa merasakan kekecewaan karena suaminya memberi perhatian kepada Karin. Biasanya mereka tidur saling berpelukan, malam ini saling membelakangi dan saling diam.
Keesokan harinya, Marisa sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Indra bergegas menuruni anak tangga dengan pakaian yang rapi. Marisa melirik suaminya penuh tanya. “Kok udah rapi jam segini. Mau ke mana, Sayang?” Marisa memperhatikan Indra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ke rumah sakit. Pasti Karin kesepian karena orang tuanya sedang berada di luar negeri.” Indra merapikan dasi dan mengenakan sepatu.
"Pilih aku atau Karin?" Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Marisa. "Istri sendiri diabaikan, sahabat malah diperhatikan." Marisa berbicara dengan ketus. Berharap suaminya mengerti.
"Jangan tanyakan soal itu. Pikirkan saja cara menyelesaikan masalah yang sudah kamu buat!" bentak Indra kepada istrinya. Baru kali ini Indra membentak Marisa dan membuat istrinya kaget dengan perlakuan yang tidak biasa itu.
"Cih ... wanita ular itu berhasil mendapatkan perhatian dari suamiku," bisik Marisa dalam hati. "Kita lihat siapa yang akan unggul nanti. Penghitungan skor dimulai.” Marisa memandang punggung suaminya yang mulai tidak terlihat lagi sembari merasakan kekecewaan di hatinya karena sudah susah payah menyiapkan sarapan, tapi suaminya tidak mau memakan masakannya.
Di rumah sakit, Karin gelisah. Siasat apa yang harus ia lakukan untuk memberatkan Marisa? Karin memiliki nomor telepon salon kecantikan dan meminta seorang staf yang biasa melayaninya untuk datang memberikan kesaksian palsu. Tentu saja, Karin memberikan uang sogokan agar staf itu membantu menyalahkan Marisa.
Marisa masih merasakan kekecewaan karena suaminya tidak memakan sarapan yang telah ia buat. Ia bergegas untuk bersiap-siap dan menyusul Indra ke rumah sakit.
Kali ini Marisa tidak ingin diantarkan oleh sopir. Ia memilih mengendarai sendiri mobil cadangan milik Indra.
Sepanjang perjalanan, ia berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar dan kebenaran akan segera terungkap. Saatnya memberi pembalasan kepada wanita licik seperti Karin.
Setelah sampai di rumah sakit, rupanya di sebelah Karin sudah berdiri Indra dan seorang perempuan yang memakai seragam salon. Rupanya wanita itulah yang dijadikan seorang saksi oleh Karin.
Marisa melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri. Ini semua akan baik-baik saja, Marisa, ucapnya dalam hati.
Karin seakan menjadi korban dan meminta perhatian dari Indra. Ia terus-menerus memasang wajah sendu.
"Wanita matre, ngapain lo ke sini, hah?" Karin membentak Marisa yang baru saja datang dan memalingkan wajahnya.
"Please, kalian jangan bertengkar lagi." Indra mengusap lengan Karin berusaha membujuk sahabatnya agar merasa tenang.
Marisa mengepalkan tangannya, merasa cemburu melihat suaminya yang tengah menenangkan Karin, sedangkan perlakuan Indra kepadanya malah terasa dingin. Seperti saat Indra dan Marisa dipertemukan dulu saat praktik, dingin dan terkesan cuek.
"Bu tolong jelaskan semuanya, apa yang telah wanita itu perbuat kepada saya." Karin memerintah kan seorang wanita yang telah ia bayar untuk menjelaskan semua kejadian di salon di hadapan Marisa dan Indra.
Marisa kaget, semua keterangan yang ibu itu sampaikan, semuanya menyudutkan posisinya. Ia tersenyum miring dengan pernyataan yang diberikan wanita tersebut.
Kalau saja lengan Karin tidak dipasangkan infus dan perban, pasti Karin akan segera menyerang Marisa. Betul saja, Karin beranjak bangun dari posisi tidurnya dan berusaha untuk menyerang Marisa. "Pergi sana! Aku muak melihat wajahmu!"
"Kalo aku yang salah, pasti saat ini aku tidak akan seemosi, Kakak." Marisa menghela napas menyindir sikap Karin.
"Pilih aku atau sahabat, A’a?" Marisa menatap Indra dari jauh dan membuat pilihan yang sangat rumit.
"Bukti kuat masih menunjukkan kalau kamulah yang salah. Apa kamu punya bukti untuk membalikkan posisi?" Indra mendekati istrinya yang berdiri mematung.
"Ada kok, ini akan balik memberatkan Karin. Mau dilanjutkan ke jalur kepolisian, Kak Karin? Aku yakin kamu akan masuk penjara.” Marisa menyilangkan tangan di depan da-da dan terlihat santai.
Seorang wanita datang menghampiri mereka bertiga yang berhasil membuat Karin mengerutkan dahi serta mengeluarkan keringat dingin.