Jantung Karin berdegup kencang. Keringat keluar dari pori-pori dan membanjiri bagian keningnya. Netranya pun melebar melihat siapa yang datang. Kedua tangannya juga ikut bergetar.
Bukankah wanita itu adalah staf yang melayani Marisa? ucapnya dalam hati.
Marisa menyambut kedatangannya. "Hallo, Mbak. Bisa dijelaskan semua detail yang Mbak tahu tentang kejadian kemarin?” Marisa mempersilahkan orang itu untuk duduk tenang dan menjelaskan semua yang ia ketahui.
"Perkenalkan Pak, saya pegawai salon yang melayani istri Bapak.” Sang pegawai menjabat tangan Indra. Tangannya bergetar menandakan ia takut untuk disalahkan dan berusaha meluruskan fakta dari kejadian kemarin.
"Tenang, Bu!” Indra membalas jabatan tangan wanita tersebut. "Siapa yang salah dalam kejadian kemarin siang, Bu?" Indra menenangkan dan berusaha mengorek informasi yang valid.
"Istri Bapak tidak melakukan kesalahan apapun. Ia hanya tidak sengaja mendorong tubuh nona itu, karena sedang membela diri.” Wanita itu menjelaskan bagaimana ia melihat Marisa yang diserang lebih dulu oleh Karin.
"Kenapa perkelahian itu bisa terjadi?" Indra penasaran hal apa yang membuat mereka berkelahi.
"Nona itu memasukkan dan mencampurkan sebuah obat ke dalam obat creambath yang sudah saya siapkan untuk istri Bapak.” Wanita itu menceritakan bagaimana Marisa memergoki Karin yang akan mencelakainya hingga perkelahian itu pun terjadi.
Karin mencoba membela diri dan menyudutkan perkataan orang tersebut dengan nada menyentaknya, "Hey! Kamu yang melayani wanita itu, ya pantas saja kamu membelanya serta menyampaikan keterangan palsu untuk balik menyudutkan saya." Karin meyakinkan Indra agar mempercayai sanggahannya dan menuduh Marisa telah menyuap orang itu.
"Apa yang di sebelah kamu juga orang yang telah kamu suap, Kak?" sindir Marisa dengan nada sinis, berhasil membuat Karin makin merasa panik.
"Ya jelas tidak! Mana bukti kalau aku menyuapnya? Pergi dari kasurku saja tidak bisa." Karin memalingkan wajahnya, jantungnya berdegup kencang karena tuduhan yang dilayangkan oleh Marisa.
"Kan masih bisa lewat telepon?” Marisa membalas pembelaan Karin.
Orang yang datang membela Marisa menyerahkan sebuah mangkuk berisi obat creambath kepada Indra. "Silahkan dicek Pak, apakah pernyataan dari saya benar adanya." Wanita itu telah mengamankan barang bukti.
Indra pergi ke laboratorium dan mengecek apakah benar jika obat ini telah dicampuri obat untuk membahayakan kulit istrinya.
Sembari menunggu Indra datang, ruangan itu sunyi tidak ada yang berkomentar agar tidak menimbulkan keributan lagi. Selang satu jam Indra kembali dengan membawa selembar kertas berisi hasil tes.
"Benar, obat ini telah dicampurkan. Terdapat kandungan zat yang bisa membuat kulit kepala alergi dan iritasi.” Indra menyerahkan kertas hasil pemeriksaan untuk Karin lihat.
"Dra, bukan gue. Bisa saja orang ini yang sudah menyiapkan bukti palsu." Karin berharap Indra percaya lagi dengan sanggahannya.
"Untung belum sempat dipakaikan ke rambut, coba kalau sudah, pasti akan menimbulkan gatal, sakit, alergi serta kerusakan pada kulit kepala." Indra menjelaskan bertapa lumayan bahayanya obat yang telah dicampurkan pada obat creambath itu.
Marisa tersenyum miring melihat Karin terus membela diri serta terlihat panik. Ini masih permulaan, ada lagi yang akan menyudutkan kamu, wanita ular, ucapnya dalam hati.
"Ini saya membawa bukti lain, Pak.” Wanita itu memberikan sebuah flashdisk yang berisi video rekaman CCTV. Indra mencari sebuah laptop dan menontonnya.
Petugas salon itu memberikan keterangan bahwa setelah Karin dilarikan ke rumah sakit. Ia langsung memeriksa CCTV dan menyimpan hasil rekaman pada flashdisk miliknya. Ia takut Marisa disalahkan padahal dialah yang menjadi korban atas kejadian ini.
Siaal!
Karin lupa untuk meminta orang suruhannya untuk menyogok orang itu juga. Ini menjadi bumerang untuknya.
Marisa bernapas lega. Ia menjelaskan bahwa setelah pulang dari rumah sakit, Marisa kembali ke salon untuk memastikan bahwa barang bukti masih ada, dan meminta orang itu untuk mengamankannya. Ia juga memohon untuk memberikan kesaksian yang jujur dan tidak ikut untuk memojokkannya.
Indra akhirnya percaya dan memeluk tubuh sang istri yang tengah membelakanginya dengan erat. Marisa menolak pelukan suaminya karena merasa kesal telah memihak kepada Karin, si wanita ular yang jahat.
"Lepaskan pelukannya! Aku tidak sudi dipeluk oleh orang yang memihak musuhku!” Marisa melepaskan tangan Indra yang melingkari perutnya, membalikkan badan dan mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Karin kecewa sekaligus senang. Kecewa karena rencana untuk mencelakai dan memisahkan mereka berdua akhirnya gagal. Senang dan tersenyum karena melihat mereka berdua masih bertengkar. Hal itu membuat ia bahagia.
Marisa yang melihat sebuah senyuman dari wajah Karin langsung menyadari jika wanita itu suka melihat ia dan Indra bertengkar. Sikap Marisa berubah 180’. Ia langsung merangkul lengan suaminya agar kembali mendekat. "Sudah tahu kebenarannya, kan?” Marisa melirik suaminya.
"Kamu tetap harus meminta maaf karena tidak sengaja mendorong tubuh Karin hingga terjatuh sampai lengannya menjadi patah, Sayang." Indra membujuk istrinya agar mau mengalah sambil mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Maaf aku tidak sengaja, Kak.” Marisa mendekati Karin dan menjabat tangannya. Marisa mendekatkan kepalanya dengan kepala Karin dan berbisik di telinga wanita itu, "Kecelakaan itu pantas untukmu sebagai karma karena berniat jahat padaku.” Marisa menjauhkan wajahnya dan kembali berdiri.
"Lo nggak minta maaf juga ke istri gue, Karin?" Indra menatap Karin dari jauh yang tengah melongo dengan bisikan perkataan Marisa.
Karin yang tak mau dianggap lebih buruk lagi oleh Indra segera meminta maaf dengan nada tidak ikhlas kepada Marisa.
Kedua staf salon yang telah selesai memberikan keterangan segera pergi setelah Indra dan Marisa mengucapkan terima kasih.
Marisa segera pergi meninggalkan Karin dan Indra dengan raut wajah yang kesal dan juga senang. Kesal karena suaminya terus membela Karin, senang karena berhasil membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Skor menjadi 1-0. Kejadian sebelum menikah yang telah membuang tempat makan dari Marisa untuk Indra itu tidak dihitung.
Indra menyusul langkah istrinya, meraih lengan Marisa dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan A’a yang sempat berpikiran buruk tentang kamu, Sayang."
"Cih ... lepasin! Sudah terlanjur kecewa, sebaiknya untuk beberapa hari ini kita tidak usah saling sapa, A," ucap Marisa dengan sinis kepada suaminya. Ia merasa kecewa karena Indra bersikap dingin kemarin dan membela Karin.
"Maaf Sayang. Pengantin baru masa marahan mulu, sih?" Indra memohon istrinya untuk memaafkan kesalahannya agar kembali bersikap normal.
Sayangnya, wanita seperti Marisa sulit memaafkan kesalahan suaminya. Hal kecil saja bisa menjadi hal besar. Indra yang lebih dewasa harus lebih bersabar dan mengalah. Marisa memang masih labil.
Padahal Marisa kemarin berusaha untuk bersikap baik kepada suaminya, tapi melihat Indra memedulikan Karin dan memberikan perhatian kepada wanita yang jelas-jelas licik dan ingin mencelakainya, ia menjadi tidak ingin melihat wajah suaminya untuk saat ini.
Dua orang staf rumah sakit melihat perlakuan Marisa yang terlihat tidak memedulikan suaminya itu, segera pergi dan menggosipkan Marisa pada karyawan lain.
☆☆☆
Hari ini Marisa mulai bekerja secara shift. Seharusnya, ia memulai pada pukul dua siang, tapi karena malas untuk pulang dan menunggu jam kerjanya. Ia merebahkan tubuhnya di ruang istirahat karyawan UGD.
Marisa tertidur lelap, padahal di luar orang-orang sedang membicarakan dirinya karena perlakuan buruknya tadi ke Indra yang merupakan manajer rumah sakit yang akan naik jabatan menjadi direktur utama. Mereka beranggapan bahwa wanita itu hanya menikahi Indra karena harta dan memanfaatkan kebaikan suaminya.
Seorang perawat menjelaskan dengan detail bagaimana Indra membujuk Marisa tadi dan bagaimana Marisa menolak suaminya. Ditambah keterangan dari Karin yang membicarakan sifat Marisa yang seorang playgirl kepada para perawat di ruang rawatnya. Berita buruk itu sangat mudah menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit. Marisa dicap sebagai wanita matre. Bahkan banyak orang beranggapan bahwa Marisa bekerja di rumah sakit ini pun karena bantuan Indra.
Ada juga yang mengingat tentang Dokter Deni. "Bukankah waktu itu Dokter Deni mendekati Marisa, ya?” Seorang staf mengerutkan dahinya. "Sepertinya Dokter Deni dikeluarkan dari rumah sakit karena mendekati Marisa. Apa Dokter Indra melihat mereka tengah bersama?” Sang petugas menganalisis dikeluarkannya Dokter Deni karena mendekati Marisa.
"Dokter Deni playboy, Marisa playgirl. Sejatinya mereka berdua cocok, sama-sama tidak setia pada pasangannya." Perawat itu menjadikan Marisa dan Dokter Deni sebagai lelucon. "Iya, sepertinya memang benar jika Dokter Deni dikeluarkan karena mendekati Marisa."
Suara tawa keras yang berasal luar membangunkan Marisa yang tengah tertidur pulas. Ia mengedipkan mata dan berusaha untuk menyadarkan dirinya. Melihat jam di tangan kirinya yang menunjukkan masih satu jam lagi untuk ia memulai shift.
"Bukankah wanita itu shift siang hari ini? Kita bebas untuk menggosipkannya," ujar salah satu perawat wanita yang sedang bertugas. Pasien UGD saat itu tengah sepi, mereka bisa tertawa dengan keras.
Marisa keluar dari ruang jaga dan menghampiri sumber suara itu. Ia menaikkan satu alisnya. Merasa jadi bahan omongan rekan-rekan kerjanya, ia pergi melewati mereka menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya.
Melihat orang yang menjadi bahan omongan mereka lewat begitu saja, mereka heran dan berpikiran bahwa sedari tadi ia tidak pulang dan beristirahat di ruang jaga.
“Issshh, berarti dia dengar omongan kita tadi, dong? Gimana nih, minta maaf nggak?” bisik salah satu perawat yang kebingungan. Ia takut Marisa melaporkannya pada Indra dan mereka semua akan mendapatkan surat peringatan atau pemecatan.
“Udah tenang aja. Pasang wajah tanpa dosa. Lagian yang kita omongin itu fakta. Dokter Indra aja yang nggak tahu kelakuan istrinya.” Para perawat itu kembali mengobrolkan Marisa ketika wanita itu tengah di toilet.
Marisa kembali dan mereka diam tanpa kata. Wanita itu tidak memedulikan tingkah senior-seniornya. Bagi Marisa, asal mereka tidak merugikan dan berpengaruh bagi hidupnya, ia abaikan saja. Anggap sebagai anjing yang sedang menggonggong.
Daripada berdiam diri, Marisa memilih memulai pekerjaannya lebih awal. Ia bosan untuk sekadar merebahkan badannya. Tak lama, setelah dihubungi Marisa, Rosa datang dan menghampiri sahabatnya.
“Kenapa udah di rumah sakit sih, Sa?” Rosa heran, sahabatnya bisa berada di rumah sakit lebih awal dan ia juga disuruh shift lebih awal. Untung Rosa sedang tidak tidur, jadi ia bisa segera bersiap dan menghampiri sahabatnya yang terlihat galau.
Marisa menceritakan kejadian Karin yang hampir mencelakainya di salon dan menceritakan bagaimana Indra membela sahabat masa kecil itu.
“Udahlah sabar, jangan ngambek sama suami kamu, kasihan Dokter Indra,” ujar Rosa, merayu sahabatnya.
“Enek gue liat mereka berdua.” Marisa menaikkan sebelah sudut hidungnya.
“Karma di dunia emang nyata, ya. Itu si Karin langsung kena karma abis masukin obat ke ramuan obat creambath lo. Dia langsung jatoh dan tangannya patah.” Rosa tertawa kecil mendengar kejadian yang menimpa Karin. “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah jatoh dari tangga, tulang dipasang pen, lalu keburukannya terungkap. Rasain tu orang apes bener!”
Marisa memukul kepala sahabatnya dengan pelan. “Gue yang kena musibah, kok lo yang sewot lalu ketawa-ketawa, sih?”
“Ya abis hiburan buatlah, bisa jadi sinetron tuh, azab orang dzolim.” Rosa ikut tertawa lepas. Sang sahabat itu memang ahli dalam menghibur dirinya yang sedang sedih.
“Gue pulang ke kos aja nanti ah, males gue kalo ketemu suami gue.” Marisa menghela napas.
“Kalo gue boleh kasih saran, seberat apapun masalah lo, jangan sampe pisah rumah. Masih mending pisah ranjang, kalo bisa sih kagak semuanyalah,” bisik Rosa di samping telinga Marisa sambil merangkul gadis tersebut.
Rosa berusaha memberi masukan dan menghibur sahabatnya. Biar bagaimanapun, sahabatnya masih pengantin baru, sebisa mungkin menghindari pertengkaran. Umur pernikahan mereka masih seumur jagung, jangan sampai goyah.
Dengan bujukan Rosa, Marisa bersedia pulang ke rumahnya sepulang shift. Rosa juga menutup telinga Marisa jika mendengar senior-senior lain tengah membicarakannya dan balik melawan senior-senior jika pembicaraan itu tepat di samping telinganya.
Rosa memang sahabat satu-satunya yang terbaik dan langka, yang selalu ada saat susah maupun senang, memberi masukan dan bantuan ketika Marisa terpuruk.
Indra yang pulang lebih dulu, memarkir mobilnya di garasi. Terlihat sopir yang tengah mencuci motor gede miliknya.
“Lho Pak, mobil satu lagi ke mana?” Indra bingung kenapa mobilnya tidak ada, sedangkan sopirnya ada di rumah.
“Ooo, apa nyonya tidak bilang ke Bapak? Tadi nyonya ke rumah sakit bawa mobil sendiri, nggak mau diantar oleh saya, Pak,” jawab sopir itu seraya membungkuk di hadapan Indra karena takut dimarahi. “Maafkan saya membiarkan nyonya pergi sendiri, Pak.”
“Lantas, istri saya belum pulang, Pak?” Indra menghela napas. Marisa tidak memberi kabar keberadaannya saat ini.
“Seperti yang Bapak lihat, nyonya belum pulang,” jawab sang sopir, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan motor gede.
Indra masuk ke dalam rumah dan berusaha menghubungi istrinya, tetapi ponsel Marisa mati. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Indra berniat memberikan kejutan untuk istrinya. Ia memasak makan malam seraya mengkhawatirkan istrinya yang tak kunjung pulang. Sembari memasak, ia mendapatkan ide untuk menghubungi ruangan UGD, berharap istrinya memang tengah shift.
Pihak UGD mengangkat teleponnya dan memberitahukan bahwa Marisa mulai saat ini sudah mendapatkan jadwal shift siang maupun malam, dan memberitahukan bahwa istrinya itu tengah sibuk melayani pasien.
Indra bernapas lega mendengar bahwa Marisa tengah bekerja. Indra khawatir istrinya kelelahan. Shift siang memang melelahkan karena staf yang bertugas tidak sebanyak shift pagi.
Senior yang mendapatkan telepon dari Indra itu berbisik pada rekannya yang lain, “Mau shift aja nggak izin suami, lho. Nih Dokter Indra telepon barusan.” Para perawat kembali menyebar gosip karena Marisa tidak memberikan kabar pada suaminya. “Dokter Indra kayak yang nggak dianggap suami, ya. Kasihan banget, mending buat jadi suami gue aja. Rela kok gue kalaupun Dokter Indra jadi duda.”
Perawat itu mendapatkan pukulan dari perawat wanita yang lain. “Sebelum lo, mending gue aja.” Mereka membungkam mulut ketika Marisa datang dan duduk mencatat laporan di meja yang sama.
Tak terasa setelah menyibukkan diri untuk melayani pasien, Marisa melupakan kejadian yang menyebalkan dan membuat hatinya sakit. Badannya terasa remuk dan pegal-pegal. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ia melihat ponselnya yang mati di dalam sakunya dan memasukkannya ke dalam tas.
Marisa mengantar Rosa pulang ke indekosnya dan membaringkan badannya bersama Rosa. “Please, lo nggak akan tidur di sini, kan? Ini udah larut malam, sebaiknya lo segera pulang, nanti di jalan takut kenapa-kenapa. Lo kan nggak diantar sopir,” usir Rosa dengan halus agar Marisa tidak tersinggung.
“Iya, iya, gue pulang sekarang, padahal mau tiduran dulu.”
“Yang ada lo pasti kebablasan tidur!” Rosa mendorong sahabatnya agar keluar dari kamar dan menuju mobilnya yang terparkir di luar indekos.
Marisa menghela napas dan menjalankan mobilnya, lalu memberi lambaian tangan tanda selamat tinggal pada sahabatnya.
Mobil terparkir di parkiran rumah mewah milik Indra. Marisa memarkirnya pelan karena ia belum pandai mengendarai mobil.
Ia kemudian masuk dengan membuka pintu rumah pelan-pelan agar Indra tidak mendengar kedatangannya. Indra yang tengah tertidur di sofa menggerakkan kaki dan berhasil menyenggol tubuh istrinya. Marisa yang sedang mengendap-endap itu menjadi kaget.
Marisa segera masuk ke kamar dan mengambil baju ganti. Ia memilih untuk mandi dan tidur di kamar tamu.