BAB 8

2638 Kata
Marisa yang sudah mengambil baju ganti dari kamarnya bergegas memasuki kamar tamu. Terdapat toilet di setiap kamar, jadi ia mandi dan membersihkan diri di situ. Badannya terasa lengket setelah seharian berada di rumah sakit. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan lemas. Ia juga terlambat makan sehingga sakit maagnya kambuh. Alih-alih meminum obat, Marisa membaringkan tubuhnya di atas kasur, mengusap-usap perutnya yang terasa perih itu, berharap sedikit berkurang. Perlahan, ia memejamkan kedua matanya agar rasa sakit yang ia rasakan menghilang. Indra yang terbangun melihat jam di dinding dan melihat mobil yang Marisa gunakan sudah terparkir di halaman rumahnya. Ia mencari istrinya ke kamar, dapur, kamar mandi, kolam renang, dan setiap sudut rumahnya. Ia tak kunjung menemukan keberadaan istrinya. Indra kemudian mencari ke setiap kamar dan akhirnya menemukan Marisa dalam keadaan tertidur pulas di kamar tamu. Tanpa bersuara, ia mendekati istrinya dan ikut membaringkan tubuh di atas kasur, memeluk perut bawah Marisa yang masih terlihat rata. Indra mencium perut itu dan berharap akan ada benih yang tumbuh dalam waktu dekat di situ. Indra menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya, tertidur pulas dengan menjadikan perut Marisa sebagai bantalnya. Indra menitikkan air matanya, menyalahkan dirinya terus menerus. Akibat ia terbawa emosi dan beban pikiran di rumah sakit yang menyita waktu dan menguras pikirannya, ia tidak memperhatikan dan mempercayai istrinya sendiri. Andai saja ia tidak terbawa emosi dan tidak termakan oleh omongan Karin, pasti mereka berdua tidak akan bertengkar. Indra merasa lelah dan berhenti menangis. Pasangan itu pun akhirnya tidur bersama di kamar tamu. Matahari sudah menampakkan cahaya yang menembus tirai yang masih tertutup rapat. Dengan mata yang masih terpejam, Marisa merasakan perutnya terasa berat dan tertindih, pinggulnya susah untuk digerakkan. Ia membuka mata secara perlahan dan melirik apa yang membuatnya keberatan dan sulit untuk bergerak. Ternyata ada suaminya tengah tertidur pulas sambil memeluk perutnya, menjadikan perut Marisa sebagai bantal. Terbersit di kepalanya semua kata-kata Rosa untuk tidak memperpanjang masalah dan memaafkan suaminya. Akhirnya Marisa berdamai dengan hatinya yang masih kecewa kepada Indra dan memaafkannya. Ia mengusap rambut suaminya pelan, berusaha membangunkan Indra dari tidur pulasnya karena ia tidak tahan ingin ke toilet untuk buang air kecil. “Sayang bangun, ini sudah siang.” Marisa mengusap pipi dan mencubit hidung Indra, tapi suaminya itu tidak kunjung bangun. Ia lalu mencoba menutup lubang pernapasan suaminya agar merasa pengap dan segera terbangun. Indra yang lubang hidungnya tengah ditutup oleh tangan Marisa merasa pengap, lalu menyingkirkan lengan istrinya. Ia malah makin mempererat pelukannya. Marisa yang sulit bergerak akhirnya mengalami kesemutan. “Sayang bangun, berat tahu. Aku kesemutan, Sayang,” bisiknya mengeluarkan suara lembut agar Indra bangun dan menuruti permintaannya. “Masih pagi, Sayang. A’a masih pengin tidur.” Indra mengangkat kepalanya dan memandang istrinya yang terlihat cantik meski baru bangun tidur. “Aku pengin ke toilet, A, udah kebelet ini.” Marisa mencubit kedua pipi Indra dengan gemas, menggerakkan kaki dan bersiap untuk bangun dari posisi tidurnya. “Tunggu …!” Indra menggenggam lengan istrinya. “Maafin A’a ya, Sayang. A’a terbawa emosi, stres, banyak beban pikiran. A’a jadi termakan omongan Karin dan tidak mempercayai istri A’a sendiri.” Indra membujuk istrinya untuk memaafkannya. “Iya, udah dimaafin kok Sayang. Maaf juga kalo aku istri yang masih bersifat labil dan egois.” Marisa tersenyum manis dan mengacak rambut Indra. Ulu hatinya terasa sakit, perutnya terasa perih. Tiba-tiba Marisa merasa mual dan ingin muntah. “Maafin A’a juga yang belum bisa menjadi suami yang baik, Sayang.” Hanya kata itu yang bisa Indra ucapkan untuk istrinya. Marisa segera berlari meninggalkan suaminya karena ia sudah tidak kuat menahan mual yang ia rasakan. Tubuhnya terasa lemas dan ia memuntah semua isi perutnya ke kloset sambil berjongkok. Indra yang mendengar istrinya yang tengah muntah-muntah itu segera masuk ke toilet dan memijat leher belakang istrinya agar semua yang membuat perutnya sakit dan mual bisa keluar dengan mudah dan tidak membuat rasa sakit lagi. Tangan kanan ia gunakan untuk memijat leher istrinya, tangan kiri ia gunakan untuk memegang rambut Marisa agar tidak menghalangi wajahnya. Marisa yang sudah memuntahkan semua isi perutnya merasa lemas sekaligus lega. Indra segera mengambil tisu dan membersihkan mulut istrinya. Ia mengusap-usap pundak istrinya pelan. Wanita itu melanjutkan acara buang air kecilnya sambil memegang lengan suaminya agar tidak terjatuh. “Apa yang sakit, Sayang?” tanya Indra pada istrinya yang tengah memegangi perutnya. “Kayaknya maag aku kambuh, Sayang. Kemarin aku telat makan.” Marisa memeluk tubuh Indra agar ia bisa berdiri dan meminta suaminya untuk memapahnya ke kasur. Indra yang mengerti istrinya kesulitan untuk berjalan menggendongnya ala bridal style, membawa tubuh istrinya untuk beristirahat di kamar mereka yang lebih luas dan kasurnya lebih empuk. “Istirahat di sini ya, Sayang. A’a ambil peralatan dulu buat periksa keadaan kamu,” pinta Indra agar istrinya menurut dan beristirahat. Indra mengoleskan minyak kayu putih ke bagian leher dan perut istrinya, lalu ia mengambil stetoskop, spigmomanometer, dan termometer. Dengan cekatan, ia memeriksa tekanan darah istrinya dan mendapatkan hasil 80/60 mmHg. Ia memeriksa suhu tubuh karena Marisa terlihat pucat dan demam. Suhu tubuh Marisa 39’ Celcius. Perut Marisa masih terasa perih. Indra menyampaikan hasil pemeriksaan pada istrinya. Ia mengharuskan Marisa untuk diinfus di rumah dan beristirahat karena tekanan darahnya rendah. Urusan shift di rumah sakit jangan dijadikan beban dan Indra akan menghubungi ruangan UGD agar istrinya diberikan libur untuk beberapa hari supaya bisa cepat pulih. Indra telah menyediakan obat-obatan minum dan injeksi serta peralatan infus lengkap di dalam lemari obat yang ia buat khusus untuk keadaan urgen. Obat-obatan itu pun akhirnya berguna. Ia mengambil Abbocath, alkohol swab, infus set, spuit, micropore, torniquet, cairan ringer laktat dan obat injeksi. Dibujuknya Marisa agar mau untuk diinfus karena tekanan darahnya lemah. “Sayang, dipasang infus ya, biar obatnya masuk lewat vena. Tekanan darah kamu rendah, badan kamu lemas dan maag kamu kambuh. Mau ya, Sayang?” bujuk Indra agar istrinya mau untuk dipasangkan infus dan menerima obat lewat intravena. “Nggak mau, Sayang ….” Marisa menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya takut untuk disuntik. “Kalo kamu nggak mau A’a rawat di rumah, kita ke rumah sakit aja yuk sekarang?” ajak Indra agar istrinya mendapatkan perawatan. Ia khawatir keadaan Marisa semakin memburuk. Marisa tetap menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan usulan Indra. Marisa tidak mau menghebohkan keluarganya dengan berita bahwa ia dirawat di rumah sakit. “Kalo nggak mau ke rumah sakit, kamu harus mau diinfus dan dirawat A’a di rumah, ya.” Indra memohon agar istrinya menurut. Marisa menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. “Pelan ya, Sayang. Aku takut disuntik.” Marisa berusaha untuk rileks agar Indra dengan mudah memasangkan infus untuknya. Obat dan alat yang sudah Indra persiapkan ia simpan di meja dekat kasur istrinya berbaring. “Ini kecil lho jarumnya, Sayang. Kok disuntik jarum A’a yang lebih gede nggak takut?” Indra mengajak istrinya bercanda agar lebih rileks, lalu dengan hati-hati menusukkan infus set pada cairan ringer laktat dan menggantungnya pada tiang ranjang. Ia mengalirkan cairan sampai ke ujung dan memeriksa apakah masih ada gelembung yang tertinggal pada selang. “Apaan, awalnya kan aku takut, tapi A’a maksa.” Marisa memajukan bibirnya karena kesal dengan ejekan yang diucapkan Indra. Indra memasang torniquet, mengusap titik penyuntikan dengan alkohol swab dan mengambil Abbocath. “Takut-takut tapi ujung-ujungnya ketagihan, kan? Tapi A’a sih yang lebih ngerasa ketagihan.” Mendengar ocehan itu Marisa menjadi tertawa dan tanpa sadar Indra telah menusukkan jarum pada urat vena tangan kanan Marisa. Ia mengambil selang infus dan memasangkan pada Abbocath yang sudah tertusuk. Indra memasang micropore agar infus tidak terlepas dari kulit Marisa. Setelah itu, ia mengalirkan dan mengatur tetesan cairan infus. Indra menyuntikkan ondansetron untuk meredakan mual yang istrinya rasakan. Ia mencampurkan obat ranitidine pada cairan infus agar nyeri pada ulu hati Marisa berkurang. “Hebat emang langsung masuk dengan sekali suntik tanpa gagal. Kok nyuntik yang bawah gagal dua kali sih, A?” Marisa balik menggoda suaminya. “Jeh, masih rapet emangnya nggak susah apa! Jaga kesehatan ya, Sayang. Maaf A’a nggak bisa jagain kamu sampai jatuh sakit kayak gini.” Indra mengusap lengan Marisa yang sudah terpasang infus dan menciumnya. “Makasih, Sayang. A’a mau ngantor nggak hari ini?” Marisa menggenggam erat lengan Indra yang tengah menggenggam tangannya. “A’a ambil cuti dulu buat nemenin kamu, Sayang. Jangan terlalu capek bekerja, sampai kamu lupa makan dan jatuh sakit. Jangan kerja lagi ya, di rumah aja.” Indra memohon istrinya untuk tidak bekerja dan fokus mengurus persiapan wisuda serta berdiam diri menjadi ibu rumah tangga. Marisa tidak setuju dengan usulan itu dan memalingkan wajahnya. Ia bersikukuh untuk tetap aktif bekerja sambil mengurus suami dan kuliahnya yang hanya tinggal menunggu wisuda. Ia yakin bisa menghandel semuanya. Saat ini jatuh sakit pun karena ulah Karin yang menghancurkan mood serta merusak pikirannya. “Baiklah jika kamu tidak setuju dengan usulan A’a, jangan lagi jatuh sakit jika kamu masih ingin bebas bekerja. Ingat, jaga kesehatan ya, janji!” Marisa menganggukkan kepalanya. "Iya janji, Sayang.” Marisa merasa antusias karena Indra mengizinkannya untuk tetap bekerja dan berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Indra membuatkan bubur untuk istrinya makan. Untungnya membuat bubur sangat mudah bagi Indra yang sudah terbiasa mandiri. Bubur dengan telur rebus sudah ia siapkan di mangkuk beserta air minum hangat. Indra membawa mangkok dan segelas air dengan nampan. Indra duduk di sebelah Marisa yang tengah tertidur. “Makan dulu yuk, Sayang. A’a masakin yang simpel aja nih, kan A’a nggak sejago kamu dalam hal masak-memasak.” Indra mengusap mata istrinya yang tengah terbangun. Ia berusaha membantu memposisikan Marisa agar setengah duduk. Indra membujuk istrinya agar mau memakan masakan yang sudah ia buat. Ia mengikat rambut istrinya yang tergerai agar tidak menghalangi wajahnya, lalu mencium kening Marisa. Akhirnya Marisa mau makan karena Indra yang menyuapinya. Terlihat kekhawatiran dari raut wajah Indra melihat istrinya lemas serta merasakan sakit pada perut. “Sabar ya, Sayang. Obat sebentar lagi akan bereaksi. Makan yang banyak agar kamu ada energi. Nanti botol infus kedua A’a tambahkan obat vitamin agar badan kamu segar. Habis makan, minum obat penurun panas ya, Sayang.” Indra tak henti membujuk istrinya agar menuruti semua perintahnya. “Jangan-jangan kamu hamil, Sayang.” Indra menggoda istrinya agar tersenyum. “Ngaco si Sayang, orang lagi haid. Kepengin banget ya, punya baby?” Marisa mencubit pinggang Indra sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. “Ya iya. Siapa yang nggak pengin punya keturunan, Sayang?” Indra memasang wajah sendu. “Sabar ya, Sayang. Enam bulan lagi, tunggu aku siap dulu!” Marisa mencium lengan suaminya. Mereka sudah kembali akur. Rasa syukur dalam hati Marisa yang mendapatkan suami tampan, penyabar, baik, mapan dan sangat menyayanginya. Mereka berdua tertawa bersama menikmati waktu hanya berdua. Jarang sekali setelah menikah keduanya menikmati waktu bersama. Dering telepon dari ponsel Indra berbunyi kencang. Sebuah panggilan masuk dari nomor rumah sakit. Indra enggan menjawabnya, tapi Marisa membujuk Indra untuk mengangkat telepon masuk itu. Indra menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel pada telinganya. “Dok ….” Terdengar suara yang tidak asing. Rupanya sekretaris Indra yang menghubungi. “Ada apa menghubungi saya?” Indra mengembuskan napas dan merasa kesal. “Ada tamu, Dok. Salah satu pemegang saham ingin bertemu Dokter untuk membicarakan jadwal pengangkatan jabatan serta sistem untuk kemajuan rumah sakit.” Sekretarisnya memohon Indra agar segera datang ke rumah sakit. Indra melirik istrinya dan mendapat sebuah anggukan dari Marisa. “Baik saya akan ke rumah sakit. Setengah jam lagi saya akan sampai.” Indra menutup panggilan telepon itu dan meminta izin untuk meninggalkan istrinya karena dia sudah ditunggu di rumah sakit. Indra menyuapi Marisa obat penurun suhu tubuh, membereskan piring bekas pakai dan segera menghubungi ibunya untuk menemani dan memantau keadaan Marisa yang tengah sakit. Ia merasa tenang jika Marisa ditemani ibunya di rumah. Meski sudah ada seorang asisten rumah tangga dan seorang sopir pribadi, mereka tidak paham akan infus dan obat-obatan medis. Untungnya Santy yang merupakan seorang bidan bersedia datang dan menemani menantunya yang tengah sakit. Indra merasa kesal, ada saja kendala untuknya menikmati waktu bersama istrinya. Pria itu memberi kecupan di kening istrinya sebelum berangkat ke rumah sakit. "Di temenin Mama dulu ya, Sayang. Maaf, A’a harus ke rumah sakit dulu.” Indra mengusap puncak kepala istrinya. Marisa mencium punggung tangan suaminya. "Jangan lama-lama ya, Sayang." Tak lama kemudian, Santy sampai di rumah kediaman anak semata wayangnya itu. Seorang asisten rumah tangga memberi salam dan mempersilahkan Santy untuk langsung masuk ke dalam rumah. Melihat ibunya yang telah datang, Indra yang tengah berjalan menuju pintu luar segera mencium punggung tangan Santy dan memeluknya erat. “Ma, titip istri Indra ya, takut infusannya macet, dan badannya demam lagi,” pesan Indra pada ibunya sebelum berangkat ke rumah sakit. “Jangan kerjain pekerjaan rumah ya Ma, ada si bibi. Mama fokus jagain istri Indra aja.” Santy mengusap pundak anaknya, melepaskan pelukan dan menjawab, “Iya anak Mama yang bawel, Mama bakal fokus jagain Marisa. Kamu tenang aja, ya.” Santy meyakinkan Indra agar tidak mengkhawatirkan istrinya dan fokus untuk bekerja. “Indra pamit, Ma. Marisa ada di kamar utama, ya.” Indra pergi ke parkiran, lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Santy menghampiri menantunya yang tengah diinfus di kamar. Marisa terlihat pucat dan berusaha bangun untuk memberi salam pada mertuanya. “Eh … Sayang, diam jangan bangun.” Santy segera menghampiri menantunya. “Kamu masih lemas, Sayang. Diam dan istirahat aja.” Santy memeluk tubuh Marisa dan mencium kedua pipi menantu kesayangannya. Marisa mencium punggung tangan mertuanya. “Ma, maafin Marisa. Mama jadi direpotin kayak gini gara-gara Marisa sakit. Kalau minta Mama Rika yang ke sini kasihan, jauh dari Bandung.” Marisa menundukkan kepalanya karena tidak enak merepotkan sang mertua untuk datang ke kediamannya. “Nggak apa-apa, Sayang. Justru Mama senang diundang ke sini. Mama kan sudah anggap kamu sebagai anak Mama sendiri, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan dari Mama, ya.” Santy mengusap pundak Marisa, menempelkan punggung tangannya pada kening menantunya itu untuk memastikan apakah suhu tubuhnya masih tinggi. “Mama cek suhunya dulu ya pake termometer, Sayang.” “Makasih ya Ma. Untungnya Marisa punya mama mertua yang seprofesi.” Marisa bersyukur mempunyai ibu mertua yang baik, sangat menyayanginya dan seprofesi dengannya. Shanty menempelkan termometer ke telinga Marisa. “380 celcius, Sayang. Tadi sebelum diinfus dan minum obat suhu kamu berapa, ya? Sudah minum obat penurun panas, kan?” Santy memeriksa tekanan darah Marisa dan mendapatkan hasil 90/60 mmHg. “Sudah, Ma. Tadi sebelum Mama datang suhunya 390 celsius, Ma. Tensi darah juga tadi 80/60 mmHg. Panasnya berarti sudah turun, tensi juga sudah naik.” Marisa menggenggam lengan ibu mertua yang terlihat mengkhawatirkannya. "Makasih, Ma." “Lho kok pipi kamu kayak yang bengkak sih, Sayang?” Marisa memperhatikan wajah dan tubuh menantunya. “Ada baret-baret juga di bagian leher. Kok bisa dapetin luka kayak gini, sih?” Ibu mertua Marisa itu merasa penasaran dan mengkhawatirkan menantunya. “Emm, itu … enggak kenapa-kenapa Ma. Cuma kecakar, ada salah paham sedikit sama temen, jadi kami berantem.” Marisa tidak ingin menceritakan persoalan Karin. Ia rasa Santy tidak perlu mengetahuinya. “Siapa, Sayang?” Santy ingin mengetahui pelakunya. “Awas kalo ada yang berani macem-macem sama kamu di rumah sakit atau di kampus, bilang ke Mama, ya!” “Ada Ma. bukan orang rumah sakit dan teman kampus. Iya, siap Ma.” Marisa tersenyum memandang mertuanya agar meredakan rasa khawatir Santy. “Lanjut istirahat lagi ya, Sayang. Kalau butuh apa-apa dan kalau mau ke toilet panggil Mama ya, Sayang.” Santy memeriksa tetesan infus Marisa dan membaringkan badan di sofa sambil menonton televisi di kamar Marisa. Ia mengecilkan volume televisi agar tidak mengganggu Marisa beristirahat. Santy yang merasa bosan berdiam diri akhirnya bangun dari posisi duduknya. Kamar pengantin baru itu terlihat berantakan karena Marisa tidak sempat membereskannya selama beberapa hari. Ia tidak mengizinkan asisten rumah tangga untuk masuk dan membersihkan kamarnya. Marisa menjaga privasi dan lebih suka membereskan kamarnya sendiri. Santy mengumpulkan pakaian kotor dan membereskan meja rias Marisa. Ada plastik hitam yang menarik perhatian di atas meja rias menantunya. Ia ingin sekali melihat isinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN