Ibu mertua yang baik ini tidak serta merta bersantai-santai. Selesai membereskan meja rias, ia sedikit penasaran dengan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Marisa melihat ibu mertuanya sedang memperhatikan sebuah plastik hitam dan terlihat ingin membukanya. Ia kemudian berkata, “Ma, itu barang Marisa yang kemarin Marisa beli. Tolong simpan di laci, ya.” Marisa berharap mertuanya tidak kepo dan membuka isi yang ada di dalam plastik hitam itu. "Mama jangan beres-beres, biar nanti Marisa yang bereskan sendiri, nanti Mama malah capek.”
Santy yang tengah kepo ingin membuka isi dari plastik hitam itu akhirnya mengurungkan niatnya. “Iya, Sayang. Mama simpan di laci, ya. Kok kamu bangun, Sayang?”
“Kelamaan tidur jadi bosen Ma. Marisa biasanya aktif dan paling nggak bisa untuk berdiam diri.” Untung saja ia bangun dan melihat mertuanya tengah membuka plastik hitam tersebut. Marisa lupa untuk menyimpan dengan rapi dan menyembunyikannya di tempat yang aman.
Saat sudah tiba waktu makan siang, seorang asisten rumah tangga membawakan makanan untuk Santy dan Marisa. Ibu mertua Marisa menyuapinya bubur dan ayam yang sudah disuir. “Habis ini minum obat lagi ya, dan Mama ganti cairan infus kamu yang habis dengan ringer laktat baru.” Santy menyuapi suap demi suap bubur ke dalam mulut menantunya. “Nanti Mama campurkan vitamin Neurobion biar badan kamu nggak lemes. Udah nggak mual lagi kan, Sayang?”
“Udah nggak mual lagi kok, Ma.” Marisa mengusap lengan mertuanya.
Santy telah mengganti cairan infus yang habis dengan cairan baru yang sudah dicampurkan vitamin. Ia berharap rasa lemas yang dirasakan Marisa berkurang. Santy kembali berjaga dan memantau keadaan dan tetesan infus menantunya.
“Ma, tidur aja di sebelah Marisa. Mama istirahat dulu, nanti malah kecapekan." Marisa menepuk kasur di sebelahnya mengisyaratkan agar mertuanya tidur di sebelahnya.
Santy membaringkan badan di sebelah Marisa. Ini pertama kalinya mereka tidur bersama. Santy akhirnya merasakan bagaimana rasanya mempunyai anak perempuan. "Begini ya rasanya punya anak perempuan, bisa tiduran bareng. Kalo Indra kan laki-laki, mana mau dia tidur bareng Mama."
Marisa tertawa kecil. "Anak perempuan Mama kan aku. O iya Mah, emang beneran A’a Indra nggak punya mantan pacar sama sekali?" Marisa penasaran dengan pernyataan Indra yang mengaku tidak memiliki mantan kekasih.
"Mama kira Indra dulu berpacaran dengan Karin karena mereka sering bersama. Karin yang sering menghubungi atau menghampiri Indra lebih dulu. Rupanya anak Mama yang ganteng hanya bersahabat dengan Karin. Banyak anak gadis yang datang dan menyukai Indra.” Shanty tertawa dan kembali berkata, “Mama kira anak Mama penyuka sesama jenis lho, karena nggak ada yang nyantol satu pun dan Indra jadiin pacar.”
“Kok nggak ada yang bikin A’a tertarik satu orang pun, Ma?” Marisa penasaran.
“Dia itu bucin akut, sukanya sama anak gadis yang itu … itu aja dari kecil. Untung mau curhat dan terbuka ke Mama, jadi Mama juga bantuin jodohin ke orang tuanya. Dan untungnya juga berjodoh. Kalo enggak, kayaknya bisa patah hati sampai berpuluh-puluh tahun tu anak Mama.” Santy mencolek hidung Marisa dan berhasil membuat pipinya merah merona karena yang Santy maksud adalah Marisa.
"Aku, Ma?" Jari telunjuk Marisa menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, Neng Geulis kesayangan Mama.” Santy mencubit pipi menantunya dengan gemas.
Santy berhasil membuat Marisa tersipu malu, wajahnya merah merona. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher mertuanya dan terlelap tidur. Merasakan seperti tidur dengan orangtua kandung sendiri. Santy tidak membedakan kasih sayangnya kepada Indra atau Marisa. Rika juga tidak cemburu dengan kedekatan Santy dan Marisa.
Indra memenuhi janjinya untuk pulang lebih cepat agar istrinya tidak menunggu kedatangannya lebih lama. Melihat istrinya tengah tertidur pulas dalam dekapan ibunya, Indra merasa lega.
Santy mencoba bangun secara perlahan dan berbicara secara pelan kepada anaknya agar tidak mengganggu Marisa yang tengah tertidur. “Mama mau masakin kalian makan malam dulu, lalu pulang, ya. Kasihan papa kamu kalo Mama pulangnya kemaleman.”
Indra membantu ibunya untuk bangun dan membenarkan posisi tidur istrinya, memasangkan selimut untuk menutupi tubuh Marisa.
Marisa yang merasakan getaran dari tubuh mertuanya yang bangun dan merasakan sentuhan tangan suaminya akhirnya membukakan mata perlahan.
Indra mengusap pipi istrinya dan berbisik, “Tidur lagi, Sayang.” Indra mencium kening istrinya penuh rasa sayang.
Marisa meraih lengan Indra yang tengah menghentikan mengusap pipinya. ”Udah kekenyangan tidur, Sayang.”
Santy yang melihat keromantisan pasangan pengantin baru itu segera meninggalkan mereka berdua memberi ruang untuk anak dan menantunya.
Marisa mencium punggung tangan Indra dan mengusapnya. “Capek ya, Sayang?”
“Enggak kok, A’a strong.” Indra melipat tangannya dan menunjuk otot di lengannya yang terbungkus kemeja itu.
“Ehm … ehm … A’a.” Marisa memanggil suaminya dan tersenyum. “Boleh minta tolong nggak?”
“Kenapa, Sayang? Jangan sungkan sama suami sendiri.” Indra mengingatkan Marisa agar jangan malu atau sungkan jika menginginkan sesuatu kepadanya yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“A’a mandi duluan gih, abis itu aku mau minta tolong sesuatu!” Marisa menggigit bibir bawahnya. Ia masih merasa sungkan.
“Minta tolong apa, Sayang? Ingat, jangan sungkan, ya!” Indra mencubit bibi istrinya.
“Mmmmh, pengin mandi, Sayang. Tadi pagi kan nggak mandi, serasa lengket dan pengin keramas juga. Tapi tangan aku kan terpasang infus, jadi susah buat mandi sendiri. Bantuin, ya!” Marisa tersipu malu pada suaminya.
“Oooooo … jadi itu rupanya yang bikin kamu malu. Yuk mandi bareng aja, biar A’a nggak usah ke kamar mandi dua kali.” Indra berusaha menggoda dan menghibur istrinya.
“Ishh, Sayang, masa mandi bareng, sih?” Marisa memajukan bibirnya karena merasa kesal.
“A’a bawa tiang infus nih, tadi ngambil dari klinik Mama.” Indra membawa tiang itu ke kamar mandi. Ia pun kembali menghampiri istrinya dan menggendongnya ala bridal style. Indra menidurkan istrinya di bathtub dan mengaitkan infus ke tiang infus yang sudah ia persiapkan. “Mau berendam air panas dulu nggak?”
“Enggak Sayang, nanti malah kelamaan.” Marisa menolak untuk berendam di bathtub.
“Tunggu dulu ya, A’a mandi duluan sebentar, kok.” Indra membuka pakaian yang ia kenakan satu persatu. Ia menggosok giginya terlebih dahulu di wastafel. Selesai menggosok gigi, Indra membuka celana bahan dan celana dalam yang ia kenakan. Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Melihat tubuh suaminya tidak tertutup sehelai pakaian pun, Marisa menelan salivanya dengan susah payah. Semua bagian tubuh suaminya terlihat begitu mulus dan memiliki otot yang terlihat menawan. Ia seakan menonton film porno dengan pemeran utama yang merupakan seorang pria tepat di depan mata kepalanya sendiri. Marisa tidak ingin memperhatikan suaminya lebih lama dan membuat wajahnya merah merona. Ia memalingkan wajah ke arah lain sambil menunggu suaminya selesai mandi.
Indra membersihkan seluruh tubuhnya dengan sabun dan berusaha terlihat memesona di mata istrinya. Pikiran liarnya ingin membuat sang istri tergoda dengan tubuh atletisnya. Ia tersenyum ketika melihat Marisa memalingkan wajah. Misi membuat istrinya tergoda itu berhasil. “Kok nggak ngeliat ke sini, Sayang?”
“Ngapain lihatin orang mandi, nggak ada kerjaan deh.” Marisa menaikkan sebelah sudut bibirnya.
Indra telah selesai membersihkan diri. Ia melingkarkan handuk pada pinggangnya. “Sekarang giliran kamu, Sayang.”
“Aku mau bersihin dulu pembalut yang bekas aku pakai, A’a.” Marisa meminta tolong suaminya untuk membuka celana yang ia pakai dan mendudukkan dia di kloset duduk untuk membersihkan bagian intinya yang masih mengeluarkan darah haid, serta membersihkan pembalutnya. Setelah selesai membuka pembalut, Indra membantu Marisa untuk membuka baju yang ia kenakan hingga tubuh itu tak lagi terbalut sehelai benang pun.
“Haidnya udah mau selesai, Sayang. Bentar lagi aku bakal dapet jatah dong.” Indra tersenyum manis menggoda istrinya.
“Ish … otak m***m!” Marisa memalingkan wajahnya.
Indra membantu Marisa berdiri dan menggosok gigi. Sesudah membantu istrinya untuk membersihkan gigi, Indra menyalakan shower lalu mengguyur tubuh Marisa dengan air hangat, dan memegang tubuh Marisa dengan lengan kirinya. Lengan kanannya ia gunakan untuk mengoleskan sampo pada rambut dan mengoleskan sabun pada tubuh istrinya. Kedua lengan Marisa menempel ke tembok agar tubuhnya tidak oleng.
Indra yang tengah membersihkan rambut istrinya menatap mata cokelat Marisa. Ia sangat ingin mencium istrinya itu. Ia beralih menggosok tubuh istrinya dengan sabun. Indra menelan salivanya dengan susah payah melihat dan memperhatikan tubuh istrinya polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Cahaya dari lampu toiletnya yang terang memperlihatkan betapa indah tubuh istrinya. Biasanya mereka berdua tidak mengenakan pakaian dalam kegelapan kamar. Kali ini Indra bisa melihat dengan jelas karena lampu toilet yang begitu terang.
Terlihat memar-memar pada bagian-bagian tubuh Marisa. “Itu memar dan baret-baret pasti ulah Karin ya, Sayang?”
“Iya, sahabat A’a bikin tubuh mulus aku jadi memar dan baret-baret. Tadi Mama Santy sempet tanya, tapi aku nggak bilang ini ulah Karin. Jangan omongin tentang Karin ke Mama ya A’a, takut Mama jadi heboh dan khawatir.”
“Iya, Sayang.” Indra membilas rambut dan tubuh istrinya. “Kalau kamu tidak sedang datang bulan, A’a makan kamu di sini biarpun lagi sakit, Sayang.” Indra mencium pundak istrinya.
“Ish … m***m lagi kan pikirannya. Mau dicuci pake Bayclin biar bersih dan jernih, ya?” Marisa membalikkan badan dan menatap sinis suaminya.
“Normal dong otak A’a, Sayang. Siapa yang nggak tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya ketika sedang bertelanjang hayooooo? Tuh normal kan, ju-ni-or A’a jadi bangun.” Jari Indra menunjuk ke arah ju-ni-ornya yang terbangun dan tertutup oleh handuk. “Nggak kasihan ke ju-ni-or A’a, udah lama lho dia nggak dipergunakan.” Indra tersenyum menggoda istrinya.
“Huft … iya, tunggu selesai haid nanti aku kasih ja—”
Kalimat Marisa terputus. Indra membungkam bibir istrinya dengan melumat bibir hangat itu secara lembut dan perlahan. Sudah lama mereka tidak berciuman.
Pria itu melingkarkan lengannya di leher Marisa, menekan kepala belakang wanita itu agar Marisa makin mendekatkan wajahnya. Kemudian ciuman mereka pun makin dalam dengan guyuran air dari shower yang menambahkan momen romantis dan panas.
Jika saja istrinya tidak sedang datang bulan, pasti Indra akan melakukannya di toilet. Indra melepaskan handuk yang menutup bagian intinya itu. Mendekatkannya dengan perut Marisa. Wanita itu kaget dan membuka matanya yang tengah tertutup menikmati sensasi dari ciuman yang Indra berikan. Ia melirik bagian inti Indra yang sudah berdiri dan mengeras. Ia takut jika Indra memaksanya masuk ketika sedang datang bulan. Marisa mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjauh.
Indra yang merasakan dorongan dari istrinya itu meraih lengan kiri istrinya yang tidak terpasang infus untuk memegang bagian intinya. “Kalau dengan tangan apa kamu kuat?”
Marisa menggelengkan kepalanya. Indra mengembuskan napas dan menciumi ceruk leher istrinya, makin turun sampai ke bagian da-da Marisa. Indra melingkarkan lengannya pada pinggang Marisa dan menempelkan bibirnya pada bagian tengah inti gundukan kembar milik Marisa, melumat dan mengisapnya secara perlahan dan berhasil membuat istrinya mengeluarkan suara erangan tanda nikmat. Jika saja ia tidak sedang haid dan tidak sedang sakit, pasti Marisa membalas perlakuan suaminya dengan memberikan Indra kenikmatan.
Marisa yang sudah merasa dirinya harus segera mengeringkan tubuh dan rambutnya meraih kepala Indra dan memandang suaminya. “Sudah cukup ya, Sayang. Aku takut masuk angin.” Marisa memohon suaminya untuk menyudahi acara mandi itu.
Indra melingkarkan handuk kering di pinggangnya, lalu duduk di sudut bathtub, mengeringkan tubuh Marisa dengan handuk, dan mendudukkan istrinya di paha kirinya. Ia membalut tubuh istrinya dengan handuk besar dan membalut rambut istrinya dengan handuk kecil dan mengeringkannya dengan hair dryer. Sambil menutup seluruh kepala dan mata istrinya dengan handuk. Indra mencium singkat bibir istrinya.
Marisa menaikkan handuk itu agar tidak menutup matanya, lalu mencubit hidung suaminya yang mancung. “Selain m***m A’a punya sifat lain, ya!” Ia tersenyum menggoda suaminya.
Indra mengerutkan dahi dan merasa penasaran. “Apa emang?”
“Bucin alias b***k cinta, kata Mama Santy!” Marisa mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
“Itu sih udah kenyataan, Sayang. Emang baru nyadar sekarang?” Indra mengecup singkat bibir istrinya dan berbisik di samping telinga Marisa. “Selalu kamu yang pertama dan yang terakhir.” Kata-kata itu berhasil membuat pipi Marisa merah merona. Indra tersenyum melihat wajah istrinya yang tengah memerah. Ia kemudian menempelkan punggung tangannya untuk merasakan apakah istrinya masih demam atau tidak. “Udah enakan belum badannya, Sayang? Cepet sehat dong biar A’a cepet dapet jatah!”
“Ishh … dasar mesummmm!” Marisa mencubit pipi Indra sekencang-kencangnya hingga pria itu menjerit kesakitan. “Pipinya tembem ya sekarang, A’a keliatan agak gemukan juga.” Marisa memperhatikan postur tubuh suaminya.
“Cocok berarti susunya, Sayang.” Indra Ttersenyum menyusutkan matanya agar terlihat imut.
“Maksudnya?” Marisa menempelkan kedua lengannya pada pipi Indra.
“Iya, s**u kamunya cocok.” Indra memandang ke arah da-da Marisa.
“Iiisshhh … mesuuumm lagi, kan?” Marisa menyilangkan tangan menutupi da-danya.
“Istri A’a lucu banget, sih. Cepet sembuh, Sayang, nanti kita jalan-jalan kalo kamu udah sehat, ya!” Indra memeluk tubuh Marisa yang terbalut handuk.
Santy yang tidak menemukan keberadaan anaknya di dalam kamar mendekat ke arah toilet dan menempelkan telinganya ke pintu toilet tersebut. Ia tersenyum mendengar anaknya merajuk meminta jatah dari istrinya. Karena rasa ingin tahu Santy yang teramat sangat, selagi Marisa dan anaknya tengah mandi, Santy membuka laci meja rias Marisa. Ia ingin melihat benda apa yang terbungkus plastik hitam yang gagal ia buka tadi siang. Ia curiga karena tadi Marisa terlihat kaget dan panik. Santy membuka, lalu melihat isi yang ada dalam plastik itu. Setelah mengetahui apa yang ada dalam plastik hitam itu, Santy kaget sekaligus emosi. Saat ini, ia ingin marah pada anak dan menantunya.
Mendengar anaknya seperti sudah menyelesaikan acara mandi, Santy bergegas keluar dari kamar mereka dan memasukkan plastik hitam itu ke dalam tasnya. Ia bergegas kembali ke dapur untuk memasak.
Indra yang sudah menyelesaikan acara mandi bersama istrinya menggendong Marisa ke walk in closet untuk memilih baju mana yang akan ia dan istrinya kenakan. Sambil menunggu Indra memilihkan baju tidur untuk ia kenakan, Marisa duduk di bangku yang menghadap meja berisi aksesoris dan perhiasan pemberian Santy yang belum pernah ia kenakan sama sekali karena Marisa tidak pernah pergi ke acara penting atau pergi berjalan-jalan dengan dandanan mewah. Ia memperhatikan suaminya yang tengah memilih baju untuknya. Walk in closet itu didesain sesuai keinginan Marisa yang menyukai ruangan ala princes Disney.
“Sayang, baju tidurnya yang sopan, malu ada mama. Jangan yang seksi, ya.” Marisa mengingatkan Indra agar memilih baju yang sopan, mengingat ada ibunya yang datang untuk menemani mereka.
“Iya Sayang, baju tidur yang ada kancingnya lengan pendek dan celananya panjang, ya. Biar gampang nanti pake bajunya. Kan kamu tangannya masih diinfus.” Indra mencari baju tidur Marisa yang memiliki lengan pendek dan memiliki kancing bagian depan.
Indra memasangkan baju Marisa perlahan agar tangan yang terpasang infus itu tidak tertarik atau tergeser hingga membuat istrinya kesakitan. Pria itu begitu sangat telaten dan sangat menyayangi istrinya.
“Mama pulangnya dijemput papa dong, Sayang?” Marisa mengancingkan baju tidurnya.
“Iya, Sayang. Kayaknya papa bakalan ke sini buat jemput mama.” Indra membantu merapikan baju yang Marisa kenakan.
"Aku dirawat kayak gini sama A’a, kayak anak kecil aja.” Marisa mencium kening suaminya yang tengah duduk menghadapnya.
"Ini bentuk kasih sayang A’a dan perhatian A’a ke istri A’a yang lagi sakit.” Indra mencium kening dan mengacak-ngacak poni Marisa.
Marisa meminta jika papa mertua datang, ia ingin ikut makan di ruang makan dan memberi salam pada papa mertuanya itu.
Santy yang menahan emosinya agar tidak meluap-luap mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri di dapur. Saat ini, ia sangat ingin mengomeli Indra dan Marisa. Mengingat kondisi menantunya yang tengah sakit, Santy berencana hanya ingin mengomeli anaknya selesai makan. Santy menghubungi suaminya via telepon agar segera datang ke kediaman anaknya untuk ikut memarahi Indra sekaligus menjemputnya pulang.
Santy meraih benda pipih di sakunya, mengusap layar ponsel pintar itu untuk menghubungi suaminya. Tak lama kemudian, Gusti menjawab panggilan telepon dari Santy.
“Pa, pokoknya buruan ke sini! Mama nggak mau tahu, pokoknya Papa harus sampai di sini nggak pake lama!” Santy langsung berbicara dan menyuruh suaminya untuk segera datang tanpa menyapa atau memberikan suaminya untuk berbicara lebih dulu.
“Mama ada apa sih, bikin kaget deh. Lama-lama Papa bisa jantungan, Ma.” Gusti yang mengangkat telepon dari istrinya dan tidak diberi kesempatan untuk memberi salam atau menyapa istrinya terlebih dahulu itu menjadi kaget.
“Papa pokoknya dengerin nih Mama mau ngomong ya, pasang telinganya baik-baik. Pokoknya Papa harus nurut dan laksanakan setiap arahan dan penjelasan dari Mama.” Santy mendesak suaminya untuk mendengarkan penjelasan serta menuruti perintahnya.
“Baik, kesayangan Papa. Sok jelasin mau ngomong apa? Papa udah pasang telinga, nih.” Gusti memasang telinga mendengarkan penjelasan serta permintaan istrinya yang tidak bisa diganggu gugat itu. Sangat panjang dan lebar, sepanjang Sungai Nil dan selebar Samudra Hindia.
Mulut Santy sampai kering setelah menjelaskan panjang kali lebar maksudnya menelepon, menjelaskan dan meminta semua yang ia inginkan segera terlaksana, tidak pakai lama. Ia tidak suka pria lelet, jadi Gusti selalu gerak cepat agar istrinya itu tidak mengamuk dan tidak menjadi masalah yang berakibat panjang. Meski umurnya tidak muda lagi, jika suatu perintah datang dari istrinya, pasti ia lakukan dengan gerak cepat. Terbukti dengan proses pertunangan dan pernikahan Marisa dan Indra, yang melakukan dan merencanakan semuanya serba cepat ialah Santy.
Wanita paruh baya itu mematikan ponselnya dan menata makanan yang sudah ia masak di meja makan. Tak lupa semangkuk bubur spesial untuk menantunya yang tengah sakit. Pikirannya masih memikirkan siasat untuk memarahi anaknya dan membuatnya menurut kepadanya. Lebih baik ia membawa plastik hitam beserta isinya itu pulang agar Marisa tidak menggunakannya.
Benar saja, tidak lama mobil Gusti sudah terparkir di halaman rumah mewah milik anak semata wayangnya itu. Santy menghampiri suaminya, membawakan tas Gusti dan mencium punggung tangannya.
“Pa, gimana, udah kan? Awas ya kalo belum.” Santy memandang suaminya dengan tatapan sinis.
“Tenang, Sayang. Semua yang Mama perintahkan pokoknya udah beres,” bisik Gusti di sebelah telinga istrinya sambil merangkul pundak sang istri.
“Suami terbaik emang Papa ini.” Santy mencubit dagu suaminya.
“Ehm …!” Indra yang tengah menggendong istrinya turun dari lantai dua itu mengagetkan kedua orang tuanya yang sedang bermesraan.
Gusti segera membantu anaknya untuk memegangi tiang infus. Sejenak, ia melirik menantunya dan merasa cemas.
“Sudah diperiksa ulang lagi belum, Dra?” Gusti memegang punggung menantunya agar tidak terjatuh ketika sedang digendong Indra.
“Belum, Pa.” Indra memosisikan Marisa duduk di bangku yang ada di ruang makan.
“Ma, tolong ambilin alat-alat buat periksa Marisa, ya!” pinta Gusti pada istrinya sambil memosisikan tiang infus dan mengatur tetesannya.
Santy segera ke kamar Marisa dan mengambil semua alat dan obat. Ia turun dari lantai dua membawakan alat-alat untuk memeriksa keadaan Marisa dan obat yang harus segera diminum oleh menantunya itu.
“Sebelum makan minum obat maagnya dulu ya, Sayang,” Indra membujuk istrinya untuk meminum obat maag terlebih dahulu sebelum makan sambil membuka kemasan obat itu.
Marisa menganggukkan kepala tanda setuju dengan permintaan suaminya. Ia lalu menjabat tangan papa mertuanya dan menyapa pria paruh baya itu.
“Pa, maaf direpotin, ya.” Marisa memandang mertuanya dengan perasaan tidak enak karena merasa merepotkan Gusti.
“Nggak pa-pa, Sayang. Jangan sungkan, kan kamu udah jadi bagian dari keluarga Wijaya.” Gusti mengusap pundak menantunya.
Indra mengambil segelas air untuk Marisa meminum obatnya.
Gusti memperhatikan anaknya yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya. “Dra, anak Papa gendutan ya sekarang!” Gusti tersenyum bangga melihat anaknya terlihat lebih segar dengan tubuh yang terlihat lebih berisi.
“Iya dong Pa, susunya cocok berarti!” Indra menaikkan sebelah alisnya sambil melirik papanya itu.
“Uhuk … uhuk …!” Marisa yang tengah menelan obatnya itu tersedak mendengar ucapan suaminya.
Indra langsung menepuk-nepuk pundak istrinya agar tidak lagi tersedak.
“Beneran, Dra. Anak Papa udah punya istri sekarang makin seger buger gitu. Minum s**u apa emang?” Gusti menaikkan kedua alisnya dan menatap Indra.
“Yang lebih berkualitas dari s**u-s**u bermereklah, Pa. Paham kan, Pa?” Indra menaikkan alisnya beberapa kali mengajak papanya untuk bercanda.
Marisa mencubit paha suaminya karena merasa pembicaraan itu ditujukan untuk menggodanya. Ia merasa sangat kesal pada Indra. Marisa memalingkan wajahnya dan meminum banyak sekali air mineral. Cubitan itu berhasil membuat Indra meringis kesakitan.
“Oh iya Papa paham. Papa juga gitu dulu, udah punya istri langsung gemuk. s**u yang mama kamu kasih berkualitas emang.” Gusti menyikut lengan putra yang duduk di sebelahnya.
“Uhuk … uhuk …!” Kali ini yang tersedak adalah Santy. Ia memandang suaminya dengan mata sinis, agar menyudahi acara bercanda yang terdengar kelewatan itu.
Indra dan Gusti saling tertawa, sementara kedua wanita yang mereka jadikan bahan lelucon itu merasa kesal dan ingin murka seperti gunung merapi yang hendak meletus mengeluarkan lava yang panas dan bisa menghancurkan apa saja yang dilaluinya.
Indra kemudian memeriksa tekanan darah istrinya dan mendapatkan hasil 100/70 mmHg. Ia menempelkan termometer pada telinga Marisa untuk mengecek suhu tubuh istrinya dan mendapatkan hasil 37’ celcius. Indra menempelkan punggung tangannya pada kening dan pipi Marisa untuk memastikan panas itu benar-benar turun.
“Sudah membaik, Sayang.” Indra mengembuskan napas lega karena kondisi istrinya sudah membaik.
“Kalo gitu nanti kalo infus yang ini habis dilepas aja ya, Sayang. Pegel tanganku diinfus kayak gini.” Marisa memohon suaminya untuk tidak menambah lagi botol infus ketiga karena ia sudah merasa bosan dan pegal berlama-lama terpasang infus di tangannya.
Gusti yang melihat istrinya emosi dan merajuk manja, meminta istrinya untuk menyuapinya makan. Gusti rasa mereka tidak perlu menyembunyikan kemesraan mereka di hadapan pasangan pengantin baru itu. Toh mereka juga merasakannya sendiri.
Indra menyuapi Marisa suap demi suap bubur ke dalam mulut istrinya itu. Santy sempat menawarkan diri untuk menyuapi Marisa, tapi ia dilarang oleh suaminya yang ingin disuapi makanan oleh istrinya itu. Sementara Marisa tadinya tidak enak terlihat disuapi Indra di hadapan kedua orang tuanya. Ia sempat menolak, tapi Indra melarangnya karena tangan kanan Marisa terpasang infus. Akan sulit untuknya memegang sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulut.
Gusti sesekali menggoda istrinya agar emosi Santy mereda dan tidak jadi untuk mengomeli anak dan menantunya itu. “Dra, Papa sudah atur jadwal untuk kita menyelenggarakan pengangkatan jabatan kamu dan merayakan pensiunnya Papa.”
“Kapan, Pa?” Indra melirik sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
“Setelah kamu kembali dari Spanyol, Dra.” Gusti berbicara sambil mengunyah makanan yang telah Santy masukan ke dalam mulutnya.
“Hah? Tugas apa ke Spanyol? Jauh amat, Pa.” Indra kaget kenapa ayahnya menugaskannya jauh sekali, padahal biasanya paling jauh ke negara tetangga, yakni Malaysia.
“Tugas negara, Dra.” Gusti mengangkat kedua alisnya sambil mengunyah bakwan buatan istrinya.
“Tugas macam apa itu, Pa?” Indra makin merasa bingung.
“Isshhh Indra!” Gusti memukul kepala putranya dengan kedua jarinya. “Ya honeymoon lah, Dra. Masa iya Papa nyuruh kamu tugas kerja sampe jauh-jauh ke Spanyol, sih? Ya kali kalo beneran tugas kerja macam apa itu? Jangan terlalu serius napa, Dra!” Gusti mengingatkan Indra untuk tidak terlalu serius mendengarkan guyonannya.
“Kok menda-dak, Pa?” Indra bingung karena setelah menikah ayahnya menyibukkan dan membebankan semua tugas padanya karena ingin segera pensiun. Kali ini ayahnya menda-dak menjadwalkan acara honeymoon untuknya.
“Kasihan kamu sibuk mulu. Kalian butuh refreshing dan jalan-jalan. Lagian pengantin baru belum ngerasain honeymoon.” Gusti merasa bersalah karena ia membebankan setiap tugas rumah sakit pada anaknya karena ia sudah merasa tidak sanggup lagi dan ingin pensiun. “Papa abis nikah langsung berangkat ke Jepang lho Dra, buat honeymoon sama mama kamu dulu. Maaf Papa malah menyibukkan dan membebankan semua pekerjaan di rumah sakit ke kamu yang baru berstatus suami dan pengantin baru. Anggap ini hadiah pernikahan dari Papa, ya!” Gusti mengusap pundak anak semata wayangnya itu.
“Tugas kamu bikin anak aja dulu di sana, segera kasih Papa cucu ya untuk penerus usaha keluarga kita,” bisik Gusti di sebelah telinga Indra sambil menarik telinga anaknya itu.
Indra mengangguk tanda menyetujui rencana ayahnya. Lalu ia kembali menyuapi istrinya sampai makanan yang ada di mangkuk itu habis.
"Neng Geulis nanti abis makan istirahat dulu di kamar, ya. Mama Santy sama Papa Gusti ada yang mau dibicarakan sama A’a Indra." Santy mengusap pundak menantunya dan terlihat tenang agar tidak mencurigakan.
Mereka sudah selesai makan bersama. Indra menggendong Marisa untuk beristirahat di kamar dan Gusti membantu memegang botol infus dan membawakan tiang infusnya. Mereka meninggalkan Marisa sendirian di kamarnya.