BAB 04

1246 Kata
BAB 04 Darius Ramadhan Effendi sudah mendengar laporan tentang putranya dihari pertamanya bekerja di perusahaan. Tentu saja Darius mendapatkan informasi seperti ini dari orang-orang kepercayaannya seperti Niko. “Sayang, Elvano sama sekali gak berubah. Masa hari pertama kerja udah bikin masalah aja. Hari ini ada meeting penting dengan klien sekaligus makan siang bersama untuk mendiskusikan proyek. Tapi Elvano malah pergi makan siang ke luar bersama salah satu pacarnya. Aku benar-benar sakit kepala, dia satu-satunya harapan dan penerus keluarga kita. Tapi sikapnya sama sekali tidak bisa diandalkan, aku benar-benar cemas.” Darius memberitahu kekesalan dan kekhawatiran tentang Elvano pada istrinya. “Astaga, Pah. Terus bagaimana meetingnya?” tanya Maria “Untung saja ada Afifah dan Pak Niko yang bisa menghandlenya. Belum cukup sampai di situ saja, Elvano juga kembali ke kantornya telat. Dia baru kembali setelah satu jam setengah waktu istirahat kantor selesai. Mau jadi apa perusahaan kita nantinya, kalau pemimpinnya seperti Elvano.” Darius memijat kepalanya yang sakit karena memikirkan kelakuan putranya. “Pah, kita harus lebih tegas lagi pada Elvano. Mama punya ide, sini mama bisikin.” Maria membisikan sebuah ide pada suaminya. “Boleh, Mah, ide bagus.” Darius tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, dia senang dengan ide yang diberikan oleh istrinya. *** Sore ini Elvano pulang ke rumah bersama Afifah, karena papanya menyuruh Afifah untuk ke rumah. Tadinya Elvano ingin menyuruh Afifah naik taksi saja, karena dia malas harus satu mobil dengen perempuan itu. Tapi rupanya sebelum menutup telepon tadi, papanya sudah mewanti-wanti kalau Afifah harus naik mobil Elvano. Mungkin saking tahunya dengan sifat sang anak, jadi Darius bisa menebak isi pikiran Elvano. Kini mereka sudah berada di ruang keluarga kediaman Effendi, sebenarnya sejak dalam perjalanan tadi Afifah merasa bingung, mengapa dia dipanggil ke rumah. “Elvano, papa benar-benar kecewa padamu. Bisa-bisanya kamu tidak bertanggung jawab seperti ini. kamu itu pemimpin perusahaan, kamu harusnya disiplin dan memberikan contoh yang baik bagi para karyawanmu. Mau jadi apa bisnis keluarga kita kalau dipimpin oleh orang sepertimu.” Baru saja Elvano duduk, sudah kena omel oleh papanya. “Pah, baru juga duduk, udah diomelin aja. Memangnya aku salah apalagi sih, aku baru pulang kerja loh, capek.” Elvano tentu saja protes. “Kamu pikir papa gak tahu kelakuan kamu, huh? Bisa-bisanya kamu memilih pergi menemui salah satu wanitamu, dibandingkan pergi meeting dengan klien. Kamu bahkan kembali ke kantor, satu setengah jam setelah jam istirahat selesai. Kamu itu pemimpin perusahaan, harusnya kamu memberikan contoh yang baik, bukan malah sebaliknya.” Papanya memberitahu kesalahan Elvano. “Pah, Elvano juga manusia, bukan robot. Masa jam istirahat masih disuruh kerja, kenapa meetingnya gak pas jam kerja aja.” Elvano membela dirinya. “Itulah yang namanya tanggung jawab pekerjaan sebagai pimpinan. Kamu pikir menjadi pemimpin perusahaan itu cuma tahu enaknya saja, jelas setiap pekerjaan atau jabatan itu ada konsekuensi dan tanggung jawabnya.” Papanya memberikan wejangan. “Lagian kenapa Papa bisa tahu tentang ini, pasti Afifah ‘kan yang ngadu.” Elvano langsung melirik tajam ke arah Afifah. Tentu saja Afifah langsung menggelengkan kepalanya, karena memang bukan dia yang memberitahu papanya Elvano. “Bukan Afifah yang kasih tahu papa, tapi tentu saja banyak orangnya papa yang akan membantu papa memantau kamu.” Darius tentu saja menjelaskan, dia tidak mau Afifah disalahpahami. “Afifah ‘kan orang kepercayaan Papa, dia orang yang Papa pilih secara langsung, pasti dia sengaja jadi sekertarisku untuk mengawasiku. Aku yakin dia banyak mengadukan hal buruk tentangku, iya ‘kan? dasar penjilat, tukang ngadu!” ejek Elvano penuh penghinaan pada Afifah. “ELVANO!” bentak Darius murka. “Kamu gak usah salahin orang lain yang gak bersalah, mau siapapun itu yang ngomong sama papa, itu hal yang bagus. Mulai saat ini, semua fasilitas kamu akan papa sita. Kamu akan tinggal di apartemen yang papa siapkan, gak ada pembantu, kamu kerjain semuanya sendiri. Uang belanja akan dijatah mingguan, cukup atau enggak cukup, harus cukup. Mobil juga pastinya akan papa sita beserta semua kartu dan uang milikmu. Nanti kamu akan berangkat dan pulang ke apartemen dengan diantarkan oleh supir dan pastinya Afifah. Dia yang akan memantau perkembangan kamu selama masa hukuman ini.” Darius memutuskan untuk menarik semua fasilitas Elvano. “APA? Papa gak bisa kaya gini dong. Tega banget sih sama anak sendiri.” Elvano tidak menyangka kalau dia akan mengalami hal ini. “Papa akan mengembalikan semua itu kalau kamu sudah berubah menjadi lebih baik. Dalam hal pekerjaan, tanggung jawab, dan terutama sifat. Papa gak mau lagi lihat kamu berfoya-foya, apalagi bermain wanita. Kalau kamu belum bisa memenuhi semua syarat itu, jangan harap fasilitas ini akan kembali padamu.” Darius sangat serius dalam mengatakan hal ini, Elvano bisa melihat sendiri kalau papanya benar-benar jengah pada tingkah lakunya. “Afifah, tolong bantu awasi Elvano, kalau dia nyakitin kamu, lapor sama kami. Keuangan Elvano juga akan diurus sama kamu, karena kami yakin dia tidak bisa mengatur uang yang sedikit itu. Bisa-bisa jatah seminggu dihabiskan dalam sehari.” Maria memohon bantuan pada Afifah untuk membantu Elvano. “Loh, kok gitu sih? Kenapa Mama dan Papa malah lebih percaya sama orang lain dari pada anak sendiri?” protes Elvano. “Itu karena kamu sendiri yang menghancurkan harapan dan kepercayaan dari kami. Ingat, papa gak mau lagi denger kamu foya-foya, dugem gak jelas, dan main dengan perempuan-perempuan gak jelas, apalagi sampai mempermainkan wanita. El, kamu mencontoh siapa sih? Mama sama papa gak ada yang kaya gitu. Papa takut, kelak kamu akan mendapatkan karma karena mempermainkan wanita.” Darius menatap sendu pada putranya. “Benar, Elvano. Perempuan itu harusnya dijaga, dihormati, bukan dipermainkan. Mama benar-benar takut kalau kamu akan mendapatkan karma, kamu juga harus mikir. Gimana kalau suatu saat nanti kamu punya anak perempuan, dan nanti karmanya akan ditanggung anakmu? Tolong, mama benar-benar mohon sama kamu untuk berhenti mempermainkan wanita.” Tidak disangka-sangka, Maria sampai berlinangan air mata saat menasehati putranya untuk berhenti menjadi seorang pemain wanita. “Akan Elvano coba, Mah.” Sejujurnya, meski Elvano seorang pemain wanita, tapi dia sangat menyayangi mamanya. Elvano tidak tega melihat mamanya menangis sedih karenanya. “Bagus, pokoknya kamu harus belajar menjadi seseorang yang lebih baik.” Mamanya menatap Elvano penuh harap. “Afifah, Tante minta tolong sekali, kamu bantu bimbing dan awasi Elvano.” Maria kembali memohon bantuan pada Afifah. “Baik, Nyonya, Afifah akan berusaha sebisa Fifah. Masalah antar jemput, kebetulan saya juga bisa menyetir mobil, karena sejak dulu ayah saya memang mengajarkannya, dan saya juga ikut kursus latihan menyetir.” Afifah tentu saja tidak bisa menolak permintaan mereka, dia menganggap ini adalah balas budi karena kebaikan hati Darius dan Maria selama ini pada keluarga Afifah. “Nanti kamu urus pembuatan SIM biar lebih aman, ya, Fah. Anak buah om akan membantu agar prosesnya lebih mudah.” Darius mempercayakan antar jemput Elvano pada Afifah. “Pah, masa aku kalau mau minta uang buat beli sesuatu harus sama Afifah sih? Yang benar saja, harga diriku mau ditaruh di mana? Itu ‘kan uang mingguan aku, kenapa juga harus Afifah yang pegang, padahal aku bisa pegang dan atur sendiri kok.” Elvano tentu saja tidak rela harus meminta uang pada Afifah ketika ia ingin membeli sesuatu, padahal itu uangnya sendiri, ah, lebih tepatnya uang papanya. “Elvano, tadi kami sudah memberikan alasan yang sangat jelas ‘kan? Sudah, jangan kebanyakan protes. Kalau kamu ingin agar bisa hidup enak kembali, sebaiknya kamu perbaiki kebiasaan burukmu itu, dapatkan banyak proyek dan kerjasama yang menguntungkan perusahaan kita, sukseskan proyek yang sedang berlangsung, dan pastinya berhenti bermain perempuan!” tegas Darius tanpa bisa dibantah. Elvano hanya bisa menghela napasnya saja dengan pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN