Adaptasi

1162 Kata
Srreeet... jederr... Ryn membuka pintu rumah, ia mulai memasuki rumah yang akan ia tinggali bersama sang suami. Ryn tidak menyangka betapa besarnya rumah Andrian. Semua barang yang ada di dalamnya juga serba baru dan mewah, itu semua sudah disiapkan oleh Andrian. Dari sofa mahal, tv android yang canggih, kulkas side by side yang kini sedang viral di mana mana dan perabotan-perabotan mahal lainnya. semua telah tersedia di sini. Andrian memanglah lelaki yang mapan, dan bertanggung jawab. Sebagai laki laki dia telah menyiapkan rumah beserta isi rumah yang terbilang mahal dari hasil kerja kerasnya selama iya bekerja di Yogyakarta. Karena ia tidak ingin pasangan hidupnya kelak disusahkan karena tidak memiliki tempat tinggal. Disaat berjalan menelusuri satu persatu ruangan yang ada didalamnya. Ryn seketika memanggil suaminya yang melangkah lebih dulu di depannya. "Abang, aku ingin meminta sesutau kepada abang. boleh?." langkah Andrian pun terhenti mendengar panggilan itu. " Kamu mau meminta apapun abang pasti akan turuti. Gunung kudaki, laut pun kan kusebrangi. Apapun akan abang lakukan untuk pujaan hati abang. Katakan lah Ryn. Kamu mau meminta apa dari abang?." Andrian mengatakan bahwa ia akan menuruti apapun permintaan Ryn, istrinya tercinta. " hmm.. Tapi aku minta maaf sebelumnya, ini mungkin akan membuat abang marah atau sakit hati ". " Katakanlah Ryn, abang akan lakukan meskipun itu menyakitkan". Andrian berusaha meyakinkan Ryn. Bahwa apapun ia lakukan asal Ryn bahagia. " Abang, kita sama-sama tahu bahwa kita menikah karena dijodohkan sama orang tuaku, jujur aku belum bisa menerima pernikahan ini. Termasuk aku belum bisa menerima Abang sebagai suamiku sekarang ini. Aku minta maaf kepada Abang, aku belum bisa menjadi istri abang sepenuhnya, aku harap Abang bisa mengerti". " iyaa Ryn, Saya sangat memahami dengan apa yang kamu rasakan, perasan tidak bisa dengan mudah dipaksakan. Termasuk juga kamu, saya tidak akan memaksakan kamu untuk menjadi istri, seperti apa yang saya mau. Dan saya tidak bisa memaksakan kamu supaya bisa menerima diri saya sebagai suamimu seutuhnya. Saya akan menerima apapun adanya dirimu Ryn. " "Oke Bang terimakasih, dengan begitu aku bisa meminta satu hal ke Abang?" Tanya Ryn kembali kepada Andrian. "Bolehlah, apa pun itu abang akan turuti." Ucap Andrian kepada Ryn. Yang tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan disampaikan. "Aku mau Abang izinikan perjanjian kita untuk pisah kamar, aku belum bisa satu kamar dengan Abang. Dan aku belum mau disentuh oleh Abang, aku belum siap untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri." Mendengar perkataan itu terlontar membuat Andrian seketika diam, hatinya berkecamuk, seperti dicabik cabik Oleh belati yang tajam. Dia harus menerima kenyataan bahwa istrinya tidak lagi ingin satu kamar dengan dirinya. Namun meskipun hatinya hancur ia berusaha untuk tetap tegar. Dan tetap berusaha bersikap baik kepada Ryn. "Baiklah, kalau seperti itu. Abang akan turuti apa yang kamu mau. Dan abang akan menunggu sampai kamu siap untuk menjadikan pernikahan ini nyata." Andrian lebih memilih untuk mengerti perasaan Ryn daripada mengedepankan egonya sendiri. Ia tidak ingin membuat Ryn semakin tertekan karena egonya. "Makasih ya Abang." Ujar Ryn, ia merasa sedikit lega, karena keinginannya dapat dipenuhi. Walaupun Ryn tahu itu pasti berat untuk Andrian. " sama sama Ryn. Ikut abang yo. Abaang Mau aku tunjukin kamar buat kamu. " " baiklah. " Ryn mengikuti langkah Andrian untuk menuju kamar baru Ryn. ' clek..'. Suara pintu terbuka. Ryn mencium aroma wangi semerbak, yang tercipta dari bunga mawar yang Andrian jajarkan di atas ranjang. " Abang sengaja menyulap kamar ini menjadi kamar pengantin. Karena abang fikir kita berdua akan tidur bersama di kamar ini." " maafkan aku bang.. Aku belum siap untuk tidur bersama abang." " tidak apa." Andrian tersenyum meskipun hatinya sebenarnya sakit. " oyahh abang punya sesuatu untuk kamu." Andrian menyerahkan sebuah kotak berwarna merah mudaah kepada Ryn. " Apa ini bang?. " " buka aja dulu." Ryn perlahan lahan membuka kotak itu, dan setelah membuka nya Ryn merasa terkejut. " Ini kan lampu tidur yang ada gambar salah satu personel boyband korea kesukaan aku. Ya ampun, makasih ya abang.." Ryn tidak menyadari bahwa dirinya memeluk Andrian. Karena ia merasa kegirangan setelah mendapatkan hadiah yang ia sukai dari Andrian. " hmm.. Maa.. Maaf bang. Aku tidak seangaja peluk abang. Hmm.. Akhh.." Ryn " ga apa kok. Kalau mau Peluk lagi yang lebih lama juga boleh banget kok keke." Andrian membentangkan tangan nya, dan menawarkan diri untuk dipeluk. " ihh abang.. Siapa juga yang mau peluk. Orang aku tidak sengaja kok." ucap Ryn. " hmm.. Kok abang tau sih kalau aku suka sama lampu tidur sepertti ini.. " " ya aku tau dong, karena ibu yang memberi tahu abang." Andrian berbohong kepada Ryn. Andrian sedang beralasan. Karena sebenarnya ingin tidak ingin membuat Ryn tahu dengan aapa yang sedang ia alami. Sebenarnya Andrian memang sudah tahu sedari dulu bahwa Ryn sangat menginginkan lampu yang bergambarkan salah satu personel boy band korea kegemarannya. Cuman hanya saja dia belum bisa memberikan nya, karena ia belum memiliki penghasilan. " oyahh.. Kamu tidak lapar? Mau makaan diluar dengaan abang ga ?." Ajakan Andrian membuyarkan pertanyaan pertanyaan yang ada di benak Ryn. " hmm boleh deh. Kebetulan aku juga merasa lapar. " Ryn menerima ajakan Andrian untuk makan siang diluar. " yasudah ayok.." Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Andrian sudah siap memegang kendalinya. Dan dengan mantap akan membawa Ryn ketempat makan yang dituju. Mobil mereka berjalan dengan lumayan cepat, tiba tiba mobil melaju cepat dari arah yang berlawanan. Membuat Andrian terkejut, untunglah Andrian dapat menghindar dan berusaha menghentikkan mobilnya Dengan sekuat tenaga. " akkhhh.. Aabaanngg.." Ryn dengan sekuat tenaga berteriak. " Ryn.. Kamu tidak apa - apa?" " ga apa ko bang. Aku hanya kaget. Abang jangan kebut - kebut dong bawa mobilnya. Untung saja kita tidak kenapa kenapa." Ryn memaki Andrian yang telah ceroboh mengendarakan mobil dengan tidak hati hati. " maaf, abang tidak sengaja. Tapi kamu benar benar tidak apa apa?. " " ga apa ko bang." " yasudah kita lanjutin perjalanannya ya. Abang janji akan lebih berhati hati." Ryn menganggukkan kepalanya. Dan merekapun melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati - hati. Lima menit kemudian. Ryn dan Andrian telah sampai di restaurant tempat tujuan nya. Dan mereka mencari bangku yang kosong. " Ryn, kita duduk disana ya tempat yang kosong." Ryn berjalan mengikuti Andrian dari belakang. " silahkan tuan putri. " Andrian menggeserkan kursi agar menjauhdari meja. Dan mempersilahkan duduk Ryn. ' iss.. Abang ngapain sih memperlakukan aku seperti ini, berlebihan banget jadi cowok.' ucap Ryn, menggerutu didalam hatinya. Sembari duduk di kursi yang telah di tarik oleh Andrian. Mereka pun duduk berdua saling berhadapan. Ryn terus terusan memandangi Ryn, membuat dirinya merasa tidak nyaman. Akhirnya Ryn mengalihkan dirinya, agar tidak lagi dipandangi suaminya itu. Ia memanggil salah satu pelayan yang ada di sana " mba.." " iya mba. Mau pesan apa?" tanya salah pelayan yang ada di depan meja mereka. " boleh minta pricelistnya." " silahkan mba.." pelayan itu menyerahkan pricelistnya ke Ryn. Ryn dan Andrian mulai melihat Satu persatu menu yang ada di pricelistnya. Seketika mereka hening sejenak, sampai Ryn tiba tiba membuka mulutnya " mba, saya mau pesan.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN