Rumah Baru

1942 Kata
" pokoknya malam ini kita harus tidur terpisah!!! " Ryn mengatur tempat tidur diantara mereka. " kenapa harus berpisah sih?.. Kan kita sudah resmi menjadi suami istri. Sayang.. Seharusnya kalau sudah suami istri kita seranjang dong. Apa lagi ini malam pengantin kita. Memangnya kamu tidak mau memberikan hak abang.?" " terseraahh.. Pokoknya aku mau pisah ranjang dengan abang.. Aku ga mau abang akan melakukan hal yang tidak tidak kepadaku. Sekarang abang pilih. Aku yang tidur di kasur atau abang yang tidur di kasur?. " Ryn memberikan pilihan kepada Andrian. Ia berpikir dimalam pertama mereka. Andrian akan tidur bersama dengan istrinya dan melakukan hal yang sewajarnya mereka lakukan. Seperti malam pertama pada umumnya. Namun Andrian hanya bisa gigit jari dan mematuhi perintah istrinya yang super duper bawel. " okee lahh saya pasrah. silahkan kamu tidur di kasur. Tapi kalau kamu tidur dikasur abang lantas tidur dimana?? " tanya Andrian. "Tuuhhh..." Ryn menunjuk ke bawah kasur yang tidak dialasi oleh apa apa. Mata Andrian terbelalak, istrinya tega menyuruh dia tidur diubin yang dingin. Ryn berjalan menuju ke lemari dan mengambil kursi untuk membantunya naik menggapai sebuah ambal. Namun Ryn tidak menyadari kalau kursi yang ia taiki sudah lapuk sehingga kursinya patah. Ryn pun terjatuh dari kursi. Namun tubuhnya sempat ditangkap oleh Andrian sehingga Ryn tidak sampai terjatuh. Adegan yang sama seperti adegan adegan yang ada di dalam sebuah drama. Setelah tubuhnya ditangkap Andrian pun langsung membopong Ryn sampai ke kasurnya dan membiarkan ambal yang jatuh kelantai tergeletak.. " sudah biar abang yang menggelar ambal nya. kamu disini saja. Istirahatlah ini sudah malam". Ucapan yang mesra dari Andrian kepada Ryn. Mereka pun sama beristirahat bersama. Ibu Ratih dan ayah Wisnu yang semula ada didepan kamar Ryn dan Andrian. Pergi meninggalkan mereka dan beranjak ke kamarnya untuk beristirahat. Sepanjang malam Andrian tidur dilantai beralaskan ambal. Namun meskipun telah diperlakukan oleh Ryn dengan tidak baik. Andrian masih akan terus mencintai Ryn, dan akan berusaha membuat Ryn akhirnya balik mencintai nya. *** Ke esokan harinya, ketika Ryn terbangun dari tidur, ia melihat Andrian tidur terlelap di bawah lantai samping kasur. Ia teringat, bahwa semalam memang ia yang meminta Andrian untuk tidur berpisah ranjang dengannya. Selama satu minggu lebih Ryn dan Andrian berada di rumah ibu Ratih dan ayah Wisnu. Dengan terpaksa Ia menunjukan perannya sebagai seorang istri didepan mereka. melayani Andrian setiap hari, dan Mencoba untuk bersikap manis kepada suaminya. " Bagaimana Ryn.. Kamu sudah mulai jatuh cinta sama suamimu ?" tanya ayah Wisnu yang sedang duduk di meja makan untuk makan malam bersama. " hmm... Su.. Sudah ayah. Aku sudah mencintai abang. Yakan bang?. " Ryn berbohong kepada ayahnya, tangan nya menggenggam tangan Andrian. Berharap Andrian mengiyakan apa yang ia katakan. " masa? Aw.." Andrian berteriak pelan karena kakinya yang berada dibawah meja, sengaja diinjak oleh kaki Ryn " Ehh.. I.. Iyaa yah.. Ryn memang sudah bisa mencintaiku." Jawab Andrian yang terpaksa karena ancaman Ryn. " syukurlah kalau begitu, ayah senang mendengar nya. Berarti kalian sudaahhh... " ".. Hmm.. Ehh.. Sudah yahh" ayah Wisnu belum sempat melanjutkan pertanyaannya, Ryn langsung menyambar denga jawaban seadanya. " asyikkk dong, berarti sebentar lagi ibu akan punya cucuk" ucap ibu Ratih sembari melangkah ke meja makan. " iyaa dong bu, kita sebentar lagi akan memiliki cucuk. Ibu mau dipanggil apa sama cucuk kita nanti?." tanya ayah Wisnu kepada ibu Ratih. Mereka berdua asik berbincang membicarakan cucuk nya dengan semangat. Sedangkan disebrang kursi mereka, Ryn dan Andrian saling bertatap muka. Merasa bingung dan memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada mereka, bahwa Ryn dan suaminya belum pernah tidur bersama, apa lagi sampai melakukan sesuatu yang membuat Ryn hamil. Seusai menyantap makan malam, akhirnya ayah Wisnu, ibu ratih dan. Andrian meninggalkan meja makan dan beranjak pergi ke kamar mereka masing masing. Ryn yang masih sibuk membereskan peralatan makan. Ia pun mengangkat satu persatu bekas makannya dan memindahkan nya ke dapur. Pikirannya saat ini sedang tidak baik baik saja. Ia terus memikirkan omongan ayah dan ibunya. Sampai sampai ia tidak sengaja menjatuhkan piring yang ada dalam genggaman nya. Plang...' suara piring yang terjatuh terdengar sampai ke telinga Andrian. Membuat ia khawatir dan langsung berlari ke dapur. " ya ampun sayang tangan kamu berdarah ?" Andrian melihat darah mengalir dari jari Ryn, karena panik Andrian memasukan jari Ryn ke mulut dan mengisapnya. Adegan yang sama seperti dalam sinetron. " duhh abang, aku ga apa apa. Lepasin tanganku. " Ryn meminta Andrian untuk melepaskan tangannya. " kamu kenapa sih ko bisa seperti ini. Apa ada yang sedang kamu pikirkan?." " iyaa aku sedang memikirkan omongan ayah dan ibu, di meja makan tadi. " jawab Ryn. " Yasudah biarkan piring ini saya yang bereskan. Sana kamu kedalam kamar nanti saya akan menyusul." "Baiklah, terimakasih sudah bantuin aku." Ryn mengucapkan terimakasih kepada Andrian Dan berlalu pergi ke kamarnya. Di dalam kamar. Ryn terdiam duduk di pinggiran kasur. ' bagaimana aku mau punya anak, kalau aku saja belum mau tidur dengan Abang, kemarin saja abang menyentuh ku, aku langsung marah marah kepadanya. Aakhhh.. Pusing rasanya aku memikirkan ini.' pertanyaan pertanyaan itu berputar di pikiran nya. ' cklek ' suara pintu kamar terbuka Andrian membukanya dan masuk ke dalam kamar. 'set..' Tangan Andrian langsung menyambar tangan Ryn. Mengecek luka nya. " sini saya obati lukamu." " ga usah ini cuman sedikit ko lukanya tidak terlalu besar" Ryn mengambil kembali tangannya dan tidak ingin tangannya diobati oleh Andrian. Andrian mendekatkan wajahnya ke wajah Ryn dan bertanya. " kamu kenapa Ryn?. Kenapa kamu seperti ada yang kamu pikirkan. Coba ceritakan semuanya ke pada abang. Biar tidak menjadi beban untukmu." Ryn menatap sendu mata Andrian. Perlahan ia ceritakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. " Aku, hmm.,, abang aku takut ga bisa memberikan mereka cucu, mereka sedari tadi tidak henti - hentinya membicarakan soal cucu. Mereka mengharapkan sekali kehadiran seorang cucu." Ryn mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Ia tak kuat menahan air matanya. Seketika air mata itu lepas dari kelopak mata dan mengalir deras bak air hujan yang turun dari Langit. " Ryn. Wajar jikalau dalam sebuah hubungan pernikahan, yang akan dinanti nantikan adalah hadirnya seorang bayi. Terlebih lagi usia ayah dan ibu memang sudah pantas untuk menimang cucu. Jadi kalau kalau nanti mereka mempertanyakan lagi. Yasudah kita tahan saja dulu. Jangan terlalu kamu jadikan beban yang ada nanti kamu akan sakit." Andrian lelaki yang sangat pengertian. Ia mencoba menenangkan hati wanitanya, walaupun pikirannya juga berkecamuk. Ia terus memikirkan kata kata ayah Wisnu. " Tapi bang. Abang kan tahu sendiri, jangan kan mau punya anak, aku nya aja belum mau mau disentuh sama abang. " " Hmm, saya faham betul. Kalau kamu belum siap melakukan nya bersama ku. Lupakan apa yang ayah katakan. Jangan paksakan sesuatu yang tidak kamu suka. Saya akan menunggu kamu sampai kamu siap. Masalah omongan yang lain biar nanti saya akan hadapi.Sudah. Jangan fikirkan lagi ya. " kata - kata Andrian membuat meleleh Ryn dan tak hanya dia. Semua wanita yang mendengar nya juga pasti meleleh. Ada lelaki setulus Andrian. karena titik ketulusan terbesaar yaitu mencintai seseorang tanpa harus mendapatkan balasannya. Hari demi hari mereka lewati. Perasaan Andrian tidak pernah berubah untuk mencintai Ryn. Begitu pula sebaliknya. Perasaan Ryn pun masih tetap sama, tidak ubah sedikitpun, ia masih belum bisa mencintai Andrian suaminya. *** Sebulan lamanya Ryn dan Andrian kini berada dalam satu rumah dengan dengan kedua orang tuanya. Ryn selalu berusaha untuk belajar mencintai Andrian. Namun ia belum juga bisa merobohkan egonya sendiri. Hatinya masih terpaut pada Jovian. Yang selalu ada di pikiran nya tak lain adalah mantan kekasihnya itu. Hari ini adalah hari terkahir mereka berada ditempat ayah wisnu dan ibu Ratih. Karena esok hari Ryn dan Andrian akan berangkat menuju ke rumah mereka yang baru. Meskipun masih satu kota dengan rumah orang tua mereka. Tetapi jaraknya masih terbilang cukup jauh. Butuh sekitar 200km jarak dari rumah orang tua ke rumah mereka. Membuat Ryn merasa ragu, untuk berpisah jauh dari orang tuanya. Ryn masih merasa keberatan meninggalkan sejuta kenangan di rumah yang selama dua puluh lima tahun ia tempati bersama kedua orang tua nya. Dalam hatinya bertanya-tanya Apakah ia bisa jauh dari ibu dan ayah. Ditambah dengan kekhawatiran akan virus yang melanda negri. Membuat Ryn menjadi khawatir akan kesehatan kedua orang tuanya, Yang tidak bisa ia pantau setiap hari. *** Hari ini, Ryn dan Andrian akan berangkat pergi menuju kerumah yang baru di siang hari. Mereka berpamitan kepada kedua orang tua. "Yahh, aku pamit ya terimakasih banyak untuk semua yang sudah ayah lakukan untuk aku. Dan for you ibu, aku pasti akan sangat rindu padamu." Ryn berpamitan dengan kedua orang tuanya, berharap mereka akan selalu baik-baik saja. "Baik-baik kamu di sana yaa Nak, turutilah apa kata suamimu, ikutlah dengan apa yang suamimu lakukan. dukung dia, jadilah istri yang baik untuk Andrian. " pesan seorang ayah untuk gadis perempuan nya. " Dan untuk Andrian, ayah dan ibu titip putri kami satu-satunya. Gantikan peran ayah dan ibu di dalam kehidupannya, jaga dia, sayangi dia. Ayah yakin kamu pasti akan menjadi suami yang baik untuk Ryn." giliran Pesan orang tua Ryn kepada Andrian terlontar. "Baik ayah, ibu. Aku akan pegang kepercayaan ayah dan ibu untuk menggantikan posisi kalian, menjaga dan menyayangi ryndu, seperti aku sayang kepada diri aku sendiri. Terimakasih telah menjadi orang tua kami yang sangat baik, menyayangi dan merawat kami." Andrian dengan percaya dirinya mengatakan ini semua kepada ayah dan ibu. "Kami akan sering-sering datang ke sini. Yah, ibu". Janji Ryn kepada keduanya. "ya, Sayang." ucap ayah dan ibu kepada mereka "Kami pamit, Yah, Bu. dadah". Dengan hati yang berat untuk meninggalkan rumah. Ryn melangkahkan kakinya menuju mobil alphard putih milik Andrian. Dan memulai perjalanan dengan hati dan pikiran yang masih tertinggal disana. Ryn masih merasa keberatan meninggalkan sejuta kenangan di rumah yang selama dua puluh lima tahun ia tempati bersama kedua orang tua nya. Dalam hatinya bertanya-tanya Apakah ia bisa jauh dari ibu dan ayah. Ditambah dengan kekhawatiran akan virus yang melanda negri. Membuat Ryn menjadi khawatir akan kesehatan kedua orang tuanya, Yang tidak bisa ia pantau setiap hari. *** Di perjalanan menuju rumah yang baru. Andrian terus - terusan mencoba mencairkan suasana yang kaku dengan mencari topik - topik pembicaraan, agar Ryn bisa untuk diajak berdiskusi. Namun, karena mood yang kurang baik akhirnya Ryn tidak terlalu meresponnya. Dan di pertengahan jalan, ternyata Ryn tertidur dengan pulasnya. sampai mereka berada di depan rumah, setelah menghentikan kendaraan nya. Andrian membiarkan sang pujaan hati tertidur dan menunggu untuk bangun dengan sendirinya. Dua jam berlalu, Andrian tidak berhenti memandang wajah manis Ryn ketika tidur. Ia sangat merindukan sosok Ryn. Karena tiga belas tahun lamanya ia terpisah dan mencoba untuk melupakan Ryn, sudah beberapa wanita ia jelajahi. Namun tidak satupun sanggup untuk membuat ia melupakan gadis pujaan hatinya tersebut. sehingga akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali dalam sebuah ikatan cinta suci. Namun ujian cinta mereka ternyata tidak hanya sampai dengan perpisahan bertahun-tahun lamanya. Karena setelah mereka dipertemukan kembali dan kembali bersama, ujian cinta yang mereka rasakan selanjutnya adalah hati Andrian yang terasa sakit ketika cintanya yang kini bertepuk sebelah tangan. Ryn belum bisa juga mencintai dirinya Akibat amnesia yang Ryn alami, Ryn jadi tidak mengetahui bahwa pernikahan mereka terjadi karena mereka memang saling mencintai. Bukan hanya sebatas perjodohan orang tua. Disaat Andrian terus memandangi wajah Ryn, tiba-tiba Ryn pun terbangun. Matanya seketika langsung melirik kearah Andrian. " Hoam...Sudah sampai ya bang?" Tanya Ryn sembari mengucak-ngucak mata. "sudah dua jam lebih kita sampai. dan saya menunggu kamu untuk bangun". " Ya ampun, Kenapa abang tidak bangungkan aku saja, atau tinggalkan saja aku disini sendiri". Ucap Ryn kepada Andrian "Aku tidak tega dengan kamu, kamu terlihat sangat lelah". Mendengar perkataan Andrian, Ryn merasa melumer, sebab sikap Andrian sangat manis kepadanya. Meskipun Ryn selalu berkata kasar terhadap Andrian, akan tetapi Andrian tidak sedikitpun berbalik kasar kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN