Keesokan paginya, cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah tirai, memberikan kehangatan lembut ke dalam kamar. Alexis terbangun terlebih dahulu, seperti biasanya.
Matanya segera tertuju pada Fiona yang masih terlelap di sampingnya. Wajah wanita itu terlihat damai, namun ada rona kelelahan yang tersisa dari malam panjang yang mereka habiskan bersama.
Alexis tersenyum tipis, jemarinya dengan lembut menyentuh helaian rambut Fiona, memainkan ujungnya. Ia mengamati setiap detail wajah wanita itu—garis halus bibirnya, kelopak matanya yang terpejam, dan kulitnya yang terlihat bersinar dalam cahaya pagi.
Tanpa sadar, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Fiona dengan lembut, kemudian bibirnya, hanya untuk merasakan kehangatan itu sekali lagi.
"Selamat pagi, Baby," gumamnya pelan meskipun Fiona masih terlelap.
Dengan hati-hati, Alexis melepaskan diri dari pelukan selimut dan bangkit dari ranjang. Ia melangkah menuju kamar mandi, tubuh tegapnya bergerak dengan kepercayaan diri yang biasa.
Di sana, ia membuka pancuran air, membiarkan aliran hangat membersihkan tubuhnya yang terasa segar meskipun malam itu penuh dengan gairah.
Sementara itu, Fiona menggeliat di tempat tidur, perlahan membuka matanya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke kamar.
Rasa pegal di tubuhnya mengingatkannya pada apa yang terjadi semalam, dan wajahnya memerah ketika kenangan itu kembali.
Fiona menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih telanjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tiba-tiba meningkat.
Pandangannya tertuju pada kamar mandi, tempat suara air mengalir terdengar. Ia tahu Alexis ada di sana, dan hanya memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat wajahnya semakin panas.
"Kenapa aku selalu kalah dengannya?" gumamnya pelan, menyandarkan kepala pada bantal.
Tak lama kemudian, Alexis keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah meneteskan air, membuat penampilannya terlihat semakin memukau.
Fiona menatapnya sekilas sebelum buru-buru mengalihkan pandangan, tapi Alexis menyadari itu dan tersenyum.
"Bangun sudah, Nona Rumanov?" tanyanya dengan nada menggoda, mendekati ranjang.
Fiona mengerutkan dahi, pura-pura kesal. "Kau membangunkan otot-ototku lebih dari yang seharusnya semalam."
Alexis tertawa kecil, duduk di tepi ranjang. Ia mendekatkan diri dan mengecup pipi Fiona. "Itu karena kau memulainya, sayang. Aku hanya menyelesaikan apa yang kau mulai."
Fiona mendengus, tapi tidak bisa menyembunyikan senyuman kecil di bibirnya. Ia duduk perlahan, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa rencanamu hari ini?"
Alexis menatapnya, mata birunya penuh dengan kehangatan. "Rencanaku? Menghabiskan waktu denganmu. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau aku menyiapkan sarapan? Kau terlihat butuh energi tambahan."
Fiona mengangkat alis, terkejut. "Kau mau masak untukku?"
"Ya, dan kau akan menyukainya," jawab Alexis sambil berdiri. Ia mengambil pakaian dari lemari, mengenakan kemeja kasual yang membuatnya terlihat lebih santai namun tetap memancarkan pesona.
Sebelum pergi ke dapur, Alexis membungkuk untuk mencium Fiona sekali lagi. "Tunggu di sini. Aku akan kembali dengan sesuatu yang lezat."
Fiona hanya tersenyum kecil, memandang punggung Alexis yang menghilang di balik pintu. Ia tahu pagi itu akan menjadi awal yang indah setelah malam yang penuh gairah.
Setelah beberapa saat, Alexis kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan yang ia siapkan sendiri. Ada roti panggang dengan telur orak-arik, beberapa potong buah segar, dan secangkir teh hangat.
Tatapannya penuh kelembutan ketika ia mendekati Fiona, yang masih duduk bersandar di atas ranjang dengan selimut melilit tubuhnya.
"Selamat menikmati, Nona Rumanov," ucap Alexis dengan nada menggoda, duduk di bibir ranjang.
Fiona tersenyum kecil, merasa tersanjung oleh perhatian Alexis. "Terima kasih, Tuan Rumanov. Aku merasa seperti ratu pagi ini."
"Kau memang ratu di hidupku," balas Alexis santai, membuat Fiona tersipu.
Dengan penuh kesabaran, Alexis mulai menyuapi Fiona. Setiap suapan disertai dengan senyuman lembut, dan sesekali tangannya yang besar mengusap jejak makanan di sudut bibir Fiona.
Sentuhan itu membuat jantung Fiona berdegup kencang, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
"Alex, kau terlalu manis hari ini," ujar Fiona, matanya berbinar.
"Hanya untukmu," jawab Alexis singkat, menatapnya dengan intens.
Setelah selesai sarapan, Alexis menyingkirkan nampan dan kembali ke kamar dengan membawa handuk bersih serta beberapa perlengkapan mandi. "Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," ucapnya sambil menatap Fiona penuh perhatian.
Fiona mengangkat alis, sedikit terkejut. "Kau bahkan menyiapkan air mandi untukku?"
"Setelah malam seperti itu, kau butuh relaksasi," kata Alexis dengan senyum tipis. "Jadi, pergilah dan nikmati."
Fiona tertawa kecil, merasa diperlakukan seperti putri raja. "Baiklah, Tuan Rumanov. Kau memang terlalu sempurna pagi ini." Fiona membalikkan badannya, sebelum sampai di pintu kamar mandi.
"Kau tidak ingin memandikanku?" Wanita itu mengedipkan sebelah matanya dengan menggoda.
Alexis menggelengkan kepalanya, dan terkekeh. Dia mendekati Fiona, mencubit hidung bangir wanita itu. "Jangan membuatku untuk melakukannya lagi, Fiona. Kau tahu aku tidak akan pernah berhenti jika sudah bergairah."
Tatapan tajam bercampur sayu itu membuat Fiona bergidik, wanita itu lantas menjauh dan segera berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Alexis tersenyum tipis. "Kelinci nakal."
Setelah mandi dan berganti pakaian, Fiona kembali ke kamar dengan penampilannya yang terlihat sangat cantik.
Alexis sedang duduk santai di atas ranjang, memegang remote televisi. Saat Fiona masuk, pria itu menoleh dan tersenyum.
"Aku punya ide," katanya. "Bagaimana kalau kita menonton film kesukaanmu hari ini?"
Fiona memandangnya dengan mata berbinar. "Serius? Kau mau menonton film romantis bersamaku?"
Alexis mengangguk. "Kenapa tidak? Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Fiona tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia segera melompat ke atas ranjang, duduk di samping Alexis. Pria itu memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di bahu Fiona.
Mereka memilih film romantis klasik yang selalu membuat Fiona tersenyum. Meskipun Alexis tidak terlalu suka film seperti itu, ia tetap menonton dengan sabar, hanya demi melihat Fiona bahagia.
Selama film berlangsung, Fiona beberapa kali menoleh ke arah Alexis, menyadari bahwa pria itu benar-benar memusatkan perhatiannya padanya. "Kau tahu, aku tahu kau tidak suka film seperti ini," katanya sambil tersenyum kecil.
"Aku tidak perlu suka filmnya," balas Alexis, memeluk Fiona lebih erat. "Aku hanya perlu suka dengan orang yang menontonnya bersamaku."
Kata-kata itu membuat Fiona tersipu lagi. Ia bersandar pada d**a Alexis, merasa nyaman di dalam pelukannya.
Hari itu, Alexis benar-benar menghabiskan waktu sepenuhnya untuk Fiona. Mereka berjalan-jalan di taman mansion, makan siang bersama di balkon, dan bahkan berbincang santai sambil menikmati teh sore. Alexis memastikan Fiona merasa dicintai dan diperhatikan sepenuhnya.
Ketika malam tiba, Fiona berbaring di atas ranjang dengan kepala bersandar pada d**a Alexis. "Hari ini adalah hari terbaik yang pernah aku alami," bisiknya, menatap pria itu dengan penuh kasih.
Alexis menundukkan wajahnya, mengecup kening Fiona. "Setiap hari bersamamu akan menjadi yang terbaik. Kau hanya menikmatinya."
Fiona tersenyum lebar, merasa hatinya dipenuhi oleh kehangatan dan kebahagiaan. Malam itu, mereka tertidur bersama, merasa lebih dekat dari sebelumnya.