Alexis tidak bisa menahan dirinya lebih lama. Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar, menyusuri lorong menuju tangga. Langkah kakinya mantap, dan setiap derapnya seolah memancarkan determinasi. Fiona harus tahu bahwa permainan yang ia mulai ini tidak akan semudah yang ia kira.
Sampai di lantai bawah, Alexis mendapati Fiona berdiri di dekat meja makan, tubuhnya bersandar santai pada kursi. Wajahnya menampilkan senyum puas, namun ada semburat keterkejutan ketika matanya bertemu dengan tatapan Alexis yang gelap dan penuh intensitas.
"Fiona," panggil Alexis, suaranya rendah namun tegas.
Fiona mengangkat alis, berpura-pura tidak terpengaruh. "Kau cepat sekali, Tuan Rumanov. Aku pikir kau akan butuh waktu lebih lama untuk mengejarku."
Namun, sebelum Fiona sempat berkata lebih banyak, Alexis melangkah cepat, mengurangi jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang cepat dan penuh kendali, ia mengangkat tubuh Fiona ke dalam gendongannya. Fiona terkesiap, tangannya secara refleks melingkar di leher Alexis.
"Alexis! Apa yang kau lakukan?" protes Fiona sambil berusaha memberontak, tetapi kekuatan pria itu membuat usahanya sia-sia.
"Aku hanya memastikan kau belajar konsekuensi dari bermain dengan api," jawab Alexis dengan nada rendah, langkahnya mantap menuju meja makan besar yang terletak di tengah ruangan.
Setibanya di meja, Alexis menurunkan Fiona dengan lembut namun penuh otoritas, membaringkannya di atas permukaan kayu yang dingin. Fiona mencoba bangkit, tetapi tangan kuat Alexis menahan kedua pergelangan tangannya, membuatnya tetap dalam posisi terlentang.
"Alexis, kau gila," gumam Fiona, wajahnya memerah ketika pria itu mendekatkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inci dari miliknya.
"Mungkin," balas Alexis dengan senyum tipis. "Tapi kau memulainya, dan aku akan menyelesaikannya."
Alexis menunduk, mencumbu bibir Fiona dengan penuh gairah, membuat tubuh wanita itu menegang sejenak sebelum akhirnya melunak di bawah sentuhannya. Ciumannya dalam, menuntut, dan Fiona tidak bisa menahan diri untuk tidak membalasnya. Namun, tubuhnya tetap memberontak, seolah ingin mempertahankan kendali.
Ciuman itu semakin dalam, tangan Alexis yang bebas mulai menjelajahi tubuh Fiona, menyusuri lekukannya dengan sentuhan yang intens namun lembut. Fiona terengah, sensasi itu membuat tubuhnya bereaksi meskipun pikirannya ingin menolak.
"Berhenti," bisik Fiona di antara napasnya yang terputus-putus. Namun, suaranya terdengar lemah, tidak meyakinkan.
"Benarkah kau ingin aku berhenti?" tanya Alexis, suaranya serak, penuh gairah. Tangannya kini menelusuri sisi tubuh Fiona, membuat wanita itu menggeliat di bawahnya.
Fiona menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan erangan yang hampir keluar. Tangannya kini bebas, tetapi ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk melawan. Sebaliknya, jemarinya justru meraih kerah baju Alexis, menarik pria itu lebih dekat.
"Liar," gumam Alexis sebelum kembali mencumbu Fiona, kali ini dengan intensitas yang lebih besar.
Namun, Fiona tiba-tiba melengkungkan tubuhnya, memberontak sekali lagi dengan gerakan yang membuat Alexis kehilangan keseimbangan sesaat.
Fiona menggunakan momen itu untuk meloloskan diri, melompat dari meja dengan napas tersengal, dan berlari menuju ruang tamu.
Alexis tersenyum, melipat lengan di depan d**a sambil menatap ke arah Fiona yang bersembunyi di balik sofa.
"Kau tidak akan bisa lari dariku, Fiona."
"Tentu saja aku bisa," balas Fiona sambil tertawa kecil, meskipun wajahnya masih memerah karena adrenalin dan gairah yang belum surut.
Permainan mereka baru saja memasuki babak baru.
Dengan perlahan Alexis melangkah mendekati Fiona, saat melihat Fiona. Alexis lantas menggendong Fiona, dan melemparkan tubuh gadis itu ke sofa.
"Alex!" Fiona ingin beranjak bangun, namun kali ini ia tidak bisa lolos begitu saja saat Alexis sudah berada di atas tubuhnya.
Menindih tubuhnya dengan tatapan laparnya, pria itu melepaskan paksa kemejanya. Membuat Fiona menelan salivanya dengan susah payah.
'Oh s**t! Jika begini aku tidak akan bisa kabur.' Fiona menggelengkan kepalanya, ia ingin bangun. Namun, Alexis terlebih dahulu merobek lingerie yang ia gunakan.
"Apa yang kau lakukan ... oh Alexis!" Tubuhnya melengkung kebelakang, kepalanya mendongak, ketika Alexis mengulum dua puncak kecilnya secara bergantian, dan memberikan gigitan kecil pada puncaknya.
Bahkan kedua tangan Alexis bergerak meremas dua gundukannya sembari mulut dan lidahnya bekerja, gila! Fiona benar-benar kalah jika berhadapan dengan Alexis. Gadis itu tidak mampu melawan meskipun ia ingin.
Kini tangan kanan Alexis merayap ke bawah, pada milik Fiona, dan melesatkan tiga jemarinya, memainkan milik Fiona. Fiona tersentak, tubuhnya menggelinjang hebat dengan permainan jemari Alexis.
"Oh Alexis ... please!" Fiona menatap Alexis dengan tatapan memohon, gadis itu sangat menginginkan Alexis memasukinya sekarang.
Alexis menyeringai melihat wajah b*******h Fiona. "Kau menginginkan hal ini bukan? Baiklah, mari kita bersenang-senang. Baby." Alexis menuruni tubuh Fiona, dan melepaskan celana bahannya.
Kini keduanya sama-sama tidak memakai pakaian, Alexis menindih tubuh Fiona kembali, pria itu melebarkan kedua kaki Fiona, dan memposisikan miliknya dengan milik Fiona. Memberikan gesekan sedikit yang membuat gadis itu kelonjotan.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Alexis melesatkan miliknya ke dalam milik Fiona, menghujam milik gadis itu dengan cepat dan kuat. Suara desahan, dan erangan terdengar memenuhi ruang tamu, beruntung jika malam hari para maid berada di pavilions belakang mansion.
Alexis membalikkan tubuh Fiona menjadi membelakanginya, pria itu kembali melesatkan miliknya dari belakang, dengan posisi ini Alexis mampu memeluk Fiona dari belakang dan memainkan dua gundukan sintal milik Fiona.
"s**t!" Alexis menggeram, pria itu menghisap bahu Fiona, dengan miliknya menghujam milik Fiona, tangan kirinya meremas gundukan sintal Fiona, sementara jemari kanan Alexis menggesek biji kecil milik Fiona.
Fiona menggelinjang hebat, gadis itu benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, Alexis sangat menggila. Malam ini benar-benar malam panas untuk mereka berdua.
Suara desahan, dan erangan mereka semakin terdengar beradu ketika Alexis merubah posisi mereka kembali, Alexis berdiri dengan Fiona yangg berada digendongannya ala koala. Dalam posisi itu Alexis menghujam Fiona dengan cepat dan keras.
"Alexis!" Fiona mendongak, dan mencoba berpegangan erat pada Alexis, meskipun rasanya Fiona sudah tidak kuat.
Gadis itu ingin mencapai puncaknya, ia tidak tahan lagi, sementara Alexis terus menghujam miliknya. Hingga, akhirnya Fiona mendapatkan pelepasannya.
Alexis merasakan kehangatan pada miliknya, dia melumat bibir Fiona dengan brutal, lantas memposisikan kembali Fiona membelakanginya dengan posisi keduanya berdiri. Alexis kembali melesatkan miliknya, dan menghujam milik Fiona. Kedua tangannya memainkan dua gundukan sintal Fiona.
"Oh f**k!" Alexis menghentakkan miliknya berkali-kali, pria itu mengeluarkan semua cairannya ke dalam rahim Fiona.
Setelah momen penuh gairah yang panas di ruang tamu, Alexis memutuskan bahwa itu belum cukup.
Dengan gerakan mantap, ia mengangkat Fiona dalam gendongannya. Wanita itu masih terengah, tubuhnya melemas di pelukan Alexis. Pipinya merah merona, rambutnya berantakan, tetapi ada kilatan puas di matanya.
"Alexis, aku pikir ..." Fiona mencoba berbicara, tapi napasnya masih terputus-putus.
"Kau pikir kita akan selesai?" potong Alexis dengan senyum tipis yang penuh arti. "Aku belum selesai denganmu, sayang."
Fiona mengerjap, jantungnya kembali berdegup cepat. Ia mencoba membaca niat Alexis, tapi pria itu tetap diam selama perjalanan ke kamar mereka. Langkah-langkahnya mantap, menciptakan aura d******i yang tidak bisa diabaikan.
Sesampainya di kamar, Alexis mendorong pintu dengan kakinya dan membaringkan Fiona di ranjang dengan hati-hati, namun tetap penuh kendali. Fiona memandang pria itu, wajahnya menunjukkan kelelahan bercampur antisipasi.
"Alexis, aku pikir—"
"Kau tidak perlu berpikir," potong Alexis, duduk di tepi ranjang dan mulai melepaskan kancing kemejanya dengan perlahan. "Hanya terima. Kau sudah memintanya, Fiona, dan aku tidak akan berhenti sampai aku puas."
Fiona menelan ludah. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menantang Alexis lagi, tetapi tubuhnya terlalu terpesona oleh aura pria itu. Tatapannya tak bisa lepas dari d**a tegap Alexis yang kini terbuka.
Pria itu menaiki ranjang dengan gerakan yang tenang namun penuh kendali, seperti seekor predator yang mendekati mangsanya. Tangan Alexis menyentuh pergelangan tangan Fiona, menahannya di atas kepala. "Aku ingin kau diam malam ini," bisiknya, suaranya terdengar rendah dan menggetarkan.
Sebelum Fiona bisa merespons, bibir Alexis telah mencumbu lehernya, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangan pria itu kembali menjelajahi tubuh Fiona, menyusuri setiap lekuknya dengan sentuhan yang membuatnya kehilangan kendali. Fiona menggeliat di bawah Alexis, mencoba melawan, tapi tubuhnya seolah tidak mau bekerja sama.
"Alexis ... terlalu banyak," gumam Fiona, meskipun suaranya nyaris tidak terdengar.
"Belum cukup," balas Alexis dengan suara rendah, senyumnya tipis namun intens. "Kau milikku malam ini, Fiona. Kau tidak punya pilihan selain menyerah."
Ciumannya bergerak semakin dalam, semakin menuntut, meninggalkan jejak gairah di kulit Fiona. Jemarinya yang kuat menggenggam pinggulnya, menariknya lebih dekat, dan tubuh mereka bersatu dalam ritme yang tidak bisa dihentikan.
Malam itu, kamar mereka dipenuhi dengan suara napas yang berat, erangan lembut, dan bisikan penuh gairah. Fiona akhirnya menyerah, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam intensitas Alexis yang tak pernah padam.
Alexis tidak berhenti sampai tubuh Fiona benar-benar lelah, dengan napas yang terengah dan tatapan matanya yang menyerah. Saat semuanya usai, ia membaringkan dirinya di samping Fiona, menyapu rambut panjang wanita itu dengan lembut.
"Kau selalu membuatku gila," gumam Alexis, suaranya kembali tenang.
Fiona hanya tersenyum kecil, tubuhnya terasa lelah namun puas. "Dan kau terlalu sulit dihentikan, Tuan Rumanov."
"Jangan pernah mencoba menghentikanku lagi," balas Alexis dengan senyum penuh arti sebelum menarik Fiona ke pelukannya. Malam itu, mereka berdua akhirnya tertidur dalam kehangatan satu sama lain, meskipun sisa-sisa gairah masih terasa di udara.