6. Pembalasan Fiona

1041 Kata
Malam itu, suasana di mansion terasa sunyi. Lampu-lampu redup menciptakan bayangan yang bergerak lembut di dinding, sementara Alexis tenggelam dalam pekerjaannya di ruang kerja. Tumpukan berkas menunggu ditandatangani, dan layar laptop di depannya memancarkan cahaya dingin ke wajahnya yang serius. Sejak makan malam, ia belum bertemu Fiona lagi. Meski sebelumnya wanita itu tampak masih kesal, Alexis yakin Fiona takkan lama-lama mendiamkannya. Namun, malam ini Fiona punya rencana lain. Di kamarnya, ia berdiri di depan cermin besar, tubuhnya dibalut lingerie hitam transparan yang memeluk lekukannya dengan sempurna. Renda-renda halus menghiasi kain itu, memberikan kesan menggoda namun tetap elegan. Rambut panjangnya yang terurai menjuntai lembut di punggung, sementara riasan tipis mempertegas wajah cantiknya. Pipinya bersemu, mungkin karena keberanian yang mendadak menyeruak. Ia tersenyum kecil di depan cermin, memutar tubuhnya hingga punggung indahnya terekspos. Posisi membelakangi cermin membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas, sementara pantulan wajahnya di kaca memperlihatkan tatapan penuh percaya diri. Dengan hati-hati, Fiona mengangkat ponselnya dan mengambil foto-pose yang memancarkan kemewahan, sensualitas, dan sedikit tantangan. Satu pesan singkat diketiknya: "Apakah kau sedang sibuk, Tuan Rumanov? Jika tidak, aku punya sesuatu yang lebih menarik untukmu malam ini." Fiona menekan tombol kirim dengan degup jantung yang tak karuan, lalu melirik layar ponselnya sambil tersenyum. Ia tahu, Alexis tidak akan bisa mengabaikan ini. Apalagi melihat foto yang akan ia kirimkan begitu menggoda. Di ruang kerja, Alexis tengah membaca laporan keuangan ketika notifikasi di ponselnya berbunyi. Ia melirik sekilas, mengabaikannya, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Namun, notifikasi itu datang lagi. Kali ini, namanya muncul di layar: Naughty little rabbit. Alexis mengerutkan alis, meraih ponselnya dengan satu tangan. Saat layar menyala, pesan itu terpampang jelas, diikuti oleh foto yang membuat waktu seolah berhenti. Mata Alexis melebar. "Holy s**t!" umpatnya, suaranya tertahan. Foto itu menampilkan Fiona dalam lingerie hitam tipis, tubuhnya membelakangi cermin, tapi pantulan wajahnya seolah menantangnya dengan senyuman penuh godaan. Lingerie itu tidak menutupi banyak, membiarkan imajinasinya berkelana jauh. Alexis mendengus pelan, menekan layar ponselnya untuk memperbesar foto, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Kelinci kecil ini ... rasanya dia semakin hari semakin liar," gumamnya, menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan. Kekesalan Fiona sebelumnya ternyata berujung pada hal ini, dan Alexis tahu bahwa ia telah masuk ke dalam permainan Fiona. Tatapannya kembali ke layar ponsel, membaca pesan itu dengan senyum miring di bibirnya. Sementara itu, Fiona duduk di ujung tempat tidur, menunggu reaksi Alexis. Ponselnya bergetar. Sebuah balasan datang. "Aku memang sibuk, tapi sepertinya pekerjaan bisa menunggu. Aku akan menghampirimu, Fiona. Dan kau, lebih baik bersiap menerima balasanku." Fiona membaca pesan itu, napasnya tercekat. Ia tahu Alexis tidak akan tinggal diam, tapi itulah yang ia inginkan-menyalakan percikan di antara mereka. Sebuah ketukan di pintu membuatnya tersentak. "Fiona," suara Alexis terdengar dari luar, dalam nada rendah yang penuh dengan intensitas. "Kau memintaku untuk tidak berpura-pura, bukan? Jadi, mari kita lihat seberapa jauh permainan ini akan berjalan." Fiona membaca pesan itu, napasnya tercekat. Ia tahu Alexis tidak akan tinggal diam, tapi itulah yang ia inginkan-menyalakan percikan di antara mereka. Sebuah ketukan di pintu membuatnya tersentak. "Fiona," suara Alexis terdengar dari luar, dalam nada rendah yang penuh dengan intensitas. "Kau memintaku untuk tidak berpura-pura, bukan? Jadi, mari kita lihat seberapa jauh permainan ini akan berjalan." Fiona menelan ludah, menyadari bahwa ia telah memanggil badai, tetapi senyum kecil muncul di bibirnya. Permainan baru saja dimulai. Ketukan di pintu itu tidak menunggu lama sebelum terbuka, dan Alexis melangkah masuk dengan tatapan tajam yang mengunci Fiona di tempatnya. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap, tubuh tegapnya memancarkan aura d******i yang membuat Fiona menahan napas. "Permainan yang menarik," gumam Alexis dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan yang menggema di ruangan. "Tapi kau tahu, Fiona, memulai permainan seperti ini ada risikonya." Fiona mendongak, menatap Alexis dengan mata penuh tantangan. "Dan kau pikir aku takut?" balasnya sambil berdiri, melangkah mendekati pria itu dengan gerakan lembut namun penuh percaya diri. Bahkan tidak ada rasa takut yang Alexis lihat. Alexis tidak menjawab. Sebaliknya, ia meraih pinggang Fiona dengan cepat, menarik gadis itu ke ranjang hingga tubuhnya terbaring di bawah tubuh Alexis. "Kalau begitu, biar kuperlihatkan apa yang terjadi jika kau terlalu berani, Baby." Namun, sebelum Alexis sempat melakukan lebih, Fiona dengan lincah membalikkan tubuhnya, membuat posisi mereka bertukar. Kini, Fiona duduk di atas tubuh Alexis, kedua tangannya menekan d**a pria itu dengan lembut namun tegas. "Kau terlalu percaya diri, Tuan Rumanov," bisiknya, suaranya menggoda. Alexis menatap Fiona dengan intens, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis. "Aku suka gadis yang tahu cara melawan, tapi kau tahu, ini hanya membuatku semakin menginginkanmu." Fiona tersenyum kecil, menurunkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Bibirnya mengecup lembut rahang Alexis, bergerak pelan ke leher, meninggalkan jejak merah yang membuat pria itu menghela napas panjang. Tangan Fiona, dengan jemari yang lihai, merayap turun, menyentuh bagian bawah tubuh Alexis. Sentuhan ringan itu membuat Alexis menegang, menggeram pelan. Tubuh Fiona pun bergerak pelan dari atas ke bawah berkali-kali, yang mana membuat Alexis mampu merasakan kedua benda kenyal milik Fiona, tidak hanya itu. Alexis mampu merasakan kehalusan dan kehangatan kulit tubuh Fiona. "Fiona," desis Alexis, suaranya terdengar serak. Tatapannya gelap, penuh gairah yang membara. Fiona hanya tertawa kecil, membiarkan tangannya menekan lebih sedikit, cukup untuk membuat Alexis kehilangan kendali. "Ada apa, Alexis? Kau tidak suka kalau aku mengambil alih?" "Jangan bermain api," balas Alexis dengan nada peringatan, meskipun tubuhnya jelas menyerah pada sentuhan Fiona. Tapi Fiona tidak berhenti. Ia menekan bibirnya ke telinga Alexis, berbisik dengan nada menggoda. "Aku tahu kau menginginkanku ... tapi aku belum selesai bermain." Jemari kanan Fiona meremas milik Alexis di bawah sana dengan lembut. "Damn!" Alexis mencoba meraih pinggangnya, Fiona dengan cepat melompat dari ranjang, meninggalkan pria itu terbaring dengan frustrasi. Ia berdiri di ujung ranjang, menatap Alexis yang kini duduk tegap, rahangnya mengeras karena gairah yang tertahan. "Fiona," panggil Alexis dengan nada rendah, hampir seperti ancaman. "Jangan lari." Namun, Fiona hanya tertawa, menatapnya dengan penuh kemenangan. "Oh, Tuan Rumanov, kau tidak semudah itu mendapatkan apa yang kau mau. Selamat malam," ucapnya dengan nada mengejek, sebelum melangkah cepat keluar kamar. Alexis menghela napas panjang, menggenggam seprai di bawahnya dengan kesal. "Gadis itu akan menyesal," gumamnya, meskipun senyuman kecil tak bisa ia tahan. Fiona benar-benar tahu bagaimana mempermainkannya, dan itu hanya membuat Alexis semakin tidak sabar untuk membalas permainan ini dengan caranya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN