Sore itu, Fiona terbangun dengan perasaan yang masih dipenuhi amarah. Tubuhnya terasa hangat, tetapi bukan karena selimut yang membungkusnya—melainkan pelukan erat Alexis. Pria itu memeluknya seakan tak ingin melepaskannya sedikit pun, bahkan dalam tidurnya.
Fiona mendesah kesal, mencoba melepaskan tangan Alexis yang melingkar di pinggangnya. "Lepaskan aku," gumamnya dengan suara pelan, namun penuh tekanan. Tapi Alexis hanya mengerang pelan dalam tidurnya, mempererat pelukannya.
“Alexis! Lepaskan aku!” Fiona mendorong lebih keras. Kali ini tangan pria itu terlepas, dan Fiona langsung bangkit dari ranjang. Ia menatap Alexis dengan penuh kekesalan.
“f**k you!” serunya sebelum melangkah cepat menuju kamar mandi, membanting pintu di belakangnya.
Alexis, yang kini terbangun, hanya terkekeh kecil. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memandang pintu kamar mandi dengan senyum penuh arti. "Kau benar-benar marah, huh?" gumamnya.
Di dalam kamar mandi, Fiona menyandarkan tubuhnya ke wastafel, menatap bayangannya di cermin. Pipinya memerah, bukan hanya karena marah, tetapi juga karena memikirkan betapa Alexis mempermainkannya tadi siang.
"Duda gila itu benar-benar keterlaluan," gerutunya, sembari membuka keran untuk mencuci wajah.
Setelah beberapa saat, Fiona keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi yang longgar. Dia mengabaikan tatapan Alexis yang seolah menertawakan kekesalannya. Fiona berjalan menuju lemari pakaian, mengeluarkan pakaian santai, lalu mulai berpakaian tanpa menghiraukan Alexis.
“Kau marah padaku?” suara Alexis terdengar lembut, tapi penuh dengan nada menggoda.
Fiona berhenti sejenak, lalu menoleh menatap pria itu dengan tajam. "Kau pikir?" jawabnya sarkastik sebelum melanjutkan mengenakan bajunya.
Alexis bangkit dari ranjang, berjalan mendekatinya. “Baby, aku hanya ingin mengajari pelajaran kecil. Kau tahu, kau terlalu menggoda untuk dibiarkan begitu saja,” katanya, berdiri di belakang Fiona.
“Jangan panggil aku ‘Baby’. Dan jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku seperti tadi malam!” Fiona berbalik, menatap Alexis dengan penuh amarah.
Alexis terkekeh, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Fiona. “Baiklah, aku minta maaf,” ucapnya, tetapi senyumnya tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
Fiona mendengus, lalu mendorong dadanya dengan satu jari. “Maaf saja tidak cukup. Kau akan menyesali ini, Alexis Rumanov.”
“Benarkah?” Alexis tersenyum lebar, tangannya terangkat menyentuh dagu Fiona. “Aku menunggu bagaimana kau akan membalasnya.”
Fiona mendorong tangannya dan berjalan keluar kamar dengan penuh tekad, meninggalkan Alexis yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
“Gadis keras kepala,” gumam Alexis, lalu ia kembali duduk di ranjang, memikirkan apa kejutan yang mungkin Fiona siapkan untuknya. Di dalam hati, Alexis tahu satu hal: ia telah menemukan lawan yang setara.
Beberapa saat kemudian, karena kesal dengan Alexis. Fiona memilih untuk pergi ke dapur, gadis itu ingin melakukan aktivitas untuk melupakan kekesalannya sejenak.
Di dapur utama mansion, Fiona tengah sibuk membantu para maid menyiapkan makan malam. Sesekali ia menyeka keringat yang muncul di dahinya, senyum puas tergambar di wajahnya setiap kali berhasil mencicipi masakan yang ia buat. Namun, kepala maid dapur tampak gelisah, matanya terus melirik ke arah pintu seakan takut seseorang akan masuk dan melihat Fiona di sana.
“Nona Fiona, tolong berhenti. Kalau Tuan Alexis tahu, kami semua bisa kena marah,” bisik kepala maid dengan nada khawatir.
Fiona menoleh, tersenyum santai. “Tenang saja, aku akan bertanggung jawab. Lagipula, aku hanya membantu. Tidak ada yang salah, kan?”
“Tetapi, Nona—”
Fiona menatapnya dengan tegas. “Aku ingin masak. Itu saja.”
Kepala maid akhirnya menyerah, terlebih saat Alexis muncul di pintu dapur tanpa suara dan memberi kode halus agar mereka membiarkan Fiona. Para maid langsung mengangguk dan mundur, membiarkan gadis itu mengambil alih sebagian tugas mereka.
Alexis, yang kini bersandar di ambang pintu, menatap Fiona dengan senyuman lembut di wajahnya. Gadis itu tampak alami di dapur—bernyanyi kecil dengan suara lembut, sesekali menggoyangkan tubuhnya dengan lincah, rambutnya yang tergerai tampak melambai saat ia bergerak.
Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menikmati pemandangan itu, menyadari betapa Fiona mampu membuat hatinya terasa hangat hanya dengan keberadaannya.
Namun, momen itu pecah ketika Fiona berbalik sambil membawa panci, matanya langsung bertemu dengan tatapan Alexis. Gadis itu terkejut, hampir menjatuhkan panci dari tangannya.
“Alexis! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya ketus, alisnya bertaut.
Alexis tersenyum kecil, mendorong tubuhnya menjauh dari pintu dan berjalan mendekat. “Menikmati pemandangan,” jawabnya santai.
“Menikmati pemandangan?” Fiona mendengus, menaruh panci di atas meja dengan sedikit kasar. “Kalau kau mau makan, duduk saja di ruang makan. Jangan mengganggu di sini.”
Alexis mengangkat alis, jelas menikmati sikap ketus Fiona. Ia melipat tangan di dadanya, berdiri hanya beberapa langkah darinya. “Kenapa begitu dingin, Baby? Aku hanya ingin melihatmu.”
“Jangan panggil aku Baby,” tukas Fiona sambil menunjuknya dengan spatula. “Dan jangan berpura-pura seperti kau tidak melakukan apa-apa. Kau tahu betul aku masih kesal padamu!”
Alexis tertawa kecil, langkahnya mendekat hingga Fiona mundur beberapa langkah, punggungnya menyentuh meja dapur. Mata pria itu penuh dengan kelembutan, meski ada sedikit kilatan menggoda di sana.
“Kau tahu,” bisik Alexis, tangannya terulur untuk menyentuh rambut Fiona, “aku suka melihatmu seperti ini. Marah, tapi tetap terlihat memikat.”
Fiona menepis tangannya, wajahnya memerah karena kesal sekaligus gugup. “Alexis! Jangan ganggu aku!” serunya, tapi nada suaranya terdengar kurang meyakinkan.
Alexis terkekeh, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Tapi aku ingin kau tahu,” ia menatapnya dalam-dalam, “kau terlihat sangat cantik saat memasak. Apalagi dengan semua kekesalan itu.”
Fiona mendengus, mencoba mengabaikannya, tapi ia tahu detak jantungnya mulai berlari liar. “Keluar dari dapur, Alexis. Kalau tidak, aku tidak akan memberi makan malam padamu,” ancamnya.
Alexis tersenyum lebar, mendekatkan wajahnya ke telinga Fiona. “Baiklah, aku akan menunggu. Tapi aku ingin kau tahu, Fiona, aku tidak pernah kenyang hanya dengan makan malam. Kau adalah hidangan favoritku.”
Fiona membelalak, wajahnya memerah hingga ke telinga. Sebelum ia sempat membalas, Alexis melangkah keluar dari dapur sambil tertawa kecil, meninggalkan Fiona yang memegang spatula dengan geram.
“Dasar pria gila! Duda karatan!” gumam Fiona, tetapi senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu, Alexis selalu tahu cara membuatnya kehilangan kendali, meski dalam kekesalan.