Saron menelan Saliva sebanyak yang dia mampu. Tenggorokannya serasa ditekan oleh sesuatu yang menghalau udara di rongga d**a. Dia bisa pingsan atau malah sesak napas jika situasi ini dipertahankan.
Mata pria itu seakan-akan menguliti tubuhnya, memaksa dia hidup dengan rasa malu. Gadis Pengendus, sebutan yang membuat Saron ingin menendang b****g Faza. Bisa-bisanya sebutan menjijikkan itu ditempelkan di keningnya. Faza pikir dia anjing apa.
"Aku bukan Gadis Pengendus. Namaku Sa … Silvia!" hardik Saron dengan nada angkuh. Dia busungkan d**a, yang tanpa disadari, tindakan itu malah memutus jarak di antara mereka.
Faza kentara merasakan sentuhannya. Dia turunkan pandang ke d**a, lalu kembali menatap Saron intens dengan sorot mata yang lebih lembut dan b*******h.
"Siapa yang tadi kamu sebut-sebut sebagai pria m***m, Nona Silvia Agatha?"
Tentu saja kamu, pikir Saron.
Dia paksa tungkainya bergerak mundur dengan jangkauan cukup panjang. Saron menginginkan jarak aman dari desir gairah si Tuan m***m. Namun, Faza tak mengizinkan dinding transparan di antara mereka. Pria itu mengikuti setiap langkahnya. Mendorongnya ke ujung batas dan menghimpitnya.
Saron terpojok. Diapit rak buku dan tubuh kekar yang serupa daging panggang dengan saus barbeque lezat. Aroma menggiurkan yang menggoda hasratnya, memompa jantung naik-turun, dan memaksanya menelan saliva yang nyaris menetes.
Faza mengelus pipi Saron dengan jemari. Bergerak melewati area belakang telinga, leher, kemudian berhenti di tengkuk gadis itu. Sentuhan ringan yang membuat Saron gemetar tak karuan. Telah dia coba untuk menghindar. Akan tetapi, gerak kepalanya malah memberi akses lebih kepada Faza. Pria itu menurunkan kepala, menghirup aroma tubuh Saron dalam-dalam.
"Hentikan!" Saron memohon dengan suara lirih.
"Bagaimana jika aku tidak ingin berhenti?" Agaknya, Faza ingin bermain-main lebih lama. Dia memandangi gadis itu dengan tatapan mendamba.
Saron tak bisa berkutik. Desir gairah mulai menjalar ke setiap urat nadi. Dia menginginkan pria itu lebih dari apa yang diterimanya saat ini. Pria kurang ajar yang telah membangkitkan hasrat usang dari dalam relung jiwanya, harus bertanggung jawab. Akan tetapi, dari mana dan bagaimana dia akan memulai?
Saron memejamkan mata. Dia mendesah ketika jemari Faza bergerak turun dari bahunya. Alih-alih menampik, Saron malah membiarkan jemari pria itu mendekati ulu hati yang masih tertutup kemeja biru muda.
"Kamu seperti gadis yang belum pernah terjamah. Are you a virgin?"
Tenggorokan Saron mendadak gersang. Dia mencari saliva yang entah menghilang ke mana. Pria itu … bagaimana dia bisa mencium rahasia terbesar Saron? Sungguh dia menyesal telah bertingkah kekanak-kanakan hari ini.
"Itu bukan urusan Anda. Sebaiknya saya pergi sebelum direktur keuangan tiba dan memergoki CEO Hayes Group mencumbu gadis dari bilik cleaning service."
Alis Faza tertarik ke atas. Agaknya, dia telah kembali pada dunia yang seharusnya. Faza meneliti seragam Saron. Ketimpangan sosial selalu berhasil menciptakan jarak di antara si kaya dan si miskin. Faza mundur beberapa langkah, sementara matanya masih memancarkan keinginan yang sama pada gadis itu.
"Apa kamu melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat?"
"Ti-dak. Mata saya bekerja dengan baik dan dipergunakan untuk melihat hal-hal yang baik pula," kata Saron. Termasuk kebaikan yang kamu miliki dengan tubuh ini, lanjut suara hatinya, masih menatap Faza.
Pria itu tersenyum simpul. "Aku mencoba untuk percaya, tapi matamu mengatakan sebaliknya."
Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, Mr. Faza W. Hayes atas apa yang kuperbuat demi menutupi perbuatan busukmu, batin Saron.
"Hak Anda untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain. Saya pun tidak mengharapkannya dan tidak pula memintanya. Walau saya hanya seorang cleaning service, bukan berarti saya tidak bisa menyimpan rahasia. Bagi Anda, kehilangan seorang pegawai receh seperti saya bukanlah hal besar. Anda bisa memecat saya jika mau," ucap Saron tak acuh.
"Kamu cukup percaya diri rupanya. Apa kamu yakin bisa mendapat pekerjaan setelah kupecat dari kantor ini?" Faza mendaratkan p****t di meja kerja.
"Te-tentu. Ada banyak pekerjaan bagus di luar sana." Saron bermain cukup baik sebagai gadis cupu. Dia berbicara dengan pandangan tertunduk sambil membenahi kacamata.
Faza menaikkan bibir bawah. "Sial! Aku semakin tertarik kepadamu."
Saron berkedip. "Tertarik?" gumam Saron. Kata itu membuat bulu kuduknya merinding. Dia dekap tubuh sendiri dengan kedua tangan. Dia pandang Faza dengan sorot mata waswas.
Air muka Faza mirip seperti serigala yang telah menemukan mangsa. Dia kembali berjalan mendekati Sron sambil berkata, "I always get what I want. Now, I …."
Ketukan di pintu menghentikan kalimat Faza. Pun langkahnya. Saron berterima kasih pada siapa pun di luar sana. Ya, seharusnya demikian jika tamu tak diundang itu bukanlah Queen. Si wanita blonde yang mencapai puncak dari piramida buruannya.
Queen bak diary terbuka bagi Saron setelah semalaman mengobrak-abrik data pribadinya. Wanita modern yang masih menggunakan tanggal lahir sebagai password itu sepertinya memiliki libido di level tertinggi. Hampir setiap hari dia mengadakan kencan dengan beberapa pria berbeda. Dia juga sering mengunjungi situs porno.
Semua itu terlihat normal mengingat bagaimana penampilan Queen selama di kantor. Gaun tanpa lengan dengan rok yang nyaris menampilkan pantatnya, make up bak artis papan atas, serta gaya bicara yang seolah-olah dialah wanita tercantik di muka bumi.
Namun, siapa sangka, di balik senyum manis dan kerlingan mata menggoda, Queen menyimpan sesuatu. Di kotak email Queen, Saron menemukan beberapa foto: seorang wanita bersama anak kecil berambut hitam bersweater abu-abu, wanita yang sama dengan raut muka lebih tua sedang terbaring di brankar, serta satu foto berisikan gambar sebuah rumah sakit jiwa. Ketiga foto itu dikirim oleh seorang pria bernama Vincen--pria yang berkencan dengannya dua hari lalu.
Malam ini, Saron berencana memburu pria itu dan mencari asal usul foto dalam komputer Queen.
Queen berjalan dengan pandangan lurus ke depan, kepala sedikit terangkat, dan--seperti biasa--kaki jenjangnya bergerak elegan, seperti takut menginjak kotoran anjing.
"Ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani, Mr. Faza," kata Queen manja sambil menyerahkan beberapa tumpuk mam hitam di meja kerja. Kemudian dia dekati Faza dan mengalungkan lengan di pundak pria itu.
Faza tampak tak nyaman. Saron membaca, ada penolakan di mata pria itu. Dia ingin Queen enyah dari hadapannya. One night stand, betulkah demikian?
"Ouch, apa dia datang untuk membersihkan sisa semalam?" tanya Queen tanpa rasa malu sedikit pun.
Pelacur laknat! umpat Saron dalam hati. Dia tidak pernah mencampuri urusan pribadi orang lain. Akan tetapi, sikap menggelikan Queen membuatnya muak. Dia tidak bisa tinggal diam. Jiwa hacker Saron berontak. Dia ingin menghancurkan wanita itu seperti bongkahan batu yang menjadi debu.
"Jika tidak ada lagi yang kita bahas, saya mohon diri. Selamat pagi, Mr. Faza," pamit Saron sambil menundukkan kepala. Dia berjalan cepat meninggalkan kedua insan yang entah akan berbuat apa.
Saron menarik napas panjang dan menyandarkan punggung di dinding, sesaat setelah keluar dari ruang kerja Faza. Dia bertanya-tanya, semudah itukah sepasang kekasih mengatakan kepada dunia tentang hubungan intim mereka. Di New York, hal semacam itu memang bukan sesuatu yang tabu lagi. Namun, pria yang bersama Queen membuatnya tampak tidak pantas dibicarakan.
"Jangan salahkan aku bila karirmu harus berkhir, Queen! Aku tidak peduli Faza mencintaimu atau tidak. Menyingkirkanmu jauh lebih seru!"
***