Rapat berakhir buruk meski semua telah berjalan sesuai rencana. Cabang akan segera dibuka. Dewan direksi pun tidak menolak sosok direktur yang terpilih. Hanya saja, komentar miring yang diberikan Mr. Alfredo--paman Faza, adik kandung Liam Hayes--cukup menyentak d**a.
"Kita lihat beberapa bulan ke depan. Jika cabang baru tidak memberi profit memuaskan, berarti ada sesuatu yang harus dibenahi."
Kalimat penutup rapat itu terngiang di benak Faza. Dia masih di ruang meeting, sendiri. Mola sudah mengingat Faza akan ajakan makan pagi dari Liam Hayes. Namun, pria itu bergeming dengan raut muka dingin.
Semenjak Faza mendapat posisi sebagai CEO, Mr. Alfredo ialah orang pertama yang menentang. Dia menganggap Faza masih terlalu muda dan tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan perusahaan. Tidak sampai di situ, Mr. Alfredo dengan gencar mencari koalisi dan menghasut beberapa dewan direksi serta petinggi-petinggi perusahaan untuk menentang kehadiran Faza.
Informasi itu mendarat di telinga Faza dari Liam Hayes. Di suatu masa, ketika mereka sedang duduk di tepi danau dengan alat pancing, Liam Hayes memberi nasihat kepadanya.
"Ketika kamu melakukan apa pun, jangan pernah nodai usahamu dengan ambisi berlebihan. Itu seperti bom waktu, Faza. Cepat atau lambat, kamu akan hancur sebelum visimu tercapai. Kamu harus bisa mengendalikannya meski orang seperti Alfredo memaksamu. Dia orang bodoh, tapi licik. Jangan terpengaruh olehnya! Ayah percaya padamu."
Sialnya, orang bodoh memiliki kemungkinan untuk mengalahkan orang pintar ketika mereka bermain siasat. Dan itulah yang sedang berlaku sekarang. Mr. Alfredo mengerahkan pion-pionnya untuk menyerang.
"Awasi Mr. Alfredo! Laporkan kepadaku apa pun yang sedang dia lakukan dan orang-orang yang berdiri di belakangnya!" perintah Faza kepada sang asisten.
Mola mengangguk, kemudian mengikuti langkah Faza meninggalkan ruang meeting.
Keluarnya Faza dari ruangan itu bagai candu yang menarik perhatian karyawati kantor. Spontan mereka berdiri seraya merapikan busana. Seorang gadis berkemeja marun mengeluarkan lipstik dari dalam tas, lalu memoles bibir ranumnya sambil berkedip-kedip di depan cermin kecil.
Tak jauh dari gadis itu, wanita yang mengaku telah bertunangan bertolak dari kursi. Dia berjalan bak model papan atas. Matanya memandang Faza seperti rubah lapar.
Wajah ayu, tubuh tinggi semampai dengan penampilan anggun, Faza tak menyia-nyiakan pemandangan itu. Sambil berjalan, dia membalas lirikan wanita itu hingga mereka berpapasan. Langkah Faza terhenti di depan lift. Sepertinya, aroma parfum wanita itu mengetuk gairahnya.
"Apa kamu ingin dia lembur hari ini?" tanya Mola.
Faza mengalihkan pandang ke Mola. Dia tarik satu sudut bibir hingga membentuk lengkung miring. Dua detik kemudian, bibirnya kembali ke posisi normal.
"Sekali lagi kamu berkata seperti itu, aku akan membunuhmu!" ancam Faza seraya mengangkat tangan.
"Selalu ada mata untuk mata, Bos," ucap Mola dengan gaya sarkastis.
"Kau …." Faza hendak menaikkan tinju ke wajah Mola. Dia urung melakukannya sebab mendengar keramaian dari kelokan lima langkah di depan.
Faza melupakan pintu lift yang terbuka. Dia datangi asal suara demi memberi kepuasan pada rasa penasaran. Pandangan Faza terhalau orang-orang yang berkerumun layaknya pendemo kebijakan pemerintah. Satu per satu dari mereka menepi, memberi jalan pada empunya perusahaan.
Ketika kerumunan mulai tersibak, bola mata Faza nyaris lompat dari tengkorak. Bagaimana tidak, ruang yang seharusnya sibuk dengan masalah keuangan Hayes Group, malah menjadi arena pertarungan antar dua wanita.
Seorang pria paruh baya terlihat berusaha melerai, sementara karyawan lain malah asik merekam. Faza membatin, sekacau inikah perusahaan yang dia pimpin?
"What the hell happen is here!" bentak Faza.
Ruang itu mendadak beku. Tiada satu orang pun yang bergerak maupun bersuara. Sama halnya dengan gadis pirang berseragam cleaning service dan wanita blonde dengan blazer hitamnya. Sesaat setelah menyadari kehadiran Faza, mereka menarik tangan masing-masing dari tubuh lawan, lalu menundukkan kepala seperti murid yang hendak mendapat hukuman dari guru konselin.
Faza melangkah perlahan, sementara Mola bergerilya menghapus rekaman video di ponsel para karyawan.
"Kalian tahu seberapa banyak waktu yang kubuang akibat kekacauan ini? Siapa yang bertanggung jawab di sini?" tanya Faza dengan nada tinggi.
Pria paruh baya yang menghalau pertikaian maju dua langkah. "Saya, Pak," jawabnya.
Faza melihat identitas pria berkepala plontos itu yang menggantung di saku kemeja. Louis Pitto SE. Manajer Keuangan. Faza menekuk kedua tangan di pinggang. Dia embuskan napas berusaha mengontrol tingkat emosi.
"Ke ruangan saya sekarang! Kalian bertiga."
***
Terpaksa jadwal makan bersama sang Ayah dibatalkan. Faza kembali terperangkap di ruangannya dengan masalah remeh-temeh yang seharusnya tidak boleh terjadi di kantor. Dan tidak pula dia tangani.
"Ada yang bisa menjelaskan kepadaku tentang kejadian tadi?" Faza duduk di kursinya, sementara ketiga orang tadi berdiri di depan meja.
"Cleaning service ini menuduh saya mencuri flashdisk Mr. Louis, Sir." Wanita bernama Fani menjawab tanpa ragu. "Padahal saya tidak tahu-menahu akan benda itu dan bagaimana dia bisa ada di laci saya. Saya tidak terima dituduh mencuri."
"Maaf, saya tidak pernah menuduhnya mencuri. Saya hanya ingin dia mengembalikan milik Mr. Louis," balas wanita lain.
Faza melirik wanita itu, yang sedari tadi enggan mengangkat muka. Biasanya, diam berarti kebenaran. Namun, pedoman itu sepertinya tidak berlaku dalam hal ini.
"Maaf, Pak. Ini salah saya. Saya kehilangan flashdisk kemarin. Jadi, saya menyuruh Silvia untuk mencarinya," aku Louis. "Saya juga alpa di mana terakhir kali saya meletakkan benda itu. Pagi ini, tanpa sengaja Silvia menemukannya di laci Fani saat diminta membuatkan teh."
"Jadi, flashdisk hello kitty ini punyamu?" Faza memainkan piranti mungil penyimpan data di tangan kiri.
"Itu milik anak saya, Pak. Tidak sengaja terbawa," kilah Louis.
"Tidak sengaja … apa meja belajarnya menjadi meja kerjamu di rumah?"
Faza ingin membuka isi dari benda berwarna pink itu. Namun, Louis menghentikannya. Si kepala plontos berkata, "Maaf, Pak. Sepertinya, anak saya tidak suka kalau orang lain membuka isi flashdisknya. Dia bahkan melarang saya melakukan itu dan menyuruh saya agar lekas mengembalikannya dalam keadaan utuh. Mungkin, terdapat data yang bersifat privasi dan penting di sana."
"Benarkah? Aku hanya ingin memastikan bahwa benda ini benar milikmu." Faza menghubungkan flashdisk ke laptop.
Louis tampak khawatir. Pun Fina. Sementara cleaning service tak peduli. Dia sibuk menyisir rambut dengan jemari. Bukan untuk diikat, atau dikepang. Gadis itu malah membiarkan rambut panjangnya tergerai ke kanan dan kiri kepalaa, seakan-akan disengaja untuk menutupi parasnya. Ah, mungkin hanya perasaannya saja.
Faza menyeringai. Dia tak acuh dengan tingkah aneh itu. Lagipula, apa pentingnya seorang pegawai rendahan bagi Faza. Dia mengabaikan mereka seperti udara yang menyapa tubuhnya.
Denting terdengar dari laptop. Faza mengalihkan fokus ke monitor. Alisnya mengernyit saat melihat peringatan muncul dan berkedip-kedip di sana.
WARNING!
Don't open or this PC will explode!
It isn't a prank, bastard!
"Wow, apa putrimu menempuh pendidikan dalam bidang terorisme? Don't open or this PC will explode! It isn't a prank … bastard."
"Uhuk!" Gadis bernama Silvia tiba-tiba tersedak, masih enggan menunjukkan rupa.
Faza membatalkan kinerja PC membaca data dalam flashdisk. Dia lepas benda itu, lalu berjalan ke Louis. "Kamu yakin ini milik putrimu?" tanya Faza sekali lagi.
Louis tampak ragu. "I-iya, Pak."
"Jadi, siapa yang harus minta maaf di sini?" Faza menyelipkan flashdisk ke saku Louis.
"Ma-maaf, Mr. Louis. Sa-saya tidak pernah mengambil benda itu. Sa-saya …." Fani bersuara parau.
"Keluar dari kantorku," kata Faza datar.
Fani gemetar. "Ta-tapi, Sir."
"Kamu dipecat." Faza mempertegas ucapannya.
"Sir?" Fanie memohon sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan muka.
"Aku membenci karyawan yang berlaku buruk di kantor. Silakan pergi!"
Tawa renyah keluar dari mulut Silvia. Faza tak mengerti. Apa yang menyebabkan gadis itu terpingkal-pingkal? Dia merasa tak ada kalimatnya yang terdengar menggelikan. Apa menurut gadis itu, pencurian ialah sesuatu yang lucu?
Faza mengangkat tangan kanan hingga sejajar pundak, lalu mengibasnya sekali. Sebagai isyarat kepada Fani dan Louis agar meninggalkan ruang CEO. Dia dekati gadis yang belum menyadari kedekatan jarak di antara mereka. Diam Faza menanti Silvia mendongak dan menyombongkan rupa.
Ya, dia akan membiarkan gadis itu berpuas diri dan melupakan kedudukan. Sehingga, ketika Silvia sadar, pemecatan mungkin tak akan cukup untuk menebus kesalahannya.
Menit berlalu, Faza mulai kesal akan tawa Silvia. Dia lantas bertanya, "Kelucuan apa yang sedang kamu nikmati?"
"Kau pasti tidak akan percaya. Seorang pria m***m berkata pada karyawannya, kalau dia benci perbuatan buruk. Ah, itu … itu …." Agaknya, Silvia melupakan sesuatu. Dia angkat kepala dan nyaris beradu muka dengan Faza.
"Kau rupanya, si Gadis Pengendus."
***