Detik demi detik berlalu. Belinda, Langit, serta Surya hanya dapat termenung menanti jawaban yang tidak pasti. Pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Entah berapa lama lagi mereka harus menunggu, belum ada tanda-tanda operasi telah selesai dan berhasil. Belinda merasa air matanya telah mengering. Kedua matanya membengkak. Bila benar ia harus ditinggal 'lagi', Belinda berharap Tuhan membuka kedua mata Bulan dulu untuk sementara. Mempertemukan dirinya untuk yang terakhir kali dengan Bulannya, cahaya redupnya. Bahkan kalau bisa, Belinda berharap Tuhan gantikan posisi keduanya. Belinda berharap, ialah yang sekarat dan Bulan di sini tengah menunggunya. Cahaya redup mereka masih bisa bernapas dan menerangi malam siapa pun. Dalam diamnya, Surya menyesal. Andai ia menahan Bulan. Meskipun ia t

