Bulan menatap nanar punggung Gerhana yang menjauh. Hingga sosok laki-laki itu menghilang di dalam mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Bulan bergeming. Menunggu Gerhananya membuka kaca, berucap selamat tinggal. Namun, nihil. Mobil itu berlalu, membuat Bulan tertegun sendiri karena kebodohannya. Bulan berlari cepat mengejar mobil itu. Ia kerahkan seluruh tenaganya hingga dadanya terasa panas. Rasa sesak yang ditimbulkan akibat berlari ini tidak seberapa dengan rasa sakitnya ditinggal oleh Gerhana. Kepingan hatinya masih tertinggal dalam sosok Gerhana. Ia tidak bisa membiarkan Gerhana membawanya begitu saja. Ia tidak mengizinkan Gerhana untuk pergi, menjauh darinya. Tapi, apalah dayanya. Bulan terjatuh, tersandung oleh kakinya sendiri karena tidak berhari-hati. Kedua matanya tak p

