“Nunggu lama ya, Pak?” Vianka keluar pintu halaman belakang sambil membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. Kenio mengangkat sebelah alis. Rasa-rasanya dia tidak meminta Cah sableng ini menyajikan apapun. Dia sengaja menggunakan laptop di teras agar bisa tenang menyelesaikan pekerjaan kantor. Bukannya mau berdekatan bersama si dirijen minyak. “Saya nggak minta kopi,” kata Kenio saat melihat pembantu botol kecap menyingkirkan map-map kerjanya demi meletakan cangkir kopi dan sepiring camilan. “Ini inisiatif saya. Bapak pasti suntuk kerja nggak ditemani kopi dan camilan. Saya sengaja loh Pak bikin pisang goreng. Kata Kasyaf, Bapak suka pisang.” Vianka ikut duduk di kursi. Pak bos refleks menjauhkan b****g. Kenio mengernyit. Tidak biasanya raket nyamuk ini berbaik h

