Bab 1. Menurut Udin Cewek itu Ribet
"Udin!"
Seorang cowok berlari kencang ke arah Udin di lorong sekolah diikuti orang-orang yang berhamburan berlarian ke kantin secara berlawanan.
Pria berkacamata dengan kulit putih bersih itu menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya.
"Din, si Anya berantem lagi!"
"APA?" Udin hampir saja tersedak permen yang dikulumnya. Tak menunggu lama, ia dan temannya langsung bergegas ke kantin.
Sejurus kemudian setelah berada di tempat tujuan, Udin langsung masuk ke dalam kerumunan dan menyapih kedua gadis yang sedang main jambak-menjambak.
Anya dan Fitri adalah musuh bebuyutan, jadi tak heran jika keduanya seringkali bertengkar.
Bugh!
Udin menjamah pipinya yang kena tonjok oleh Fitri. Namun, ia tidak menyerah dan terus berusaha memisahkan mereka. Bukan apa-apa, Udin hanya mendapat amanah dari Serly—tantenya agar sepupunya yang bernama Anya itu tidak membuat malu untuk yang kesekian kalinya. Jujur saja Serly sudah tujuh kali masuk ruang BK ulah anak gadisnya.
Tubuh Udin terlempar saat Anya menendangnya keluar dari area tersebut. Bahkan kacamata yang mendarah daging di kedua matanya sampai terlepas dan terinjak oleh siswa-siswa yang sedang menonton gadis-gadis itu berkelahi.
Untunglah, tak berapa lama seorang guru killer datang dengan pluit yang selalu hinggap di lehernya.
Kala Pak Waston membunyikan peluit, semua orang langsung terbirit membubarkan diri, kecuali Anya dan Fitri yang dibawa ke ruang BK oleh Pak Waston.
Melihat sepupunya dibawa, Udin semakin resah. Ia takut apabila tantenya dipanggil kembali ke sekolah dan menyalahkan dirinya, karena tidak bisa menjaga Anya.
***
"Si Anya berantem lagi?"
Udin menurunkan buku komiknya, melihat seseorang yang bersuara tadi.
Ia mengembuskan napas dengan wajah kecut. Ia sudah tahu jika gadis itu datang, berarti ada masalah yang harus ia selesaikan. Entah mengapa Udin selalu saja ketiban masalah dan tentunya semua ini karena seorang cewek. Ya, mahluk itu selalu saja membuat hidup Udin kerepotan. Dari sejak lahir hingga usia 17 tahun ini, jujur saja Udin tidak pernah mau yang namanya menjalani hubungan dengan gadis atau orang lebih sering menyebutnya dengan pacaran.
Nama lengkapnya Sirojjudin Fatahar Lusiana, sering disapa Udin. Anak itu tumbuh dari keluarga kaya raya. Masa remajanya dihiasi dengan berbagai macam masalah. Dan semuanya karena seorang cewek. Jangan salah tebak! Udin tidak punya pacar. Pria itu hanya ketiban masalah oleh para sahabatnya yang sering meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah dengan pasangannya.
Udin pernah dapat pertanyaan dari beberapa temannya dan ia menjawab,
"Gue gak pernah punya cewek!"
"Kenapa? Gak normal, lo?"
"Justru karena gue masih waras! Menurut gue CEWEK ITU RIBET!"
Sekali lagi helaan lolos dari bibir Udin.
"Iya. Napa? Tumben ke kelas gue?" Nadanya terdengar tidak bersahabat.
Cewek bernama Icha dengan tak tahu malunya duduk di depan Udin lalu memperlihatkan rentetan giginya yang putih bersih.
Icha memainkan tangannya di depan Udin sambil misem-misem tak karuan.
"Icha boleh minta bantuan Udin lagi, gak?" kata Icha dengan nada sehalus mungkin. Mendengarnya Udin hampir saja mau muntah. Bukan apa-apa, Icha ini gadis yang lumayan cerewet jadi tidak pantas saja kedengarannya jika berbicara sehalus itu.
"Bantuin nyelesain masalah lo sama si kunyuk itu?"
Plak!
"Eh, gitu-gitu juga Leon temennya Udin lho!" protes Icha tak terima Leon dipanggil kunyuk.
Udin mengelus tangannya yang tadi kena keplak Icha.
"Tuh tangan ajarin jangan mukul orang sembarang!"
"Gue gak mau bantuin masalah lo! Kalian yang pacaran kenapa musti gue yang harus ribet?" jawab Udin ketus. Mendengar itu bibir Icha jadi menggerutu.
"Oh, jadi ngga mau bantuin Icha buat baikan sama Leon?"
"GAK!" Udin meneriakinya tepat ditelinga Icha. Setelahnya ia kembali membaca komik kegemarannya lagi.
Beberapa menit kemudian, Udin menurunkan bukunya, ia ingin memeriksa apakah Icha sudah pergi atau belum.
Udin tersentak melihat Icha sedang menatap tajam padanya. Seolah cewek itu ingin memangsa Udin hidup-hidup.
"Ngapa masih di sini?" tanya Udin berusaha menahan kegeramannya.
"Icha bakal tetep di sini sampe Udin bantuin Icha buat baikan sama Leon–" Kalimat Icha terpotong saat Wildan datang menghambur ke pelukan Udin.
"Ish apaan si lo?" Udin segera menepis Wildan.
"Hehe. Din ... gue minjem duit dong," ucap Wildan dengan senyum yang membuat Icha sakit perut.
"Buat apaan?"
"Bayarin si Neneng jajan—"
"Kalo gak punya duit nggak usah ngajak anak orang jajan dong!" sambar Icha yang mendapat tatapan sinis dari Wildan.
"Kalo kere gak usah ngajak anak orang buat pacaran!" tambah Udin tak berperasaan.
"Yah kan, ATM gue diblokir, Din. Entar gue ganti deh."
"Halah, ATM lo diblokir karena udah ngga ada duitnya kan?"
"Ngeremehin gue ni anak! Cepatlah Din. Janji gue lebihin deh nanti!" mohon Wildan.
"Aneh lo! Lo yang pacaran gue yang harus bayarin!" Udin merogoh saku celananya—hendak mengambil dompet. Memang benar yang dikatakan Wildan, biasanya ia membayar hutangnya dengan jumlah lebih, sebab Wildan pun tak kalah sultan dari Udin. Hanya saja ATM Wildan kadang kena blokir oleh ayahnya jika Wildan melakukan kesalahan atau membantahnya. Pernah suatu ketika Wildan cerita ke Udin mengenai dirinya yang ketahuan berpesta di rumah saat ayahnya ke luar kota. Waktu itu ayahnya Wildan marah besar dan memblokir kartu ATM sang anak bahkan sampai hendak memasukan Wildan ke bangku pesantren.
Melihat Udin memberi Wildan pinjaman uang, Icha jadi merengut kesal. Seolah Udin pilih kasih, padahal ia juga adalah temannya Udin.
Wildan menepuk-nepuk pundak Udin dan melenggang dari kelas. Udin kembali membaca komiknya. Ia lupa kehadiran Icha yang masih menunggu.
"Wildan aja dibantu, masa Icha ngga?"
"Oh, lo mau minjem duit?"
Bibir Icha semakin melengkung. Rasanya Icha benar-benar ingin menelan Udin hidup-hidup.
"Gak mau Udin!? Icha kan juga temannya Udin! Tapi kenapa cuma Wildan aja yang dibantu?" Mata Icha berkaca-kaca.
Hitungan detik air mata Icha mulai turun, lalu terdengar suara Isak yang membuat Udin gelagapan.
"Cha, ngapa nangis!"
Tak berapa lama, gadis itu menarik komik kesayangan Udin dari tangannya dan mengancam akan merobeknya.
"Bantuin atau Icha sobek komik ini?"
"Eh! Jangan! Jangan Cha! Ah, lo apa-apaan si!"
"Bantuin Icha buat baikan sama Leon. Leon udah marah banget sama Icha tuh!"
"Itu kan masalah lo, Cha. Gue gak mau ikut campur kayak sebelumnya! Udah sini balikin komik gue!"
"Gak mau! Sebelum Udin jawab iya, Icha gak akan balikin buku ini!"
***
Seperti yang sudah-sudah, Udin akan selalu mengalah dan berakhir duduk di samping Leon sambil memohon.
"Udahlah, baikan saja sama si Icha, Lon!"
Leon yang terkenal dingin dari es batu itu tidak menggubris Udin. Ia menghela napas kasar dan melepaskan earphone dari telinga Leon.
"Jangan dengerin musik mulu, nanti telinga lo b***k, mau?"
"Apaan sih nih anak kurang kerjaan banget," desis Leon yang baru menyadari keberadaan Udin.
Udin mencoba earphone itu.
"Gila kenceng banget! Berarti dari tadi gue ngomong gak didengerin dong?" Udin melepaskan benda itu lagi. Luar biasa telinganya sampai sakit.
"Bukannya gak didengerin, tapi gak kedengaran."
"Mau ngomong apaan?" tanya Leon.
"Cewek lo tuh ...." Udin membuang muka. Ia kesal dengan tingkah Icha yang seringkali melibatkannya.
Leon tak menanggapi.
Udin mendelik. "Woi!"
"Apaan Din?"
"Kelarin masalah lo!"
Leon menggedikan bahu. "Gue gak ada masalah!"
"Si Icha tuh masalah lo! Komik gue disita! Pokonya lo harus baikan sama si Icha dan balikin komik gue!"
"Gak!" tolak Leon. Jujur saja ia masih kesal dengan Icha. Cewek itu ketahuan pergi ke bar dan Leon tidak suka itu.
"Ayolah, Lon. Bentar lagi habis tuh komik, tanggung gue penasaran sama kelanjutannya," rengek Udin.
Leon memasukan ponselnya ke saku dan mengemas eraphone-nya ke dalam laci. Kemudian pergi tanpa permisi meninggalkan Udin.
"Eh, Lon!"
"Leon!"
"Woi, singa!" teriak Udin. Namun nihil Leon tetap menulikan telinganya.
****